ISEKAI : NEWLYWED

ISEKAI : NEWLYWED
BAB 24 : KEHILANGAN


__ADS_3

Seperti itu lah keseharian kami sekarang. Aku selalu menginap di hotel dan Tama selalu menjemput ku paginya untuk mengantarkan ku ke florist.


Lalu pada suatu malam, saat aku merasa berada di puncak lelahku. Karena hubungan suami istri kami yang menurut ku tak jelas dan Tama yang terus memilih diam tanpa menjelaskan kejadian pada waktu itu. Aku pergi kesebuah mini bar.


Tanpa di sengaja disana aku bertemu lagi dengan mantan kekasih ku, Ardan. Entah kebetulan atau memang jodoh. Lagi-lagi di saat aku berada di titik jenuhku dan rapuhku ia selalu ada. Kami minum bersama seperti biasa sambil bercerita tentang keseharian dan pengalaman hidup yang kita lewati. Seperti tidak ada bosannya menceritakan hal yang sama hingga tak terasa waktu pun berlalu.


Aku yang sepertinya mabuk berat tak sanggup untuk berjalan. Dalam keadaan sadar tak sadar aku melihat layar handphone ku bergetar dan menyala tanda panggilan masuk. Ku usap dengan jemariku lalu panggilan itu berlangsung namun aku hanya mendengar suara orang berbicara tak jelas dari sana. Aku pun tak menghiraukannya.


Saat aku akan beranjak meninggalkan tempat itu badan ku yang tak seimbang limbung, dengan sigap Ardan lalu menangkap ku.


"Hati-hati." katanya. Aku memegang tangannya untuk ku jadikan topangan sambil tersenyum kepadanya, mengisyaratkan kalau aku baik-baik saja.


Namun tak dapat ditutupi, kini aku meringis merasakan pusing di kepala ku. Tak lama setelah Ardan memapah ku keluar dari bar, pandangan mataku melihat sosok Tama datang mendekat ke arah kami. Dia menghampiriku berniat untuk memegang ku menggantikan Ardan tapi aku menepis tangannya.


Ardan yang melihat sikap ku sepertinya paham jika hubungan kami sedang tidak baik-baik saja saat ini, apalagi aku juga bercerita sedikitnya kepadanya. Tama terus bersikeras ingin membawaku hingga akhirnya terjadi perdebatan antara Tama dengan Ardan. Selanjutnya kejadiannya sedikit berubah, Tama menjadi mendorong tubuh Ardan agar menjauh dariku. Lalu Ardan yang tidak terima malah melawannya.


"Ini istri saya. Siapa kamu berani menahannya untuk saya bawa?!" suara Tama terdengar menekan dengan nada bergetar penuh amarah.


"Saya temannya. Istri anda sedang dalam kondisi tidak baik, begitu pula dengan hatinya. Lebih baik biar saya saja yang mengantarkannya." jelas Ardan. Tama terkekeh dengan senyum remeh.


Apa-apaan kata-kata bocah ini, seolah seperti ingin mengklaim bahwa dirinya yang kini mampu menenangkan Shina. Pikir Tama.


Karena kedua pria itu saling mempertahankan egonya akhirnya perkelahian pun terjadi. Aku yang sedang pusing tak ingin melihat kejadian yang menambah pikiran ku tambah kacau. Aku membiarkan mereka lalu pergi meninggalkan mereka.


Karena dalam keadaan mabuk yang lumayan berat aku berjalan sempoyongan ke sana kemari dan seenaknya sendiri sambil meracaukan hal-hal yang membuat ku kesal dan sakit hati. Hingga tanpa sadar aku sudah di tengah-tengah jalan. Samar terdengar suara orang-orang meneriaki ku untuk menepi dan hati-hati. Dalam keadaan kacau dan tak sadar akhirnya sebuah kendaraan yang sedang melaju menabrak ku. Aku terpental hingga tak sadarkan diri.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan Tama dan juga Ardan meneriakkan namaku. Orang-orang yang melihat pun berkerubun ke arahku, lalu selanjutnya pandangan ku menjadi gelap.


Setelah kejadian itu aku koma. Aku dirawat beberapa minggu dirumah sakit hingga aku akhirnya tersadar kembali. Lalu dari sini ingatanku tentang pernikahan dan kejadian sebelum kecelakaan pudar.

__ADS_1


Orang tuaku yang khawatir melakukan segala cara untuk memulihkan ingatanku. Namun nyatanya tak semudah itu, aku belum bisa menerima Tama sepenuhnya sebagai suami ku hingga aku lebih memilih berpisah dan tetap menginap di hotel.


Kata orang tuaku dari kecelakaan tersebut ada suatu kejadian yang menyebabkan aku trauma dan tak ingin aku mengingatnya yaitu saat kehebohan tentang foto Tama dan Nadia yang menyebar di forum perusahaan. Foto vulgar tak berbusana mereka yang hanya berbalutkan selimut membuatku merasa jijik terhadap Tama. Hingga membuatku tak bisa menerima jika aku sudah menikah.


Jelas Tama padaku panjang lebar malam itu.


Mungkin saat itu yang berada di dalam tubuh Shina bukan lagi jiwa Shina namun jiwa orang lain. Tapi saat aku masuk ke dalam tubuh Shina, aku sudah berada di dalam rumah kami bukan di ranjang rumah sakit seperti saat-saat orang tersadar untuk pertama kalinya setelah koma.


Seperti cerita cerita dalam novel yang pernah aku baca. Atau mungkinkah ada jiwa lain atau mungkin banyak jiwa yang berebut ingin memasuki tubuh Shina sebelum jiwaku masuk ke dalamnya? Entahlah. Padahal Shina hanyalah sebuah sosok karakter dalam sebuah novel.


Tama juga menceritakan saat terapuhnya dirinya. Saat sang istri sedang koma karena kecelakaan dan setelah itu meninggalnya Papanya karena keterlambatannya menyelesaikan masalahnya yang berakibat buruk juga pada perusahaan.


Suara langkah seribu kaki terdengar tergesa-gesa menuju ruangan Papanya. Keadaan semakin tak meyakinkan hingga semua berkumpul.


"Papaa!!" Teriak Mamanya Tama sambil menangis. Mamaku memeluknya sambil menangis pula.


Lalu suara langkah sepatu memecah tangisan mereka. Anak yang ditunggu tunggu kedatangannya baru muncul di hadapan mereka saat itu. Tama lalu berlutut dan bersimpuh di hadapan tubuh papanya yang sudah tak bernyawa. Dia menangis kencang dengan segala penyesalannya.


Mamaku dan Mamanya mendekapnya, anak laki-laki yang selalu di tunggu kehadirannya oleh orang tuanya menangis histeris dengan segala kerapuhannya.


Pemakaman pun segera dilakukan. Tama yang terlihat sangat terluka karena menyesal dan kehilangan terus bersujud menangisi makam papanya. Mamanya juga berada di sampingnya sambil mengusapnya dan membujuk nya untuk pulang karena sebentar lagi malam akan berganti.


Meski masih dalam keadaan berduka yang menyisihkan rasa sedih yang mendalam, dia tak bisa terus larut dalam sedih karena perusahaan membutuhkannya. Sedang istrinya juga masih terbaring di rumah sakit.


Dia berusaha sekerasnya agar masalah yang menyeret nama baiknya dan perusahaannya cepat terselesaikan. Dia ingin mempertahankan perusahaan yang dibangun Papanya itu dengan sungguh-sungguh. Dia juga tak ingin kehilangan istrinya setelah kehilangan papanya karena kejadian itu juga.


Setelah melakukan penyelidikan, mengumpulkan bukti dan memberikan bukti-bukti tentang kejadian malam itu kepada pengacara kepercayaannya yang ia utus untuk menyelesaikan kasus yang menyangkut namanya. Tama akhirnya bisa mendapatkan kembali kepercayaan para investor dan para dewan direktur perusahaan.


Ternyata kejadian malam itu didalangi oleh Nadia dan papanya. Dia ingin menjadi istri Tama dengan cara seolah antara Tama dan dirinya memiliki hubungan spesial di belakang istrinya untuk menggiring publik agar mempercayai hubungan mereka. Juga cara itu Nadia lakukan agar perusahaan orang tuanya juga maju pesat dan memiliki peran besar serta keuntungan dari perusahaan Papanya Tama yang berada di Surabaya.

__ADS_1


Nadia menyusun rencana itu juga untuk mencoreng nama baik Tama sebagai direktur utama agar saham perusahaan sebagian besar jatuh ke tangan ayahnya. Dan tak ada lagi yang mempercayai Tama untuk memegang saham perusahaan di cabang kota Surabaya.


Maka dari itu mau tak mau Tama akan bergantung pada dirinya dan membutuhkan bantuan papanya, itulah yang ada di pikiran Nadia kala itu.


Setelah kejahatannya terungkap Nadia dan papanya dilaporkan ke polisi dengan segala bukti yang sudah ia kumpulkan selama ini.


Papanya ditangkap karena rencana sabotase perusahaan sedangkan Nadia dirawat terlebih dahulu dirumah rehabilitasi karena penyakit obsesinya yang ingin menikah dengan Tama.


Tama juga bercerita jika sekarang Nadia sudah dalam masa pemulihan. Nadia saat ini hanya merasa rapuh. Dia terus menemui Tama untuk meminta belas kasihan Tama agar papanya diringankan hukumannya dan Tama juga tak melanjutkan tuntutannya kepadanya lagi.


Tapi Tama tak menghiraukan meski berapa kali pun Nadia memohon. Karena rasa kasihannya sudah tidak ada lagi untuk keluarga Nadia, mengingat papanya telah meninggal karena kejadian itu dan istrinya juga terbaring lemah di rumah sakit karena kejadian itu.


Aku mendengarkan dengan seksama setiap ceritanya. Sudah tercerna semua apa yang ada di kepala Shina saat ini. Aku Rona yang menempatinya sekarang tahu pasti bagaimana perasaan Tama yang kehilangan Papanya dan juga kesedihannya untuk istrinya kala itu.


Dia yang harus bertahan sendirian untuk menyelamatkan perusahaan. Dan juga menerima keadaan istrinya yang tak ingin bersama dia setelahnya.


Perasaan takut kehilangan, karena kecerobohannya tak ingin hal itu terjadi pada istrinya, cukup hanya kehilangan ayahnya. Makanya dia selalu mengalah membiarkan Shina melakukan apa yang Shina inginkan asal Shina tak meninggalkannya.


"Makanya aku selalu memohon agar kamu jangan tinggalkan aku. Aku takut Shina." Katanya menggenggam tanganku. Aku hanya terdiam dan perlahan melepas pelan tangannya.


"Aku ingin tidur lagi. Kepalaku masih pusing." kataku lalu memposisikan diri dalam posisi bersiap untuk tidur kembali. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana setelah mendengar semua cerita ini.


Lagi-lagi Tama memaklumi sikapku bahkan ia juga ikut berbaring di sampingku. Aku memunggunginya dengan pikiranku yang masih tak karuan, mungkin karena pengaruh minuman tadi yang masih juga memberikan bekas efeknya.


"Shina, boleh aku peluk?" kata izin Tama membuyarkan lamunanku.


Aku terdiam lama. "Boleh." jawabku setelahnya.


Perlahan dia memelukku dengan lembut. Nafasnya yang menyapu rambut belakangku terasa hangat. Dekapannya membuatku terhanyut menuju alam mimpi.

__ADS_1


⭐⭐


like komen dan vote ya 😘


__ADS_2