ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 57 : MIMPI YANG BUKAN MIMPI


__ADS_3

Hingga tanpa sadar ternyata aku juga menikmatinya yang tadinya merasa enggan untuk melakukannya. Sampai pada puncaknya Tama sambil memelukku dari belakang hingga kami pun kemudian tertidur.


"Na."


"Na.."


"Ronaa.."


"Serona Lim."


Sayup-sayup terdengar suara panggilan yang begitu jelas dalam tidur ku. Suaranya terdengar lirih namun jelas seperti menempel di telingaku.


Aku perlahan membuka mataku. Kulihat cahaya terang layaknya matahari memancarkan sinar paling terangnya ke arahku yang sedang berdiri. Seperti terhipnotis karena terkesima hingga tanpa sadar aku berjalan mendekat ke arah cahaya yang terang benderang itu, sampai kemudian cahaya itu hilang terhalang oleh sebuah bayangan hitam dengan membentuk sebuah siluet berupa mobil. Dan bayangan itu dengan cepat berlari ke arah ku hingga membuat ku tak bisa bergerak sama sekali untuk menghindar.


Aku yang hanya diam mematung gelagapan tak bisa bergerak ataupun berteriak karena saking cepatnya bayangan hitam itu bergerak melaju ke arahku. Hingga akhirnya aku berteriak tanpa suara karena bayangan itu menghantam ku membuat ku terpelanting ke arah belakang sampai aku terlentang tak berdaya dan dari situ munculah sebuah suara yang baru.


"Bangunlah."


Kata terakhir itu membuat ku tersentak hingga aku benar-benar terbangun dari tidurku. Rasanya dadaku bergemuruh tak karuan dengan degup jantung yang begitu cepat. Bertalu-talu hampir membuatku sesak untuk bernafas.


"Aahh.." aku mengembuskan nafas lega setelah kemudian meminum segelas air putih penuh yang segera ku raih untuk ku minum. Untung aku selalu menyediakan air putih di nakas samping tempat tidurku.


"Hah.. hah.." Aku masih mengatur pernafasan ku agar lebih baik dan teratur.


"Ya Tuhan. Apa ya yang tadi itu? Apa maksud mimpi itu? Dan sepertinya aku seperti kenal dengan suaranya." Kataku bermonolog sendiri sambil masih mengatur pernafasan.


Aku masih saja terus terngiang-ngiang dengan suara yang memanggil manggil namaku saat tidur tadi malam. Suara khas yang sering aku dengar namun aku seperti melupakannya.

__ADS_1


Aku memijit diantara dua alisku karena setelah bangun secara langsung tadi kepalaku terasa berdenyut.


"Kok tumben Tama nggak bangunin aku?" Aku bertanya-tanya setelah tersadar dan melihat jam weker pada nakas. Angka itu menunjukkan pukul 08: 19. Itu sudah hampir siang untuk dianggap pagi. Tama sudah tak terlihat ada di kamar, pasti sudah berangkat kerja dari tadi.


Aku mengembuskan nafas panjang. Setelah mimpi itu, yang juga bukan mimpi menurut ku, aku jadi kepikiran hingga setelah mandi dan juga sarapan. Seperti mimpi dalam mimpi, hingga membuatku tidak fokus ingin melakukan kegiatan apa hari ini.


"Mam, apa nggak pa-pa ya perut aku sekarang sering kerasa mules? Tapi nggak tiap hari juga nggak setiap saat." Aku bertanya kepada Mama melalui telepon menanyakan tentang pengalaman yang kurasakan kepada Mama. Perutku sekarang ini terasa sering mengalami celetit celetit.


"Nggak pa-pa sayang. Itu hanya kontraksi kecil karena baby-nya sering gerak gerak. Nanti juga ada tandanya kok kalau mau melahirkan." jawab Mama dengan nada menenangkan ku.


"Iya Ma. Aku cuma takut karena belum tahu aja Mam." Kataku sedikit khawatir.


"Iya nggak papa. Kamu tenang aja. Jangan sampai kepikiran Nak nanti kamu stres. Ibu hamil gak boleh stres." nasehat Mama.


"Tapi kamu udah rutin periksa dua Minggu sekali kan?" tanya Mama.


"Iya Mam. Aku rajin periksa kok. Tama juga selalu nemenin." jawabku.


"Iya Mam. Makasih ya." kataku dengan tersenyum mendengarnya kemudian aku mengakhiri panggilan pada telepon.


Aku juga menceritakan keluhanku ke Tama dengan menelponnya saat dia bilang kalau sekarang dia sedang luang.


"Kamu masih ikut spa ibu hamil kan?" tanya Tama setelah apa yang ku ceritakan padanya.


"Iya masih kok. Sekarang juga ikut senam untuk memperlancar melahirkan." jawabku. Memang belakang ini instruktur senam mengajarkan gerakan agar mempermudah dan melancarkan saat persalinan. Aku rajin mengikuti meski Tama tidak bisa menemani karena jadwalnya yang susah menyesuaikan dengan jadwal senam ku.


"Ya udah kamu jangan banyak pikiran lagi. Besok aku akan ambil cuti buat ajak kamu jalan-jalan keluar biar nggak stres karena kepikiran." Kata Tama menghiburku dengan akan mengambil cuti untuk menemani ku jalan-jalan.

__ADS_1


"Udah lama juga aku nggak ambil libur apalagi buat nemenin kamu." lanjutnya.


Tama memang sengaja selalu bekerja full day dan terkadang lembur sampai larut dengan alasan yang sama. Jika nanti dia ambil libur panjang dia tidak akan direpotkan oleh pekerjaan yang akan mengganggunya saat dia mengambil hari liburnya.


Libur panjang kali ini ia rencanakan untuk persiapan kelahiran ku. Dia pernah mengutarakan niatnya untuk mengambil cuti untuk menemani ku saat proses melahirkan hingga hari pertama aku mulai merawat bayi kita. Dia ingin menemaniku memulai proses menjadi seorang ibu.


"Oke. Love you Papa." Jawabku spontan karena bahagia mendengar kata jalan-jalan dengan Tama.


"Love you more Mama. Kiss nya dong biar tambah semangat kerja." Balasnya dengan senyuman khasnya.


Hari jalan-jalan yang Tama janjikan pun tiba. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall saja. Meski begitu kami juga bingung harus membeli apa setelah sampai di sana. Mengingat perlengkapan untuk calon bayi kami sudah lengkap begitu pula dengan perlengkapan untuk melahirkan.


Makan pun juga sudah, karena setelah berkeliling cuci mata dan aku merasa lapar karena capek berkeliling akhirnya aku mengajak Tama untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum lanjut untuk berkeliling lagi.


"Tam bingung ya mau ngapain." kataku pada Tama sambil berjalan menggandeng lengan atasnya.


"Kenapa bingung. Tinggal lakuin aja kamu mau apa atau tinggal pilih aja kamu mau beli apa." Kata Tama yang terlihat biasa saja menemaniku jalan-jalan.


"Iish kamu ini. Kalau aku beli baju juga percuma karena sekarang perutku udah besar banget tapi bentar lagi juga mau lahiran. Jadi sayang bajunya nggak akan kepake lama." Kataku yang memang sedari tadi sudah menimang dalam otakku jika akan beli baju sekarang percuma karena tidak akan terpakai lama.


"Kalau kamu bingung mending kita pulang aja, kan udah lama juga jalan-jalannya dari tadi. Di rumah kan kita bisa lakuin yang enak-enak dari pada kebingungan di sini." Kata Tama dengan menyunggingkan senyum smirk-nya ke arah ku. Aku membalasnya dengan memutar bola mataku malas.


"Mumpung aku libur sayang. Jarang juga kan kita lakuin siang-siang." Katanya lagi tanpa toleransi yang membuat mataku kemudian melotot sempurna kembali menoleh ke arahnya.


"Tama! Kita di tempat umum ya. Dasar mesum." Bisik ku sambil mencubit kecil lengannya.


Untung saja sekitar kita sedang tidak ada orang jadi tidak ada yang mendengarnya. Dan untung saja dia tau waktu harus becanda seperti itu. Namun bukannya kesakitan dia malah tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi ku dan mukaku yang benar-benar merah karena malu.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2