ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 59 : UDAH BANGUN?


__ADS_3

"Ta..ma." katanya tanpa suara hanya gerak mulut yang dapat Tama baca. Ujung jemari istrinya mengusap pipinya dengan lembut dan lemah hingga tangan itu akhirnya jatuh bersama mata indah Shina yang mulai terpejam.


"Shinaaa!!!" teriak tama kuat dan menggelegar.


...* * *...


Dengung suara sebuah mesin terdengar nyaring di dalam sebuah ruangan yang begitu senyap. Suaranya mengusik pendengaran orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.


Laki-laki yang tengah khusuk berdoa tengah malam menghentikan aktivitasnya melihat ke arah sumber suara. Matanya terbuka lebar melihat gadis cantik berstatus pasien berbaring di bed hospital ruangan itu menunjukkan tanda pergerakan.


Mata gadis itu bergerak dan perlahan demi perlahan terbuka. Matanya menyesuaikan cahaya penerangan yang berada di dalam ruangan itu setelah cukup lama terpejam. Pandangannya diedarkan seperti sedang mencari sesuatu atau memahami sesuatu. Kepalanya tertoleh ke samping kanan dan dilihatnya paras tampan yang menjadi sosok pertama yang ia tangkap setelah sekian lama terlelap.


"Tam..ma?" gumam Rona dengan suara lirih nyaris tak terdengar. Ia mengerjapkan matanya hingga tiga kali untuk meyakinkan penglihatannya.


Bukan.


Itu yang sudah ia tangkap sekarang. Laki-laki yang tengah duduk di sebuah kursi tunggal di sampingnya bukan Tama melainkan Saga, Sagara Dewangga. Laki-laki yang sering ia sebut sebagai tetangga masa gitu.


Air matanya menetes, mengalir tiba-tiba hingga membuat laki-laki yang di depannya yang sedari tadi diam mematung menjadi gelagapan dan kemudian menatap sang ayah pasien yang berdiri di samping kiri gadis itu.


"Ba.." ucap Saga pada Baba Rona dan sang Baba pun mengangguk menangis sambil tersenyum.


Buru-buru Saga menghampiri intercom yang bertengger di dinding ruangan itu untuk mengabari dokter atau perawat yang bertanggung jawab menangani Rona sebagai pasien di kamar itu.


Sedangkan Rona memutar pandangannya ke arah samping kiri setelah melihat Saga terburu-buru menghubungi seorang perawat atau dokter. Ia menatap wajah laki-laki tua itu dengan tatapan rindu dan air mata yang terus mengalir.


Sang ayah duduk di sampingnya meraih tangannya yang masih terpasang sebuah jarum infus. Dengan lembut laki-laki paruh baya itu mengusap puncak kepala sang putri yang sudah tidur hampir dua bulan ini.


"Ba.." kata Rona dengan suara lemah.

__ADS_1


"Ssutt." kata Abdullah Altan Lim, Baba Rona. Dia menyuruh agar putrinya itu tetap diam dan tak bersuara sebelum ada dokter yang mengecek keadaannya dan memastikan kesehatannya.


Namun tak dipungkiri hatinya senang sekali melihat sang putri semata wayangnya sudah siuman. Terbukti air matanya terus mengalir saat ini sampai dokter pun datang bersama dengan dua orang perawat.


Tak sia-sia usahanya bangun tengah malam setiap hari dan doanya didengar dan dikabulkan oleh sang pencipta hingga putrinya siuman saat ini. Bangun dari koma yang membuatnya putri cantiknya tidur selama hampir dua bulan. Itu adalah mukjizat dan anugrah yang sangat ia syukuri.


Pemeriksaan selesai dan kru perawat Rona melakukan prosedur kesehatan lainnya. Hingga akhirnya esoknya Rona dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa yang sudah bisa di jenguk oleh keluarganya.


"Sayang.. anak Mamah." ucap Dhira, Mamah Rona yang terkesan cerewet dan galak dalam benak Rona. Namun wanita itu sangat ia rindukan selama tidur panjangnya.


Air mata Rona kembali mengalir tanpa bisa dibendung. Rasa rindu yang lama dan panjang kepada kedua orang tuanya terlepaskan sudah. Namun ada juga perasaan mengganjal di dalam hatinya yang seperti ada yang hilang. Entah bagaimana ia harus mendeskripsikannya.


"Udah Mah." Kata Rona yang tengah disuapi makanan khas rumah sakit oleh sang Mamah.


"Masih ada setengahnya ini Rona." Kata Dhira sambil memperlihatkan mangkuk berwarna putih itu.


Setelah melihat muka memelas sang anak, Dhira lalu meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja samping ranjang pasien anaknya. Setelah menunggu sepuluh menit ia membantu Rona untuk meminum obatnya.


Setelah meminum obatnya Rona berbaring dengan posisi tidur ranjangnya dibantu oleh Dhira untuk menyesuaikan dengan keinginannya.


"Mah, aku dapet surat dari kampus enggak?" Tanya Rona yang pikirannya kini sudah mulai terbiasa dengan kehidupan nyatanya dan ingatannya tentang perkuliahannya mulai masuk dalam benaknya. Karena terakhir kali ia mengalami kecelakaan adalah karena ia bolos dari mata kuliahnya.


Kemarin malam dirinya masih linglung antara masih di dunia novel atau di dunia nyata. Namun setelah dokter melakukan pemeriksaan ia benar-benar yakin jika dia sudah kembali ke kehidupan nyatanya.


Lalu apa kabar dengan Tama dan Shina di dunia sana?


Obrolannya bersama mamahnya berlangsung cukup lama hingga ia merasa matanya semakin lemah untuk terbuka. Mulutnya masih terus menanggapi pembicaraannya dengan sang Mamah namun matanya sudah terpejam hingga ia benar-benar menuju ke alam mimpi sekarang.


"Udah bangun? Lo suka tidur ya ternyata. Dasar sleeping beauty!" Suara bariton laki-laki menyapa Rona dari bangun tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap untuk membuat penglihatannya lebih jelas.

__ADS_1


"Saga?" Gumamnya melihat laki-laki yang sedang duduk di kursi sofa ruangan itu. Sang laki-laki pun mengangguk.


"Mamah mana?" Tanya Rona mengedarkan pandangannya namun sudah tak nampak lagi sosok ibunya yang menemaninya tadi siang.


"Mau bangun? Atau mau minum?" Tanya Saga yang kini sudah berada di samping ranjang pasien milik Rona tanpa menjawab pertanyaan Rona lebih dulu.


"Bangun dulu." Kemudian Saga membantu untuk mengatur ranjang pasien itu membuatnya setengah terduduk.


"Mamah lo pulang. Ini udah mau malem, gantian gue yang jagain elo. Nanti setelah tutup toko Baba lo nyusul ke sini." Jelas Saga yang kemudian menyodorkan gelas tinggi berisi air putih kepada Rona.


"Thanks." Kata Rona menyerahkan kembali gelas itu setelah meminumnya.


"Mau makan sesuatu?" tanya Saga sambil melirik ke arah meja nakas yang ada keranjang parsel berisi tumpukan buah-buahan.


"Dari siapa? Gue mau jeruk." Jawab Rona yang juga ikut melirik ke arah meja samping ranjangnya.


"Tadi bokap nyokap gue ikut ke sini buat jenguk elo. Tapi lo nya tidur mulu, akhirnya mereka pulang aja bareng sama Mamah lo." Jawab Saga yang kini sudah mengupas kulit jeruk dan menyodorkan buahnya ke mulut Rona. Dengan senang hati Rona membuka mulutnya menerima suapan itu. Manis dan segar, rasa yang Rona dapatkan karena makanan yang diberikan dari rumah sakit itu baginya terasa hambar.


...----------------...


**info dari author:


readers setia ku terima kasih sudah kasih support dan sajennya untuk othor. mungkin dua bulan ini othor akan jarang update banget karena kesibukan di dunia nyata. tau sendiri kan kalau lagi musim pembentukan pemilu. othornya banyak kerja lapang jadi mohon dimaklum 🤭🙏


terima kasih untuk yang selalu setia kasih like komen dan sawernya. othor usakan akan update meski tak tentu jadwal. terima kasih sekali lagi 😘**


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2