
Cukup melelahkan, tapi puas dengan hasilnya. Karena melihat pundi-pundi rupiah bertumpuk di dalam laci kasir. Belum lagi senyum semangat para pegawai yang terlihat ramah menyapa para pelanggan.
Itu adalah nilai plus dari kafe kami agar para pelanggan betah dan mau datang lagi ke kafe kami.
"Sudah lebih dua minggu dari satu bulan yang Tama janjikan. Apa proyeknya besar ya? Satu bulan lebih pun belum selesai. Biasanya hanya mengawasi di awal saja, selanjutnya kan bisa diserahkan kepada yang lain." aku bergumam bertanya-tanya sambil menggerutu dalam hati.
Sedikit bosan dan mulai jenuh untuk menunggu tapi juga berharap, semoga saja dia cepat kembali. Memberi kejutan seperti malam itu. Harap ku dalam hati.
Ku bolak balik handphone di tanganku berharap ada pesan dari Tama. Namun sudah sampai larut malam begini pun belum ada kabar darinya. Aku memutuskan lebih baik tidur saja.
Pagi ini sarapan ku terasa hambar tak seperti biasanya. Seperti ada yang kurang yang biasa aku melakukan aktivitas sarapan ini sehari-hari. Aku jadi terbayang saat sarapan pagi bersama Tama dulu saat pertama kali masuk dalam dunia ini, meski hanya saling diam dan tidak ada pembicaraan diantara kami saat sedang makan.
Dan saat kedatangan Tania juga, awal hari-hari ku jadi terasa lebih terisi. Lalu bayangan saat aku dan Tama yang sudah lebih dekat dan selalu bersama juga sering muncul di kepala ku sekarang.
Aku yang tak biasanya begini menjadi terganggu karena aku sering kedapatan terlihat bengong saat jam kerja. Aku kadang terbuyarkan dari lamunan oleh Deri.
"Hayooh.. si Bos bengong lagi." Deri mengagetkan ku lagi.
"Bu bos udah tiga kali lho aku kagetin. Tumben banget hari ini banyak bengong. Ngelamunin apa Bu?" tanya Deri dengan cerewet.
"Bu bos lagi kangen sama suaminya itu Der." sahut Tina yang datang membawa keranjang berisikan bunga. Sepertinya baru di petik dari taman belakang. Aku tidak begitu memperhatikan karena memang sepertinya dari tadi aku ngelamun terus.
"Kan udah hampir dua bulan Bu bos ditinggal sendiri." imbuhnya lagi lalu meletakkan keranjang bunga.
Aku lalu tersentak kaget saat Deri menepak meja tepat di depan ku tadi. "Kalian kalau nggak ada aku suka gosip ya kayaknya." kataku mengelak tuduhan Tina.
"Sini bunganya aku bantu kerjain." Aku meraih keranjang dan mengeluarkan isinya lalu menyibukkan diri agar tak mengingat-ingat Tama terus.
Kangen katanya, perkataan Tina membuatku malah semakin kepikiran.
"Aku kangen Tama?" tanyaku sendiri dalam hati.
Apa mungkin ini perasaan rindu seperti yang Tama selalu rasakan? Karena laki-laki itu juga sering menuliskan kata rindu atau kangen di setiap chat dan teleponnya. Kayaknya kata-katanya itu nular ke aku deh.
__ADS_1
Apa Tama juga sengaja tak memberiku kabar akhir-akhir ini karena supaya aku juga merasakan apa yang dia rasakan ya?
Aku terus saja menerka-nerka sambil tangan ini bekerja merangkai bunga.
...* * *...
"Kling." suara nada pesan masuk terdengar dari handphone ku. Aku buru-buru mengeceknya.
Dari Deri, "Bos nggak masuk kerja? Kita pesanan sedikit hari ini. Kalau sudah selesai boleh tutup lebih awal nggak?" tanyanya dari tulisan pesan yang masuk.
Ya hari ini aku malas sekali untuk berangkat kerja. Rasanya badanku terasa berat untuk digerakkan, alhasil aku hanya diam di rumah, lebih tepatnya di kamar sambil rebahan bermalas-malasan.
"Ya atur saja sesukamu. Jangan lupa kunci dengan benar pintunya." balasku dalam pesan. Setelahnya aku lalu meletakkan handphone ku kembali.
Menghela nafas panjang aku menenggelamkan mukaku ke bantal. Bayangan muka Tama yang tersenyum hangat, bayangan ciumannya yang lembut dan ketawa liciknya yang terlihat keren. Semua itu terlintas di benak ku setiap aku memejamkan mata.
Sepertinya aku benar-benar rindu, aku mengakui perasaan ku dalam hati.
Kayaknya benar, kalau rindu itu bikin gila. Sampai menutup mata pun bayangan Tama selalu ada.
Buru-buru aku kembali mengeceknya lagi. Kali ini benar-benar dari Tama. Bibirku dengan sendirinya menyunggingkan senyum bahagia yang tiada arti. Seolah sesuatu yang ku nanti selama ini akhirnya aku dapatkan juga.
"Shina aku rindu." kalimat sederhana yang membuat hatiku berdebar setiap kata itu tersemat dalam pesan. Dan pesan itu adalah tulisan pertama yang ia kirim. Biasanya dia akan bertanya basa-basi terlebih dahulu seperti aku sedang apa atau sudah makan apa belum.
Ku balas pesannya dengan kata yang sama, "Aku juga rindu. Kapan pulang?" tanyaku ingin tau.
Menunggu lama, "Aku usahakan besok pulang." balasnya.
Tersenyum dengan lebar, "Aku menunggu." balasku. Lalu ku sisipkan emoji love untuk mengakhiri pesanku.
Rasanya seluruh tubuhku merinding setelah mengirimkan pesan itu, terlihat sekali seolah aku sedang mengakui perasaan sendiri saat ini.
Aku pun juga senyum-senyum sendiri. Entahlah, ada rasa konyol juga dalam diri ini. Dan rasanya pun juga tak sabar untuk cepat-cepat hari esok.
__ADS_1
Sore ini aku ke kafe. Suasana hati yang baik berdampak baik pula untuk sekitar ya.
Ya, setelah menerima pesan dari Tama tadi semangat ku seolah kembali lagi. Badan ini rasanya semangat kembali untuk bekerja. Mungkin karena sudah mendapatkan recharge meski itu hanya dari sebuah pesan.
Banyak orang yang ku sapa hari ini, entah pelanggan atau karyawan. Aku seperti ingin membagi perasaan bahagia ini ke semua orang. Aku juga membantu karyawan ku melayani pelanggan dan membersihkan kafe saat akan tutup.
Anak-anak kafe sampai merasa terheran dengan tingkah ku yang terlihat murah senyum malam ini. Tapi aku tidak memedulikannya.
Hari ini aku sengaja mengambil libur untuk tidak bekerja di florist dan kafe. Aku ingin mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tama.
Hingga waktu sudah siang hari Tama pun belum juga datang. Aku lihat handphone ku, tak ada pesan dari dia. Aku mengirimkan pesan pun tak di balasnya. Aku menghubunginya lebih dulu pun tak di jawab olehnya. Hingga hari menuju sore pun belum ada tanda-tanda kedatangannya.
Sering kulihat halaman tempat mobil terparkir namun juga tak kunjung terlihat ada mobil baru masuk halaman. Sesekali aku juga melongok halaman itu dari atas balkon kamar, tetap masih tak ada tanda kedatangan Tama juga.
Aku yang tadinya tak sabar menunggu kedatangannya kini merasa kesal dibuat jengkel karena harus menunggu. Dan menjelang malam pun dia juga belum datang ke rumah.
"Nona Shina. Nona bangun." Suara Merlin terdengar samar-samar ditelinga ku membuat ku mengerjap karena tubuhku juga sedikit berguncang.
"Kata pelayan yang lain Nona belum makan dari tadi pagi dan juga siang hari. Ini sudah lewat dari jam makan malam, Nona makan dulu ya. Saya sudah menyiapkannya di meja." kata Merlin setelah membangunkan ku yang tengah tertidur di sofa ruang depan.
Aku memicingkan mata kemudian terbangun, terduduk sambil mengumpulkan nyawa. Kulihat jam dinding berukuran besar di ruangan itu, jarumnya menunjukkan pukul 9 malam lebih 20 menit. Aku masih mengantuk dan ya memang benar perutku terasa lapar. Tapi aku tak ada nafsu lagi untuk makan setelah bertanya kepada Merlin apakah Tama sudah datang, dia menjawabnya dengan gelengan sambil berkata belum.
Aku memberi perintah ke Merlin agar disimpan saja dulu makanannya. Dengan raut muka kecewa aku lalu pindah ke kamar untuk melanjutkan tidur lagi.
"Katanya mau pulang hari ini. Ditunggu sampai malam pun belum juga datang." gerutu ku sambil menaiki anak tangga kemudian ku tutup pintu kamar dengan kasar.
"Dasar laki-laki, nggak di dunia nyata nggak di novel. Sama-sama gede omong doang." Aku sebagai Rona jadi ngomel-ngomel sendiri juga jadinya kalau wanita manapun dijanjikan seperti ini.
Sudah pula berencana libur dari kerja karena ingin menyambut menyambut kedatangan suami, tapi malah hanya janji saja yang membuat istri merasa dihempaskan angin setelah hatinya berbunga-bunga.
Aku lantas menjatuhkan badanku ke kasur lalu seketika pun kembali tertidur tanpa mau memedulikan lagi pesan Tama yang katanya akan pulang hari ini.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘