
"Oke kalau gitu, aku antar kamu pulang dulu." jawabnya yang sedang fokus menyetir lalu menambah sedikit kecepatan pada mobilnya.
Keesokan harinya.
"Tam, nanti aku mau belanja untuk persiapan lahiran dan kebutuhan calon baby kita sama Mama dan Mama kamu." kataku ke Tama yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
"Oke. Hati-hati ya nanti jalannya. Jaga baik-baik perut kamu." Tama mengusap perutku kemudian menciumnya dengan sayang.
"Iya pasti." jawabku.
"Aku berangkat dulu ya." Tama lalu mencium keningku dan kemudian berangkat dengan aku mengantarnya sampai depan rumah.
"Waah.. ini lucu banget. Gemes liat topi kupluk bayinya ya Mama Amita." kata Mamaku bersorak melihat setelan baju bayi beserta kupluknya yang terlihat lucu.
"Iya cocok satu set sama sartakinya. Ini selimut yang satu set sama kaos kakinya juga bagus. Lucu ada telinganya." kata Mama Amita yang juga menunjukkan selimut dengan karakter baby pig berwarna merah muda kepada Mama.
Mama dan Mama Amita sudah heboh sendiri untuk memilih perlengkapan sang bayi. Mulai dari bak mandi bayi, perlengkapan mandi dan baju-bajunya bahkan sampai kasur, ayunan juga mereka yang heboh sendiri untuk memilih. Sedangkan aku bingung harus memilih apa lagi untuk keperluan calon babyku karena semua sudah dipilih oleh mereka.
"Lebih baik beli keperluan untuk maternity aja lah." ucapku yang kemudian pergi ke bagian untuk ibu hamil dan bersalin.
"Nyonya, sepertinya kita harus telepon mobil pick up saja. Soalnya ayunan bayinya tidak muat ke mobil." kata pak sopir yang sedang kebingungan dengan barang belanjaan Mama. Tentu saja pak sopir kebingungan karena para mama tua ini tidak memikirkan dahulu bagaimana cara membawa barang hasil belanjaan mereka nanti hari ini.
"Iya gimana bapak aja yang urus. Yang penting yang kita beli semua ini harus dibawa ya." tegas Mamaku yang kemudian diangguki oleh pak sopir. Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng melihat tingkah Mama. Aku yang mau lahiran tapi malah Mamaku dan mama mertua yang heboh.
"Mama Widya kita ke sana dulu yuk sambil menunggu pak sopir selesai dengan mobil pick up nya." tunjuk Mama Amita ke sebuah restoran.
Kulihat sebuah restoran yang ditunjuk oleh Mama Amita. Sebuah restoran yang menyajikan makanan khas dari timur tengah.
'Degh'
Lagi-lagi aku lupa. Aku jadi teringat lagi pada kenyataan ku, pada Baba. Saking banyaknya kebahagiaan yang kurasakan selama ini aku jadi semakin lupa tentang diriku sendiri.
__ADS_1
"Shina mau pesan apa?" Pertanyaan Mama menyadarkan ku dari pikiran ku sendiri.
"Samain aja Ma." jawabku.
Mama kemudian memesan makanan yang sama untukku begitupun dengan Mama Amita. Mama dan Mama Amita memesan sei sapi dan nasi basmati.
Aku kemudian meminta tambahan untuk memesan kebab agar bisa dibawa untuk pulang. Alasannya untuk Tama, tapi aku memesan dengan porsi lebih karena juga menginginkannya. Hamil tua begini aku inginnya makan yang bisa sambil untuk ngemil.
Lalu tak lama pelayan menyajikan makanan kepada kami.
"Ma, pesan satu lagi dan ajak juga pak sopir ke sini. Kasian tadi udah nungguin kita belanja lama belum lagi nungguin tukang pick up nya juga." kataku yang teringat akan pak sopir.
"Ah iya lupa aku. Saking udah laper juga." kata Mama sambil menepuk dahinya.
Mama kemudian membuat panggilan untuk pak sopir memintanya untuk masuk ke restoran yang berada di seberang Mall tadi untuk makan bersama. Pak sopir pun datang, namun dia sungkan untuk duduk bersama kami. Jadi akhirnya dia duduk berbeda meja dengan kami sambil membawa nampan makanannya.
Mungkin pak sopir sungkan karena kami sudah makan makanan kami terlebih dahulu sambil menunggu dia datang menghampiri kami.
"Iya Nak semoga kamu lancar nanti dalam melahirkan." kata Mamaku yang juga ikut mengusap perutku.
"Aamiin." Kataku kemudian aku menggenggam tangan mereka yang berada di atas perut buncit ku. Dalam perjalanan pulang kali ini kami banyak tersenyum, tertawa sambil mengobrol menceritakan pengalaman Mama dan Mama Amita saat melahirkan dulu.
"Shina kamu lagi makan?" tanya Tama yang terbangun tengah malam. Jam di nakas menunjukkan pukul 01:08 saat sebelumnya tama meliriknya.
"Enggak. Aku cuma lagi ngemil kacang. Aku lapar." jawabku enteng karena memang itulah yang kurasakan saat ini, lapar.
"Aku ngebangunin kamu?" tanyaku kembali ke Tama, mungkin dia terganggu dengan suara kriuk yang dihasilkan dari mulut dan kacang yang aku makan.
"Enggak kok." Tama menggeleng.
"Kalau kamu masih lapar mau aku bangunin Merlin untuk buatkan makanan?" tanya Tama menawarkan.
__ADS_1
"Jangan, nggak usah. Aku nggak mau makan nasi aku cuma mau ngemil." jawabku. Aku turun dari ranjang untuk menyimpan toples kacang mete yang telah selesai aku pakai ngemil dan mengambil minum di meja nakas.
Kasihan kalau harus bangunin pelayanan untuk nyiapin makanan tengah malam begini. Padahal tadi setelah Tama pulang dari kantor aku sudah makan kebab bersamanya, kebab yang ku pesankan untuk Tama juga saat di restoran tadi namun tetap saja baru tengah malam begini sudah lapar lagi.
Setelah minum aku lalu ke kamar mandi untuk sikat gigi lagi kemudian kembali ke atas kasur memposisikan diri memiringkan badan untuk tidur. Namun tiba-tiba Tama memelukku dari belakang dan mengusap perutku yang sudah membuncit. Hampir saja aku terlonjak karena terkejut.
"Kaget tau. Kamu kenapa tiba-tiba meluk gitu?" tanyaku yang sedikit memukul lengannya.
"Kamu kelihatan seksi pakai baju ini saat hamil." celetuknya yang membuatku kaget lalu berbalik badan kemudian menatapnya.
Ya karena ini sudah memasuki bulan ke delapan jadi aku merasa sering kegerahan saat malam meski AC kamar kami menyala pun. Jadi aku sering memakai daster atau terusan dengan lengan pendek atau hanya berlengankan seukuran satu jari.
Aku dibuat terkejut lagi saat Tama menyibak rambutku dan tiba-tiba mencium leherku. "Tama jangan sekarang." sergahku sambil menahan kepalanya.
"Aku cuma mau menciumnya saja." Katanya mengelak.
"Aku tahu maksud kamu Tama. Aku nggak bisa sekarang, aku lagi hamil besar ya. Aku takut nanti sakit ke dedek bayinya." Aku melepas tangannya yang berada di pinggangku dengan kemudian bermaksud untuk berbalik badan lagi.
Tama malah kembali membelitkan tangan kemudian tertawa kecil. "He he.. Cuma sebentar, aku janji."
"Aku nggak akan tertipu ya." Aku menolak dan bermaksud akan kembali berbalik badan lagi. Namun dia kembali mencegahku lagi.
"Aku akan pelan sayang. Aku akan hati-hati. Secepatnya, sebisa mungkin." Dia merayu dengan mengusap-usap perutku sambil menciumi seluruh wajahku.
"Kata dokter juga masih aman kok. Apalagi udah seminggu ini dedek nggak ditengokin." Dia membujuk tapi seperti merengek.
Dengan menghela nafas sebelumnya lalu menghembuskannya perlahan aku mengangguk mengiyakan. Tanpa menunggu lama Tama menyibak baju tidurku kemudian dia melakukan aktivitas malamnya sesuai perkataannya, pelan dan hati-hati.
Hingga tanpa sadar ternyata aku juga menikmatinya yang tadinya merasa enggan untuk melakukannya. Sampai pada puncaknya Tama sambil memelukku dari belakang hingga kami pun kemudian tertidur.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘