ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 40 : ANTUSIAS MAMA


__ADS_3

Seketika aku mengalihkan pandangan kepadanya dengan kemudian menyambar tas kecil ku yang sudah siap akan ku bawa kerja hari ini.


Malu lah, pasti. Terang-terangan mengakui perasaan sendiri, biarpun statusnya suami tapi secara real kan aku hanya orang lain. Seolah seperti aku sedang mengakui perasaan kepada suami orang.


Terdengar kekehan Tama yang entah sejak kapan ia beringsut dari ranjang itu dan sekarang sudah berada di belakang ku yang berada di meja panjang tempat ku biasa menyimpan tas kecil ku.


Memelukku dari belakang lalu berkata, "oohh... jadi Nona ini sedang kesal karena dilanda rindu." Katanya menggoda dengan kalimat oh ria yang dipanjangkan.


"Kalau gitu jangan kerja ya hari ini. Temenin aku aja." ucapnya dengan kemudian mencium ceruk leherku. Merinding aku dibuatnya, juga terasa ada getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.


Segera menjauh dan menepis pelukannya perlahan aku kemudian berkata, "No. No. No.. aku udah dua hari nggak kerja. Kasihan anak-anak florist juga kafe."


Setelah melihat reaksi ku Tama makin tertawa terbahak-bahak hingga aku sendiri juga malu dengan tingkahku.


"Ya udah, hati-hati. Aku nggak akan cegah lagi." ucapnya kemudian tanpa menghalangi ku untuk berangkat bekerja.


"Nggak cium dulu?!" tanyanya sedikit berteriak saat aku membuka pintu kamar. Aku kembali menoleh ke arahnya. Senyum smirk yang terlihat sangat jahil terpampang jelas dari mukanya. Makin malu saja aku dibuatnya.


Tanpa memedulikannya lagi aku benar-benar keluar dari kamar itu dan meninggalkan Tama untuk berangkat bekerja.


Saat di florist aku duduk termangu di depan layar komputer. Ku usap-usap liontin kalung pemberian dari Tama. Aku masih saja terus memikirkan laki-laki itu. Menurut ku dia adalah suami terbaik yang entah orang lain belum tentu bisa memilikinya, sama seperti ku. Dia milik Shina. Tama suami Shina.


"Haahh.." aku menghembuskan nafas panjang bila mengingat itu terus. Status kami terikat namun jiwa yang mengikat Tama dan aku berbeda.


"Bos bengong terus eh. Masih kepikiran sama suaminya ya?" suara Tina yang datang menghampiri ku mengagetkan ku.


"Tina bikin kaget aja deh." kataku sontak karena memang benar-benar kaget.


"Lagian Bos-nya ngapain ngelamun terus? Oh punya kalung baru." Katanya kemudian pandangannya tertuju pada tanganku yang masih memegang liontin kalung.

__ADS_1


"Kok tumben Bu bos pakai perhiasan. Apa jangan-jangan dari suaminya Bu bos? Suaminya udah pulang bos?" cerocos Tina dengan pertanyaannya seolah ingin tau sekali.


"Kamu ini suka banget ya sama gosip." kataku tersenyum sambil geleng-geleng kepala untuk menghindari pertanyaannya.


Anak ini jadi makin kepo aja setelah makin dekat sama bosnya.


"Ciee.. hadiah dari suami yaa. Oleh-oleh dari luar kota niih ceritanya." godanya.


Meski hanya godaan biasa tapi aku bisa tersipu dengan omongannya. Aku segera beranjak dari tempat duduk ku kemudian pergi meninggalkan Tina agar tak terlihat wajah maluku.


"Dah kerja tuh yang bener. Nanti salah lagi pesanannya." kataku untuk menutupi malu sebelum pergi meninggalkan Tina.


Tina yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak.


"Dia lagi apa ya?" tanyaku pada diri sendiri yang sedang duduk bosan di dalam ruangan kerjaku.


Aku merasa bosan karena malam ini kafe tidak terlalu ramai hanya beberapa pengunjung saja yang datang dan terlihat beberapa bangku ada yang kosong. Mungkin karena di luar sedang hujan jadi orang-orang pada malas untuk keluar.


Suara panggilan Mama mengagetkan ku saat Mama membuka pintu ruangan ku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dengan buru-buru Mama duduk di sofa yang berada di ujung samping meja kerjaku itu.


"Tama udah pulang ya? Tadi Mama Amita telfon Mama. Katanya Tama setuju ya ngadain pesta anniversary kalian? Terus udah bilang belum pestanya mau kapan diadakan?" Mama tiba-tiba memberondong banyak pertanyaan kepada ku.


"Mama apaan sih tanyanya satu-satu dong. Baru juga dateng, nggak capek apa." Protes ku, pasalnya kulihat baju Mama sedikit basah pada bagian bahu kanan kirinya.


Kayaknya Mama sengaja datang kesini dengan buru-buru, mungkin. Karena mendengar kabar Tama yang sudah pulang dan menyetujui akan diadakannya pesta anniversary kami.


"Tama juga baru pulang tengah malam tadi. Kata Tama iya, dia setuju. Tapi nanti acaranya kalau sekarang dia masih banyak kerjaan juga. Dan juga dia pasti capek banget sekarang karena baru pulang. Badannya pasti masih lelah Mam, aku takutnya dia malah sakit kalau banyak acara sekarang." jawabku memberi penjelasan kepada ibu di depanku yang berstatus Mama ini. Mama bener-bener antusias banget kalau soal hubungan kami.


"Ooh gitu yaa. Padahal Papa sama Mama udah seneng banget denger Tama setuju mau adain pesta anniv kalian. Ya sudah nanti kabari lagi Mama ya kalau udah nentuin tanggalnya. Papa bilang Papa yang mau siapin tempatnya. Pokoknya kalian tinggal tentukan tanggal dan datang sebagai raja dan ratu sekali lagi." Kata Mama sumringah.

__ADS_1


"Apaan sih Mama ini. Raja dan ratu kayak mau nikah aja." Sungut ku sedikit kesal. Mama ini kalau dikasih baik untuk keinginannya pasti ujungnya malah ngelunjak meskipun tidak pernah merugikan sih.


"Tama maunya pesta sederhana Mam, yang nggak banyak orangnya. Seperti kata Mama Amita, keluarga inti kita aja." kataku lagi ke Mama.


"Ya udah deeh.. Mama nurut kemauan kalian. Nanti Mama bilang lagi ke Papa." Katanya setelah menghembuskan nafas panjang, sepertinya Mama sedikit kecewa. Sudah pasti karena keinginannya pasti sesuatu yang mewah-mewah untuk acara anniv kami yang nanti ujung-ujungnya jadi ajang pamer buat Mama ke temen-temen squadnya.


"Nanti kabar-kabar lagi ke Mama ya. Mama nggak lama ah, mau langsung pulang kasih tau Papa. Bye Shina." kata Mama dengan kemudian berdiri dan menghampiri ku untuk cipika-cipiki sebelum pergi meninggalkan ku.


Sepertinya kedatangan Mama bener-bener cuma mau mastiin tentang kedatangan Tama dan tentang acara pesta anniversary kami.


"Iya nanti Shina telfon Mama untuk kasih kabar lagi." kataku sambil mengantar Mama keluar ruangan hingga kulihat Mama benar-benar pergi meninggalkan kafe.


Terlihat diluar sedang hujan rintik-rintik namun terlihat padat. Cukup mampu untuk membuat baju basah jika nekat berjalan kaki.


Mama berlari memasuki mobilnya tanpa payung atau meminta sang sopir untuk menghampirinya sambil membawa payung. Mama ini benar-benar tipe ibu yang semaunya sendiri.


"Dasar emak-emak." ucapku dalam hati sambil geleng-geleng kepala setelah melihat mobil Mama berlalu.


...* * *...


Aku buru-buru lari menuju ke arah kamar saat sudah sampai di rumah. Setelah membuka pintu kamar ku lihat Tama sedang nyenyak tidur. Aku tersenyum menatap ke arah wajahnya dari ambang pintu. Perlahan aku tutup pintu agar tak membangunkannya dari tidur. Aku meletakkan tas kecilku dengan kemudian lalu pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri karena tadi sempat terkena hujan yang rintik-rintik itu saat keluar dari kafe menuju tempat pak sopir menjemput.


Selesai mandi ku lihat Tama masih saja tertidur dengan lelapnya. Mengulas senyum sekali lagi saat aku menatapnya, setelah puas aku pun lalu mengganti bajuku.


Sepertinya ada yang salah. Apa aku mulai jatuh hati pada pria ini?


"Ya Tuhan Ronaaa.. Dia suami oraang." teriakku frustasi dalam hati.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2