
Saat aku sedang ngemil sambil makan es krim Tama bertanya, "Shina kamu belum makan dari semalam lho. Kamu langsung tidur kan habis mandi. Kamu emang nggak lapar sekarang? Belum makan nasi udah makan es krim dulu."
Pertanyaan Tama terdengar membuat ku merasa pusing di kepala.
Sejak kapan laki-laki ini jadi secerewet ini?
Meski aku tahu dia sangat khawatir pada ku karena tadi sempat mual-mual tapi kan kemarin sore sebelum sampai penginapan kami kan kami sempat mampir dulu untuk makan di luar. Apa dia kira aku doyan makan apa? Sebentar-sebentar makan, bahkan harus seperti anak kecil yang ada jadwalnya setiap jam makan.
"Enggak. Aku jadi nggak nafsu makan gara-gara mual bau macha tadi." jawabku seadanya dan masih sambil terus mengemil.
"Besok jadi mau pulang?" tanyanya sambil ikut ngemil snack yang ia beli di samping ku.
Aku menggeleng, "mau istirahat dulu aja. Nanti kalau sudah pulang malah nggak bisa santai langsung kepikiran sama pekerjaan." jawabku dengan jujur.
Memang itu yang akan terjadi setelah nanti sudah tiba di tanah kelahiran. Sibuk dengan keseharian dan pekerjaan.
Meski hari ini kami tidak ada jadwal untuk jalan-jalan tapi aku ingin memanfaatkan waktu sekarang ini untuk mengistirahatkan tubuh ku.
"Oke. Aku nurut kamu aja." jawab yang kemudian tak lagi bersuara dan hanya fokus pada snack yang ada di tangan ku.
"Tam, kamu di mana?" teriak ku setelah lelah mencari Tama di sekeliling penginapan.
"Padahal ini udah malam, menghilang ke mana laki-laki itu?" Aku bicara pada diri sendiri.
"Aku di sini Shina." teriaknya menyahuti teriakan ku dari dalam pemandian. Aku mengikuti suaranya lalu menghampirinya.
Setelah lebih dekat dengannya..
"Dasar laki-laki tampan." Bukan bermaksud sarkas atau mengumpatinya.
Tapi yang terlihat sekarang adalah memang begitu adanya. Rambut yang basah, setengah badannya yang berotot dan juga basah menjadi pemandangan indah di depan mataku saat ini. Bahkan air yang jatuh dari helaian rambutnya membuatnya terlihat lebih menawan karena memang mukanya sudah rupawan.
Tama mengulurkan tangannya ke arah ku yang tengah mendekat padanya. "Mau ikut?" tawarnya.
Aku tersenyum seolah terhipnotis oleh pesona penampilannya malam ini. Aku membuka baju tidur ku yang berbentuk kimono dan kemudian ikut masuk ke dalam pemandian air panas tersebut.
Aku ikut berendam di dalam air bersamanya. Rasanya hangat meski malam ini angin sesekali berhembus menerpa kulit.
Aku datang ke dalam dekapan Tama, bersandar pada dada bidangnya yang seperti melambai padaku sedari tadi dengan kemudian memejamkan mataku merilekskan tubuh.
Tama memelukku dalam dekapannya. Tangan Tama perlahan mengangkat daguku membuat wajah ku menghadap ke wajahnya. Dia lalu mendaratkan bibirnya ke bibirku, mengecup mesra di sana.
Aku terkejut dengan tindakannya barusan. Dia tertawa kecil melihat ekspresi ku yang terkejut itu. Aku tersenyum malu kemudian memukul-mukul pelan dadanya. Dia makin terkekeh lalu memeluk ku membawa ku dalam dekapannya.
__ADS_1
"Mau digosok badannya?" tanyanya setelah kejahilannya tadi.
"Boleh." jawabku.
Tama lalu mulai menggosok lembut punggungku dengan handuk kecil yang sudah tersedia di sana. Rasanya nyaman dan hampir membuat ku terkantuk akan tertidur.
Aku disadarkan dengan rasa terkejut saat Tama mulai menggosok bagian depan tubuhku. Rasanya sedikit aneh. Aku menengok kebelakang menatap mukanya. Dia memasang senyum jahil. Aku yang sadar akan maksudnya kemudian mencoba melepaskan diri agar dia tak meneruskan kegiatannya itu. Tapi dengan sigap pula dia menarik ku kembali ke dalam pelukannya seolah tau akan reaksi ku.
"Jangan pergi. Jangan menghindar." Dia berkata begitu sambil berbisik di telingaku yang membuat ku merasa merinding saat nafasnya menyapu bagian belakang telingaku.
"Eenghh.." Bagai terhipnotis oleh bisikan itu aku tiba-tiba saja tidak sadar jika tangan Tama sudah mulai aktif. Ia meraba-raba seluruh bagian tubuhku.
"Tama.. jangan di sini." Aku coba memberontak dengan masih tertahan dalam dekapannya. Dia tak menggubris ucapanku. Bibirnya kini malah menyentuh tengkukku hingga meninggalkan bekas di sana.
Aku meringis seraya mendesis, "aashh."
"Tama jangan di sini aku bilang." Aku mulai kewalahan dengan keagresifannya.
"Sebentar saja." katanya yang masih tak mempedulikan perkataan ku lagi. Aku tahu jika dia sudah ingin tak bisa hanya sebentar hingga aku nanti akan dibuatnya tak berdaya setelahnya.
Memalukan sekali. Benar-benar mesum diriku ini. Hanya dengan sentuhannya saja sudah membuat ku lemas tak berdaya. Tanpa mau tau kondisi yang sedang kurasakan Tama mulai melakukan aktivitas selanjutnya hingga membuat tubuhku berguncang di sana. Apalagi ini di dalam air.
Air dalam pemandian itu beriak tak beraturan karena ulah kami. Aku pun juga tak lagi memikirkan apakah boleh melakukan hal seperti ini di sini. Hingga akhirnya aku mencapai pada puncak ku dengan disusul oleh Tama kemudian.
"Baru juga sekali." katanya kembali berbisik padaku.
"Harusnya hadiah dari Andre kamu bawa." Aku sudah tak menghiraukan lagi apa kata dia. Yang kurasakan sekarang adalah kepalaku yang terasa pening. Tama menopang tubuhku yang lemas lalu membopongku kembali ke kamar.
Rasanya kakiku tak sanggup untuk berpijak saat dia meletakkan ku di sisi ranjang untuk duduk. Aku lalu tergeletak di atas kasur yang empuk itu tanpa mempedulikan Tama lagi.
Harum kopi mengusik hidungku hingga membangunkan ku pagi ini. Aku bangun dari tidurku dan meregangkan badan dengan tangan terangkat ke atas.
"Udah bangun?" Tama mencium keningku. Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu gimana bisa dapet kopi?" tanyaku. Dia menyodorkan satu cup kopi pada ku.
"Aku ke mini market yang lumayan jauh dari sini. Tapi kita bisa bikin kopi dan mi instan sendiri di sana." jawabnya sambil tersenyum.
"Aku mau roti hangat." kataku tiba-tiba. Tama mengernyitkan dahi.
"Biasanya kita minum kopi sambil makan roti." aku berkata kembali sambil tersenyum padanya.
"Oke aku coba cari. Lama nggak pa-pa?" tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Lama ya?" tama membawa paper bag lalu mengeluarkan roti yang ada di dalamnya. Aku menerimanya dan mulai memakannya tanpa menjawab pertanyaan Tama. Saat gigitan sudah sampai tengah tiba-tiba perutku terasa mual. Aku buru-buru lari ke kamar mandi. Aku memuntahkan roti isi yang ku makan barusan. Kali ini aku benar-benar muntah, bukan mual-mual lagi.
"Shina kamu kenapa? Perut kamu nggak enak lagi?" Tama bertanya dengan nada khawatir dan panik di luar. Aku kemudian membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana.
"Kamu sakit sayang?" tanya Tama dengan ekspresi paniknya lalu memegang kedua pipiku untuk melihat mukaku dengan jelas. Sepertinya sedang memastikan sesuatu juga.
"Nggak tau. Kejunya rasanya kurang enak di lidah aku. Mungkin aku masih nggak enak badan, dan gara-gara semalem juga." kataku dengan jujur.
Tama yang mendengar jawaban ku nyengir merasa bersalah. Mungkin malu juga karena aku yang sudah kelelahan malah tambah dibuatnya semakin lelah.
"Mau minum obat?" tanyanya dengan penuh perhatian menuntun ku untuk duduk.
"Nanti ah. Kepala ku pusing." Aku kemudian memegangi kepalaku.
"Pengen tidur lagi aja." kataku kemudian membaringkan tubuhku kembali ke atas kasur.
"Kita pulang besok ya? Aku khawatir kamu gini terus malah kenapa-napa. Aku pesan tiket penerbangan dulu." Tama sangat panik lalu tanpa menunggu jawabanku dia mengambil handphonenya.
"Iya Ma, aku udah baikan kok." Mama sedang menelepon ku setelah aku sudah bangun dari tidur lagi. Dia khawatir setelah Tama memberi tahu Mama minta di jemput di bandara besok.
"Iya nanti aku kabari lagi. Dah Maam." Aku mengakhiri percakapan kami.
"Mama jadi khawatir ya?" Tama bertanya setelah aku meletakkan handphone ku kembali.
"Iya. Besok kita pulang aja. Hari ini kita harus packing dulu." Aku melihat ke arah koper dengan muka lemas.
"Biar aku aja. Kamu istirahat lagi aja sekarang biar besok kuat saat di perjalanan." katanya lalu mengusap kepalaku. Aku lalu mengangguk sambil tersenyum manis kepadanya sebagai tanda terimakasih.
"Shina makan malam mau sama apa?" tanya Tama yang sudah bersiap dengan baju yang rapi. Dia ingin keluar untuk membeli makanan. Kami merasa sudah bosan dengan menu makanan yang disediakan oleh penginapan ini.
"Apa aja." jawabku.
"Mau cemilan juga buat besok di pesawat?" tanyanya lagi.
"Boleh, yang banyak ya sekalian buat camilan nanti malam." Aku memegang manja tangannya.
Dia merengkuhku, "udah enakan perutnya?"
"Udah. Aku jadi pengen ngemil banyak," jawabku. Tama tertawa kecil kemudian mengecup keningku lalu pergi meninggalkan ku.
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘
__ADS_1