ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 21 : MENGINAP DI HOTEL


__ADS_3

Dan pemandangan yang kudapti kali ini berbeda. Bukan Tama yang masih duduk di meja kerjanya yang sibuk dengan layar laptop atau dia yang sudah menunggu ku di meja tamunya untuk bersiap menerima bekal makan siang yang aku bawakan.


Namun sebuah adegan mengejutkan dengan dimana seorang laki-laki memegang kerah kemeja seorang perempuan yang sedang berada di bawahnya. Apalagi kancing baju kemeja sang perempuan terbuka hingga terlihat kedua benda aset milik pribadinya.


Terlihat vulgar bukan? Namun memang seperti itulah yang terlihat sekarang. Sontak kepalaku pun berfikir entah kemana. Ke arah yang tentu saja bukan hal yang baik-baik.


Mereka terlihat menatap ke arahku dengan tatapan terkejut. Mungkin menurut mereka kehadiran ku seperti tiba-tiba.


Bekal yang kubawa ku letakkan begitu saja di atas meja lalu aku juga meninggalkan mereka berdua begitu saja dengan sebelumnya melirik sekilas lalu benar-benar pergi.


Kenapa aku malah pergi? Kenapa aku tidak marah-marah dan mencaci mereka? Mengumpati dan menghina mereka dengan menyebutkan seluruh nama hewan yang ada di kebun binatang.


Kenapa aku malah pergi dan tidak menuntut penjelasan kepada mereka tentang apa yang ku lihat barusan? Apalagi adegan seperti itu membuat ku berfikir yang memang ke arah yang buruk.


Setelah keluar dari ruangan dan gedung perkantoran itu aku tidak langsung pulang. Aku juga tidak menghampiri pak sopir yang tengah memarkirkan mobilnya di tempat seperti biasa dia menungguku saat aku mengantarkan bekal makan siang untuk Tama.


Aku berjalan dengan sedikit berlari menyeberangi jalan raya yang berada di depan gedung kantor itu, mengehentikan sebuah kendaraan yang melintas entah itu angkot, taksi atau ojek yang bisa cepat untuk aku tumpangi. Aku pergi entah kemana.


Handphoneku beberapa kali bergetar dan berbunyi dengan nada panggilan dan pesan bersahutan, namun aku langsung membuatnya menjadi mode off. Aku berkeliaran hingga malam sampai merasa kaki dan diri ini lelah untuk melangkah.


Sepertinya Tuhan melihat lelahku. Di seberang jalan dimana aku sedang duduk sambil meluruskan kakiku untuk istirahat, terlihat seketika oleh mataku sebuah bangunan megah yang sekarang memang aku butuhkan.


Aku putuskan malam ini untuk menginap dimana gedung itu berdiri, ya sebuah hotel yang terlihat oleh mataku tadi.

__ADS_1


Dua hari sudah aku tidak pulang, lalu pagi ini aku memutuskan untuk kembali bekerja. Saat aku berjalan di lobi hotel kulihat Tama juga sedang berada di lobi hotel ini. Dia berdiri tegap disana ditemani oleh pak sopir dan asisten pribadinya seolah sedang menungguku berjalan menghampirinya.


Tentu saja dia bisa tahu aku berada dimana saat ini. Sudah pasti dari notifikasi smartphone miliknya saat aku menggunakan kartu hitam pemberian dirinya yang memang kupakai saat ini. Mulai dari transaksi check-in hotel hingga makanan dan pesanan yang lain yang bisa ku beli di hotel ini.


Aku tidak ceroboh, hanya saja memang waktu itu aku terbawa emosi hingga aku tanpa berpikir panjang menggunakan kebiasaan transaksi berbayar ku memakai kartu itu.


Untung saja malam itu aku membawa tas kecil yang isinya handphone dan dompet yang berisikan lengkap dengan identitas milikku. Uang yang banyak dan cukup pun harus selalu sedia, untuk menjaga diri dari kejadian tanpa rencana seperti kemarin hari itu. Kabur istilahnya.


Dia memohon kepada ku dan mengajak ku untuk pulang ke rumah. Namun aku tetap diam sambil bersidekap dada.


"Kita pulang ya, please aku mohon. Dua hari sudah cukup kan? Aku kangen kamu." katanya sambil kedua tangannya disatukan di depan dada. Memangnya dia tidak malu apa melakukan hal seperti itu disini?


Tak ingin berargumentasi dan aku juga sudah malu karena kami sekarang mulai menjadi pusat perhatian para tamu dan staf karyawan yang ada di lantai lobi itu, aku hanya menuruti keinginannya.


Sampai di rumah aku hanya diam, dengan kini kami sedang berada di ruang tengah duduk saling berhadapan. Dia mulai menjelaskan panjang lebar tentang kejadian waktu itu. Dia bercerita bahwa perempuan itu yang menyerangnya, maksudnya menggodanya.


Siang itu dia sedang menungguku membawakan bekal makan siang. Namun saat pintu terbuka tanpa di ketuk seperti biasa, dia terkejut bahwa yang datang bukan diriku tapi malah Nadia.


Nadia, perempuan itu memakai rok span sebatas paha dan kemeja putih yang kancingnya terbuka dua bagian atas. Dia berjalan menghampiri Tama dengan gaya khasnya.


Tau kan gaya cara berjalan seorang bawahan yang ingin menggoda atasannya? Seperti itulah.


"Ngapain kamu disini? Kita kan tidak ada janji. Kalau perlu sesuatu tanyakan langsung kepada Pak Bagas, beliau yang memegang kendali disana sekarang!" kata Tama dengan nada sedikit tinggi sambil berdiri, terkejut karena kedatangan Nadia, dan perempuan itu malah berjalan semakin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Tama waspada karena tidak ada siapapun sekarang di sekitarnya, takut saja jika nanti terjadi salah paham di antara mereka. Namun memang itu yang Nadia inginkan.


Di hadapan Tama dengan senyum smirk Nadia berkata, "anggap saja aku datang untuk mengajak makan siang, tidak perlu buat janji kan?".


Tangan kanannya mulai terangkat ingin membelai dada Tama namun dengan sigap Tama menahan dengan tangan kirinya. Tak hilang akal, dengan cepat Nadia lalu mengecup pipi kanan Tama dengan bibirnya yang berbalut lipstik yang glossy.


"Sudah cukup kan?" pikirnya dalam hati. Dia lalu tersenyum penuh kemenangan.


"Heh!" teriak Tama yang tak rela lalu dengan spontan meraih kerah kemeja Nadia dengan erat hingga tanpa ia sadari kancing kemeja yang ketiga ikut terlepas.


Dengan wajah geram dia memberi peringatan kepada perempuan itu agar dia tak lagi berlaku macam-macam padanya. Tapi perempuan itu malah balik mengancamnya dengan menyangkut pautkan hubungan kerjasama antar perusahaan mereka.


Tama naik pitam, lalu membanting tubuh perempuan itu ke atas sofa dan mencengkeram kerah bajunya lebih kuat. Yang terjadi adalah Nadia malah baik-baik saja karena memang kursi sofa itu sangat empuk. Dia malah menyunggingkan senyumnya kepada Tama, karena posisi yang terlihat di antara mereka adalah yang sedemikian rupa.


Yang sebenarnya memang ia inginkan.


Tama tersadar ketika pintu ruangan kerjanya terbuka saat aku masuk. Sebelumnya aku memang sudah mengirimkan pesan kepadanya kalau aku akan ke kantornya untuk mengantarkan bekal makan siang untuknya. Tapi yang terjadi malah seperti itu.


"Aku terbawa emosi sampai aku tidak sadar jika posisinya terlihat seperti itu oleh mu." jelasnya. Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Tama. Kali ini aku berpikir jernih, memahami situasi kala itu dan memaklumi kejadiannya. Karena Tama memang terjebak oleh perempuan itu.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2