
Karena seharian ini dia mendapat chat bertubi-tubi dari Saga yang menanyakan keberadaannya karena laki-laki itu ingin bertemu dan berbicara. Tak sedikit kalimat ancaman receh yang Saga kirimkan agar dia mau bertemu dengannya. Malas handphonenya berisik terus Chen akhirnya melayani kemauan Saga untuk bertemu.
"Lo kemarin udah disana dan teriak-teriak panggil Onty, lo pura-pura baru dateng gitu? Pada kenyataannya lo udah ambil video kayak gitu? Minta di geprek lo?" Saga menyerang Chen dengan pertanyaan tanpa jeda di sekali nafasnya.
Dada laki-laki itu naik turun untuk menahan emosinya karena merasa dikerjai oleh bocah blasteran yang ada di hadapannya ini dan malah dengan santainya si bocah Chen makan mie yamin dengan suara slurp yang menggoda.
Chen mengangkat semua jemarinya sebagai isyarat agar Saga tak berisik saat dia sedang menikmati makanannya. Ia kemudian menyodorkan satu botol minuman dingin yang sengaja ia siapkan untuk Saga karena ia tahu pasti bocah satu ini akan datang dengan amarah yang berkumpul di dadanya.
Setelah ia selesai makan mie yaminnya ia kemudian juga meneguk minuman dingin miliknya dengan mengeluarkan ******* lega setelahnya. Pertanda ia sangat menikmati makanannya.
"Semua pertanyaan lo jawabannya 'iya' kecuali yang terakhir.Gue bakal tutup mulut asal.. satu bulan full jajanin gue di kampus ini. Deal?" Kata Chen yang seolah sedang bertransaksi jual beli dengan Saga. Iya, dia bertransaksi dengan modal video Saga yang dia miliki.
Jika Saga akan berpikir panjang harusnya ia tidak usah merasa terancam karena video itu. Mana mungkin juga ia akan melaporkan videonya itu kepada uncle nya, sama saja ia yang bunuh diri. Bukannya langsung menegur Rona dan Saga melarang agar tak berbuat seperti itu apalagi lebih jauh, tapi ia malah memvideokan momen itu. Yang ada ia yang kena tempeleng sama pamannya nanti.
"Bodohnya Saga. Bisa dimanfaatkan." Sorak Chen dalam hati setelah Saga menyanggupi persyaratannya.
"Tapi siniin HP lo. Gue sendiri yang akan hapus semuanya." Kata Saga yang tidak melepaskan Chen begitu saja karena persyaratannya tadi.
Dengan enteng Chen pun memberikan handphonenya setelah memasukkan kata sandi miliknya. Kini senyum Saga mengembang yang tadi raut mukanya hampir seharian ini terlihat masam.
Chen pun juga menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Kenapa disaat panik seperti ini orang-orang yang tergolong pintar tiba-tiba menjadi bodoh, contohnya Saga ini.
__ADS_1
Ia pikir apa gunanya cloud di dalam handphone, guna Gdrive dan guna Gfoto. Chen menertawakan kebodohan Saga dalam hatinya sendiri. Lucu saja, pikirnya sambil geleng-geleng samar.
Memangnya Saga pikir tidak ada yang Chen perbuat pada video itu setelah semalaman video itu menginap di handphonenya. Astagaa.. rasanya Chen ingin tertawa terbahak-bahak di depan muka Saga sekarang. Menertawakan kebodohan si Sagara Dewangga ini.
"Ini ayam geprek Bu Nonik lo juga yang bayar. Serta minumannya termasuk yang lo minum barusan." Ucap Chen setelah merasa urusannya dengan Saga selesai. Ia tadi juga sengaja sudah memesan ayam geprek untuk dibungkus karena akan ia bawa pulang. Lebih tepatnya ia bawa ke rumah kekasihnya.
Sebelum Saga melayangkan kata protesnya Chen kembali berucap. "No protes! Terhitung mulai hari ini." Katanya mengacungkan telunjuknya di depan Saga.
"Sini kartu lo. Gue nggak percaya kalo nggak gue sendiri yang bayar." Chen menengadahkan tangannya meminta kartu akses pembelian di kantin milik kampus tempatnya menimba ilmu itu.
Sampai tak bisa berkata-kata lagi Saga kemudian mencari kartu miliknya bermaksud untuk diberikan kepada Chen. "Bentar. Gue make apa ntar kalo mau jajan." Ia menahan kartunya untuk diberikan kepada Chen.
Chen memutar bola matanya malas. Bener-bener jadi bloon nih anak, rutuknya dalam hati. "Lo bisa pake duit, scan barcode. Apa susahnya sih."
"Tapikan ini udah di top up sama bokap gue buat jatah jajan gue sebulan ke depan." Saga masih ragu. Ia menimang-nimang karena jika kartu itu ia berikan kepada Chen. Kedepannya ia harus berhemat dalam menggunakan uang dalam dompetnya maupun rekeningnya. Masih mending kalau Chen jajan sewajarnya, bagaimana kalau dia royal dalam menggunakan kartu miliknya.
"Gue kasih aja videonya ke bokap lo deh biar ditambahin uang tutup mulutnya gue." Kata Chen dengan muka mengeluh nya.
"Ck. Hasyu!" Umpat Saga kemudian meletakkan dengan kasar kartu miliknya di telapak tangan Chen hingga berbunyi seperti tepukan tangan.
Chen menyeringai lalu pergi begitu saja meninggalkan Saga di sana. Takut saja nantinya otak Saga kembali berubah lagi pikirannya.
__ADS_1
Hari ini Saga lupa dengan tanggung jawabnya sebagai penjaga Rona. Laki-laki itu dari tadi pagi pun merasa belum melihat Rona padahal ia satu kelas. Mungkin karena terlalu fokus memikirkan masalah videonya dengan Chen ia jadi melupakan Rona.
Belum lagi tadi sebelum ia akan menemui Chen langkahnya sempat terhenti karena seseorang mencegatnya di halaman samping gedung fakultas fashion design. Ia juga merasa kesal karena saat sedang sibuknya malah di ganggu dengan hal yang menurutnya sudah tidak penting lagi.
Sementara itu Rona sekarang berada di salah satu perpustakaan universitas besar itu. Matanya tertuju pada tulisan buku yang terbuka lebar itu, namun tidak dengan fokus pikirannya.
Ia masih teringat tentang kejadian kemarin yang menurutnya tiba-tiba dan membuatnya sedikit shock. Bagaimana mungkin ia tidak kepikiran tentang cara Saga yang akan menutup mulutnya dengan cara itu? Dan apa maksudnya ia melakukan dengan cara itu? Tiba-tiba pula.
Ia sangat geram dan ingin menghajar mulut laki-laki itu.
Ah, apakah Saga melakukan itu karena ia ingin balas dendam sebab Rona tak sengaja menendang tulang keringnya hingga ia merasa kesakitan? Tapi masa iya hal sekecil itu ia cemen dan langsung main balas. Padahal kan itu juga tendangan tak sengaja dari seorang perempuan yang lemah. Biasanya juga ia kalau gelud sampai kadang lebam dan sedikit berdarah.
Rona masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan hanya membolak-balikkan lembaran demi lembaran pada buku di hadapannya.
Dan lagi, ia juga teringat tentang perkataan Raya. Saat ia sedang sibuk mencari Saga perempuan itu seperti sedang tahu saja tadi. Di koridor lantai atas tadi ia dipanggil oleh Raya.
"Rona!" teriak Raya memanggil. Padahal ada banyak anak lain juga di sana. Tapi Raya memanggil namanya tanpa mempedulikan jika orang lain akan terganggu karena teriakannya.
Rona langsung menghampiri dimana Raya sedang berdiri di tepian koridor yang di mana juga banyak anak-anak yang sedang bersandar di sana dan ada juga yang sedang duduk-duduk sambil bercerita santai di sana.
"Ada apa?" tanya Rona setelah sampai lalu membenarkan tongkat penyangganya.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘