
"Cuma mandi ya." ancam ku.
Dia mengangguk sambil tertawa, "iya."
Hari ini Tama mengantarku berangkat kerja ke florist lalu pulang setelahnya. Meski sudah terhitung sangat terlambat karena memang sudah siang aku tetap ingin bekerja karena kemarin hari Minggu aku sudah libur tidak masuk kerja.
"Booss, kita dapat pesanan karangan bunga banyak banget dari kemarin. Gimana nih kita ambil semua jangan?" Teriakan Deri menyambut ku saat baru saja tiba di florist.
Aku mendekat ke arahnya yang terduduk di depan komputer, ku lihat daftar pesanan hari kemarin.
"Untuk hari ini kita tolak aja dulu untuk pesanan buket kecil dan jarak pengiriman jauh. Kita sama-sama kerjakan dulu sisa pesanan kemarin. Batasi juga penerimaan kerangka bunga untuk hari ini, biarin cuma masuk sedikit list-nya." jawabku ketika telah selesai melihat daftar pesanan kemarin.
"Stok bunganya masih ada?" tanyaku yang sudah mulai fokus dalam bekerja membantu merangkai bunga.
"Masih bos, customer nggak request untuk bunga yang khusus kok. Mereka hanya pesan untuk di buatkan saja." jawab Deri yang kini juga sudah fokus pada karangan bunga.
Pesanan karangan bunga yang di pesan dari hari kemarin ternyata di kirimkan ke alamat yang sama. Ternyata anak perempuan dari teman bisnis Papa ada yang menikah jadi sudah pasti semua pesanan ini atas rekomendasi Papa. Aku yang memang mendapat undangan pestanya jadi tahu karena pesta itu akan di adakan dua hari lagi. Jadi sebisa mungkin aku bantu anak-anak untuk menyelesaikan pesanan ini hingga akhirnya hari ini aku lembur di florist dan tidak datang ke kafe. Aku meminta bantuan Mama yang sering berkunjung ke kafe untuk mengawasi kegiatan di sana.
Karena terlalu sibuk merangkai bunga untuk mengejar deadline aku sampai lupa untuk memberitahu Tama kalau aku pulang malam hari ini. Handphone ku bergetar terlihat Tama menelfon ku untuk menanyakan jam berapa aku pulang hari ini. Aku menjawabnya akan pulang malam dan memintanya bantuan kalau bisa untuk membantuku handel kafe bersama Mama malam ini. Dia mengiyakan untuk membantu di kafe.
Selang berapa lama aku dapat kiriman pesan video dari Dara. Terlihat Tama sedang membantu membawakan pesanan pelanggan yang berjumlah empat orang perempuan dengan memakai baju waiters dan tangan yang membawa nampan. Badannya yang proporsional terlihat cocok dengan seragam waiters kafe kami yang melekat di tubuhnya. Apa lagi lengan kekarnya tercetak jelas di balik lengan baju yang berukuran pendek itu.
Dan bisa di lihat bagaimana reaksi para perempuan itu saat di layani oleh Tama. Tak hentinya mereka mengumbar senyum yang terlihat giginya juga bahkan ada yang jelas-jelas menatap lurus ke arah Tama.
Dasar laki-laki tampan, melayani pelanggan malah bikin mata wanita semua tertuju padanya.
Aku tersenyum sendiri melihatnya yang terlihat profesional melayani para pelanggan. Tak mempedulikan reaksi dan tanggapan pelanggan yang terus menatapnya itu.
"Cemburu nggak bos?" pesan teks masuk lagi dari Dara.
Aku membalas dengan foto tumpukan karangan bunga yang ku kerjakan. "Jangan buat karyaku rusak anak muda." aku menambahkan dengan sisipan emoji cemberut.
__ADS_1
Dara membalas dengan emoji tertawa terbahak-bahak.
Setelah jam kafe tutup Tama lalu datang menjemput ku ke florist.
"Gaes udah dulu yuk hari ini. Tinggal tiga pesanan lagi ya. Kita lanjutkan besok mudah-mudahan cepat selesai." kataku dengan membantu anak-anak untuk beres-beres. Sedang Tama masih menunggu ku di dalam mobil.
"Makasih ya udah bantuin aku hari ini. Padahal besok kamu ada perjalanan keluar kota." kataku sambil memasang seat belt setelah masuk ke dalam mobil.
"Iya sama-sama. Aku minta imbalannya nanti untuk kerja ekstra ku." ucapnya dengan kerlingan mata menggodanya. Aku jadi bersemu merah sendiri mendengarnya, jadi panas saja muka ini.
"Tama plis deh jangan sekarang." kataku menolak dengan membuang pandangan darinya. Karena memang rasanya badanku kurang fit sekarang ini, jika harus si gempur lagi malam ini sepertinya akan tumbang seketika.
Dia tertawa melihat ekspresi ku. "Iya aku tau kok kamu pasti capek banget. Aku cuma becanda doang kok." katanya lalu melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan malam.
Saat di kamar kulihat satu koper sudah siap di samping lemari baju kami. "Kamu bakal lama disana?" kataku sambil menatap koper itu.
"Iya, paling cepat tujuh atau sepuluh hari. Karena ini proyek dari awal jadi aku harus mengawasi dulu dari tahap mulainya." jawab Tama.
"Hati-hati ya di tempat kerja. Apalagi ditempat nginepnya." aku mengingatkan Tama dengan nada sedikit di tekan di akhir kalimat.
Dan entah kenapa setelah ia menceritakan kejadian penjebakan Nadia yang sampai tersebar foto vulgar mereka yang sedang tidur bersama dan akibat yang ditimbulkannya sampai ayahnya meninggal dan Shina juga harus mengalami koma, aku jadi semakin sering mengingatkannya untuk waspada setiap melakukan perjalanan bisnis ke luar kota yang harus membuatnya menginap di hotel. Agar tak terulang lagi kejadian yang sama di kehidupan Shina yang kujalani sekarang.
Selesai mandi kami istirahat sejenak dengan Tama menceritakan rencana proyek yang akan ia jalani. Setelah merasa mengantuk kemudian kami bersiap untuk tidur.
"Nanti kalau proyek ini udah selesai kita jalan ke Jepang yuk?" katanya sebelum kami benar-benar mulai untuk tidur.
"Boleh. Semoga lancar kerjanya ya." aku menatapnya dengan tatapan bahagia mendengar ajakannya itu.
Dia mengangguk lalu mengeratkan pelukannya, "makasih." ucapnya lalu mencium keningku dan kamipun tertidur.
...* * *...
__ADS_1
"Selamat yaa. Semoga pernikahan kalian dilimpahi banyak berkah dan langgeng sampai kakek kakek dan nenek nenek." ucapku pada pengantin perempuan sambil kecup pipi kanan dan kiri lalu menyalami sang pengantin prianya seraya mengucapkan selamat juga.
Pesta pernikahan anak teman bisnis Papa yang digelar sekarang ini sangat mewah. Terbukti dari gedung pesta yang di pakai saat ini, juga dekorasi dan makanan yang disajikan untuk setiap tamunya dengan porsi yang sudah di atur.
Kali ini adalah pesta yang aku hadiri tanpa Tama. Aku berjalan menuju meja tamu yang disediakan. Disana sudah ada tag namaku dan juga Papa Mama. Nama Tama juga tertulis disana, tapi dibiarkan kosong karena memang Tama sedang berada di luar kota.
Aku duduk dan memperhatikan sekitar, kulihat seorang perempuan melambaikan tangan padaku. Aku ingat, itu Delia. Dia memberi kode untuk kita berbincang.
"Hai. Udah lama ya nggak ketemu. Kita ketemu pas ada pesta aja deh kayaknya." katanya menyapaku lalu melanjutkan dengan membuka obrolan.
"Iya ya. Apa kabar kamu?" aku tersenyum lebar seraya menanyakan kabarnya.
"Aku baik. Aku pernah kapan mampir ke kafe kamu cuma kamu lagi nggak ada kata karyawan mu. Kafe kamu jadi viral ya, secara sih tempatnya bagus banget. Unik juga romantis." ceritanya panjang. Seperti biasa dia sangat supel dan cerewet, tanpa sungkan menceritakan apapun yang ingin ia ceritakan. Dan apapun yang ia ucapkan selalu bisa untuk jadi pembuka setiap obrolan. Aku juga sedikit terhibur dengan berbincang dengannya.
"Eh udah dulu yuk. Makanannya udah di served." katanya melihat pelayan yang sudah menghampiri meja bagiannya dengan membawa sebuah nampan berisikan makanan. Aku mengangguk dan kami pun lalu berpisah.
"Pengantinnya cantik dan bersahaja ya." celetuk Papa tiba-tiba sambil menikmati dessert nya.
"Kenapa Pa?" tanya Mama untuk memperjelas ucapan suaminya.
"Gimana kalau nanti kamu adakan pesta anniversary kamu sama Tama nak?" kata Papa tiba-tiba sambil menatap ke arah ku.
Aku terdiam sejenak, belum sampai ke sana pikiranku. Merayakan anniversary sampai mengadakan pesta yang mengundang banyak orang.
"Nggak mau ribet ah Pa. Harus banyak yang disiapin." kataku sambil menikmati dessert juga.
"Sederhana saja. Seperti acara makan malam atau garden party. Keluarga inti kita saja yang datang." Papa masih tak mau menyerah.
"Iya nanti aku pikirin lagi ya Pa." jawabku akhirnya. Papa tersenyum menanggapi jawabanku. Mungkin dia berharap jika jawaban anaknya ini dijadikan kenyataan.
"Papa ingin kamu bahagia. Seandainya kamu mau Papa ingin wariskan perusahaan Papa ke kamu. Tapi kamu bertekad ingin sukses sendiri. Ya sudah Papa nggak maksa. Yang terpenting buat Papa adalah kebahagiaan kamu." terlihat Papa sedang menunjukkan kasih sayangnya lewat ucapnya itu.
__ADS_1
⭐⭐
like komen dan vote ya 😘