
Sayangnya acara seru seperti malam ini tidak bisa Tania hadiri. Adik ipar itu, dia masih sangat sibuk dengan kuliahnya yang sedang mengejar gelar yang ia inginkan. Tiba-tiba saja aku ingat dia dan merindukannya saat suasana keluarga yang ramai ini.
"Tam, kamu mau jalan-jalan ke pulau Dewata nggak? Ajak istrimu biar bisa liburan juga. Kalian ini kelihatannya kurang waktu buat berduaan deh." kata Mama Tama yang obrolannya sudah mulai membahas tentang kami.
"Nggak bisa Ma kalau untuk sekarang. Aku sibuk banget. Kasian Randi, terus aja bantu aku. Kasih aja ke dia jalan-jalannya biar refresh pikirannya." jawab Tama menolak penawaran sang Mama.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah orang tua kami yang kompak tiba-tiba ingin anaknya untuk pergi jalan-jalan.
"Iya Budhe. Jangan suruh mas Tama cuti sekarang. Aku bisa repot beneran nanti. Ini banyak yang masih aku pelajari, jadi juga masih sering bolak balik Surabaya Jakarta." kata Randi yang tak ingin terancam lebih direpotkan.
Masih menjadi salah satu direktur saja sudah membuatnya hampir kelimpungan, jika tak ada papanya yang bersedia mau membantu perusahaan Tama menggantikan jabatan Pak Bagas, pemimpin yang dulu sebelum terjadi kejadian foto skandal Tama, mungkin dirinya sekarang tidak bisa kumpul seperti ini sekarang.
Masih sibuk di dalam perusahaan tempatnya mengabdi itu, selain bekerja juga sambil belajar untuk menjadi pemegangnya karena papanya yang sekarang menjabat sebagai presdir sebenarnya enggan untuk menerima jabatan itu jika bukan karena alasan tidak ada lagi yang bisa Tama percaya. Lebih baik ia menjadi salah satu direktur di sana, kerjanya pun tak terlalu direpotkan.
"Semangat kerja anak muda sekarang bagus. Bangga aku." ucap Om Nanda, papa Randi memberi dukungan untuk anaknya. Terlihat sekali jika ia juga tak mau kalau Tama mengambil cuti untuk liburan sekarang karena memang sekarang sedang repot-repotnya mereka dalam perusahaan.
"Ya sudah, nanti kalau kalian udah nggak begitu sibuk kalian bergantian cutinya." Mama Tama mengalah.
"Tapi kalian jangan lupa untuk cepet ngasih cucu ke Mama lho ya. Biar Mama nggak kesepian terus." imbuh Mama Amita berkata sambil menatap ke arah kami. Kami hanya menanggapi dengan saling melempar senyum kuda.
Mungkin beliau memang merasa sudah sangat kesepian sekarang. Mengingat Tama yang sudah lama menikah dan tinggal berpisah darinya, juga anak bungsu perempuannya yang tinggal jauh darinya. Mama Tama pasti merindukan sosok yang biasa mengisi keseharian beliau.
__ADS_1
"Shin, aku kepikiran sama kata Mama deh." kata Tama saat ini kami sudah di rumah.
"Kamu siap gak kalau kita berencana punya anak?" Kami sekarang sedang bersandar pada headboard ranjang kami setelah selesai mandi.
Diam sejenak, aku tidak langsung menjawab. Lagi-lagi permintaan yang berlebihan, berlebihan untuk ku yang karena hanya jiwa pengganti Shina. Merasa tidak pantas diriku yang mengambil semua bagian dari kehidupan dan kebahagiaan Shina. Di sisi lain ini adalah kehidupan mereka, kehidupan pernikahan yang mereka impikan.
Ya Tuhan kenapa aku yang jadi kepikiran sih sekarang, tangis ku dalam hati. Rona, Rona, semoga jodoh mu sebaik Tama dan keluarganya nanti.
Aku menyembunyikan wajah sedihku.
Menghela nafas panjang, "kalau untuk sekarang aku masih belum siap, Tama. Soalnya kan kafe lagi rame-rame nya. Belum di florist kadang mereka kewalahan karena pegawai baru belum mahir merangkai bunga." ujar ku dengan pelan memberi alasan yang masuk akal.
"Nanti kalau aku udah siap, kita rencanakan untuk program hamil ya." lanjutku dengan tak ingin membuat dia kecewa.
Aku tersenyum lebar, merasa senang karena memiliki sosok suami yang sangat pengertian. Tidak memaksakan kehendak kepada istrinya. Meski aku rasa dia juga sama tertekannya karena permintaan orang tua kami. Tetap saja dalam kehidupan rumah tangga kami, kamilah yang menjalani dan memutuskannya. Dan semua keputusan ada di tangan kami.
Setelah perbincangan hangat yang cukup lama hingga waktu menunjukkan pukul tengah malam kami pun lalu bersiap untuk tidur.
Waktu berjalan dengan damainya. Hari-hari yang berlalu terisi dengan kenangan-kenangan disetiap detiknya.
Aku dan Tama menjadi lebih terbuka satu sama lain. Mulai sering sarapan bersama, melakukan belanja bulanan bersama. Dan tak jarang untuk saling berbagi menceritakan keseharian kami saat di tempat kerja. Tama juga kadang menjemput ku pulang kerja jika waktunya luang dan jam pulang dia lebih cepat. Aku sekarang juga sudah mulai ke kantornya untuk mengantarkan makan siang seperti yang dilakukan Shina dahulu.
__ADS_1
Seperti hari ini aku datang ke kantor Tama untuk membawakan makan siang. Sushi termasuk makanan kesukaannya, jadi sebelum ke kantornya aku terlebih dahulu membelinya dari restoran makanan Jepang yang sudah menjadi langganan Tama dan Shina dari dulu.
"Enak. Kamu sengaja beliin ini buat aku?" ucap Tama sambil memakan bekal yang ku bawakan. Dia terlihat lahap dan menikmati makanannya.
"Iya. Kalau enggak ngapain aku anterin kesini. Itu kan kesukaan kamu." jawabku.
Tama lalu menatapku dengan senyum yang memperhatikan giginya. "Makasih ya." ucapnya, lalu aku menanggapi dengan menganggukkan kepala.
"Pasti ngantri ya. Disana kan selalu rame." ujarnya
"Sini buka mulutnya." kata Tama yang berniat ingin menyuapiku. Aku menurut membuka mulut menerima makanan yang akan di suapkannya.
"Kapan-kapan liburan ke Jepang yuk. Makan sushi di negara aslinya enak mungkin." kataku sembarang bicara sambil mengunyah sushi yang ia suapkan.
Tama menghentikan sejenak tangannya yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya. Dengan tersenyum lebar yang menampakkan kebahagiaan ia berujar, "boleh. Kalau kamu mau ke sana. Nanti kita schedule jadwal kita biar sama-sama dapat hari libur yang pas."
Dia mengiyakan permintaan istrinya ini dengan binar yang di pandangan orang terlihat sangat bahagia karena akan jalan-jalan bersama.
Setelah jam makan siang selesai aku lalu pergi meninggalkan kantor Tama. Hari ini juga aku nggak ke kafe. Di florist pekerjaan aku serahkan semua ke Deri juga setelah makan siang ku selesai tadi. Aku ingin istirahat sebentar.
Saat perjalanan pulang aku mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong baju lalu keperluan yang lain juga. Di salah satu counter kupilih-pilih air purifier yang wangi nya sejuk dan menenangkan untuk mengganti suasana kamar kami. Setelah ku rasa cukup dengan belanja kebutuhan ku, aku kemudian ke kasir untuk melakukan pembayaran lalu setelahnya pulang.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘