ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 23 : PERTENGKARAN


__ADS_3

Hari sudah berganti malam pun Tama belum juga datang. Tak juga ada kabar darinya begitupun dari orang-orang kepercayaannya yang aku tahu, sepertinya mereka pun juga tidak tahu. Papanya Tama masih berada diruang ICU. Aku tahu perasaan ketir Mamanya Tama yang menghawatirkan anak dan juga suaminya. Aku coba kembali menghubungi sekertaris dan ajudannya tapi mereka tetap mengatakan tidak tahu Tama ada dimana.


Aku menyarankan Mama untuk mengajak Mamanya Tama pulang agar istirahat. Biar aku dan asisten rumah tangga keluarga Wijaya bergantian menjaga Papa mertua. Aku kasihan melihatnya, Mama pun mampu mengajak Mama Tama untuk pulang dan istirahat.


Hari berganti, sekarang giliran Mama Tama yang ingin menjaga suaminya setelah sudah merasa istirahatnya cukup.


Saat aku telah melangkah keluar dan posisi sedang berada di depan ruangan rawat Papa mertuaku, kulihat dari kejauhan sosok yang sangat kukenal yang sedang dinantikan kedatangannya berjalan ke arahku.


Tampang yang lusuh dan kelelahan terlihat jelas di garis wajahnya. Dia hanya melirik melewati ku lalu dengan segera melihat kearah pintu ruangan dimana Papanya terbaring lemah dengan peralatan medis menempel di tubuhnya.


Hanya berdiri mematung di depan pintu itu. Matanya berair. Baru kali ini aku melihat sisi lemahnya yang nampak begitu rapuh dengan tampang yang begitu buruk, tak karuan.


Dia berkata padaku tanpa memutar badannya untuk melihat ke arah ku. "Tunggu aku. Percaya padaku aku akan selesaikan semua dan akan kembali pada kalian." Dia lalu pergi lagi tanpa menoleh.


Apa-apaan sikapnya itu? Sadarkah dia selama ini kami mengkhawatirkan dia, menunggu kedatangannya? Setelah memperlihatkan batang hidungnya lalu pergi lagi seenaknya tanpa meninggalkan sebuah penjelasan, jawaban untuk kekacauan yang menyangkut dirinya.


Hatiku yang tadi sempat berdebar melihat kedatangannya karena bagaimanapun dan kapan pun itu aku akan mempersiapkan diri untuk menerima penjelasannya. Namun nyatanya.. hatiku semakin kesal saja, amarah seperti sudah menyentuh ubun-ubun ku.


Aku pulang dengan perasaan tak karuan dan pikiran yang runyam. Apa yang telah terjadi malam itu. Kemana Tama hingga baru muncul sekarang, setelah muncul pun ia lalu pergi lagi. Dan juga masih begitu banyak pesan dari media dan orang-orang perusahaan yang menanyakan tentang kebenaran kejadian malam itu. Aku pun juga tidak tahu jawabannya.

__ADS_1


Sudah beberapa hari kami bergantian menjaga Papa mertua. Hingga Mama Tama menyarankan agar aku istirahat saja karena kasian pulang dari toko harus ke rumah sakit dan terkadang juga saat sedang di toko waktu ku sering di selang untuk direpotkan oleh mereka. Aku sih tidak apa-apa dan merasa ini memang sudah kewajiban karena tugasku sebagai anak. Tapi memang adakalanya aku lelah, bukan karena capek bolak-balik rumah sakit. Tapi lelah ku karena pikiran juga.


Aku pun masih sering mendapat kiriman berbagai foto tentang Tama dan Nadia malam itu. Sepertinya memang ada yang menggiring masalah ini agar terus berjalan lama. Pikiran ku yang stres membuat ku kacau hingga tak fokus. Dalam perjalanan pulang aku menabrak seseorang. Orang yang pernah kukenal saat kuliah, Ardan. Mantan kekasih ku.


Lalu kami berbincang sebentar dan dia mengajakku untuk mengobrol ke sebuah kafe. Aku mengiyakan, jika di ingat-ingat setelah kejadian itu aku jarang menyambangi tempat seperti ini untuk bersantai dan memenangkan pikiran.


Aku yang merasa kepalaku pusing dengan semua masalah yang ada mencoba memesan makanan dan softdrink hingga tak terasa kami menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar membicarakan masa lalu dan kejadian-kejadian kehidupan yang menurut ku memang tidak terlalu penting.


Dari pertemuan itu kita kadang sesekali bertemu secara kebetulan di tempat yang sama. Lalu berakhir dengan makan dan minum seperti hangout saat kuliah dulu. Karena memang tempat kerja Ardan pulangnya melalui jalan itu dan biasa ia tempuh dengan berjalan kaki, maka sesekali kami sering bertemu.


Malam ini aku sedikit mabuk karena terlalu banyak minum. Ardan sudah menghentikan ku untuk tidak minum lagi namun aku tetap memaksa hingga akhirnya dengan terpaksa dia menyeret ku untuk pulang sebelum aku benar-benar mabuk dan di antarkan olehnya sampai depan rumah.


Aku merasa diabaikan sebagai seorang istri hingga berfikir hubungan kami tak lagi sempurna. Apalagi foto dia dan perempuan itu terus bertebaran di media yang membuat kepala ku sakit setiap melihatnya. Aku merasa jengkel dan kesal dengan sikapnya yang tanpa memberi penjelasan dan tak pulang pulang-pulang.


"Kamu darimana? Kamu mabuk?" sergapnya mencekal lengan bawah tangan ku. Aku mengibaskan cekalan tangannya. Rasanya jijik dipegang olehnya jika teringat fotonya bersama perempuan itu.


"Kamu kemana saja? Setelah kejadian yang begitu menghebohkan tak satupun ada pesan dan kabar darimu!" kataku yang sedang kesal dengan nada tak bersahabat.


"Aku udah bilang. Aku akan kembali setelah semua selesai. Aku sedang berusaha memperbaiki semua." jelasnya dengan nada lebih tinggi dari ku.

__ADS_1


"Kamu pikir cuma kamu yang berusaha disini. Tau nggak kamu berapa sering media menghubungi aku dan berapa sering aku dapat pertanyaan tentang kejadian itu?!" teriakku yang tak bisa lagi menahan amarah.


"Aku harus jawab gimana kalau kamu sendiri nggak pernah kasih penjelasan ke aku! Menghubungi aku pun nggak pernah. Tau nggak kamu, aku sampai stres diomongin terus sama rekan bisnis aku?!" Aku terus berteriak tanpa memberi dia kesempatan bicara.


"Jangan pernah sentuh aku sampai kamu ceritakan kejadian malam itu. Aku jijik setiap ingat itu!" Teriakku lagi lalu kembali ke kamar dan pergi meninggalkan rumah setelahnya.


Paginya aku kembali bekerja seperti biasa. Sepulang dari florist aku menjenguk papa mertua hingga menjelang malam. Aku malas pulang ke rumah apalagi untuk tidur disana. Kemarin malam aku kembali mencari hotel untuk menginap malam itu, termasuk malam ini.


Pagi-pagi sekali sebelum waktunya aku berangkat kerja aku sudah ditelepon oleh staf karyawan hotel, menginformasikan bahwa suami ku Aditya Pratama Wijaya sudah menungguku di lantai bawah.


Dengan menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar aku bersiap keluar menemuinya. Setelah bertemu aku tegaskan padanya aku tidak ingin pulang ke rumah. Mungkin karena tak ngin berdebat dengan ku dan terjadi lagi pertengkaran dia menuruti kemauan ku. Apalagi ini di sebuah hotel dan lagi wajahnya sekarang pasti sudah banyak sedikitnya orang-orang mengenalnya karena kejadian malam itu.


Aku di antarnya sampai ke florist. Sepanjang perjalanan di dalam mobil kami hanya saling diam, tak ada yang ingin memulai percakapan atau membuka suara sedikitpun untuk menghilangkan keheningan.


Seperti itu lah keseharian kami sekarang. Aku selalu menginap di hotel dan Tama selalu menjemput ku paginya untuk mengantarkan ku ke florist.


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘

__ADS_1


__ADS_2