ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 26 : KEMBALI BEKERJA


__ADS_3

Aku pun sudah tak sanggup lagi, "Taammaa.." teriakku melenguh panjang, begitupun Tama sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia lalu berbaring di sampingku dengan nafas kami yang sama-sama memburu.


Diciumnya dengan sayang puncak kepalaku dan kemudian kami pun tertidur.


"Uughh.." Aku membalikkan badanku dan mencoba untuk bangkit, bangun dari tidur. Tapi rasanya pinggangku nyeri sekali. Aku mengumpulkan nyawa terlebih dahulu lalu ku buka mataku, kulihat Tama sedang tidur pulas di sampingku dengan posisi terlentang. Wajahnya yang tampan tampak bersinar terkena sorot lampu kamar yang tidak dimatikan semalam.


"Tam.." aku memberanikan diri membangunkannya dengan sedikit menggoyangkan badannya.


Tama merespon, "hmm.." katanya sambil mengerjapkan mata.


"Aku haus. Mau minum." Badanku sama sekali tak bisa digerakkan, rasanya berat sekali seolah lengket dengan kasur.


"Tunggu sebentar." Dia lalu beranjak mengambilkan air minum mineral pada kemasan botol yang berada di atas nakas.


Dalam aktivitas olahraga malam kami tadi sempat kita jeda sebentar karena kami merasa haus dan kelelahan. Tama lalu mengambil makanan dan minuman sisa kami barbeque di taman belakang tadi dan membawanya ke dalam kamar.


"Apa-apaan laki-laki ini kayak orang mesum aja masa nggak pakai celana meski meja nakas dekat." gumamku dalam hati, yang diri ini juga malu karena baru kali ini melihat tubuh polos seorang laki-laki apalagi dengan kepemilikannya yang terekspos jelas.


Hiishh.. aku memalingkan wajahku karena malu sendiri.


Tama yang sepertinya tahu jika aku susah untuk bangun membantuku untuk bangun dari tidur, kemudian ia memberikan botol minum air mineral itu kepadaku. Aku menerima botol itu darinya, dan lagi, aku melihat tubuh indah ciptaan Tuhan yang terpampang jelas di depan mataku. Tubuh yang tegap dan gagah itu terlihat sangat keras berotot, membuatku meneguk air minum ku tanpa berkedip atau mengalihkan pandanganku darinya.


"Sudah. Nanti kamu kembung kalau kebanyakan minum." kata Tama yang seperti tahu kalau pandanganku sedang fokus melihat tubuhnya.


Aku berdehem lalu menyudahi minum ku kemudian menutup kembali botol minuman itu.


Haiishh.. tingkahku terlihat sekali jika aku sedang salah tingkah, apalagi Tama terus saja memperhatikan ku membuat ku semakin gelagapan dibuatnya.


Dia menampilkan seringai senyum licik lalu mengambil botol yang sudah selesai aku minum dan menyimpannya kembali ke meja lalu menarikku ke pelukannya.


"Tama badanku sakit." keluhku, karena badanku memang benar-benar masih terasa sakit.


"Sekali saja ya. Cuma sebentar kok." katanya dengan nada manja kemudian menciumi wajah ku lalu turun ke leher dan akhirnya berujung dengan aksi olahraga lagi.

__ADS_1


Sudah berapa lama ini? Tapi dia belum selesai juga. Katanya cuma sebentar, aku mengeluh karena badanku rasanya sudah hampir remuk lagi.


"Tam..ma udah... Aku nggak sanggup." lirihku saat kurasa dia sudah mencapai pelepasannya.


"Sekali lagi ya.." katanya dengan nafasnya yang masih terengah sambil berbisik.


Mataku membola mendengar kata sekali lagi. Tanpa menunggu persetujuanku ia lalu menelungkupkan badanku dan membuatnya untuk sarana berolahraga.


Terakhir dan benar-benar untuk yang terakhir, dia membuat seluruh tubuhku bergetar hingga rasanya seketika kosong pikiranku.


Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang kami, Tama tersenyum-senyum sendiri terkadang sambil bersiul siul mengikuti irama lagu yang keluar dari speaker dalam mobil. Terlihat senang sekali wajahnya itu, nggak keliatan lagi tampang dingin, tegas nan cuek itu.


"Dasar binatang buas yang udah bikin istrinya nggak bisa jalan." sarkas ku dalam hati.


Rasanya aku malu sendiri teringat kejadian tadi, pingsan setelah *******. Setelahnya hampir tidak bisa jalan, bahkan untuk mandi pun dibantu oleh Tama dengan cara dibopong dan juga dimandikan oleh Tama.


Kejadian memalukan yang tak akan ku ceritakan kepada siapapun seumur hidupku nanti. Mukaku jadi memerah sendiri jika mengingatnya.


"Jangan bikin aku malu deh. Pura-pura nanya." kataku seraya memukul pundaknya itu. Tama tertawa kecil lalu membantu memapahku untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mau digendong lagi aja?" tawar Tama yang membuatku semakin mencebik karena malu.


"Selamat datang Nona Tuan." Merlin menyambut kedatangan kami. Aku membalas dengan senyum sambil mengangguk.


"Merlin tolong bawakan air hangat ke kamarku ya." pinta Tama yang di sahut dengan anggukan oleh Merlin.


Setelah sampai di depan tangga tanpa aba-aba Tama membopongku naik ke atas. Aku dibawa ke kamarnya disusul oleh Merlin dengan membawa sebaskom air hangat lalu pergi meninggalkan kami setelah meletakkan baskom itu.


Tama kemudian berjongkok di depan ku lalu membuka sepatuku yang tak sempat ku buka saat berada di depan pintu tadi, kemudian ia dan merendam kakiku di baskom berisi air hangat yang di bawa oleh Merlin tadi.


"Mau aku kompres juga pinggangnya?" tanya Tama yang masih terus saja menggodaku.


"Apa sih." kataku sambil memukul pundaknya yang mungkin tidak akan terasa sakit olehnya. Dia malah tertawa begitu pun aku yang malu juga ikut tertawa kecil.

__ADS_1


...* * *...


"Bu bos kemana saja? Katanya cuma mau cuti dua hari. Kami sibuk banget nih di toko, banyak pesanan."


Aku hari ini sudah mulai kembali bekerja. Deri mengeluh padaku setelah kedatangan ku, kerjanya jadi tambah sibuk karena dia aku angkat untuk merangkap jadi manajer di toko.


"Maaf yaa, inginnya juga begitu. Tapi mau gimana lagi, karena ada kejadian tidak terduga." ucapku sambil meringis, tersenyum kecil.


Deri ini perawakannya macho tapi sedikit centil gerakannya saat dia sedang berbicara dengan orang yang sudah akrab dengannya. Tapi terkadang ia juga bisa bertampang menjadi laki-laki sangar jika dalam mode serius, seperti sekarang ini, dia nggak segan negur bosnya yang nggak konsisten dan menyalahi aturan kerja.


"Bos, ada yang minta izin mau prewed di taman kita. Gimana nih? Itu kan bunga banyak yang langka takutnya pada rusak nanti." cerocosnya lagi sambil melihat-lihat layar pada komputer.


"Iya jangan lah. Kita sarankan di outdoor kafe saja terus kita bantu untuk dekorasinya jika butuh bunga-bunga tambahan." jawabku.


"Kalo mereka nggak mau ya udah kita juga menolak taman kita di pakai untuk prewed." sambung ku lagi. Deri pun mengangguk mengerti.


"Pesanan hari ini beres semua ya. Kita closed yuk. Yang pesen lumayan juga ya empat hari kemaren."


Aku hari ini juga mengecek buku penjualan, hasilnya memang banyak pesanan. Pantas saja Deri terlihat sangat kesal, pasti kemarin-kemarin mereka sangat sibuk merangkai bunga dan bolak balik nganterin pesanan. Jahatnya diriku yang malah enak-enakan. Aku merasa sangat bersalah sekali.


"Iya bos. Tina sampai kewalahan tuh bos kasian. Padahal sebelum kirim barang Fikri dan Aldo juga bantu nyiapin barang-barang dan merangkai sebagian, tapi tetap kewalahan. Karena nggak tega aku tolak beberapa pesanan kecil." kata Deri dengan memasang muka melas untuk Tina.


Dia menjelaskan semuanya kepada ku, apalagi karena sekarang juga lagi musim wisuda jadi banyak pesanan dari anak-anak atau keluarga mereka yang akan di wisuda.


Padahal aku sudah menambahkan dua karyawan sebelumnya untuk bagian merangkai bunga, namun karena kurang begitu mahir jadi mereka tetap kewalahan. Maklum Sonia dan Maya kan karyawan non pengalaman sebelumnya, meski begitu kinerja mereka bagus kok tak selalu merepotkan senior yang sudah berpengalaman dalam bidang merangkai bunga.


"Iya nanti kalian dapet bonus deh akhir bulan. Semangat ya kerjanya!" kataku ke anak-anak. Mereka pun akhirnya bersorak bahagia. Kami lalu menutup toko karena memang sudah menunjukkan waktu kami closed.


"Hati-hati ya kalian." ucap ku pada para karyawan. Aku pulang dengan membawa satu buket bunga.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2