
Diujung jalan aku lihat bangunan yang cukup besar dengan hiasan lampu yang gemerlap, banyak orang keluar masuk. BAR tulisan yang cukup besar.
Aku sedang jalan-jalan untuk refreshing kan. Toh niat ku libur kerja untuk menghilangkan penat bukan untuk menambah pikiran.
Aku mulai memesan minuman dan berbincang dengan orang asing disana. Sesekali membicarakan hal yang terdengar konyol dan bodoh hingga membuat kami tertawa terbahak tak jelas sambil meneguk minuman yang tersaji. Entah sudah jam berapa sekarang. Rasanya aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas.
Handphone ku terus saja bergetar namun tak aku pedulikan. Aku minum segelas lagi dengan sekali teguk dan setelahnya mulailah gelap pandanganku pada disekitar. Wajah perempuan asing yang mengajakku mengobrol pun juga tak lagi terlihat di mataku.
...* * *...
Kepalaku terasa berputar dan perutku terasa mual. Aku lalu berlari ke kamar mandi memuntahkan isi dalam perut yang membuat ku tak nyaman. Kepala ku pening dan sedikit sakit.
"Apa barusan?" Aku bertanya dalam hati dengan tubuh masih terduduk lemas di depan kloset.
Bayangan aku sedang minum dengan seorang laki-laki, lalu adu mulut antara aku dengan Tama kemudian perkelahian laki-laki itu dengan Tama. Aku yang berjalan cepat menjauhi mereka lalu suara klakson yang panjang dan lampu yang menyala terang. Seketika aku tersadar. Aku sudah berada di kamar penginapan lagi.
Suara pintu yang diketuk terus menerus terdengar dari luar kamar mandi. Terdengar Tama terus saja memanggil dan bertanya dengan nada khawatir dari luar.
"Shina please, aku khawatir. Kita lagi liburan berdua. Kalau mau kemana mana tolong kasih tau dulu. Kamu itu tanggung jawab aku. Minimal kabari aku lewat pesan atau telepon aku lebih dulu." Katanya sambil berlutut memegang tanganku.
Aku sekarang sudah terduduk di tepian ranjang setelah dia menuntun ku keluar dari kamar mandi. Dia terlihat panik dan sangat khawatir.
Puas! Salah siapa malah pegangan tangan sama perempuan lain. Katanya ingin cari makanan. Kesal aku!
Haduuh.. kok aku jadi jengkel banget ya jadinya setelah inget kejadian semalem. Ngapain juga aku musti sedih? Apa ini perasaan Shina yang nggak terima dengan kejadian semalam?
Aku diam. Dia beralih duduk di sampingku lalu menyibak rambutku yang masih tertunduk tak ingin menatap dirinya.
"Please, look at me." pintanya dengan perlahan meraih daguku agar aku mau menatapnya.
Ku ikuti langkah tangannya dan dengan berani ku tatap dia. Dengan mengumpulkan keberanian aku bertanya, "Dia siapa? Dia terlihat akrab dengan mu. Sepertinya kalian sering bertemu juga." tiba-tiba nada bicaraku bergetar dan mataku mulai berkaca-kaca.
Cih, lemah sekali kau Shina! Aku mengumpati raga ini.
__ADS_1
Tama malah memelukku. "Maaf, harusnya tadi aku terus bersama kamu. Keluar pun harus menunggumu." dia coba menenangkan ku sambil mengusap-usap punggung tanganku. Matanya memancarkan kekhawatiran.
Apa-apaan dia? Mengalihkan pembicaraan dengan tidak menjawab pertanyaan ku. Heh, aku tersenyum sinis. Jengah. Kepalaku masih terasah pusing. Mendengar perkataan yang bukan jawaban dari pertanyaan ku malah membuat jantung ku kembali bergemuruh dengan hebat.
Aku berontak, ku lepaskan tanganku dari genggamannya. Dengan mengalihkan pandanganku darinya, "Dia siapa Tama?!" tanyaku dengan nada penuh penekanan.
Tama diam. Aku benar-benar mulai sangat kesal. Dengan cepat aku berdiri, beranjak dari sisi ranjang lalu berdecak kesal.
Sial! Kepalaku masih pusing. Aku jadi terdiam untuk menetralisir rasa pening di kepala.
Masa iya lagi dalam mode ngambek sama dia malah tersungkur di hadapannya. Nggak banget lah.
Tama meraih tanganku lalu menggenggamnya, mencoba mencegahku agar tak kemana mana. "Aku jelasin. Tapi kamu tenang dulu. Biar kamu ingat semuanya." dia membujuk.
Aku mendengus lalu kembali duduk disisi kasur. Dan mulailah Tama menceritakan semua.
*
*
*
Saat itu aku sedang sibuk dengan usaha florist ku. Mama menelfon mengajakku makan siang di sebuah restoran. Ternyata di sana sudah ada Papa dan temannya yaitu Papanya Tama dan juga Tama. Mereka menunggu kedatangan kami.
Aku diperkenalkan kepada mereka oleh Papa.
"Shina kenalin ini teman Papa, Om Anton, dan ini anaknya Aditya Pratama, panggilannya Tama. Kamu pernah denger kan teman Papa yang Papa cerita kan itu. Kamu juga pernah kok ketemu sama mereka." kata Papa dengan tangan terbuka menunjuk ke arah mereka.
Seolah Papa sedang berkata aku mengingat mereka, padahal aku selalu menganggap apa yang Papa ceritakan seperti angin lalu setelahnya. Aku hanya ingin terkesan menjadi anak yang pendengar padahal tidak begitu peduli siapa saja orang-orang yang Papa anggap baik dan berteman dekat.
Aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri, "halo Om Anton aku Shina. Senang bertemu dengan Om."
Lalu juga ke Tama, "halo aku Shina. Salam kenal."
__ADS_1
Kami semua lalu duduk dan memesan makanan. Setelah makan siang selesai kami mengobrol biasa dengan obrolan ringan dan obrolan itu mulai menjerumus ke pernikahan.
"Gimana kalau kita nikahin aja anak kita Ka. Biar Tama gak terus tinggal di Surabaya dan keluar kota terus. Jadi dia bisa menetap disini." kata Om Anton setelah bertanya-tanya sebelumnya kepadaku apakah aku sudah memiliki kekasih atau orang yang disuka.
Tapi saya sayangnya waktu itu aku nggak punya pacar, kekasih atau partner kencan karena aku memang belum mau untuk memikirkan hal itu. Aku masih ingin fokus pada usahaku, bisnis kecilku.
Sontak saja aku langsung melongo dan juga salah tingkah. Kok obrolan mereka jadi ke arah pernikahan dan ingin menjodohkan kami. Untuk punya kekasih saja tidak aku tidak memikirkan apalagi soal pernikahan.
Haish... Membayangkannya saja sepertinya merepotkan.
"Shina. Om berencana mau nikahin Tama sama kamu Shin, tapi kata Papa kamu harus tanya ke kamu dulu. Om sama Papa kamu nih temen baik dari SMA kelas 3. Kuliah bareng, merintis usaha juga bareng, meski beda tempat. Om pernah berada di titik paling susah sampai sampai Om nangis kepikiran gimana nanti nasib keluarga Om, karena waktu itu Om nggak punya uang untuk makan agar bertahan sampai satu minggu. Tapi Papa kamu ini satu satunya orang yang datang sendiri ke Om ngulurin tangannya buat bantu Om sampai usaha Om pulih kembali." Cerita Om Anton panjang.
Kali ini aku menanggapi cerita orang tua dengan serius, tidak hanya masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri. Aku hanya menanggapi dengan santai kala itu, tidak menolak tidak juga langsung menerima.
Apa salahnya mencoba untuk sibuk dengan makhluk yang namanya lelaki kan? Lagi pula sudah lama juga aku sendiri dan hanya fokus pada pekerjaan.
Dari pertemuan itu kami jadi dekat. Tama yang tinggal di kota Surabaya kadang ke kota Jakarta hanya untuk bertemu denganku. Kami menjalani hubungan kami dengan natural, biarkan mengalir berjalan beriringan dengan waktu. Hingga orang tua kami merasa hubungan kami semakin berkembang ke arah yang mereka inginkan.
Tama kadang meluangkan waktu untuk bertemu denganku, entah hanya untuk sekedar bertemu layaknya pasangan kencan biasanya atau mengajakku untuk liburan dan jalan-jalan. Dia juga pernah meluangkan waktu di jadwal kerjanya yang padat hanya untuk menjengukku saat aku sakit. Begitupun dengan ku yang juga kadang meluangkan waktu untuk berkunjung ke kota tempatnya bekerja itu. Meski tidak terlalu sering.
Dari hubungan yang bisa dibilang berjalan lancar, lalu kami berkomitmen untuk hidup bersama. Kami kemudian memberi tahu orang tua kami masing-masing niatan baik kami.
Pertemuan antar orang tua dan keluarga pun sering terjadi. Kesepakatan pun diputuskan. Mulai dari tanggal pernikahan, gedung, resepsi, apapun yang menyangkut pernikahan kami semua terlihat ikut antusias.
Aku menyerahkan urusan undangan ke Mama dan Mamanya Tama. Lalu untuk gedung acara pernikahan kami memutuskan untuk mencari sendiri.
Kami pun survei gedung untuk acara pernikahan, dari sini aku mulai janggal. Saat di lobi gedung Tama menyuruhku untuk naik duluan bersama karyawan gedung tersebut.
Kulihat sekilas sebelum benar-benar meninggalkannya, dia sedang berbincang dengan perempuan berambut pendek. Perawakan yang tinggi dan juga langsing seperti model.
⭐⭐
note : dari sini mulai flashback cerita kehidupan Shina ya. Bukan kehidupan Rona dalam tubuh Shina.
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘