ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 45 : KADO ANNIVERSARY


__ADS_3

Akhirnya perjalanan mereka kembali ke kantor di isi dengan percakapan random penuh debatan seperti itu.


"Bagus nggak?" tanya Tama. Saat ini dia sedang mematut dirinya di depan cermin besar lipat tiga.


Aneh ya, biasanya yang mengutamakan totalitas penampilan kebanyakan kaum perempuan namun laki-laki satu ini sangat berbeda. Bukan hanya soal tanggung jawab terhadap pekerjaan namun terhadap dirinya sendiri pun sangat total. Benar-benar lelaki idaman yang hanya ada dalam dunia novel.


Dan ya, hari ini hari kami melakukan pengambilan baju dengan sebelumnya fitting terlebih dahulu. Dan aku rasa tidak ada kekurangan apapun dalam baju pesanan kami karena aku juga sudah mencoba gaun yang ku pesan dan itu sesuai dengan apa yang ku inginkan.


"Iya cocok sama mukanya yang tampan." jawabku dengan begitu saja tanpa sadar karena memang kemeja itu cocok dikenakan di badan Tama yang atletis itu.


Seketika itu pula Tama tertawa terkekeh mendengar jawabanku untuknya yang dirasa spontan juga olehnya. Setelah tersadar dari perkataan ku barusan aku juga tersipu sendiri karenanya.


Tangan sebelahnya lalu merangkulku kemudian mengajak berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


"Ke kafe yuk!" ajak ku ke Tama ketika di dalam mobil saat perjalanan pulang.


"Nggak langsung pulang aja?" tanya Tama seperti seolah sedang meyakinkan.


"Kenapa? Karena kamu besok kerja?" tanyaku kembali.


"Iya. Tadi kan kita juga udah ngafe di tempat lain. Udah jalan-jalan juga. Emang kamu nggak capek ya?" jawabnya.


Iya juga ya, Tama kan baru istirahat beberapa hari setelah pulang dari luar kota. Waktu ambil libur kerja pun dia juga masih kesana kesini untuk urusan yang lain. Hari ini juga udah sibuk nemenin aku kemanapun, besok dia juga harus kerja.

__ADS_1


Aku kurang peka dengan kesehatan dia, pasti badannya capek banget. Kalau dia terpaksa nurutin kemauan aku pasti badan dia akan tambah kelelahan lagi.


"Ya udah langsung pulang aja yuk." kataku tanpa harus berpikir panjang lagi.


"Bener nih? Nggak pa-pa?" tanyanya seperti takut saja kalau aku bakal ngambek.


"Iya serius. Kita langsung pulang aja. Kasian kamunya nyetir mulu dari tadi." ujar ku sambil menatap matanya agar percaya pada perkataan ku.


"Kapan kapan aku ke kafe kamu kalau nggak terlalu sibuk dan bisa pulang awal. Aku bantu-bantu kamu lagi sebagai gantinya." katanya menghibur ku sambil fokus menyetir.


"Iya. Nggak usah maksain kalau nggak bisa. Kalaupun bisa yang ada nanti di kafe malah jadi tontonan pelanggan karena waitersnya kayak model majalah sports." kataku sambil sedikit menggodanya. Dia malah tertawa terbahak mendengar omongan ku yang barusan.


Setelah hari itu kami mulai sibuk dengan keseharian juga pekerjaan masing-masing namun tak lupa untuk meluangkan waktu untuk saling berbalas pesan meski terbalasnya sepuluh menit atau lima belas menit kemudian.


Jika sudah bertemu di rumah pun kami saling berbincang kembali dengan membahas tentang pekerjaan atau hal lainnya dan sekarang yang sering menjadi pembahasan kami adalah acara anniversary kami yang akan tiba sebentar lagi.


Aku sedang berselancar di sebuah jaringan internet untuk mencari sesuatu yang bisa atau pantas aku jadikan kado untuk Tama sebagai hadiah anniversary nanti. Setelah mendapatkan rekomendasi dari salah satu situs yang aku buka hingga melampirkan link belanjanya, aku pun mulai meng-klik link tersebut untuk melihat spesifikasi dan harga produk tersebut.


Pilihan ku jatuh pada dasi dan jam tangan yang ku rasa cocok untuknya.


"Dia udah ngasih aku kalung untuk kadonya. Sedangkan aku belum ngasih apa-apa sama dia sampai sekarang." Gumamku sambil masih melihat-lihat produk pada toko tersebut untuk mencari model yang pas dan cocok untuk dipakai Tama sehari-hari.


"Jam tangan dan dasi cocok pasti buat dia. Secara badan dia kan bagus banget. Kalau pakai dasi ini kelihatan wibawanya pasti, saat di padukan dengan kemeja putih yang biasa dia pake kerja dengan jas dark grey miliknya atau yang warna hitamnya." Gumam ku sambil berpikir membayangkan tubuh atletis Tama mengenakan suit kerjanya dipadukan dengan dasi berwarna merah yang akan aku pilih sekarang.

__ADS_1


"Iya lah, tentu saja akan terlihat keren. Biar bisa dipakai terus juga sama dia, apalagi di tambah jam tangannya yang ini, perpaduan yang sempurna." Kataku bermonolog sendiri masih sambil membayangkan tubuh Tama yang pasti terlihat cocok dengan dasi dan jam tangan pemberian dari ku.


Setelah memutuskan pilihan ku, aku pun memesan barang tersebut dengan kemudian menelepon nomor customer servicenya dan kami pun janjian akan bertemu besok pagi.


Kalau aku belanja lewat online marketnya langsung takutnya Tama tahu pas barang tersebut diantar sampai ke rumah, bukan jadi hadiah kejutan lagi dong untuknya nanti. Jadi lebih baik aku datang ke official store-nya saja, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga ku.


Hari esok yang ku nantikan pun tiba. Pagi ini aku mengambil barang pesanan ku sekalian untuk melakukan pembayarannya. Setelah selesai melakukan pembayaran aku kemudian ke florist.


Rencana ku pembungkusan kado untuk hadiah anniversary ini aku lakukan di florist saja karena di sana juga menyediakan boks untuk hadiah.


Karena ada sebagian dari para pelanggan florist ku tak hanya membeli bunga tangkai yang di rangkai namun juga membeli dalam bentuk kelopak untuk taburan dalam boks hadiah sebagai gift untuk orang-orang yang mereka sayang.


Aku sudah menyiapkan kotak besar yang akan ku isi dengan kelopak mawar juga saat akan memberikan kado ke Tama nanti.


Tama akhir-akhir ini terlihat semakin sibuk karena hari akan diadakannya anniversary juga semakin dekat. Laki-laki itu kadang pulangnya lebih malam dariku, kadang juga malah jam tiga pagi dia baru pulang.


Mungkin ia lakukan itu agar bisa mengambil libur setelah acara anniversary kami.


Aku kadang merasa kesepian tiap malam karena tak tahu waktu dia sudah pulang ke rumah jika sudah larut karena aku sudah tidur terlelap lebih dulu dan saat terbangun tengah malam tiba-tiba saja dia sudah tidur di sampingku.


Jika pulang sekitar jam tiga pagi aku kadang bisa tahu kedatangannya saat mendengar suara gemericik air di kamar mandi ketika ia sedang mandi dan setelah aku bertanya sedikit tentang kepulangannya aku pun tidur kembali saat dia akan mulai untuk tidur juga.


Mungkin karena kelelahan juga makanya dia langsung tidur pulas tanpa ingin mengobrol lebih dengan ku. Aku pun memaklumi itu dan aku juga merasa bersalah karena ada tuntutan keinginan dari para orang tua dia jadi semakin sibuk dan bekerja ekstra seperti ini.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2