
"Papa ingin kamu bahagia. Seandainya kamu mau Papa ingin wariskan perusahaan Papa ke kamu. Tapi kamu bertekad ingin sukses sendiri. Ya sudah Papa nggak maksa. Yang terpenting buat Papa adalah kebahagiaan kamu." terlihat Papa sedang menunjukkan kasih sayangnya lewat ucapnya itu.
"Iya, makasih Papa. Aku bakal buktiin ke Papa kalau aku bisa sukses tanpa memakai nama Papa." kataku yakin juga untuk meyakinkan Papa.
Tapi jika dipikir, Shina kurang sukses gimana sekarang? setelah pembukaan kafenya, tempat itu langsung viral yang juga menyeret florist yang ia kelola dan membuat toko bunga itu dikenal banyak orang juga. Bukankah itu juga sudah termasuk kategori sukses sendiri?
"Sebagai gantinya Papa mau cepat dibuatkan ahli warisnya ya. Kalian harus berusaha lebih keras lagi mulai dari sekarang." kata Papa dengan kekehan kecilnya karena kondisi masih di tengah tempat pesta yang banyak tamu undangan.
"Ish Papa apaan sih, mintanya sama kayak Mama juga." Aku tersipu.
"Mau kita anterin nak?" tawar Papa saat akan pulang dari pesta. Memang tadi aku berangkat terpisah dari Papa dan Mama karena aku berangkat dari rumah di antar oleh pak sopir, setelahnya pak sopir langsung pulang lagi.
"Boleh Pa." jawabku kemudian ikut berjalan ke arah mobil Papa diparkirkan. Kami pun memasuki mobil dengan bersamaan.
"Sekalian nginep di rumah aja yuk. Iya kan Pa? Nak Tama kan lagi nggak ada juga sekarang." kata Mama yang memang sudah aku beri tahu kalau Tama sedang mengadakan perjalanan bisnis.
Aku menimang sejenak. Sepertinya memang belum pernah aku nginep di rumah orang tua Shina saat aku menjadi Shina, sekali-kali aku coba aja deh.
"Boleh yuk. Sesekali aku jadi anak Papa Mama lagi." kataku sambil nyengir yang di tanggapi tawaan oleh mereka.
Setelah mengiyakan ajakan Mama aku mengirim pesan kepada Tama memberitahukan kalau malam ini aku akan menginap di rumah Papa Mama.
Mobil yang kami tumpangi pun keluar dari parkiran dan melaju dengan cepat agar cepat sampai rumah karena mengingat hari semakin malam dan cuaca sedikit mendung. Terlihat tadi setelah keluar dari gedung pernikahan itu, aku sempat menatap langit sebentar dan ternyata hanya gelap tak ada cahaya bintang karena tertutup oleh awan mendung.
__ADS_1
"Mau tidur dikamar kamu yang dulu?" tanya Mama setelah kami tiba di rumah. Dia menunjuk pintu kamar yang mungkin dimaksud adalah kamarku, kamar Shina.
"Iya Ma. Aku ke atas dulu ya mau mandi. Udah gerah banget dan sesak pakai gaun terus." jawabku dengan gerakan mengipaskan tangan ke arah leher dan dada lalu bergegas ke kamar yang dulu sering dipakai Shina. Mama merespon dengan mengangguk.
Kamar Mama dan Papa Shina ada dibawah karena Papa yang yang memilih, katanya nggak mau ribet naik turun jika ada tamu mendadak untuknya terlebih tamu yang datang dengan membawa masalah tentang perusahaan.
Aku menenggelamkan tubuhku di atas kasur milik Shina yang terasa empuk ini. Rasanya segar sekali setelah mandi lalu berbaring.
Terdengar bunyi tik tak tik tak dari dinding kaca samping tempat tidur Shina. Sepertinya di luar sudah mulai turun hujan hingga air yang jatuh mengenai dinding kaca kamar itu.
Berbalik menelentangkan badan, kulihat sekeliling kamar ini. Cat dinding yang putih cerah, kamar berhias boneka dan pernak-pernik berwarna biru dan merah muda.
Kamar khas gadis perawan.
Menatap lurus ke langit-langit kamar, aku berpikir. Apa yang harus aku lakukan agar bisa kembali ke kehidupan nyata ku. Jika menikah sudah, hidup bahagia dengan Tama dan juga keluarganya pun sudah. Karena memang sekarang aku sangat bahagia memiliki suami seperti Tama dan juga mertua seperti Mama Tama. Dengan Papa dan Mama Shina pun aku juga merasa sangat bahagia.
Apa aku harus punya anak untuk melengkapi kebahagiaan mereka dan akhirnya aku bisa kembali ke dunia ku? Aku berkutat dengan pikiranku sendiri malam ini.
Setelah lelah karena menghadiri pesta tadi, aku juga lelah memikirkan cara untuk kembali ke dunia asal ku.
"Lebih baik aku tidur saja." ucapku akhirnya.
"Hubungan kamu sama Tama gimana sekarang? Papa dengar cerita kamu dari Mama lho." tanya Papa kepada putrinya dengan nada perhatian.
__ADS_1
Pagi ini kami sedang berada di meja makan, setelah selesai ritual sarapan kami, kami pun mengobrol dengan obrolan yang bersifat pribadi.
"Iya.. sekarang kami jadi lebih dekat dan aku juga lebih terbuka ke Tama. Shina nggak mau inget-inget lagi masalah atau masa lalu yang memang nggak mau aku ingat Pa. Yang justru nanti itu semua malah jadi racun buat Shina menjalani rumah tangga ini." kataku sambil bersandar ke kursi meja makan dengan tangan yang sedang mengupas kulit jeruk.
"Kalau kamu sudah berkomit jalani saja yang memang kamu yakini baik untuk kamu. Apapun yang jadi keputusan mu, kamu juga yang akan bertanggung jawab atasnya." kata Papa yang terdengar seperti sedang memberi support kepada anaknya.
Aku nilai dari sifat orang tua Shina terlihat sekali kalau Papa dan Mama Shina sangat perhatian dan sayang sekali kepada putrinya itu. Apalagi sifat Papa Shina ini, persis sekali dengan sifat Baba-ku yang sangat perhatian yang selalu nanyain kabar sekolah ku, nanyain apakah di kampus aku mengalami kesulitan atau kadang nyuruh aku bercerita tentang keseharian aku di kampus atau ada suatu kejadian yang menarik yang untuk diceritakan kepada Baba.
Aku jadi rindu sosok ayahku yang nyata.
Papa Shina yang selalu sibuk bahkan tak pernah sempat memberi kabar tapi jika sudah menyangkut dengan keluarga dia pasti selalu mengutamakan keluarganya. Keluarga adalah prioritas utama bagi Papa. Dia selalu bisa menjadi dirinya sesuai dengan tempatnya. Aku sebagai Shina juga bangga punya Papa sepertinya.
Kalau untuk sifat Mama Shina dan Mamah-ku memang berbanding terbalik, Mama Shina sangat-sangat perhatian sekali mulai dari hal kecil yang bersifat pribadi sampai hal umum pun dia sangat peduli. Kalau Mamah-ku, dia sedikit cuek dan sering marah-marah jika suatu hal tidak berjalan sesuai keinginannya. Mungkin akunya yang memang sangat bandel hingga bikin Mamah marah-marah terus. Tapi jika aku terkena masalah atau musibah Mamah pasti selalu di depan untuk aku.
Hehhh.. aku jadi rindu mereka, rindu Baba dan Mamah.
Hari ini berangkat kerjaku di antarkan oleh Papa. Di dalam mobil saat perjalanan kami pun ngobrol tentang sesuatu yang random juga hal yang memang tidak terlalu penting.
Kata beliau, ia jadi teringat saat sering mengantarku sendiri ke sekolah SMA dulu. Papa selalu mengantarku sendiri menggunakan motor, itu dulu sebelum beliau sesukses sekarang hingga memiliki mobil sendiri dan juga sekarang memiliki sopir yang bertugas mengantarnya kemana-mana.
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘
__ADS_1