
"Hati-hati ya kalian." ucap ku pada para karyawan. Aku pulang dengan membawa satu buket bunga.
Sementara itu di perusahaan milik Tama, laki-laki itu kini tampak masih senyum-senyum sendiri.
"Elo kenapa? Gue kira elo banyak senyum karena kerjasama sekarang ini sesuai yang kita inginkan tapi habis rapat pun lo masih cengar-cengir gitu." tanya Bagas yang menjadi teman sekaligus sekertaris Tama. Yang di omongin malah tambah terkekeh.
"Gila lu!" sarkas Bagas.
Suara pintu dibuka secara langsung lalu di tutup kembali oleh seseorang. Seorang laki-laki masuk begitu saja dan langsung nyelonong mengambil gelas minum yang ada di meja sang CEO lalu tanpa permisi meneguknya sekali habis.
"Hah hah hah.. gila lu orang. Kalo sekiranya penting ngasih kabar dulu kek kemarin atau seenggaknya dua jam sebelumnya. Biar gue bisa atur ulang jadwal." kata Delvin dengan nafas ngos-ngosan dan ia mulai mengatur nafasnya agak tak terasa nyeri ke dada.
Dia buru-buru datang ke perusahaan Tama karena mendapat kabar jika temannya itu sudah mulai masuk kerja. Padahal hari Senin sebelumnya mereka sudah janji akan melakukan pertemuan bisnis namun janji itu di batalkan karena tama tidak masuk kerja.
Tama dan Bagas yang melihat tampang kacau dan lelah Delvin saling melirik dan kemudian tertawa terbahak bahak bersamaan. Yang ditertawakan pun makin jengkel saja.
"Gue balik aja lah." ngambek ceritanya si Delvin ini.
"Eehhh jangan. Duduk dulu." bujuk Tama sambil berdiri. Takut saja kalau Delvin akan benar-benar pergi. Karena lelah dan capek Delvin pun akhirnya duduk di kursi tamu yang terletak di depan meja kerja Tama.
"Gimana hasilnya?" tanya Delvin langsung pada inti pembicaraan, karena memang hari ini ia sangat sibuk dan tidak membuat jadwal janji temu dengan Tama terlebih dahulu. Ia memanfaatkan waktu luangnya setelah selesai dengan tumpukan berkas di meja kerjanya.
"Sesuai yang kita harapkan." jawab Bagas mewakili menjawab selaku sekretaris Tama. Tama pun mengangguk membenarkan jawaban Bagas.
"Jadi gue bisa invest juga?" tanya Delvin.
"Iya, tapi sesuai perjanjian yang kita sepakati semuanya, 5% untuk setiap penanam modal. Mau ambil?" tanya Tama.
"Ambil lah. Mana berkasnya?" Tanpa pikir panjang lagi Delvin menyetujui kerjasama itu.
__ADS_1
"Gimana tadi rapatnya?" tanya Delvin yang karena ia memang tak bisa menghadirinya. Jadwalnya sendiri saja sangat sibuk. Harusnya rapat itu di selenggarakan kemarin, yah karena Tama nggak masuk jadi rapat pun diselenggarakan hari ini tanpa kehadiran Delvin.
"Lancar jaya. Kalau sesuai kesepakatan berarti nggak ada masalah." jawab Bagas.
"Dia nggak ribet? Nggak uring-uringan lagi noh." tanya Delvin sambil menunjuk sahabatnya dengan pena yang ia pakai untuk tanda tangan tadi. Tama yang di tunjuk malah menaikkan alisnya tanda tak mengerti.
"Nggak. Dia aman hari ini. Malah dari tadi pagi dia datang sampai rapat selesai cengar-cengir mulu kayak orang kesambet." jawab Bagas.
"Yang bener?"
"Serius." jawab Bagas yakin.
"Noh lihat, dia cengengesan lagi kan sekarang." tunjuk Bagas pada Tama dengan dagunya. Yang di perhatikan pun memang sedang tersenyum kuda sambil memegang handphonenya. Delvin yang tahu sudah pasti paham karena mereka sama-sama sudah menikah.
"Hawa hawanya dapet gol nih. Muka berseri-seri gitu." tebak Delvin.
Tama kini malah tertawa menggelegar mendengar perkataan sahabatnya yang ditujukan padanya itu. Delvin malah ikut tertawa melihat reaksi Tama, ternyata benar tembakkannya. Bagas yang belum menikah jadi mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Makanya buru kawin lu, biar nggak cuma gol bola aja yang lu tau." ujar Delvin sambil melempar kue kering yang tersedia di toples di atas meja tamu itu. Kini Bagas pun paham apa yang mereka bicarakan sekarang.
"Emang sekarang Shina udah nggak ngejauhin elo? Udah nggak ngambek-ngambek lagi?" tanya Bagas penasaran. Pasalnya Bagas dan Delvin tahu masalah rumah tangga Tama seperti apa karena Tama juga sering bercerita kepada mereka.
Tama menarik nafas dalam, "iya udah nggak. Sekarang dia sedikit berubah." jawab Tama.
"Udah nggak nginep lagi di hotel, dan nggak pisah kamar lagi sekarang kita." kata Tama melanjutkan. Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya sedang Delvin tak lagi heran dengan apa yang di dengarnya.
Pasangan suami istri kan memang terkadang ada masalah dan baiknya masalah itu cepat diselesaikan agar sumber masalah tak menimbulkan masalah baru dan komunikasi adalah kunci dari semuanya.
"Pantes dia cengar-cengir dari pagi. Nanti tiap hari juga dia bakal ngeluarin aurora, Gas." ujar Delvin pada Bagas. Tama malah terkekeh lagi mendengar ucapan Delvin.
__ADS_1
Tama, Bagas dan Delvin ini adalah teman dari masa perkuliahan, mereka satu kampus. Kalau untuk Delvin, dia teman dari masa SMA dengan Tama. Jadi bisa di bilang mereka ini adalah teman seperjuangan dan mereka sangat lah dekat. Meski Tama dan Delvin berada di perusahaan berbeda karena Delvin bekerja di bawah perusahaan ayahnya namun mereka kadang sering bertemu dan juga terkadang menjalin kerjasama untuk projek perusahaan yang mereka jalankan.
...* * *...
"Shina aku ada bussines trip ke kota Bandung lusa. Mungkin dua atau tiga hari di sana." kata Tama sambil mengelus rambutku. Posisi kami sekarang sedang berbaring di atas kasur, aku sedang bersandar pada lengan tangannya.
Ya kita sekarang satu kamar. Setelah kejadian yang berlalu waktu itu aku mulai mengubah karakter Shina untuk mencoba membuka hatinya lagi pada Tama. Memulai kehidupan pernikahan yang baru lagi, kehidupan pernikahan impian suami istri yang menjadi impianku juga. Aku ingin ciptakan akhir yang bahagia untuk kisah mereka.
"Oke. Hati-hati disana. Jangan lagi terjadi kejadian yang iya-iya." candaku sambil memainkan jemariku di atas dadanya.
"Apanya kejadian yang iya-iya. Kamu ngundang nih?" tanya Tama yang menghentikan tangannya untuk mengelus rambutku.
"Apaan sih. Udah tidur ah." kataku dengan segera menjauh dari tubuhnya lalu memukul mukanya dengan bantal. Tama malah tertawa cekikikan.
Aku lebih baik bersiap untuk tidur saja dari pada nanti selanjutnya terjadi hal yang iya-iya. Posisiku tidur membelakangi Tama, setelah selesai dengan tawanya Tama lalu memelukku dengan erat dan ikut untuk tidur.
Malam damai sebelum aku tidur yang selalu ku jalani sebagai Rona di dunia nyataku. Aku mulai rindu rumah ternyata.
Selama Tama pergi keluar kota aku juga sibuk mengurus bisnisku. Siang di florist lalu malam di kafe.
Kebetulan malam ini Mama datang ke kafe untuk main. Kami lalu ngobrol layaknya anak dan ibu pada umumnya. Aku menceritakan kejadian saat dipantai waktu itu kepada Mama. Respon Mama sedikit terkejut.
"Kamu nggak apa-apa nak dengan semua yang sudah diceritakan oleh Tama? Mama takut, karena waktu itu setelah kecelakaan kamu harus terapi dan tergantung dengan obat. Tapi sudah ada empat bulan kamu nggak hubungi Mama buat terapi. Mama selalu khawatir."
"Mama nggak lepas kamu begitu aja, Mama juga memantau kamu dan ternyata memang kamu baik-baik saja." Mama mengusap-usap tanganku. Mama sering menghubungi Tama dan menanyakan tentang kabar dan keadaan ku, jelasnya.
"Iya. Aku baik-baik aja kok Mam. Tapi aku lupa waktu sebelum empat bulan lalu, sebenarnya ada kejadian apa sih Mam?" aku mencoba bertanya kepada Mama, sekaligus untuk mengorek informasi tentang apa yang sudah terjadi kepada Shina sebelumnya.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘