ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 29 : MAMA MENDESAK


__ADS_3

Tanpa sabar dia lalu mengangkat ku ke atas ranjang. Gemericik air hujan yang terdengar jelas menerpa dinding kaca kamar kami menjadi irama penghantar malam yang terasa panjang ini.


Lalu kemana ritual pijit yang ia tawarkan tadi? Haahh... sudah pasti besok akan bertambah pegal dan nyeri saja badanku.


Wangi harum kopi menusuk hidung membuatku mengerjapkan mata untuk terbangun. Aku coba untuk bangkit dari tidurku.


"Lagi-lagi dia membuat badanku remuk." kataku dalam hati.


Ku lirik asal aroma kopi yang membuat hidungku tergoda, ternyata berada di atas meja nakas tersaji bersama dengan roti di piring kecil. Lalu ku lihat Tama sudah bersiap dengan baju kerjanya di depan cermin meja rias.


"Jam berapa sekarang Tam?" tanyaku kepadanya yang enggan melirik jam dinding maupun jam weker.


Aku lebih memfokuskan pada pemandangan di depanku. Badan tegap dan sedikit besar dengan lengan berotot yang tercetak jelas dari balik kemejanya. Kulit berwarna tan dan wajah tampan paripurna dengan rahang yang tegas. Benar-benar visual yang indah dalam sebuah novel.


Sayangnya hanya ada dalam sebuah novel, tapi untungnya aku lah yang menjadi pemeran wanita untuk pendamping laki-laki dengan tampang sempurna ini.


"Sudah bangun? Masih jam 7:06 menit. Kalau masih capek dan ngantuk istirahat aja dulu." katanya setelah melihat jam yang melingkar di tangannya, dia lalu berjalan menghampiriku kemudian mencium keningku.


"Mau sekalian sarapannya di antar kesini?" tawarnya.


"Nggak usah." jawabku menolak.


"Duh, pinggang ku." kataku refleks saat akan turun dari ranjang, badanku rasanya sakit.


Tama tertawa terkekeh melihat diriku. "Aku kan udah bilang istirahat lagi aja, nanti sarapannya aku minta supaya di antar kesini aja ya." dia mengangkat badanku untuk kembali di sandarkan ke sandaran ranjang.


Aku cemberut kesal. "Aku kan harus kerja. Tolong handphone ku, aku harus kabarin anak-anak dulu kalau aku akan kesiangan." kataku dengan nada sedikit ngambek sambil mengulurkan tanganku.

__ADS_1


Tama makin ketawa lebar. "Kamu kan anaknya bapak Raka Diwirya dan suamimu Aditya Pratama Wijaya. Kamu nggak akan nggak makan kalau nggak kerja sehari." dia lalu mencubit hidungku dengan gemas setelah memberikan handphone ku.


"Justru karena itu aku akan malu kalau nggak kerja. Terus nama-nama kalian itu juga membebani kalau aku hanya malas-malasan dan nggak jadi apa-apa. Aku udah bertekad akan sukses dengan usahaku sendiri." keukeuh ku menjawab perkataan Tama.


"Oke. Terserah kamu saja Nona Shina. Aku berangkat kerja dulu ya." Pamitnya lalu dia mencium kening dan pipiku.


...* * *...


"Shina, Papa terus saja mendesak ke Mama suruh nanyain ke kamu. Kapan kamu mau punya anak? Kalian udah berencana mau punya anak belum?" tanya Mama. Kami sekarang sedang mengobrol di ruang kerjaku di kafe.


Setelah obrolan kami yang panjang dan lama tadi, akhirnya mama menanyakan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan umum orang tua pada anaknya yang sudah lama menikah. Tentu saja, karena pasti orang tua manapun setelah tak lama anaknya menikah mereka ingin menggendong seorang cucu.


Aku tak bisa menjawab sembarangan untuk pertanyaan Mama yang ini. Aku saja masih merasa bertolak dengan batinku saat berhubungan dengan Tama apalagi harus punya anak. Jiwa Rona ku masih belum bisa menerima untuk keadaan yang ini. Sudah Tama aku rebut haknya dari Shina, masa juga iya aku memiliki anak dari Tama. Aku merasa seperti seorang pencuri suami orang di tengah-tengah kemalangan Shina ini.


"Aku belum tau Mam. Liat aja nanti gimana. Aku dan Tama kan harus ngobrolin dulu masalah ini. Apalagi sekarang aku lagi sibuk-sibuknya kerja untuk florist dan kafe, Mama tau sendiri kan?" jawabku pada Mama.


"Tapi kamu gak berantem lagi kan sama Tama? Katanya kamu udah tidur satu kamar lagi ya sama Tama?" Mama terus mendesak ku dengan pertanyaan yang masih mengarah pada hubungan kami.


"Iya Shin. Sebenarnya Papa udah mengeluh gampang lelah, karena banyak kerjanya. Dia ingin mewariskan perusahaan besar itu kepada siapa. Sedangkan anak perempuannya nggak mau." Mama memulai kata-kata membujuk sambil menyindir dengan kata warisan.


"Iya Mam. Aku pasti mikirin kalian juga kok. Tapi kan aku udah bilang kalau aku ingin jadi sukses dengan usahaku sendiri." aku masih tetap saja menolak bujukan Mama.


Baba-ku saja yang berjualan barang antik saja sukses ko apalagi aku, Rona, yang anak semata wayangnya. Tentu saja aku pasti mewarisi keahlian temurun dari Baba-ku di dunia nyata yang pandai berjualan meski sekarang ini aku menjadi Shina.


"Kan ada Andre, sepupu baik hati yang siaga kapan pun untuk kita." sambungku lagi dengan senyum memperlihatkan rentetan gigi.


Andre adalah sepupu Shina yang sangat bisa diandalkan. Dia juga ikut berperan penting dalam perusahaan maupun keluarga Shina, mengingat hanya dia satu-satunya anak laki-laki dari keluarga besar Shina. Meski usianya dibawah Shina namun ia sangat kompeten dalam pekerjaannya, laki-laki itu sangat bisa diandalkan untuk membantu papanya mengolah perusahaan. Untuk itulah meski usianya yang terhitung masih muda tapi ia dituakan dalam keluarga jikalau keluarga besar sedang dalam pembicaraan penting atau musyawarah penting keluarga.

__ADS_1


Mama masih saja memasang muka memelas. "Kamu coba bulan madu lagi aja deh. Itung-itung jalan-jalan setelah kalian memulai hubungan baru lagi. Ajakin Tama gitu." Mama masih terus saja memaksa dengan kata-kata manisnya kepada sang anak.


"Jangan gitu dong Mam. Tama kan megang dua perusahaan. Meski sekarang bukan lagi dia yang megang di cabang Surabaya. Bersyukur juga Om dan adik sepupunya mau bantu ngurus yang anak cabangnya." aku menjelaskan dengan nada mulai sedikit kesal karena Mama masih saja terus mendesak dan tidak mau mengerti posisi kami yang sebagai anak dan menantu bahwa kami ini sedang benar-benar sibuk.


"Ya udah deeh.. Mama gak maksa lagi."


"Oh iya, Mama Amita ngadain makan malam sama keluarga besarnya. Kamu juga mau datang kan?" tanya Mama lalu meminum es kopinya. Mungkin merasa haus karena usahanya membujuk sang putri tadi.


"Iya, Shina akan datang. Tama juga udah kasih tau kok." aku mulai fokus kembali pada kerjaan ku lagi.


"Ya udah kalau gitu Mama mau pulang dulu ya, udah sore. Katanya Papa mau pulang awal hari ini." kata Mama lalu mencium pipiku dan pergi keluar ruangan setelahnya. Ku lihat jam di tanganku yang memang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Tam, kita bawa macaron tiga kotak cukup? Nggak beli yang lain lagi?" Kami bersiap berangkat ke acara makan malam keluarga yang diadakan Mama Tama.


"Nggak usah. Disana pasti udah banyak makanan. Aku tau sifat Mama. Dia selalu menyiapkan makanan kesukaan para tamunya."


Kami pun bergegas berangkat agar cepat sampai di acara makan malam bersama keluarga.


"Waah udah berkumpul semua. Yuk mulai makan aja yuk. Aku udah nyuruh masakin makanan kesukaan kalian lho." kata Mama Amita kepada kami setelah melihat semua tamu keluarga yang di undang sudah datang semua.


Benar saja makanan yang tersaji di atas meja makan banyak rupanya. Dan diantara semua piring yang tersaji adalah makanan kesukaan dari masing-masing kami yang hadir.


Ternyata makan malam ini benar-benar hanya makan malam keluarga besar saja. Keluarga dari pihak ku dan juga keluarga adik dari Mama Tama saja yang datang.


Selesai acara makan malam kemudian kami pun saling bertukar hadiah, ritual yang memang keluarga Tama sudah adakan setiap setahun sekali sebelum aku menikah dengannya. Setelahnya di isi acara tebak-tebakan atau truth or dare dan mengobrol santai sambil mencicipi makanan ringan yang kami bawa masing-masing.


Sayangnya acara seru seperti malam ini tidak bisa Tania hadiri. Adik ipar itu, dia masih sangat sibuk dengan kuliahnya yang sedang mengejar gelar yang ia inginkan. Tiba-tiba saja aku ingat dia dan merindukannya saat suasana keluarga yang ramai ini.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2