ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 53 : MORNING SICKNESS


__ADS_3

Aku yang belakangan ini sering mual-mual di pagi hari dan baru ku sadari di kepalaku kalau aku juga sudah lama terlambat datang bulan mengingat pembalut yang Tama belikan tak terpakai sama sekali oleh ku.


Badanku terasa lemas kembali dan kepalaku juga mulai pusing lagi hingga aku tak sadarkan diri.


Aku terbangun dengan sudah berada di dalam sebuah ruangan. Sepertinya ini adalah kamar pasien rumah sakit yang kami kunjungi tadi. Ku edarkan pandanganku pada sekeliling, terlihat Mama yang sedang menemani ku berjalan ke arah ranjang ku.


Mama lalu keluar meneriakkan nama suster saat melihat ku yang sudah sadar. Tak lama seorang dokter masuk bersama dengan seorang suster dan juga Tama.


"Ibu Shina tidak kenapa-napa. Hanya kelelahan saja dan mungkin ibu juga belum makan ya?," kata dokter perempuan yang memeriksaku.


"Iya dok. Tadi saya baru saja melakukan penerbangan lalu ke sini dan belum sempat untuk sarapan," jawabku dengan lemah.


"Ibu, mulai sekarang harus dijaga ya badannya. Karena sekarang ibu tidak sendirian." dokter itu memegang perutku perlahan mengusap sebentar.


"Ini sudah lima minggu ibu. Jadi harus hati-hati, jangan melakukan banyak aktivitas berat, stres dan juga telat makan. Karena ini masa usia rentan di trimester pertama." nasehat sang dokter pada ku. Aku tersenyum kemungkinan mengangguk sebagai jawaban.


Setelah mendengar penjelasan dan beberapa saran dari dokter aku boleh dipersilahkan untuk pulang jika kondisi badanku sudah merasa lebih baik.


"Nanti periksa lagi ya ke Klinik Ibu dan Anak. Atau ke rumah sakit khusus ibu hamil." nasehat Papa sebelum meninggalkan kami.


Kami sekarang sudah tiba di depan rumah kami tanpa Papa dan Mama ingin masuk terlebih dahulu karena katanya mereka akan langsung ke tempat kondangan relasi bisnis Papa.


"Nggak sampai seperti itu lah Pa ke rumah sakit khusus ibu hamil. Lagian aku juga nggak kenapa-napa kok. Kata dokternya tadi kan morning sickness itu wajar bahkan sampai ada yang nggak bisa masuk makan sama sekali," kataku yang merasa Papa terlalu overprotektif.


"Shina jangan selalu menyepelekan hal kecil. Tadi kamu pingsan kan karena belum sarapan. Jaga baik-baik Nak tubuhmu, itu juga untuk kebaikan calon anakmu." Papa merengkuh pundakku.


"Iya sayang. Amit-amit kalau sampai kamu nggak masuk makan sama sekali. Tapi kamu makan nasi masuk kan? Kamu harus sering makan selama hamil. Itu untuk kesehatan kamu dan juga bagus untuk tumbuh kembang janin." kata Mama yang juga ikut menasehati ku.


"Iya Ma, Pa. Shina pasti jaga diri Shina kok. Kalau nasi jarang tapi Shina pengennya ngemil terus." Aku meyakinkan Papa dan juga menjawab pertanyaan Mama.


"Ya sudah, kami pamit dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Hati-hati dalam beraktifitas." Kata Papa berpamitan pada ku.


"Tam, titip Shina ya. Tolong lebih di perhatikan lagi. Papa takut nih dia macem-macem kerjaannya," kata Papa pada Tama.

__ADS_1


"Iya Pa, Shina pasti aku jaga kok," jawab Tama. Papa lalu mencium keningku memperlakukan ku seperti aku ini masih putri kecilnya. Mama kemudian juga mencium pipiku. Mereka lalu pergi meninggalkan kami.


Tama kemudian menuntunku untuk masuk ke dalam dan menuju ke kamar agar aku istirahat.


...* * *...


"Kamu jangan kerja dulu. Biar florist diurus dulu sama Deri sedang di kafe nanti aku minta bantuan sama Mama lagi." kata Tama yang khawatir melihat ku pagi ini sudah muntah dua kali. Aku hanya mengangguk lemas sebagai jawabannya.


"Mau dibikinin minuman hangat?" tawar Tama dengan masih sabar mengusap-usap punggungku. Aku hanya bisa mengangguk lagi untuk memberikan jawaban padanya. Tama lalu menuntunku dari kamar mandi kembali ke ranjang. Aku di baringkan olehnya perlahan.


"Gini ya rasanya orang hamil." jeritku dalam hati yang tak mampu berteriak juga untuk menangis.


Tama lalu datang dengan membawa nampan berisi segelas air hangat. "Gimana? Aku minta supaya di kasih sedikit madu tadi." tanya Tama menunggu respon ku. Takut saja nanti jika aku kembali memuntahkan apa yang sudah masuk ke dalam mulutku.


Aku mengangguk kecil, "enak. Nyaman ke perut." kata ku.Tama tersenyum kemudian meletakkan gelas ke atas nakas yang menyisakan sedikit lagi airnya setelah aku minum.


Terlihat Tama yang sudah rapi dengan baju kantornya sedikit khawatir untuk pergi meninggalkan ku sendirian di rumah.


"Kenapa morning sickness buat kamu sampai seperti ini. Tau begini aku akan tunda untuk punya anak." katanya menggerutui diri sendiri merasa bersalah karena aku menjadi seperti sebab ulahnya.


Aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang menurut ku terlihat menggemaskan itu. Baru kali ini melihatnya merasa bersalah yang teramat.


"Jangan gitu. Kata dokter kan juga cuma sampai tiga atau empat bulan. Yang penting kan aku masuk makanan Tam." Aku kembali mengingatkannya apa yang dikatakan dokter kandungan kala itu saat pemeriksaan pertama ku ke klinik ibu dan anak.


"Kamu nggak usah khawatir. Aku nggak akan kemana-mana dan nggak akan ngapa-ngapain supaya kamu nggak khawatir. Dan jika butuh sesuatu aku akan panggil Merlin saja." kataku meyakinkannya lagi supaya tak khawatir pada ku lagi.


Tama masih terlihat tak tega untuk meninggalkan ku terlihat dari caranya yang mendengkuskan nafasnya kasar.


"Buruan berangkat gih. Yang semangat kerjanya calon papa. Bentar lagi bakal ada yang merengek minta ini itu." kataku seraya mengusap wajah tampannya. Tama jadi terkekeh mendengar perkataan ku barusan.


"Iya juga ya. Sebelum dia lahir kamu duluan yang akan minta ini itu pastinya." katanya dengan senyum yang kini timbul di sudut bibirnya.


"Ya udah, aku berangkat dulu ya. Hati-hati di rumah. Jaga diri baik-baik ya calon mama." kata Tama dengan semangat kemudian mencium puncak kepalaku. Aku mengangguk kemudian melambaikan tangan saat dia sudah keluar dari pintu kamar.

__ADS_1


"Aku mau makan eskrim rasa pandan". Aku mengirimkan pesan kepada Tama.


Badanku rasanya lemas sekali. Seharian ini yang ku lakukan hanya tiduran di atas ranjang.


Sudah berapa kali Merlin dan pelayan yang lain menawari ku berbagai jenis makanan yang menurut mereka cocok untuk selera ibu yang sedang hamil. Tapi dari semua yang mereka sajikan aku hanya bisa menyicipi saja. Setelahnya perutku terasa mual dan jika dilanjutkan untuk makan rasanya ingin muntah saja.


Akhirnya aku hanya bisa kembali pada bungkusan beberapa snack ringan sebagai camilan. Karena hanya itu yang bisa masuk tanpa membuat mual dan muntah.


"Nanti aku suruh pak sopir ambil ke sini. Aku akan pulang malam hari ini." Balasan dari Tama.


"Aku nggak mau. Aku ingin kamu yang membawanya pulang langsung." Aku membalas pesannya.


"Oke. Tunggu aku. Aku usahakan pulang cepat."


Sentuhan lembut membangunkan ku dari tidur nyenyak.


"Tama?" Aku melihat Tama yang sedang membelai ku masih berbaju rapi.


"Baru pulang?" Aku bangun dari tidur ku.


"Iya. Katanya seharian ini kamu nggak bisa makan apa-apa ya?" tanyanya sambil memberikan kantong plastik berisi beberapa cup es krim juga ada beberapa snack yang ia beli untukku. Aku tersenyum senang melihatnya.


"Iya. Aku ingin ini dari tadi." jawabku lalu mengambil salah satu cup es krim kemudian membuka cupnya dan memakan es krim tersebut.


Tama tertawa melihatku yang bahagia karena sebuah es krim. Dia lalu pergi mandi dan segera mengganti bajunya.


"Aku makan dulu ya." katanya lalu keluar dari kamar.


Morning sickness yang kualami lumayan lama dari perkiraan hingga memasuki bulan ke lima aku baru terbebas dari rasa tersiksanya. Namun selama itu juga Tama selalu rajin menemaniku jika dia sedang berada di rumah dan sigap mendampingiku memeriksakan kandunganku.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2