
terima kasih untuk yang sudah mau nyawer, kasih sajen dan juga kirim kopi hitamnya 🙏😁 jangan lupa like dan vote-nya ya
...- - - - - - - - - - - - - - - -...
"Shina, boleh aku peluk?" kata izin Tama membuyarkan lamunanku.
Aku terdiam lama. "Boleh." jawabku setelahnya.
Perlahan dia memelukku dengan lembut. Nafasnya yang menyapu rambut belakangku terasa hangat. Dekapannya membuatku terhanyut menuju alam mimpi.
Silau mentari membangunkan ku dari tidur pagi ini. Semilir angin membawa udara yang sejuk masuk ke dalam kamar dari baling-baling udara yang berada di atas jendela kamar. Aku menggeliatkan badanku, rasanya berat dan kaku. Mungkin karena pengaruh minuman tadi malam.
Tama sudah tak ada di sampingku. Mungkin dia sedang keluar. Aku beranjak dari ranjang empuk itu dengan langkah berat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencana ku hari ini aku ingin pulang dan menyudahi acara liburan ini.
"Shina sarapan yuk." Tama masuk ke dalam kamar membawa dua gelas kertas kopi latte dan paper bag berisi roti hangat.
Aromanya menyeruak saat roti hangat yang terlihat baru saja dipanggang itu dikeluarkan dari wadahnya membuat rasa lapar ku bangkit. Aku yang sedang mengeringkan rambut menyudahi aktivitas ku dulu lalu bergegas menghampiri makanan tersebut.
Aku lalu makan dengan lahap tanpa mempedulikan tatapan Tama yang menatap ku dengan tatapan entah apa artinya. Baru kuingat dari semalam aku belum makan, wajar saja jika saat ini melihat makanan yang ada aku memakannya dengan lahap. Karena memang sangat lapar.
"Mau lagi?" Tama menawarkan roti miliknya. Tanpa malu atau ragu aku lalu mengambilnya dan memakannya.
"Beli dimana? Nanti pulang beli lagi ya. Enak." kataku yang masih mengunyah croissant dalam mulut ku.
"Oke nanti kita beli." Dia tersenyum melihat tingkahku dengan kemudian dia meminum kopinya.
...* * *...
"Tam, Ini bukan jalan ke arah kita pulang deh. Kita mau kemana?" tanyaku melihat sekeliling yang pemandangannya mulai asing. Aku kira Tama akan mengambil jalan pintas agar cepat sampai, nyatanya jalan yang di ambil menurutku semakin lama semakin asing saja.
"Aku dulu pernah survei lapang. Terus nemu villa di deket bukit sini. Aku tertarik dan aku beli. Karena ini juga termasuk daerah wisata jadi aku beli beberapa." jawabnya.
"Tempatnya bagus kok. Tradisional konsep. Pokoknya antik deh, kamu bakal suka juga kok nanti kalau udah liat." katanya bersemangat dalam mendiskripsikan villa yang ia beli.
Tapi aku sudah lelah, aku ingin pulang saja untuk cepat beristirahat. Mau tak mau aku pun hanya diam tak bersemangat dan menyandarkan diri ke kursi mobil dengan nyaman.
Diperjalanan, kita melewati rumah rumah dengan desain modern antik dan juga tradisional antik. Kesannya terlihat seperti kampung wisata saja. Mobil kami terus melaju hingga menapaki jalan yang agak menanjak lalu menikung. Tak lama kami pun sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Aku kemudian turun dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling bangunan yang berdiri menjulang di depan kami. Jarak dari rumah ke rumah ada mungkin 150 meteran. Benar-benar tempat yang cocok untuk refreshing, terlihat sunyi dan menenangkan. Hanya suara suara hewan yang bersahutan dan kadang teriakkan orang yang seperti sedang saling berbicara dari kejauhan.
"Kamu sengaja udah siapin ini semua?" tanyaku ke Tama yang dirinya kini sedang menyiapkan menu barbeque dan alat pemanggang sederhana.
"Iya. Aku mau ganti liburan kamu yang kacau kemarin." Dia tersenyum sambil membolak-balikkan makanan yang jadi menu barbeque kita malam ini.
Saat semua sudah matang kami lalu menyantap bersama sambil kami berbincang-bincang ringan dan sesekali menertawakan hal yang lucu dari obrolan kami.
Setelah selesai makan kami duduk sebentar agar makanan yang baru saja kami makan turun dan tercerna dengan baik, lalu setelahnya kami berbaring menatap langit malam untuk melihat bintang-bintang.
"Rasanya pengen tinggal disini ya. Damai, tenang." kataku sambil memainkan tangan ke atas seolah sedang meraih jutaan bintang yang tersebar di atas langit sana.
"Tapi kamu harus kembali ke realita. Kamu punya banyak pekerjaan, cantik." Tama menjulurkan sebelah tangannya meraih tanganku, menyelapkan jari-jarinya di sela-sela jemariku.
"Kalau mau kita kesini sebulan atau dua bulan sekali." ucapnya.
Ya mengingat karena perjalanan kesini memang cukup jauh jarak yang harus ditempuh.
Dia lalu menuntun tanganku ke bawah untuk diciumnya, refleks aku menoleh ke arahnya. Lalu ia malah mengusap lembut wajahku dengan tangan satunya lagi, membuat ku terkejut dan salah tingkah.
"Apaan sih." kataku lalu berpaling menghindari tatapannya.
"Kita kan suami istri." lanjutnya dengan kemudian memelukku dari belakang.
Yang benar saja dengan apa yang dilakukannya.
"Iya tau." kataku dengan nada sedikit kesal.
Dia malah mencium lembut tengkukku. Sontak saja tingkahnya itu membuat ku merinding sekujur badan, apalagi sekarang ini kita sedang di luar, di alam liar meski di sebuah taman kecil belakang villa. Namun angin malam berhembus bebas membuat sensasi meremang pada tubuhku yang selanjutnya membuatku juga berpikiran aneh.
"Hiihhh.." Aku bergidik lalu melepaskan diri dari Tama dengan kemudian pergi sambil berlari ke arah kamar untuk menghindari rasa malu.
"Dia kenapa tiba-tiba baik banget, deket banget lagi. Aku kan kena serangan jantung jadinya. Duh mana gak berhenti berhenti lagi deg-degannya." gumamku sendiri di dalam kamar.
Untuk menetralisirkan rasa tak karuan itu aku lebih baik membersihkan diri dengan mandi secepatnya dan kemudian merebahkan tubuh berselimut diri bersiap untuk tidur.
"Gimana lagi ya mau ngadepin dia? Perasaan baru kemarin bisa menghindarinya terus, sekarang gini lagi." gumamku sambil menggerutu dari balik selimut.
__ADS_1
"Kok belum juga datang ya." Aku terus saja bergumam bermonolog sendiri. Tak lama terdengar suara pintu yang dibuka kemudian ditutup kembali.
"Shina udah tidur?" Tama bertanya sembari membelai rambutku.
Aku diam pura-pura tidur. Dia lalu menarik selimut yang sama denganku dan kemudian berbaring di sampingku sambil memelukku. Aku yang tak bisa tidur jadi tambah tak karuan dan tak tenang saja perasaanku.
"Shina, kalau kamu gerak terus aku jadi nggak bisa menahannya." ucapnya yang masih memelukku seolah tahu jika aku belum tidur.
Seketika aku terdiam saat Tama berkata begitu. Bodohnya! tentu saja itu akan meyakinkan dia kalau aku benar-benar belum tidur.
Dia membalikkan badanku secara perlahan, dan seperti seseorang yang ketahuan sedang berbuat dosa, aku menurut begitu saja.
"Don't challenge me, wife. Aku juga punya batas." katanya sambil menatapku lekat.
Tangannya yang besar itu mengusap lembut bibirku dengan gerakan sensual. Perlahan ia memajukan wajahnya lalu bibirnya dikatupkannya di bibirku. Seketika aku tersadar dengan apa yang ia lakukan kemudian aku mencoba memberontak memberinya perlawanan.
Terlambat, tangannya sudah mencekal tengkukku dan dia memperdalam ciumannya yang mau tak mau membuatku ikut hanyut di dalamnya.
Entah bagaimana suasana kamar ini terasa seperti menjadi panas. Hingga tanpa sadar kini posisiku berada di bawah kungkungannya. Tama melepaskan ciumannya untuk meraup udara karena kami sama-sama kehabisan oksigen, kemudian ia melanjutkan ciumannya kembali yang anehnya aku pun malah membalasnya lagi.
Tangan Tama mulai aktif dengan yang satunya menelusup ke dalam bajuku sedang yang satunya sudah berada di bagian yang lain. Aku yang lemah dengan sentuhannya menopangkan kedua tanganku pada pundaknya sambil menggigit bibir bawahku.
Malam ini Tama terlihat sangat agresif seperti binatang buas yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Nafasku tersengal merasakan gelayar aneh yang menyelimuti seluruh tubuhku. Otakku berkata aku harus mencari kesempatan untuk menghindari kejadian selanjutnya, namun tubuhku malah merespon lain. Aku menginginkan lebih, aku ingin disentuh lebih oleh laki-laki ini.
"Maafkan aku Shina." kataku dalam hati sambil menitikkan air mata bersamaan ketika Tama memulai penyatuan kami.
Bukan main, dia memang sangat jago dalam hal seperti ini. Untukku yang pemula rasanya takut dan juga ada rasa tak rela, namun tubuh Shina merespon berbeda, karena memang ini bukan yang pertama untuknya dengan Tama. Apalagi jika menyimpulkan dari cerita Tama kemarin sepertinya mereka sangat saling mencintai.
"Rona, kau sudah ternoda. Kau bukan perawan lagi sekarang." batinku dalam hati.
"As.. ta.. ga.. Tama." teriakku tertahan dengan badan tertelungkup dan kedua tanganku mencengkeram sprei dengan kuat.
"Sebentar lagi, pliiss..." katanya sambil terengah.
Aku pun sudah tak sanggup lagi, "Taammaa.." teriakku melenguh panjang, begitupun Tama sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia lalu berbaring di sampingku dengan nafas kami yang sama-sama memburu.
Diciumnya dengan sayang puncak kepalaku dan kemudian kami pun tertidur.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘