ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 28 : INGATAN BARU


__ADS_3

"Iya. Aku baik-baik aja kok Mam. Tapi aku lupa waktu sebelum empat bulan lalu, sebenarnya ada kejadian apa sih Mam?" aku mencoba bertanya kepada Mama, sekaligus untuk mengorek informasi tentang apa yang sudah terjadi kepada Shina sebelumya.


Mama menghela nafas dan menghembuskannya kasar.


"Kamu kan pernah mabuk. Kejadiannya karena kamu nggak pernah mau datang jika di ajak ke bussines party tapi waktu itu kamu maksain untuk datang. Terus entah apa yang terjadi di pesta itu kamu pulang duluan tanpa ngasih tau Tama dan malah mampir ke bar. Tama nyariin kamu kemana-mana. Untung yang punya bar adalah temennya, jadi temen Tama yang ngasih tau kalau kamu di barnya. Tama jemput kamu malam itu tapi kamu malah berontak. Kamu lari dan hampir tertabrak mobil tapi karena Tama pasang badan mobil itu ngerem mendadak dan banting setir. Sementara Tama yang malah jadi korbannya, dia mengalami luka ringan waktu itu. Kamu yang melihat kejadian itu syok dan langsung pingsan di tempat." cerita Mama panjang padaku. Aku tercengang mendengarnya.


Ternyata Shina hampir mati berkali-kali. Dan sepertinya sebelum aku masuk ke tubuh Shina memang ada jiwa lain yang sudah masuk ke dalam tubuh Shina. Dan mungkin mimpiku malam itu tentang Tama yang mengalami kecelakaan adalah sebagian ingatan dari jiwa yang masuk ke dalam tubuh Shina sebelumya.


Aku lalu menanyakan soal terapi itu kepada Mama, kenapa aku harus di terapi? Katanya setelah aku sadar dari koma itu aku seperti lupa ingatan dan untuk itu Mama membawaku ke terapis.


Kesimpulan ku sepertinya bukan lupa ingatan, tapi memang waktu itu setelah Shina sadar jiwa orang lain sudah masuk ke dalam tubuh Shina. Jadi itulah mengapa Shina lupa tentang kehidupan pernikahannya.


"Mam, makasih ya udah datang hari ini. Tetep jadi pelanggan setia aku ya." aku mengucapkan kalimat candaan ke Mama.


"Iya sayang. Bye Shina." Mama pergi meninggalkan kafe. Kulihat jam tanganku, sebentar lagi waktunya tutup kafe.


"Ayo semua semangat!! Terimakasih untuk kerjanya hari ini." kataku dengan sedikit berteriak untuk menyemangati karyawan ku.


"Hujannya gede banget hari ini. Kita udah jam tutup pun pelanggan masih ada yang diem ditempat." gerutu Rani salah satu karyawan kafe ku.


"Padahal sepuluh menit yang lalu nggak ada tanda-tanda mau hujan. Mana udah malem banget lagi." timpal Dara.


"Coba matikan lampunya. Off-in musiknya. Biar pelanggan paham. Kalau mereka belum pulang juga, kalian boleh pulang duluan aja." kataku yang kasihan melihat mereka yang mukanya sudah kusam kelelahan.

__ADS_1


"Siap bos!" jawab mereka bersamaan.


Setelah musik dimatikan dan sebagian lampu juga dimatikan pelanggan mulai paham dan keluar satu persatu.


Bukannya nggak kasihan tapi aku juga sayang ke karyawan ku. Takut mereka kelelahan dan sakit yang ada malah nggak ada yang masuk kerja besoknya.


"Ahh lelahnya." keluhku setelah sampai rumah. Ku hempaskan tubuhku di atas kasur. Rasanya ingin langsung terlelap saja tapi aku belum mandi. Aku pejamkan mataku sebentar saja, berniat untuk istirahat sebentar.


Badanku terasa ringan seperti melayang di udara. Belaian tangan yang terasa dingin di wajahku membangunkan ku. Aku mengerjapkan mata mengumpulkan kesadaran dan mencoba untuk bangun.


Setelah sadar sepenuhnya kulihat ternyata Tama sudah ada di sampingku. Dia duduk bersandar pada headboard setelah sebelumnya membenarkan posisi tidurku yang tertelungkup sembarang di atas kasur menjadi terlentang berselimut hingga dada sekarang ini.


Rambut yang masih basah hingga terdapat bulir air yang siap jatuh di ujungnya, wajah yang bercahaya tersorot sinar lampu, baju tidur model kimono dengan dada terbuka menjadi pemandangan tengah malam ku.


"Aku ngebangunin kamu ya?" tanya Tama yang terlihat baru selesai mandi. Tama yang malam ini sudah ada di sini sepertinya baru pulang dari business trip-nya langsung mandi. Sebelumnya memang dia nggak ngasih kabar kalau akan pulang malam ini. Mungkin untuk memberi kejutan.


"Aku baru aja pulang. Baru beres mandi juga. Kamu pasti capek banget ya? Masih ngantuk juga?" dia mengusap kepalaku lalu merapikan helaian rambut yang menutupi wajahku.


"Mau aku pijitin?" tawarnya.


"Boleh. Tapi aku mandi dulu ya, nggak enak banget badan, rasanya lengket." kataku lalu beranjak sambil tersenyum dan bergegas mandi.


Selesai mandi dan mengganti baju dengan gaun tidur malam, Tama lalu menghampiri ku yang sedang duduk di depan meja rias. Aku berniat untuk mengeringkan rambutku, namun tangan Tama malah bergerak membantu mengeringkan rambutku. Aku tersenyum menatap ke arahnya dari pantulan cermin di depanku.

__ADS_1


"Mungkin seperti ini kehidupan pernikahan baru Shina dulu sebelum terjadi kecelakaan karena foto vulgar itu." kataku dalam hati.


"Kamu kapan mau ke kantorku lagi? Luangkan waktumu untuk bertemu aku di jam kerja." katanya masih sambil mengeringkan rambutku. Ah aku jadi teringat kalau dulu Shina sering mengantarkan makan siang untuk Tama.


"Via delivery aja ya dari kafeku nanti." Becandaku sambil tersenyum menampilkan rentetan gigi. Dia tak menjawab dan hanya menaikkan alisnya.


"Iya nanti aku coba datang kapan-kapan kalau nggak lagi sibuk banget ya. Tau sendiri kan kalau siang aku di florist terus malamnya di kafe." kataku meralat jawabanku untuk Tama tadi.


"Aku tunggu kapanpun waktunya kamu bisa." ucapnya dan sekarang ia selesai mengeringkan rambutku.


"Makasih." kataku ke Tama yang meletakkan hairdryer.


"Nona Shina. Sebenarnya aku berharap hubungan kita seperti dulu, seperti pertama kali kita bertemu dan sepakat untuk menikah. Aku selalu berharap kita saling percaya lagi dan saling mencintai. Selalu." Dia menempelkan dagunya dipundak ku dan memelukku dengan lembut. Aku yang mendengar perkataannya itu termenung sesaat.


"Aku sekarang sedang mencoba memulai hubungan kita dengan ingatan baruku. Aku nggak janji bisa jadi aku seperti yang dulu tapi aku akan mencoba yang terbaik untuk hubungan kita." ucapku meyakinkan dirinya.


Dia menyunggingkan senyum lalu mencium keningku dengan penuh sayang. "Terima kasih." ucapnya. Aku membalas dengan memberi senyuman simpul. Dia lalu mencium lembut bibirku.


Aku sudah terbiasa dengan perlakuannya yang ini. Aku mulai mengimbanginya, ciuman yang tadinya lembut menuntun kini menjadi menuntut. Tangannya yang besar menyibak lembut bajuku. Bibirnya yang agresif menjelajah ke leher hingga menuju dadaku, sensasinya membuatku berdesis.


Tanpa sabar dia lalu mengangkat ku ke atas ranjang. Gemericik air hujan yang terdengar jelas menerpa dinding kaca kamar kami menjadi irama penghantar malam yang terasa panjang ini.


Lalu kemana ritual pijit yang ia tawarkan tadi? Haahh... sudah pasti besok akan bertambah pegal dan nyeri saja badanku.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2