ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 55 : USG


__ADS_3

"Nona, Tuan menelpon ke rumah." kata Merlin dari luar memberi tahu dengan berteriak. Aku yang sedang duduk di balkon lalu berjalan menuju ke arah pintu kemudian membuka pintu kamar.


"Katanya Tuan menelpon ke handphone Nona tapi tidak dijawab." jelas Merlin.


"Ah.. Iya, aku sedang diluar tadi jadi tidak terdengar." kataku. Aku lalu menuruni anak tangga untuk menerima telepon.


"Iya Tam? Kenapa?" tanyaku menerima panggilan dari Tama.


"Kamu kemana? Aku khawatir." kata Tama dengan nada suara yang terdengar khawatir dari ujung telepon.


"Aku tadi di teras balkon jadi nggak denger kalau handphone ku bunyi." jawabku menjelaskan.


"Aah syukurlah." ucapnya kemudian.


"Aku mau tanya, kamu ada jadwal senam ibu hamil kapan lagi? Aku akan masukkan jadwal untuk menemani mu karena minggu ini nggak terlalu sibuk." tanyanya.


"Aku ada jadwal hari Minggu jam sembilan pagi." jawabku.


"Oh itu pas hari Minggu. Aku nggak perlu atur jadwal dong jadi bisa nemenin kamu langsung." kata Tama.


"Iya. Aku lupa sebelumnya mau kasih tau kamu. Maaf ya." kataku lagi.


"Jangan minta maaf, justru aku yang minta maaf karena sudah berapa kali ini belum bisa nemenin kamu senam. Cuma bisa mengantar untuk cek kehamilan aja." katanya dari ujung telepon.


"Iya nggak pa-pa, kamu kan sibuk kerja juga demi untuk masa depan anak kita." kataku. Kami lalu berbincang sebentar di telepon.


Hari Minggu..


"Sama suaminya sekarang ibu Shina?" Sapa salah satu instruktur senam.


"Iya Bu." Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Mari. Sudah banyak temannya." katanya mempersilakan kami untuk masuk ke ruangan.


Setelah selesai melakukan pengarahan kepada kami para ibu hamil, sang instruktur senam lalu memulai senam untuk para ibu hamil yang didampingi oleh suami masing-masing.


"Dansa sangat bagus ya untuk ibu hamil karena bisa merangsang hormon oksitosin." instruktur mengarahkan agar suami memeluk perut istri dari belakang.

__ADS_1


"Gerakan ini diciptakan untuk membangun rasa percaya dan empati pada hubungan pasangan masing-masing. Jadi sangat bagus untuk para ibu hamil saat akan mempersiapkan diri untuk melahirkan nanti." instruktur terus mengarahkan kepada kami tentang gerakan senam dan manfaatnya hingga kegiatan itu selesai.


"Lelah juga ya, tapi bikin rileks juga." kataku ketika sampai rumah.


Karena tidak ada lagi kegiatan yang kulakukan selama hamil besar ini selain jalan-jalan kecil yang disarankan oleh dokter agar memperlancar jalannya persalinan nanti, jadi senam ibu hamil itu adalah satu-satunya kegiatan lain yang menguras tenaga dan keringat menurut ku.


Tapi itu pun juga tidak sampai berkeringat dan menimbulkan kelelahan berlebih.


"Halo kakaak. Kak Shina. Kalian baru pulang ya?" Suara sapaan yang mengagetkan kami saat sedang berjalan melewati ruang tengah.


"Tania? Kapan datang?" Teriak ku sambil bertanya lalu berjalan menghampirinya kemudian memeluknya.


"Tadi, sudah lama saat kalian masih di klinik ibu dan anak." jawab gadis itu.


"Kamu sama siapa kesini?" tanya Tama pada adiknya setelah sebelumnya memeluknya juga.


"Tadi Mama jemput aku. Sekarang Mama lagi keluar mau beli makanan kesukaan kak Shina katanya." jawab Tania.


"Kasihan nunggu lama. Udah makan belum?" Ujar ku lalu bertanya padanya.


"Udah kak. Udah lama juga aku di sini." Jawab Tania yang kemudian ku angguki.


"Tania masih belum dapet izin praktik sendiri?" tanyaku saat berada di dalam kamar.


Saat ini sudah malam. Setelah membiarkan Tama dan Tania berdua tadi untuk melepaskan rindu antara kakak dan adik sebelum Tania kembali lagi untuk beraktivitas lebih sibuk akhirnya aku jadi penasaran obrolan apa saja yang mereka bahas tadi. Dan sekaranglah kami membahasnya.


"Iya. Jadi harus melayani umum dulu untuk masa training. Tapi tempat prakteknya lumayan bagus untuk dapat sertifikat buka praktek sendiri. Nanti kalau kamu mau lahiran bisa ditangani sama dia." kata Tama.


"Iya syukurlah. Gimana nanti aja kalau udah mau lahiran. Kan bisa aja kerasanya tengah malam, masa iya harus ke rumah sakit tempat Tania praktik yang jauh itu. Ya lebih baik ke klinik langganan yang terdekat aja." kataku kepada Tama yang kemudian menyandarkan kepalaku ke pundaknya.


"Iya juga, bener. Yang penting kamu dan dedek bayinya nanti selamat." kata Tama kemudian.


"Aamiin." jawabku.


"Kamu ngemil lagi?" tanya Tama yang tadinya sedang fokus dengan layar laptopnya sambil berbincang dengan ku kini teralihkan karena suara decapan dari mulutku.


"Iya. Kue mochi yang Mama kamu beli enak. Kamu mau coba?" tawar ku sambil menyodorkan tanganku yang memegang kue mochi.

__ADS_1


Tama menggelengkan kepala tanda menolak. Aku mengedikkan bahu sambil mengangkat alisku kemudian melanjutkan makan kue mochi pemberian dari mama mertuaku.


"Tama dua hari lagi jadwal USG ya. Jangan lupa temenin aku lagi ya." kataku pada Tama sebelum kami benar-benar tidur.


"Iya. Nanti ingetin aku lagi malamnya jadi pagi nya aku bisa anterin kamu dulu sebelum berangkat kerja." katanya dengan kemudian mengecup keningku.


"Udah malem jangan ngemil terus. Habis ini sikat gigi terus tidur." Kata Tama yang telah selesai dengan laptopnya kemudian beranjak ke kamar mandi duluan setelah mengusap puncak kepalaku.


"Oke." jawabku.


"Bayinya sehat ya bapak, ibu. Detak jantungnya juga normal. Berat badan memasuki usia 32 minggu juga sudah pas. Lihat muka janinnya. Cantik ya." kata dokter USG yang sedang memeriksa ku. Dia memperlihatkan pergerakan janin di monitor USG 4D kepada kami.


"Aktif ya bayinya." Imbuhnya sambil tertawa kecil ketika melihat janinku sedang bergerak-gerak dan menendang.


Tama yang sedari tadi terlihat hanya diam saja sambil menatap layar monitor USG itu seolah kagum dengan apa yang dilihatnya. Dia menggenggam tanganku dan mencium keningku. Aku juga merasa bahagia dengan perlakuannya.


"Sudah ditentukan tempat lahirannya mau di mana?" tanya dokter kandungan ku sambil mengisi buku KIA setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada ku.


"Di mana saja dok, yang terpenting anak dan ibunya selamat dan sehat." kata Tama menjawab dengan merengkuh pundak ku.


"Iya, semoga proses persalinannya nanti berjalan lancar dan normal sesuai yang diinginkan ya." kata dokter itu.


"Aamiin. Terima kasih dok." jawab kami bersahutan.


"Ini obatnya, diambil di bagian apotek ya." katanya kepada kami sambil menyerahkan buku KIA. Kami mengangguk lalu berpamitan keluar dari ruangan.


"Mau langsung pulang aja? atau ada yang mau dibeli?" tanya Tama ketika dalam perjalanan pulang.


Aku sih inginnya jalan-jalan dulu sebentar. Mencari tempat pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan yang menjajakan dagangannya untuk mencari makanan unik yang belum pernah aku coba.


Tapi mengingat hari ini hari kerja Tama aku mengurungkan niatku. Takut nanti mengganggu jadwal pekerjaannya yang nantinya berujung jadi kacau.


"Emm.. enggak deh. Nanti aja kalau kamu libur temenin aku jalan-jalan." kataku.


"Oke kalau gitu, aku antar kamu pulang dulu." jawabnya yang sedang fokus menyetir lalu menambah sedikit kecepatan pada mobilnya.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2