
"Ck. Pacaran adalah kata keramat dalam kehidupan gue." Kata Rona setelah mengingat kejadian dulu. Saga yang juga tahu pun ikut tertawa mengingatnya.
"Iya ya." Kata Saga dengan kekehannya.
Saat Rona masih jadi mahasiswa baru dulu, ia pernah didekati oleh kakak tingkatnya yang bernama Reza. Karena wajah kakak tingkatnya itu tampan rupawan Rona tidak menolak atau berpikir lagi saat laki-laki tampan itu mengatakan untuk menjadikan Rona sebagai pacarnya.
Layaknya muda-mudi umumnya yang sedang dalam hubungan berpacaran, Reza selalu mengantar pulang Rona setelah selesai jam kuliahnya dan tibalah saat malam Minggu dimana pasangan muda selalu menghabiskan malam untuk kencan bersama. Reza pun apel ke rumah Rona.
Pemuda itu disambut baik oleh orang tua Rona. Sambil menunggu Rona yang sedang bersiap untuk diajak keluar malam setelah mendapatkan izin dari Baba dan Mamahnya, Reza berbincang-bincang dengan Baba Lim.
"Setelah selesai kuliah tujuan kamu apa?" Tanya Baba Lim setelah perbincangan dan pertanyaan lain yang ia lontarkan sebelumnya kepada pemuda di hadapannya.
"Kalau saya rencananya akan melamar di salah satu perusahaan besar yang menjadi incaran saya selama ini Om." Jawab Reza dengan menampilkan deretan giginya. Takut saja jika sedari tadi jawaban yang ia ucapkan salah selama Baba Lim mengajukan pertanyaannya. Meski pria tua dihadapannya itu tersenyum sambil mengangguk-angguk menanggapi ucapannya.
"Kalau nggak diterima gimana? Kenapa nggak coba buka usaha aja? Bisa merintis dari sekarang. Jualan kecil-kecilan misalnya." Kata Baba Lim tanpa menjeda kalimat tanyanya yang membuat Reza mengambil nafas dalam namun susah untuk dikeluarkan lagi.
"Buseettt ni kolot. Obrolannya udah kemana aja. Gimana nanti kalau ditanya kapan mau nikahin anaknya?" Gerutu Reza dalam hati sambil sambil mengembuskan nafasnya perlahan.
"Belum ada modal Om kalau sekarang. Saya niatnya kerja juga untuk mencari modal usaha dan bekal di hari tua. Kalau minta ke orang tua buat modalnya kan malu Om." Jawab Reza dengan senyum yang lagi-lagi menampilkan deretan giginya.
"Murah senyum ya kamu." Puji Baba Lim pada Reza namun terdengar seperti ejekan untuk Reza.
"Diminum dong minumannya. Rona suka lama kalau dandan. Apalagi kalau buat kencan gini, udah ngalahin emak-emak yang mau ke kondangan." Kata Baba Lim mempersilahkan tamunya untuk minum sambil membeberkan kebiasaan Rona yang suka lama beranda di depan cermin.
__ADS_1
"Mah, panggilin Rona suruh cepet." Seru Baba Lim pada istrinya yang berada di ruang keluarga sedang menonton acara televisi kesukaannya.
"Siaap." Sahut Dhira yang kemudian terdengar suara panggilan yang menggema saat ia memanggil nama putrinya.
"Maaf ya, lama." Kata Rona yang sudah siap dengan dress putih lengan pendek dan panjang dibawah lutut bermotifkan kupu-kupu. Wajahnya dipoles dengan make-up tipis yang terlihat flawless dan natural. Terlihat cantik memang dan juga membuat Reza sempat terpukau.
"Nggak pa-pa." Kata Reza yang sudah berdiri dan siap untuk jalan keluar.
"Nggak pake jaket kamu? Dingin kalau malam tuh." Tegur Baba Lim pada putrinya yang terlihat sudah mengenakan dress tapi nanggung dan lengannya pendek lagi.
"Saya bawa jaket kok Om. Lagi pula kita jalannya juga pake mobil." Kata Reza dengan sopan lalu membuka jaketnya untuk diberikan kepada Rona, sedang ia sekarang hanya mengenakan kemeja hitam panjang.
Baba Lim pun ikut mengantar dua sejoli itu sampai halaman depan rumahnya.
Tanpa Rona tahu jika obrolan Babanya dengan kekasihnya tadi adalah menjadi sebuah pengalaman horor untuk Reza. Dan saat kencan pertama inilah jadi kencan terakhirnya bersama Reza. Baru tiga hari jadian dan satu kali kencan, udah kayak gini.
Rona geleng-geleng kepala saat sampai rumah dan yang membukakan pintu untuknya adalah Babanya. Untung Reza adalah orang baik hati dan mau bertanggung jawab. Setelah berkata ingin mengakhiri hubungan mereka, Reza tetap mau mengantarkan gadis itu pulang dengan selamat sampai rumah.
Rona bukannya marah atau sakit hati dengan perkataan Reza yang ingin mereka putus dengan cepat tapi memang menyadari kalau kelakuan Babanya sudah kelewatan kepada anak yang masih dalam masa sekolah perguruan tinggi, apalagi status pacaran mereka bisa disebut baru awal sangat.
"Kenapa? Kok Reza nya langsung pulang, nggak pamit dulu?" Tanya Baba Lim yang aneh dengan tatapan putrinya padanya.
"Kita udah putus." Jawab Rona dengan jutek lalu melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
"Lho kenapa? Baru jalan sekali juga." Teriak Baba Lim saat Rona hanya terlihat punggungnya. Yang diam-diam di belakang Rona ternyata Baba Lim mengulum senyumnya.
Setelah kejadian itu setiap Rona membawa pulang teman lelaki, laki-laki itu pasti ditanya apakah pacar Rona atau bukan oleh Baba Lim. Dan anehnya setiap Rona izin ke Babanya akan membawa pulang teman laki-laki untuk melakukan kerja tugas bersama, pak tua itu tiba-tiba diam di rumah.
Membiarkan mamahnya sendirian menjaga toko di siang hari yang biasanya ramai sampai teman laki-laki Rona selesai mengerjakan tugasnya dan pulang. Rona sampai terheran, sebenarnya Babanya ini termasuk protektif atau berlebihan.
Hingga sekarang pun akhirnya ia tidak pernah mengajak teman laki-laki untuk belajar bersama di rumahnya hanya seorang diri. Rona selalu menyuruh teman lelakinya untuk membawa lagi teman lelaki yang lain atau teman perempuan yang lain.
Padahal menurutnya, orang-orang pintar dari kelas Rona adalah kebanyakannya dari kaum laki-laki makanya ia setiap belajar bersama selalu mengajak teman laki-laki sekelasnya.
Semua pengalaman itu tak lupa ia ceritakan kepada Saga maka dari itu Saga tau setiap ada laki-laki yang akan mendekati Rona pasti mundur lagi karena kelakuan Babanya.
Belum jadian udah ditanya pacarnya atau bukan, pas lagi pacaran disuruh komitmen langsung, udah kayak pacaran orang-orang yang sudah pada kerja tahunan.
"Gimana kalo gue aja yang jadi pacar lo?" Tanya Saga ditengah kekehannya mengingat setiap curhatan Rona dulu. Rona mengeluh dirinya tak akan punya pacar seumur hidupnya kalau Babanya ikut merecoki kehidupan percintaannya.
"Terserah. Kalo lo bisa ngadepin Baba. Dan bisa minta izin buat kencannya." Ucap Rona enteng. Rona tau pasti kalau mengajaknya untuk jalan keluar malam sangat susah karena ke-protektif-an Babanya.
"Iya juga ya. Yang ada gue kena mental." Kata Saga kemudian dengan tertawa lebih lepas lagi. Rona mengangguk-angguk membenarkan perkataan Saga.
"Udah ah, buat nanti sebagian." Kata Rona melihat puding karamel di dalam kotak itu tinggal setengahnya.
⭐⭐
__ADS_1
like komen dan vote ya 😘