
Aku lantas menjatuhkan badanku ke kasur lalu seketika pun kembali tertidur tanpa mau memedulikan lagi pesan Tama yang katanya akan pulang hari ini.
Badanku terasa berat saat ingin bergerak. Seperti ada yang menjerat ku. Susah sekali untuk digerakkan hingga rasanya pun sulit untuk bernapas.
Dengan mata masih terpejam aku mencoba agar tersadar, takut saja jika sekarang ini aku sedang diculik atau mungkin karena mimpi buruk yang sampai membuat tubuhku sulit digerakkan.
Akhirnya setelah nyawa terkumpul aku bisa membuka mata. Dan yang ku dapati adalah tangan besar yang melingkar mendekap bagian dadaku, pantas saja rasanya sesak dan hampir sulit untuk bernafas. Setelah sadar sepenuhnya, terasa deru nafas berhembus menerpa leher belakangku.
"Ah, tangan ini." Aku mengelusnya lalu menyematkan jemariku di sela-sela jemarinya. Dekapan ini, dekapan hangat dari seseorang yang aku rindukan. Tersungging senyum dari bibirku saat menyadari orang yang kemarin berjanji akan pulang hari ini ternyata sudah memelukku sekarang ini. Dan ku lirik weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 11:47 pm.
Diam-diam aku meraih tangannya, ku angkat lalu ku cium tangannya yang besar itu. Orang yang ku rindukan dalam diam selama ini akhirnya dia berada di sampingku.
Aku memutarkan badan menghadap ke dirinya. Mukanya yang biasa terlihat tegas itu kini tampak lelap dan tenang. Mungkin karena lelah jadi dia tidur dengan nyenyak. Aku kembali tersenyum lalu membenamkan diri ini dalam dekapannya, memeluknya dengan erat.
Pagi harinya aku membantu Merlin menyiapkan makanan di atas meja. Hari ini aku menyuruh Merlin dan pelayan yang lain untuk memasak makanan kesukaan Tama.
"Kamu boleh kerjakan pekerjaan lain dulu. Tama belum bangun jadi biarkan dulu tempat makannya." kataku ke Merlin.
"Iya Nona." Merlin mengangguk lalu meninggalkan meja makan membantu pelayan yang lain.
"Shina!" suara serak memanggilku dari atas. Aku menoleh ke arah pemilik suara itu yang sedang bersandar pinggang di sisi pembatasan anak tangga. Tama sudah bangun, terlihat mukanya yang masih mengantuk terpampang jelas.
"Aku disini. Mau sarapan sekarang?" jawabku dari bawah.
"Aku masih ngantuk." katanya lalu menguap setelahnya.
"Aku mau kopi dan roti saja. Bawa ke atas ya nanti. Kamu sarapan duluan aja." katanya selanjutnya.
"Oke. Nanti aku bawakan ke sana." Ucap ku kemudian melakukan sarapan sendiri sesuai permintaan Tama karena aku memang sudah sangat lapar apalagi dari kemarin aku tidak makan sama sekali.
Setelah selesai makan aku menyiapkan secangkir kopi latte panas, roti tawar dan sebotol tempat selai juga pisau sesuai yang diminta Tama tadi. Ku taruh di atas nampan lalu membawanya ke kamar.
__ADS_1
Ku letakkan nampan di meja sofa dekat jendela kamar. Tama baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya sekarang terlihat lebih segar, sepertinya dia telah mencuci mukanya. Padahal beberapa menit yang lalu dia bilang kalau dia masih ngantuk, kukira dia akan tidur kembali.
"Kamu mau pakai selai?" tawar ku setelah meletakkan nampan.
"Nggak usah." Dia meletakkan handuk mukanya di kursi lalu berjalan mendekat ke arahku dengan kemudian memelukku erat. Terdengar Tama sedang menghirup udara panjang dibalik ceruk leherku, seperti sedang menikmati sebuah aroma. Lalu kemudian dia mencium pipi dan keningku.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Ucapnya lalu menuntunku ke arah meja rias. Kemudian mendudukanku di kursi kecil depan meja rias tersebut.
Berbalik badan lalu berjalan ke arah gantungan baju dimana dia menggantungkan jasnya setelah pulang kerja di sana. Diambilnya sesuatu dari saku dalam jasnya yang seperti bekas ia pakai saat pulang dari luar kota itu. Karena aku semalam sudah tidur dan tak tahu kapan ia datang dan dengan memakai baju apa ia pulang.
Berjalan mendekati ku kembali sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna biru tua ditangannya. Dibukanya dan ditunjukkan nya isi dalam kotak itu kepada ku. Sebuah kalung emas putih dengan liontin batu tanzanite berwarna biru tua. Diambilnya kalung itu lalu berniat akan dikenakannya di leherku. Mengerti maksudnya, aku lantas mengikat rambutku dengan tangan agar mempermudahnya memasang kalung itu.
"Happy anniversary." ucapnya lalu memberi sebuah kecupan lembut dibibir.
"Kamu cantik." pujinya.
"Maaf ya terlambat. Maaf juga aku terlambat pulang." ucapnya lagi sambil memelukku dari belakang.
Aku kira selama ini dia tak peduli dengan hal seperti ini, seperti hari jadi pernikahan ini. Karena saat awal aku datang ke dunia ini, terlihat dirinya yang sangat cuek dan tak begitu banyak bicara.
Memang ini sudah terlewat dari jatuhnya hari jadi pernikahan kami. Aku sendiri bahkan tak mengucapkan selamat hari jadi kepadanya karena terlampau kesal dengannya yang kukira dia tak jadi pulang dan akhirnya aku pun lupa pada hari jadi pernikahan kami. Namun rasa kesal itu kini sudah terobati setelah tengah malam tadi dia sudah berada di sampingku sambil tertidur memelukku.
"Terimakasih. Ini cantik." ucapku terharu sambil tersenyum bahagia dengan kemudian aku mencium pipinya.
Setelah momen yang membahagiakan itu kami pun duduk bersama di sofa kamar dengan aku yang menemani Tama menikmati kopinya sambil mengobrol. Dalam obrolan kami aku lalu menceritakan tentang rencana pesta anniversary yang ingin diadakan oleh orang tua kami.
Ternyata dia juga sudah tahu sedikitnya dari mamanya karena memang Mama Tama yang duluan ingin mengadakan pesta anniversary ini, jadi dia pasti juga diberitahu lebih dulu. Tama berkata menyetujui asalkan tidak banyak orang dan bukan sekarang-sekarang ini karena dia masih terlalu lelah. Aku mengiyakan permintaannya dan akan ku sampaikan ke orang tua kami nantinya, kataku.
"Cepat habiskan sarapan mu, terus tidur lagi aja kalau masih ngantuk." kataku setelah ku rasa obrolan kita sudah berakhir. Tama mengangguk kemudian menyeruput cangkir kopinya. Dinikmatinya dengan khidmat juga roti tawar rasa gandum kesukaannya itu.
Aku tersenyum lalu meninggalkannya menuju meja rias bermaksud untuk menyimpan kotak tempat kalung tadi ke dalam laci.
__ADS_1
Ku tatapnya sosok suami dari pantulan kaca meja rias ku. Wajah tampan laki-laki ini sangat terlihat jelas setelah dia berhasil menggoyahkan hatiku.
Sedikit pilu, dari relung hati paling dalam aku masih menyadarkan diriku yang bukan Shina ini agar tak serakah untuk mempunyai rasa ingin memiliki semua kebahagiaan Shina. Apalagi jika kebahagiaan Shina terletak pada laki-laki itu, Tama.
"Ada apa?" tanya Tama dari tempatnya berada setelah sadar dia terus diperhatikan oleh ku.
Aku mengerjap sesaat, "tidak. Kamu keliatan tampan." ucapku spontan lalu segera memalingkan wajah dari mengamatinya dari pantulan cermin.
Sebelumnya kulihat seulas senyum terbit dari sudut bibir laki-laki itu. Dia beranjak dari tempatnya kemudian berjalan menuju ranjang tempat tidur kami dan menyandarkan setengah badannya ke headboard.
"Mau nemenin tidur?" tanyanya yang kini terlihat sudah memegang handphonenya.
Aku menggelengkan kepala, "aku udah dua hari nggak ke florist, sekarang mau ke sana. Kasihan anak-anak kalau ditinggalin apalagi kalau nanti hari ini banyak pesanan." jawabku.
Terlihat mengernyitkan dahi Tama berkata, "kamu nggak ke florist dua hari? Kenapa? Sakit?"
Dia bertanya seolah khawatir dan tak tahu kabar sebelumnya tentang istrinya. Dengan cepat pun ia meletakkan kembali handphonenya ke meja nakas.
Tak ingin membuatnya salah paham, aku segera menggelengkan kepala. "Bukan. Aku nggak sakit juga nggak kenapa-napa. Cuma, aku kira kamu bakal pulang kemarin pagi atau siangnya jadinya aku bilang ke anak-anak kalau aku nggak akan kerja kemarin."
"Ooh.." Tama ber-oh sambil mengangguk.
"Terus kemarin lusa kamu kemana?" Kini Tama bertanya dengan raut kebingungan serta khawatir.
Tak ingin berbohong, aku pun menjawab dengan seadanya. "Emm.. nggak tau kenapa jadi males mau kerja pas nggak ada kabar dari kamu. Katanya cuma mau sebulan di sana, nyatanya sampai lebih."
Seketika aku mengalihkan pandangan kepadanya dengan kemudian menyambar tas kecil ku yang sudah siap akan ku bawa kerja hari ini.
Malu lah, pasti. Terang-terangan mengakui perasaan sendiri, biarpun statusnya suami tapi secara real kan aku hanya orang lain. Seolah seperti aku sedang mengakui perasaan kepada suami orang.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘