
Mencari alasan seketika ia lalu berkata, "ini sedang di luar, lihat ada rekan kerja lain juga." Tama berkata sambil menunjuk dua sekretaris perempuan yang sedang standby di meja mereka dengan dagunya.
Linda dan Devi pun lantas menganggukkan kepalanya setelah ditunjuk oleh sang atasan.
"Oohh.." kata yang keluar dari mulut Bagas.
"Kamu ngapain di sini masih pagi begini? Bukannya kerja di ruangan kamu." tanya Tama yang keheranan dengan dahi mengernyit dan tatapan curiga.
Biasanya asisten pribadinya itu sangat rajin, jika sudah berangkat pagi-pagi dia akan langsung sibuk mengurus dokumen dan berkas-berkas untuk hari ini. Bahkan yang menumpuk kemarin pun akan segera ia selesaikan jika sudah datang ke kantor. Namun saat ini meski berangkat pagi tapi dia malah terlihat sedang asyik mengobrol dengan para perempuan itu.
"Saya lagi nanyain ke mereka Pak, pagi ini udah ada berkas yang masuk belum. Saya sudah selesai dengan berkas-berkas kemarin, tinggal yang hari ini saja yang belum saya terima." jawab Bagas.
Iya lah belum ada berkas yang diterima. Ini kan baru jam masuk kantor, para pegawai pun pasti baru mulai duduk di tempatnya. Ada-ada aja dia, si Bagas ini.
"Ya udah ke ruangan ku sekarang." ajak Tama dengan nada perintah.
Berdecak, Bagas pun mengikuti langkah sang bos dari belakang dengan wajah yang entah bagaimana mendeskripsikannya. Kecewa kah? atau kesal?
Setelah Tama duduk di kursi bekerjanya, dia meletakkan handphone yang tadi ia kantongi dalam saku celana. Sedang Bagas kini berdiri di depan meja kerja sang bos.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Bagas sopan dengan nada layaknya bawahan yang segan terhadap atasan.
"Emang elo pembantu?" kata Tama yang bukannya menjawab pertanyaan sopan sang asisten.
"Elah.. ada yang bisa saya kerjakan Pak?" tanya Bagas sekali lagi masih dengan nada sopan nya meski di awal sempat menggerutu.
__ADS_1
"Pfftt.." Tama malah terkekeh sambil menutup mulutnya dengan sebagian jarinya.
"Lah ketawa malahan." Kesal Bagas yang tak kunjung mendapat jawaban dari atasannya, malah sekarang dia ditertawakan.
"Apanya yang lucu?" Kata Bagas dengan menaikkan suaranya dan kini beralih duduk di sofa tamu ruang kerja Tama itu.
"Elo pdkt tadi?" tanya Tama langsung. Karena melihat gerak-gerik Bagas tadi, ia tahu jika asistennya itu sedang tertarik pada salah satu sekretarisnya.
"Nah tuh dia udah tau. Ngapain tadi pake ganggu. Biasanya juga cuma ngomong 'selamat pagi' terus masuk ruangan. Ini malah berhenti segala." jawab Bagas panjang dengan nada protes seolah juga sedang mengungkapkan kekesalannya.
Tama kini tak lagi menahan tawanya, ia benar-benar menertawakan asistennya itu. "Sorry. Lain kali jangan pdkt di kantor apalagi pas jam kerja. Carilah tempat lain. Kayak nggak ada waktu aja pulang kerja." Kata Tama meminta maaf tapi juga tak mau disalahkan.
Berdecak sambil membuang nafas kasar. "Kayak iya aja baiknya sama kayak omongannya. Tau sendiri kalo jam makan siang juga kadang di booking buat nemenin Anda. Jam pulang kerja kadang juga masih harus menemani Anda untuk lembur. Kapan waktu luang saya selain untuk Anda?" Ujar Bagas yang menekankan pada setiap kata Anda sebagai bentuk sindiran kepada bos-nya. Makin terbahak-bahak saja sang bos yang di sindirinya.
"Lagian kan gue lagi mau pdkt, belum tahap kencan. Wajarlah ngajak ngobrol dulu. Kita kan ngobrolinnya juga masalah kerjaan jadi nggak pa-pa kan kalo ngobrolnya pas jam kerja." Tukas Bagas melihat ke arah bos-nya dengan tangan yang bergerak sambil menjelaskan.
"Hmm.. ya terserah elo atur sendiri. Yang penting jangan sampai ada berita kalau asisten gue kualitasnya buruk." Kata Tama sambil sibuk membaca-baca berkas di depannya.
"Iyalah. Gue juga ngerti kali." jawab Bagas mengerti.
"Berkas kemarin yang gue suruh kerjain udah beres?" Tanya Tama yang kemarin saat mengambil cuti untuk libur kerja tapi masih mendapat surel pekerjaan dari asisten pribadinya itu.
"Beres lah. Gue ambil sekarang." Jawab Bagas lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil berkas yang dimaksud. Belum juga sampai depan pintu langkahnya terhenti karena dia mengingat sesuatu.
"Eh, katanya bininya Delvin lagi hamil loh. Katanya juga dia bakal undang kita kalau mau syukuran empat bulanannya." Ujar Bagas dengan senyum bahagia dan alis yang di naik turunkan. Entah apa maksudnya. Namun perkataannya itu mampu membuat tangan sahabatnya yang sekaligus atasannya itu berhenti ketika sedang membuka halaman berkas selanjutnya.
__ADS_1
"Oh ya? Kok gue nggak dikasih tau ya. Udah jalan berapa bulan sekarang?" Tanya Tama yang memang tidak tahu dan Delvin juga tak memberitahunya.
"Entah. Gue nggak nanya. Karena menurut gue juga nggak penting nanyain, kan bukan bini gue." Jawab Bagas enteng. Tama malah melempar bolpoin yang ia pegang ke arah Bagas berdiri sekarang.
"Elu temen, kayak gitu? Minimal tanya dulu, terus kasih ucapan selamat dan doa buat dia dan bininya." Ujar Tama yang seolah kesal dengan jawaban Bagas. Si Bagas untungnya bisa menghindar dari serangan bolpoin atasannya jadi dia hanya meringis mendengar ucapan bos-nya itu.
"Gue nggak tau. Gue kan belum nikah. Jadi nggak ngerti yang kek gituan." jawab Bagas seadanya karena memang ia belum tau.
Yang dia tahu biasanya jika ada yang hamil dan dia diundang untuk menghadiri acara syukuran empat bulanannya, dia hanya datang sambil ikut doa bersama dan makan-makan setelahnya. Tak pernah juga sebelumnya dia di kasih tahu harus bersikap bagaimana kepada orang yang memberitahukan berita tentang kehamilan istri mereka. Jadi Bagas memang benar-benar minim pengalaman akan hal itu. Apalagi menyangkut pernikahan dan rumah tangga termasuk yang terjadi dalam rumah tangga, seperti hamil dan melahirkan.
Setelah dapat lemparan bolpoin buru-buru Bagas keluar dari ruangan bos-nya untuk mengambil berkas yang diminta oleh bos-nya tadi.
Setelah sepeninggalannya Bagas dari ruangannya Tama mengambil bolpoinnya kembali dan ia kembali sibuk dengan layar persegi di depannya. Hingga waktu hampir jam makan siang ia baru teringat akan Shina.
"Dia mau nggak ya?" katanya menimang sambil memegang handphonenya. Ia kemudian memutuskan untuk mengirim pesan kepada Shina untuk mengantarkan makan siang ke kantornya.
"Kalo nggak bisa juga nggak pa-pa. Sampai lupa saking sibuknya." ujar Tama setelah selesai mengirimkan pesan. Ia kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya lalu memijit kening di antara dua alisnya.
"Ting." suara pesan masuk, terlihat balasan dari Shina.
"Iya nanti ke sana. Tapi paling agak telat." kata dalam balasan Shina. Tama menyunggingkan senyum di bibirnya.
Dalam hatinya bahagia, meski harus bersabar menunggu sedikit lebih lama dan makan siangnya terlambat namun ia senang karena Shina mau mengantarkan bekal makan siang untuknya. Yah meski ia pun tahu jika nanti bekal makan siangnya hasil dari Shina membeli makanan siap saji namun ia sangat menghargai itu.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘