
Dia lalu membuka kembali tas kerjanya, mengambil laptop dan beberapa map, membawanya menuju ruang kerjanya.
Setelah dia keluar dari kamar Aku lalu mematikan lampu dan melanjutkan tidur ku kembali.
Semilir angin malam menyapu badanku. Jendela kamar tidak tertutup rapat. Cuaca sudah mulai dingin. Aku terbangun. Aku turun dari ranjang melangkahkan kakiku ke arah jendela, menutup lalu menguncinya.
kayaknya tadi sebelum tidur udah di tutup deh, apa Tama yang buka ya. Iya kalau Tama kalau maling gimana. Aku menggelengkan kepalaku memikirkan yang tidak-tidak.
Ku lirik jam di atas meja nakas, pukul 3:12 am. Tama belum juga kembali ke kamar ini. Dia banyak kerjaan atau jangan-jangan sengaja menghindar biar gak tidur sekamar sama aku. Coba samperin aja apa ya, pikirku.
Apa coba aku bikinin kopi aja kali ya. Aku keluar kamar, menuruni anak tangga berjalan ke dapur. Sepi. Jelas, para pelayan jam segini masih tidur, mereka bangun subuh nanti.
Ku ambil dua cangkir dan nampan. Aku lalu membuat kopi, ku masukkan gula ke dalam satu cangkir. Tama suka yang pahit apa manis ya? bawa aja lah gulanya.
"Tok tok."
"Tama ini aku. Apa boleh masuk?" ketuk ku dari luar.
"Iya. Silahkan." sahutnya dari dalam.
Aku membuka handle pintu, sedikit susah dengan membawa nampan namun akhirnya bisa. Aku masuk ruangan tersebut, kulihat dia sedang sibuk dengan laptopnya, komputernya pun juga menyala. Mukanya tampak kusam kelelahan. Kasian suamiku, tatapku memelas.
"Mau minum bareng." ku pasang muka dengan senyum lebar lalu menyodorkan nampan kecil berisi dua cangkir kopi dan tempat gula di atas meja. Meja tamu di depan meja kerjanya.
Dia melihat ku, melihat ke arah nampan yang ku bawa. Dia lalu menghampiri ku, ikut duduk bersama ku.
"Terimakasih." ucapnya. Dia menyeruput kopinya, menghela nafasnya panjang seolah sedang melepas penatnya. Terlihat sekali rasa lelah dari wajahnya.
Ternyata suka yang pahit, kataku dalam hati.
"Pekerjaanmu masih banyak? Istirahatlah sebentar." kataku. Gak tega liatnya.
"Hmm. Aku akan istirahat sebentar nanti." katanya.
Tama kembali menyesap kopinya.
Kami pun mengobrol sebentar. Kulihat matanya mulai sayup.
"Tidurlah." kataku mengakhiri pembicaraan. Dia mengerjap mengembalikan kesadarannya menatap ke arah ku.
Ku pasang senyum tipis, "Tidur, kamu butuh istirahat." kataku lalu keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
Sudah tiga hari berlalu aku jarang melihat Tama. Hanya sarapan pagi kita bisa bertemu. Malam dia pulang kerja larut lalu kembali sibuk lagi di ruang kerjanya, sampai tertidur diruang kerjanya pula. Seperti malam itu, dia tidak kembali ke kamar, malah tidur di ruang kerjanya. Mungkin malam ini juga dia akan sibuk lagi.
Setelah menghabiskan hari jalan-jalan dengan Tania aku merasa lelah. Aku langsung tertidur pulas setelah makan malam di luar.
Pukul 6:00 pagi seperti biasa alarm berbunyi. Aku bangun dan bersiap siap untuk ke florist hari ini.
Diruang makan Tania sudah menunggu. "Kakak mu belum turun?" tanyaku sambil membalikkan piring mengambil nasi dan lauk pauk.
"Loh katanya gak pulang. Kakak gak tau?"
Aku mengernyitkan dahi, "Gak tuh." ucapku menggelengkan kepala.
"Mungkin karena terlalu sibuk jadi gak sempat." timpalnya.
Aku terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala mengiyakan. Kami melanjutkan acara makan pagi berdua saja.
...* * *...
"Der, ada produk baru?" tanyaku setiba di florist.
"Eh bos. Iya nih. Ini produk baru juga ada karena pesanan. Ada yang pesan untuk hantaran pernikahan. Hanya buat hari ini aja." jawabnya.
"Cantik ya." timpal ku.
Aku mulai membantu pekerja ku merangkai bunga hingga tak terasa waktu pukul 15: 04.
Sibuk sekali hari ini, pesanan sedang banyak. Aku meregangkan otot-otot badan dan tanganku.
"Udah sore aja nih. Padahal kita baru selesaiin empat pesanan." kataku.
"Iya soalnya hari ini kita dapet pesanan ucapan selamat jadi lama bikinnya. Untung ada Bu bos jadi di bantuin deh sama Bu bos." kata Tina sambil meregangkan badan juga.
"Udahan dulu yuk." ujarku kepada mereka. Kita lalu beres-beres toko.
"Aku bawa satu buket ya. Kalian hati-hati pulangnya. Kunci yang bener pintunya." kataku ke anak-anak.
"Siap Bu bos!" jawab mereka kompak.
Di perjalanan sebelum pulang ke rumah aku mampir dulu sebuah tempat.
"Pak, keliling-keliling dulu ya sebelum pulang." kataku pada sang sopir.
__ADS_1
"Siap Non." jawabnya.
Cari apa ya untuk Tania, pikirku. Beberapa hari yang lalu dia mengajakku membuka oleh-oleh yang ia bawa. Ternyata dia membawakan tas jinjing brand ternama. Jadi gak enak hati kalau gak membalas pemberiannya.
Duni novel emang beda ya, barang mewah dan branded bisa di beli sesuka hati. Coba kalau di kehidupan nyata, mikir berkali-kali aku.
Tapi kalau orang yang cukup duit sih gak akan mikir-mikir lagi kali ya, kayak artis-artis dan para pengusaha atau pejabat.
Rona, Rona. Makanya yang rajin kamu sekolahnya. Benerin tuh kuliahnya biar bisa jadi orang kayak mereka kamu nanti. Aku jadi merutuki diriku sendiri.
"Non, kita mau kemana?" tanya pak supir menyadarkan ku dari lamunan.
Eh iya, baru sadar kita dari tadi cuma muter-muterin jalanan.
"Ah ke depan lagi pak, nanti kalau sudah sampai tempatnya aku bilang berhenti." jawabku.
"Woke." sahut si sopir.
"Yang mana ya?" ucapku pada diri sendiri.
Aku saat ini berada di toko emas. Berencana memberi hadiah gelang pada adik ipar ku, Tani. Tanganku memilih-milih bingung.
"Yang bermata biru cantik." suara seorang lelaki terdengar dari belakang ku.
"Aa.." aku menoleh ke belakang melihat ke arah sumber suara. "Tampan." batinku. Wajahnya yang sedikit oval dengan bibir tersenyum padaku membuatnya terlihat tampan. Untung saja aku mengucapkannya dalam hati.
Aku tersenyum, membalas senyumannya. Ku pandang lagi gelang berhiaskan mata-mata kecil berwarna biru, ku bandingkan dengan gelang yan yang satu lagi, bermata merah dengan potongan kotak persegi panjang. Memang bagus yang biru, terlihat simpel dan elegan.
"Yang ini aja ya mbak." ucapku pada karyawan toko tersebut.
"Untuk hadiah?" tanya laki-laki itu lagi.
"Iya." jawabku dengan senyum, karena dia juga masih tersenyum. Apa memang wajahnya selalu memasang wajah senyum kali ya.
"Ini kak." kata karyawan toko emas tersebut.
"Ah iya. terimakasih ya mbak." aku menerima paper bag sambil mengangguk.
"Makasih ya sarannya. Aku duluan ya." ucapku pada laki-laki itu seraya pamit. Laki-laki itu pun mengangguk.
Aku pun bergegas pergi dari tempat itu menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di sana. Kasian pak sopir nunggu lama dari tadi.
__ADS_1
⭐⭐
jangan lupa like komen dan vote ya 😘