ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 9 : MENJEMPUT


__ADS_3

"Hah.. hah.. hah.."


Aku terbangun dari mimpi buruk ku dengan nafas yang sengal dan air mata yang juga ikut luruh dari dunia mimpi.


Aneh, jika ini mimpi, harusnya aku tak bisa bermimpi lagi. Memimpikan hal lain lagi. Apalagi mimpiku kali ini sangat buruk. Mimpi seorang istri tentang suaminya. Tubuhku pun masih bergetar hebat, efek dari mimpi itu terbawa hingga aku bangun.


Ku ambil gelas berisi air minum yang berada di atas meja nakas samping tempat tidur. Ku minum air satu gelas itu hingga tandas tak tersisa. Kemudian ku atur nafasku yang masih tersengal-sengal itu agar lebih tenang.


Kulihat jam di atas meja nakas, menunjukkan pukul 2:41. Ku tarik nafasku sekali lagi lalu menghembuskannya perlahan. Benar-benar perlahan agar dadaku tak lagi kembang kempis tak beraturan dan detak jantungku kembali normal.


"Mimpi macam apa tadi?" gumamku dengan masih memegangi dadaku.


Ku seka sisa air mataku lalu ku ambil handphoneku yang juga berada di atas meja nakas.


Terlihat ada pesan dari Tama, "Selamat malam. Sudah tidur?" Pukul 1:07.


Lalu satu lagi. "Selamat tidur." Pukul 2:02.


Aku membiarkan pesan itu, tak membalasnya.Aku berjalan ke kamar mandi menuju wastafel dan mencuci mukaku. Setelah merasa segar dan hati lebih tenang ku beranikan diri menelfon Tama. Suara nada tersambung.


"Halo Tama. Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik saja?" tanyaku yang seolah tak bisa membendung kekhawatiran setelah bermimpi buruk tentangnya.


"Iya aku baik. Mm, besok aku pulang. Rencananya malam ini aku ingin langsung pulang setelah urusan di sini selesai, cuma karena tidak ada jadwal terbang jam satu malam. Jadi aku ambil penerbangan pagi-pagi besok." jawabnya dari sebrang telepon.


Jantungku kembali berpacu mengingat mimpi yang baru saja terjadi tadi, terasa nyata. Mataku kembali berair, kini perasaan lega menyelimuti hatiku.


Haah.. lega hati ini mendengar jika dia baik-baik saja. Ku seka langsung air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


"Oke. Kabarin aku ya, aku jemput di bandara. Jaga keselamatan. Sampai jumpa besok." kataku yang tak kuat menahan mata air yang terus mengalir.


"Kamu kenapa? Suara kamu serak, Sakit?" tanya Tama.


Lagi-lagi air mata luruh melewati kedua pipiku. Air mata sialan. Aslinya cengeng banget apa ya Shina ini. Aku jadi kesal. Dan isakan pun terdengar keluar.


"Kamu flu? atau..." kalimatnya terdengar menggantung. "Shina kamu nangis?" tanyanya seolah baru menemukan sendiri jawaban dari semua pertanyaannya tadi.


"Kamu gak pa-pa?" tanyanya dengan nada panik, sepertinya khawatir.


"No, i'm fine. Tadi cuma mimpi buruk terus sampai kebawa bangun. Pas bangun, sadar gak ada siapa-siapa. Pelayan juga udah pada tidur. Aku takut jadi aku nangis." ucapku dengan sedikit berbohong.


Kenapa juga kamu harus bohong Rona, padahal tinggal bilang kalau kamu mimpi buruk tentang dia terus kamu takut.


Haish, ini Shina kenapa gak bisa jujur langsung aja pada suaminya sih. Aku menggerutu seolah diriku di kendalikan oleh Shina dan Shina tak ingin aku mengendalikan perannya.


"Iya gak apa-apa beneran. Iya nanti aku coba telepon Mama." jawabku.


Bukan Tama tak ingin menemaninya lewat telepon tapi dia sendiri tak tahu harus menghibur dengan cara bagaimana.


Bilang cup cup seperti ke anak kecil kan gak mungkin.


"Udah dulu ya, aku tutup teleponnya." ucapku. Aku mengakhiri panggilan dengan sebelumnya seperti terdengar suara helaan dari Tama.


Mataku berair lagi setelah aku matikan panggilan dengan Tama hingga akhirnya aku tak bisa tidur lagi.


Aku kembali memainkan menu kontak pada handphone ku hingga ku lihat tulisan MAMA pada layar handphone setelah ku scroll ke bawah. Mama, nama untuk seseorang yang selalu ku ingat saat sedih ketika di dunia asal ku.

__ADS_1


Ku beranikan diri memencet tombol panggil meski belum pernah aku lihat dan dengar sebelumnya seperti apa sosok seorang MAMA untuk Shina di dunia ini. Panggilan tersambung dan telepon dari ku di terima oleh mama. Aku tersenyum bahagia sambil air mataku terus luruh tak henti. Suaranya terdengar serak, seperti seorang yang sedang bangun tidur. Ah, aku mengganggu beliau larut malam begini.


Tak ku sangka, ternyata beliau sangat ramah


dan dari percakapan yang ku tangkap beliau sangat menyayangi Shina. Mama sangat khawatir larut malam begini di telepon olehku, hingga bertanya apa aku baik-baik saja, apa Mama perlu datang ke rumah ku malam ini juga.


Ah yang benar saja gara-gara aku ceritakan mimpi buruk ku barusan Mama ingin langsung ke sini. Gak tega lah aku, kasihan. Udah nikah masih ngerepotin orang tua.


Keesokan harinya..


"Itu Tama." tunjuk mamaku. Ku lihat arah telunjuk Mama dan di sana ada Tama yang sedang berjalan menuju ke arah kami di ikuti dengan ajudannya di belakangnya. Asisten pribadi yang selalu setia.


"Mama ikut jemput juga? Gimana kabar Mama? Sehat kan?" tanya Tama setelah mencium punggung tangan Mama. Tama lalu melihat ke arah ku, dia sedikit mengernyitkan dahi. Aku memasang senyum untuk menyambutnya. Lalu giliran ku mencium punggung tangannya.


"Mama sehat. Kamu gimana di sana? Gak terlalu diforsir kan kerjanya?" jawab Mamaku lalu menunjukkan sayangnya kepada sang menantu.


"Aku juga sehat kok Ma selama di sana. Tama selalu jaga kesehatan dan kerja sesuai jadwal begitupun istirahat dan makan. Selalu teratur." jawab Tama. Mama membalasnya dengan senyum sambil mengusap lengan menantunya itu.


"Ya sudah, kita langsung pulang saja ya." ujar Tama mengajak dengan kami juga menyetujuinya.


Kami lalu berjalan menuju mobil untuk pulang ke rumah dengan sebelumnya singgah dulu di sebuah resto untuk mengisi perut. Kami berbincang sebentar lalu pulang.


"Nak Tama nanti kapan kapan jika ada waktu kosong main ke rumah Mama ya. Sudah lama kita gak kumpul kumpul." ujar Mama yang sudah ingin pulang setelah mengantar kami sampai rumah.


"Mama pulang ya. Kalian yang akur ya. Shina kamu yang nurut ke suami." pamit Mama pada kami lalu mengusap lengan ku menasehati. Mama masuk ke mobil lalu pergi dengan kami melambaikan tangan kepadanya.


⭐⭐

__ADS_1


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2