
Benar saja sampai tubuhku lemas pun dia belum juga berhenti. Aku kira bisikan itu adalah terakhir dia akan melakukannya namun ternyata dia masih melanjutkannya dengan kembali membalikkan tubuhku. Aku yang sudah mulai kelelahan memasrahkan diri dengan apa yang dia lakukan pada tubuh ini.
"Mama ngajak kita ketemu hari ini. Kemarin aku udah telepon ke Mama kalau aku setuju dengan acara pestanya. Kita ajak Papa Mama kamu ketemu sekalian aja, biar kita bisa bahas bersama tentang rencana pestanya." katanya duduk di sampingku yang masih terbaring lemas. Dia sedang menikmati kopinya yang entah sejak kapan sudah berada di meja nakas dekat di sampingnya. Dia menyesapnya dengan suara cecapan yang seperti sangat menikmati.
"Terus kenapa nggak bilang dari tadi, malah buat aku begini kalau mau ketemu sama mereka." kataku dengan nada protes dan menggerutu.
"Aku lelah sayang. Jadi aku banyak tidur kemarin. Maaf baru kasih tau sekarang." ucapnya dengan tangannya yang mengusap kepalaku.
"Lelah dari mananya?" kataku dengan nada sedikit tinggi.
"Astagaa.. setelah hampir dua jam aku disiksa, bilang lelah." kataku membantah ucapannya.
Dia tertawa terkekeh kemudian mencium puncak kepalaku. "Maaf. Maksud ku kemarin sayang lelahnya." ucapnya dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya. Aku hanya membalas dengan mencebikkan bibirku.
Bagaimana tidak kesal, kalau sekarang bakal ada janji temu sama keluarga tapi dia tidak bilang dan malah membuat badanku rasanya remuk semua. Setelah melakukan aktivitas melelahkan itu rasanya hanya ingin tidur seharian saja. Apalagi cara Tama melakukannya benar-benar membuatku benar-benar kelelahan karena dengan berbagai macam gaya dia membolak-balikkan tubuhku.
"Aku mau tidur ah. Nanti siang aja kita ketemunya sama mereka." Ucapku dengan nada sedikit kesal.
Tama malah tertawa lucu mendengarnya. "Iya.. iya.. kamu tidur aja lagi." ucapnya.
"Tolong bantu kirim pesan ke anak-anak kalau aku nggak masuk kerja hari ini." kataku lagi dengan kemudian membalikkan badanku membuat posisi tidur menyamping dengan kemudian mengeratkan selimut.
"Siaap istri ku." jawab Tama dengan senyum yang masih terdengar tawanya.
"Done." Katanya lalu meletakkan kembali handphone ku ke atas nakas setelah selesai mengirimkan pesan pemberitahuan jika aku tidak masuk kerja hari ini.
"Kamu pasti capek banget ya?" tanyanya sambil mengusap pipiku dengan posisinya yang masih duduk bersandar pada headboard.
"Kamu nanya?" kataku dengan nada masih kesal.
Bagaimana tidak kesal karena dibuatnya sangat lelah begini tapi nanti ada janji apalagi sama orang tua kami, belum lagi rasanya aku pengen banget untuk tidur sekarang.
"Ya udah tidur lagi aja." katanya yang kemudian aku pun memejamkan mata tanpa peduli lagi apa yang akan Tama lakukan selanjutnya.
__ADS_1
...* * *...
"Papa nggak sibuk hari ini?" kataku menyapa Papa yang baru sampai.
Aku, Tama, Mama Amita dan juga Mama sudah sampai lebih dulu lalu menunggu kedatangan Papa sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan minuman yang kami pesan sudah berada di bagian meja kami masing-masing.
"Papa suruh undur sebentar jadwal pertemuan selanjutnya hari ini setelah makan siang. Karena Papa juga mau gabung sama kalian." jawab Papa setelah duduk pada kursi bagiannya.
"Gimana kabar kamu Tama? Lama udah nggak pernah ketemu sama Papa." kata Papa ke Tama menyapa sang menantu.
"Tama baik Pa. Iya Tama sibuk sekali kemarin-kemarin. Papa juga sehat kan?" tanya Tama kembali.
Basa-basi kami cukup panjang dan tibalah sekarang pada inti pembahasan pada pertemuan siang ini yaitu pesta anniversary yang akan kami adakan.
"Jadi kita garden party saja?" Papa mempertegas lagi. Aku dan Tama menjawab dengan anggukan secara bersama.
"Papa paling cuma mengundang Pakde kamu dan keluarganya, Shina. Kalau Mama kamu kan nggak punya sodara." kata Papa pada ku kemudian melirik ke arah Mama dengan maksud menyindir sambil bercanda.
Mama yang melihatnya tidak tersinggung dan malah tertawa karena memang Mama adalah anak tunggal di keluarganya. Jadi setelah orang tua beliau meninggal Mama tidak punya siapa-siapa lagi, makanya Mama sekarang lebih dekat dengan saudara Papa.
"Iya lebih baik begitu. Jadi kita bisa lebih menikmati pestanya." kata Tama.
"Jadi kita deal ya tanggal 26 nanti." kata Papa memastikan lagi tanggalnya. Sekali lagi kami menganggukkan kepala dengan menyebutkan kata iya secara bersamaan.
Setelah pembahasan itu selesai kami pun makan siang karena sekarang memang sudah waktunya jam makan siang. Makanya Papa juga bisa ikut kumpul bersama kami.
"Papa ke kantor lagi ya. Takutnya banyak jadwal yang akan di undur lagi." kata Papa setelah ritual makan siang kami selesai. Lalu beliau pun berpamitan pada kami semua. Kami pun mengiyakan dengan aku yang melambaikan tangan tanda perpisahan.
Setelah ditinggalkan Papa kami berempat kembali melanjutkan mengobrol sebentar. Memang jika sudah kumpul keluarga begini rasanya susah untuk cepat-cepat pergi atau melanjutkan aktivitas lain lagi.
Aku dan Tama pun akhirnya juga ikut pamit setelah di rasa sudah cukup obrolan kami siang ini. Mama dan Mama Amita masih di tempat itu, ingin ngobrol dulu katanya. Jadi mereka berdua masih di dalam restoran itu.
Sekarang aku dan Tama berada di pusat perbelanjaan, kami berencana untuk membeli sepatu yang akan kupakai nanti saat pesta.
__ADS_1
"Yang ini cantik. Coba dulu deh." kata Tama menentukan pilihan dari kedua tanganku yang sedang memegang sepatu dengan menggantung.
Heels brukat warna hitam dengan dengan tali sepanjang betis menjadi pilihannya, aku pun mencobanya. Ku gerak gerakan kakiku di depan cermin. Yah lumayan cantik dilihatnya di kakiku yang jenjang ini.
"Gaunnya kita pesan saja di galery wedding tempat kita pesan baju pernikahan dulu." kataku ke Tama.
Karena seingat ku dari cerita Tama dulu di sana juga menerima jasa jahit baju sesuai dengan keinginan. Tama pun menyetujui dan kami pun berangkat ke galery wedding setelah melakukan pembayaran untuk sepatuku tadi.
"Kamu mau pake kemeja aja? Nggak sama jasnya?" tanyaku ke Tama.
Kita sekarang sedang mengukur badan Tama untuk kemeja yang ia pakai nanti. Rencananya baju kami akan dibuat menjadi pasangan dengan warna senada untuk pesta anniversary nanti.
"Nggak usah. Ini kan cuma acara keluarga bukan resmi " jawabnya.
Dan setelah selesai gilirannya sekarang adalah giliran ku untuk melakukan pengukuran. Setelah selesai melakukan pengukuran, menentukan bahan dan memilih desain model baju kami pun langsung pulang. Tiga hari lagi kami akan dihubungi pihak galery wedding untuk melakukan fitting dan bisa melakukan perombakan jika anda yang menurut kami kurang cocok.
Keesokan harinya. Di kantor Tama bekerja.
"Bos udah masuk?" Sapa Bagas yang melihat atasannya sedang berjalan menuju ruang kerja pribadinya sambil bersiul-siul menandakan seolah suasana hatinya sedang baik.
Terasa aneh untuk Bagas, biasanya laki-laki bernama Tama itu akan berjalan tegap layaknya pasukan Paspampres dengan koper yang ditentang atau tas laptop yang digendong juga mimik wajah yang terlihat tegas dan bossy. Jika ada yang menyapa pun dia hanya akan mengangguk.
Tapi kali ini sang atasan bersiul-siul layaknya laki-laki playboy yang telah menyelesaikan misinya dengan sempurna.
"Lha menurut mu aku ke sini mau ngapain?" Bukannya menjawab tapi Tama malah berbalik bertanya. Heran juga dengan pertanyaan Bagas, kalau nggak masuk buat kerja ngapain dia datang ke kantor dengan dandanan dan setelan rapi begini.
"Ah ciee.. aku katanya." Kata Bagas dengan gumaman yang masih bisa di dengar oleh Tama.
Seketika Tama menaikkan alisnya, heran juga, kenapa barusan ia ngomong pakai bahasa aku, biasanya juga gue ke temen satunya ini.
Mencari alasan seketika ia lalu berkata, "ini sedang di luar, lihat ada rekan kerja lain juga." Tama berkata sambil menunjuk dua sekretaris perempuan yang sedang standby di meja mereka dengan dagunya.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘