
"Waah kamu cantik ya. Aku baru liat langsung. Boleh berteman nggak?" celotehnya. Aku mengangguk mengiyakan.
Dia lalu memulai percakapan random yang panjang, bukan membahas tentang bisnis dan perusahaan seperti orang-orang yang hadir malam ini. Hingga akhirnya kami pun bertukar nomor telepon. Semudah itu dia bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang yang pertama kali ia kenal. Ciri-ciri anak supel dan mudah bergaul kayak gini nih.
"Drrttt.. drrttt." handphone ku bergetar. Ku ambil dari tas kecilku. Terlihat panggilan masuk dari Tama.
"Sebentar ya ada telepon." kataku ke Delia. Aku permisi dan menerima telepon. Delia mengangguk.
"Iya Tama. Aku di bangku sudut dekat dengan patung kristal angsa." jawabku karena Tama menanyakan keberadaan ku. Panggilan ku tutup kemudian aku kembali duduk menghampiri Delia.
"Sudah mau pulang?" tanya Delia yang sedang menyesap minuman miliknya.
"Iya. Suamiku sebentar lagi datang." jawabku. Tak lama ku lihat Tama sudah datang, dia berjalan menghampiri ku.
"Maaf, tadi banyak kolega yang mengajak berbincang banyak soal pekerjaan." jelasnya yang terlihat tergesa menghampiri ku.
"Iya gak pa-pa. Aku ada yang nemenin kok." jawabku.
"Kenalin, Delia. Temen baru, ketemu disini." kataku memperkenalkan Delia. Kemudian mereka saling jabat tangan seraya memperkenalkan diri masing-masing.
"Halo pak Tama. Saya Delia." ucap Delia.
"Panggil Tama saja. Kalau teman Shina berarti teman saya juga." kata Tama.
"Ah iya, tapi kan ini acara resmi. Kalau di luar acara resmi mungkin saya bisa. Profesional lah Pak." kata Delia dengan tak sungkan seperti sudah kenal dengan Tama sebelumnya.
Salut aku sama tingkat percaya dirinya itu.
Kami lalu pamit untuk pulang duluan. Delia masih ditempat karena dia jadi partner kakaknya malam ini. Dan kakaknya belum mengajaknya untuk pulang, mungkin menunggu sampai acara benar-benar selesai. Kami juga berpamitan sama Papa dan Mama.
Setelah ke luar dari gedung itu angin malam terasa semakin dingin. Badan ku sampai gemetar. Tama yang melihatku tersenyum sedikit lalu melepaskan jasnya dengan kemudian di pasangkannya ke badanku.
"Terima kasih. " ucapku melihat ke arahnya.
Dia tersenyum, "sama-sama." Lalu membukakan pintu mobil untukku, aku pun masuk ke dalam.
"Mau langsung pulang?" Tanyanya setelah kami masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Iya. Aku udah capek banget nungguin dari tadi." jawabku spontan dengan mimik muka lelah. Dia mengangguk, setelah memasang seat belt Tama lalu melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan sesekali aku terkantuk-kantuk, mataku sudah sangat berat ingin cepat-cepat istirahat. Sesampainya di rumah aku buru-buru naik ke atas dan masuk kamar dengan sebelumnya pamit dulu ke Tama.
"Tam, aku naik dulu ya. Ngantuk banget pengen cepet-cepet tidur." kataku pada Tama saat di ruang tengah. Aku langsung meninggalkannya sebelum dia menjawab kataku.
Ku lepas jas milik Tama lalu ku lempar ke atas sofa setelahnya lalu aku mengganti baju dengan baju tidur.
"Haah.. harus cuci muka dan sikat gigi dulu. Kalau nggak mukaku bakal jerawatan, makeup sangat menyebalkan. Udah ngantuk banget ini." gerutu ku dalam hati.
Aku ingin cepat istirahat.
...* * *...
"Der, konsep kita mau gimana?"
Hari-hari aku semakin sibuk dengan pekerjaan ku. Seperti sekarang rencananya aku ingin buka kafe dengan tema taman tapi dengan nuansa modern. Aku sedang berdiskusi dengan Deri.
"Kita kafe nya indoor klasik aja Bos. Lampu gantung antik tapi meja kursi modern. Biar masuk juga buat yang berumur bukan cuma untuk anak muda." jawabnya semangat.
"Terkadang kan pasangan suami istri butuh waktu untuk berduaan juga. Nggak melulu di hotel kan." imbuhnya lalu tertawa terkekeh di akhir kalimat.
"Iya. Kasih kursi panjang antik juga tuh yang kayak kursi jaman dulu. Buat pasangan lanjut yang mau mampir ke kafe kita, biar mereka juga bisa ikut menikmati suasana malam. Jadi kita targetkan untuk semua usia." imbuhnya.
"Kalau semua usia kayaknya nggak masuk deh Der, anak di bawah umur dan balita kan aku nggak bisa masukin kategori." sahut ku.
"Ah bos ini, dari eksteriornya pun mereka pasti bisa melihat. Nggak mungkin kan kita tempelin 'adult only' di pintu kaca masuk. Keliatan lucu." ujarnya kemudian tertawa lagi.
Aku juga ikut tertawa mendengarnya.
"Dinding kaca, taman di luar, spot foto juga ya." tambah ku mencatat tema desain.
"Rencana buka jam 15:00 sampai 22:00, gimana?" tanyaku meminta pendapat.
"Oke bos setuju. Jam segitu masih ada ojek dan taksi online. Kita juga harus mikirin pegawai." ucap Deri semakin semangat dalam penyusunan rencana kafe baru ini.
Aku mengangguk-angguk, "Done!" kataku.
__ADS_1
Aku lalu menyusun konsep yang sudah kami rencanakan dan mulai mencari bahan-bahan yang di perlukan untuk rencana pembukaan kafe yang akan di lakukan.
Ternyata butuh persiapan yang lumayan lama hingga memakan waktu hampir beberapa bulan karena mengingat aku keterbatasan karyawan. Apalagi di florist juga ada pesanan terus meski tidak terlalu banyak.
Aku jadi membuat karyawan lelah dengan sesekali meminta waktunya untuk menemani mencari dan melihat barang-barang yang aku perlukan untuk pembukaan kafe nanti.
Akhirnya sedikit demi sedikit semua yang di perlukan sudah selesai kami cari. Untuk lokasi dan tempat, aku hanya membeli sebuah ruko bekas yang masih kokoh dan luas. Tempat parkirnya pun luas, dan masih tersisa ada halaman sedikit di sampingnya.
"Ini mah lebih mirip bekas toserba." gumam ku dalam hati.
Ruko yang di jual pemiliknya ini alasannya mereka ingin pindah tempat usaha. Karena orang tua salah satu pasangan sudah tua dan sering sakit-sakitan, mereka menjualnya sebagian untuk biaya berobat dan sebagian untuk dana usaha lagi di tempat mereka tinggal sekarang.
Aku termasuk baik hati kan membantu mereka membeli tempat ini?
Aku juga ingin menjadi orang sukses dengan usaha sendiri. Semangat berjuang Rona di dunia ini! Aku menyemangati diri sendiri.
Kami pun di sibukkan dengan promosi pembukaan kafe baru. Selembaran kita bagikan, juga termasuk post via media sosial. Pencarian pegawai juga kami sebarkan.
Penataan ruang interior yang epik dan antik membuat kita semua tak sabar untuk menjalani usaha baru ini. Belum lagi halaman yang di luar kami sulap menjadi tema taman kecil dengan di desain terbuka untuk spot foto. Kursi been bag dan bunga yang punya wangi agak tajam kita tempatkan di luar. Sedangkan untuk indoor kita isi dengan pot pot kecil bunga dengan wangi kalem.
"Ishh sepertinya romantis banget kalau malam hari." gumam ku. Tapi ternyata di dengar oleh karyawan ku yang ikut bantu-bantu menyusun furniture di tempat ini. Tiga hari aku tutup florist untuk mereka aku ajak membantu ku di kafe ini.
"Bener bos." sahut mereka kompak yang membuat ku menoleh ke arah mereka. Kami pun saling tertawa bersama.
"Bos, perdana aku mau datang duluan sama pacar sebagai konsumen. Aku izin gak kerja ya sehari." ujar Fikri.
"Ih apaan izin, bisa kali datangnya malem. Kan florist tutup jam empat sore." timpal Tina seolah tak terima izin Fikri. Pasti dia juga berfikir dia akan sibuk di florist sendirian. Karena kalau salah satu diantara Aldo atau Fikri tidak masuk maka Tina yang menggantikan salah satu dari mereka untuk menjadi kurir. Karena Deri aku tugaskan untuk memegang kendali toko.
"Iya nanti aku kasih kalian libur satu hari untuk bisa berkunjung ke sini. Tapi bukan hari pembukaan ya Fikri." kataku.
"Terus nanti kalau kafe ini udah buka aku usahain cari pegawai tambahan atau pekerja part time buat gantiin salah satu dari kalian kalau nggak masuk kerja." ucap ku lagi seraya menatap ke arah Tina.
Tina langsung tersenyum lebar, "Bos yang terbaik!" ucapnya sambil mengacungkan dua jempol.
"All right, let's go home. Semoga lancar dalam soft opening nanti." ucapku selanjutnya.
"Aamiin." para karyawan ku mengamini serentak.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘