ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 54 : CALON PAPA KDRT


__ADS_3

Morning sickness yang ku alami lumayan lama dari perkiraan hingga memasuki bulan ke lima aku baru terbebas dari rasa tersiksanya. Namun selama itu juga Tama selalu rajin menemaniku jika dia sedang berada di rumah dan sigap mendampingiku memeriksakan kandunganku.


"Tam aku mau waffle coklat yang itu." tunjukku pada Tama.


Saat ini kami sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Aku yang sudah terbebas dari penyakit ibu hamil dan mulai berselera untuk makan, maka nafsu makan ku pun bertambah.


Rasanya aku ingin memakan semua makanan yang tidak bisa ku makan selama mengalami morning sickness, mual dan muntah.


Lima bulan kemarin aku hanya bisa mencicipi makanan yang aku inginkan tanpa bisa memakannya hingga tandas dan kenyang. Sekarang saatnya aku balas dendam pada makanan-makanan itu.


"Ayo kita pesan." ajak Tama yang kemudian mengajakku ke counter waffle.


Setelah kami mendapatkan waffle yang aku inginkan kami kemudian berjalan menuju kursi food court yang tersedia di sana lalu memakan waffle pesanan kami yang berisi berbagai macam topping. Setelah selesai makan kami lalu berjalan lagi mengitari area food court.


"Tam, ada takoyaki." teriakku. Tama yang tahu maksudku lalu membelinya untukku.


"Kamu nggak mau?" Aku mengulurkan tangan dengan menggenggam penusuk takoyaki berniat untuk menyuapinya.


Tama menggeleng, "aku masih kenyang." jawabnya sambil tersenyum dengan tangan terangkat di depan bibirnya. Aku kemudian memakannya sendiri sambil jalan karena Tama menolak.


"Tam ada boba rasa macha." tunjukku kemudian. Tama lalu membelinya kemudian menyerahkannya padaku sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.


"Kenapa?" tanyaku sambil meminum dan mengunyah butiran boba.


"Dulu kamu nggak suka kan bau macha sekarang malah diminum dan hampir habis." katanya lalu menunjuk cup Boba yang tinggal setengahnya.


Aku menaikkan cup boba yang ada di tanganku sembari mengingat saat dulu mengalami morning sickness di Jepang. "Iya ya."


"Tapi itu kan dulu pas aku lagi mual-mual terus sekarang kan udah enggak. Tapi memang aneh juga ya." kataku dengan kemudian tertawa mengingat kejadian itu. Tanpa mempedulikan lagi masa itu aku lanjut meminum es boba tersebut.


"Iya sekarang kamu udah bisa makan apa yang kamu suka. Lihat hasilnya, pipi kamu jadi tembem gini. Gemes liatnya aku." kata Tama lalu mencubit lembut pipiku.


"Kalau ini di rumah, udah aku gigit ini bakpao." kata Tama lagi dengan nada gemasnya sambil mendesis.

__ADS_1


"Iishh.. sakit Tama. Calon papa kok kdrt gitu sih." Protes ku dengan kemudian menjauhkan tangan Tama dari pipiku. Ku usap-usap bagian pipiku yang bekas dicubit oleh Tama tadi. Tama terkekeh melihat tingkah ku yang menurutnya itu lucu, apalagi bibirku juga mengerucut sedikit.


Memasuki bulan ke enam ini berat badanku yang dulu sempat turun karena susah untuk masuk makanan berat kini jadi bertambah lagi hingga membuat ku terlihat lebih berisi. Perutku juga terlihat lebih bulat.


Mungkin karena rasa hatiku senang, happy karena selama aku ngidam meski banyak mual muntahnya tapi banyak yang perhatian selama masa sulit itu. Papa dan Mama kadang berkunjung untuk membawakan makanan yang aku inginkan, juga untuk menengok keadaan ku yang sering dikabarkan mual muntah oleh Tama.


Mama Amita juga sangat perhatian hingga tanpa diminta ibu mertua itu selalu membawakan makanan kesukaan ku meski aku sedang tak menginginkannya.


Walau hanya sesuap atau dua suap aku coba memakannya untuk menghargai hasil bawaannya dari rumah beliau meski yang memasaknya bukan Mama Amita sendiri tapi sang pelayan dapur.


"Aah lelahnya." keluhku yang sedang bersandar di sofa.


"Merlin. Aku mau minuman yang manis dan dingin, tolong ya." Aku meminta kepada Merlin dengan sedikit berteriak karena dia sedang berada dekat si dapur, menata barang-barang hasil belanjaan ku dengan Tama tadi.


Tama yang melihat tingkahku mengernyitkan dahi. "Shina, kamu hari ini banyak makan makanan manis. Jangan terlalu banyak nanti berat badan kamu bertambah lho." Tama memperingatkan ku namun perkataannya itu sarat akan ledekan.


"Cuma sedikit kok." kataku sambil meminum teh manis kemasan yang dibawa Merlin.


"Makasih ya." Ucapku setelahnya kepada Merlin.


"Aku nggak masalah kamu gemukan. Tapi nanti setelah melahirkan jangan stres sendiri buat nurunin berat badan ya." nasehat Tama yang kemudian berjalan ke arah ku lalu mencubit pipiku.


"Tama apaan sih, nyubit pipi terus." aku kembali dibuatnya mengusap-usap pipiku lagi.


Tama tertawa, "Aku suka liatnya. Pipi kamu jadi bulat yang tadinya tirus." katanya.


"Ya tapi jangan dicubit terus dong." Keluhku dengan nada sedikit merajuk. Tama malah kembali tertawa dengan kini ia malah menggigit pipiku gemas.


"Iihhh.. Tama sakit tau!" teriakku sambil memukul pipinya. Yang dipukul malah semakin cengengesan sambil mengusap-usap pipinya.


"Sakit Shina." ucapnya tanpa ada raut kesakitan sama sekali.


"Biar tau rasa." kataku lalu mencebikkan bibirku. Lagi-lagi Tama tertawa menanggapi ekspresi ku.

__ADS_1


"Aku mau ikut prenatal spa boleh ya?"


Tanyaku yang tiba-tiba ingat kalau di klinik akan ada jadwal spa ibu hamil. Memang sudah lama ada, namun baru kali ini aku merasa untuk bisa mengikuti senam itu karena sudah tak ada lagi rasa mual dan muntah.


"Boleh. Tapi aku nggak bisa nemenin nggak apa-apa?" Katanya bertanya setelah mengizinkan ku.


"Iya nggak pa-pa nanti aku minta Merlin buat nemenin aku aja." jawabku.


"Oke. Nanti kalau nggak terlalu sibuk aku suruh masukin jadwal nemenin kamu senam hamil juga." katanya lalu mencium keningku.


Seiring berjalannya waktu semakin terlihat perkembangan perutku. Semakin bertambah pula berat badanku.


Aku menyerahkan urusan florist sepenuhnya ke Deri. Aku sesekali hanya berkunjung sebentar sekedar untuk menanyakan tentang kabar dan keadaan anak-anak dan toko dengan diantar oleh pak sopir.


Kalau untuk kafe aku sama sekali tidak bisa ke sana. Sepenuhnya kafe ditangani oleh Mama, aku sangat berterima kasih kepada Mama yang mau direpotkan oleh ku.


Kadang juga aku merasa sangat bosan dirumah terus hingga berfikir harus melakukan apa untuk mengisi waktu luang ini.


Aku melamun sambil mengusap-usap perutku, aku dibuat kaget karena tiba-tiba ada gerakan menendang dari dalam. Aku tertawa sendiri menanggapi respon sang jabang bayi yang berada di dalam sana karena usapan ku.


Katanya diawal trimester terakhir janin banyak aktifnya. Sering diajak ngobrol dan diberi sentuhan juga bisa merangsang perkembangan sang janin.


"Kalau kamu sudah lahir nanti, bagaimana aku akan menceritakan kisah ku dan ibumu yang sesungguhnya?" kataku sambil mengelus perut.


Sejenak aku lupa jika aku bukan Shina yang sesungguhnya karena teramat banyak kebahagiaan yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku jadi merasa bersalah kepada Shina karena jiwaku terlalu lama menggantikannya.


"Tok tok tok"


Suara ketukan pintu mengagetkan ku membuyarkan ku dari lamunan.


"Nona, Tuan menelpon ke rumah." kata Merlin dari luar memberi tahu dengan berteriak. Aku yang sedang duduk di balkon lalu berjalan menuju ke arah pintu kemudian membuka pintu kamar.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2