
Dia merengkuhku, "udah enakan perutnya?"
"Udah. Aku jadi pengen ngemil banyak," jawabku. Tama tertawa kecil kemudian mengecup keningku lalu pergi meninggalkan ku.
Terdengar suara pintu terbuka. Aku buru-buru menghampiri Tama yang baru datang dari luar membawa banyak kantong plastik dan sebagian paper bag di tangannya. Aku meraih lengannya kemudian masuk dalam dekapannya berjalan beriringan dengannya.
"Tam, tadi penanggung jawab penginapan ke sini ngasih gift ke kita. Katanya hadiah untuk pasangan." Aku menunjukkan baju tidur bentuk kimono untuk pasangan yang telah selesai menggunakan penginapan di sana. Tama tersenyum lebar sedikit tertawa. Dia mengelus rambutku dan mengajakku kembali ke kamar.
"Kamu agak manja ya sekarang." celetuknya. Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Tama yang tiba-tiba bicara seperti itu.
Sesaat kemudian aku menyadari jika akhir-akhir ini aku memang merasa sedikit manja ke Tama. Aku jadi tersenyum malu mengingatnya.
"Nggak boleh?"
"Boleh kok. Sering-sering aja kalau gitu." katanya. Aku memukul pelan lengan tangannya itu.
Kami menghabiskan hari terakhir disini dengan berbincang panjang setelah makan malam. Aku yang merasa hubungan ku semakin erat dengan Tama jadi lebih tau kalau ternyata Tama sangat mencintai ku.
Aku sangat beruntung mendapat kebahagiaan yang melimpah seperti ini dan mendapatkan suami sebaik Tama.
"Kenapa?" tanya Tama sembari mengusap pipiku. Dia sadar dari tadi aku memperhatikannya terus.
"I love you." kataku padanya sebagai jawaban. Dia tertawa kecil, wajahnya terlihat merona. Dia memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya itu. Dia lalu menarik ku ke dalam pelukannya.
"Kamu ngucapin duluan." katanya dengan mengulas senyum bahagia.
"Setelah sekian lama.. akhirnya.. untung saja aku tidak pernah menyerah meski pernah memperlakukan mu terserah." katanya lagi.
Kini terlihat jelas wajah bahagianya yang seperti sangat lepas, lega. Tama memegang mukaku, membingkainya dan ditatapnya lekat mata ini.
Dia lalu memberi ciuman di bibir. Rasanya manis dan hangat hingga seolah badanku meleleh. Nafas kami tersengal memburu satu sama lain. Aku tahu perasaan ini, perasaan menuntut yang tak ingin dikalahkan.
__ADS_1
Aku kali ini yang mengambil inisiatif lebih dulu. Malam terakhir kami di sini terasa begitu panjang. Kami benar-benar seperti pengantin baru yang baru memulai bulan madu.
Laki-laki ini meski seperti binatang buas saat melakukannya tapi baru kali ini aku melihat dia mengerahkan seluruh tenaganya. Hingga badannya yang berotot tercetak bagus itu terlihat jelas didepan mataku.
Aku mere*mas kuat sayap punggungnya yang tengah terlihat saat mencapai pelepasannya. Dia lalu terjatuh di samping ku.
"Baru kali ini aku bisa menaklukkannya." kataku dalam hati dengan senyum di bibirku.
...* * *...
"Kamu nggak pa-pa Shina?" Tama mengkhawatirkan ku setelah kami tiba di bandara.
"Nggak pa-pa." jawabku dengan badan yang terasa lemas. Aku merasa hari ini lemas sekali tubuhku.
Tadi pagi perutku juga mual-mual lagi sampai aku nggak mau makan terlebih dahulu sebelum keberangkatan kami menaiki pesawat karena aku takut nanti akan mabuk saat dalam perjalanan.
Meski begitu Tama terkadang menyuapi ku dengan makanan ringan saat dalam perjalanan di pesawat. Juga memberikan minuman jus dalam kemasan yang ia beli kemarin.
"Kamu nggak pa-pa Nak?" Mama memegang mukaku menatap ku dengan raut khawatir.
"Iya Ma, Shina nggak pa-pa kok." jawabku dengan tersenyum agar Mama yakin aku sudah lebih baikan. Papa juga ikut menjemput ku di bandara. Aku tersenyum lalu kemudian memeluknya.
"Kita coba periksa ke rumah sakit terdekat aja Ma untuk memastikan kalau Shina bener-bener nggak apa-apa." perkataan Tama membuat Mama dan Papa menyetujuinya.
"Padahal kan aku nggak pa-pa. Cuma mual-mual aja. Mungkin karena makan nggak teratur di sana saat jalan-jalan jadi efeknya baru kerasa sekarang." kataku meyakinkan mereka. Tapi Mama dan Papa tetap ingin aku di periksa karena kekhawatirannya pada anak semata wayangnya ini.
"Jangan sepelekan hal kecil Shina. Mungkin menurut mu kamu nggak kenapa-napa tapi tubuhmu memberikan sinyalnya dengan mual-mual itu. Ayo kita periksa." kata Papa yang membuat ku tak bisa membantah lagi. Aku pun terpaksa menuruti keinginan mereka untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Kami lalu masuk mobil dan menuju rumah sakit terdekat.
"Ibu Shina tidak kenapa-napa. Hasil tensi darah juga normal. Pencernaannya juga baik. Mungkin ibu kelelahan." kata dokter yang memeriksaku.
"Jika masih penasaran untuk lebih lanjut saya rujuk ke bagian lab untuk tes darah." kata dokter menyampaikan saran dari hasil pemeriksaannya dengan senyum ramah.
__ADS_1
Sang dokter lalu memanggilkan suster pendampingnya agar untuk menuntun kami ke bagian lab. Setelah melakukan tes pemeriksaan kami menunggu untuk hasilnya.
"Mam, aku mau ke toilet dulu ya." kataku ke Mama yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Mama.
Aku meminta Tama mengantarku ke toilet. Setelah kembali dari toilet aku melihat Mama berlinang air mata dan Papa yang juga sedang memegangi bahunya sambil mengusap-usap disana. Aku buru-buru menghampirinya dengan khawatir takut terjadi apa-apa pada Mama.
"Mam, Mama kenapa? Pa, Mama kenapa?" tanyaku panik melihat Mama yang makin deras saja air matanya setelah melihat ku.
Tama juga ikut panik, "Mama kenapa Pa?" tanyanya dengan nada khawatir. Mama dan Papa diam tak menjawab pertanyaan kami lalu Mama mengulurkan tangannya menunjukkan hasil lab pemeriksaan ku pada ku.
"Kamu hamil sayang." kata Mama kemudian dengan senyum bahagia di bibirnya juga air mata yang masih mengalir.
Seketika aku terperangah menanggapi perkataan Mama yang ku dengar barusan. Otakku seolah berhenti bekerja beberapa detik.
"Hamil?!" tanyaku dengan nada tak percaya seraya membaca keterangan hasil tes tersebut.
"Aku hamil?!" tanyaku sekali lagi untuk memperjelas.
"Iya Shina, kamu hamil Nak." Papa menjawab dengan tegas.
Tama kemudian merebut kertas yang ku pegang dengan raut terkejut dan juga tak percaya. "Shina hamil?!" katanya mengungkapkan keterkejutannya.
Aku yang lebih terkejut dengan hasil pemeriksaan ini hanya terdiam tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Iya aku pernah bilang ke Tama kalau aku sudah siap untuk punya anak. Tapi kok secepat ini? Dan sejak kapan?
Aku mulai mengingat kembali kejadian kejadian sebelumnya. Malam dimana Tama berkata kehabisan pengamannya dan selanjutnya ia mulai tak memakai pengamannya setiap kami berhubungan dan baru ku ingat bahwa kami juga sering melakukannya akhir-akhir ini.
Aku yang belakangan ini sering mual-mual di pagi hari dan baru ku sadari di kepalaku kalau aku juga sudah lama terlambat datang bulan mengingat pembalut yang Tama belikan tak terpakai sama sekali oleh ku.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘