ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 10. TIDAK SETUJU


__ADS_3

"Tapi Lan, yang menjadi permasalahannya sekarang, orangtuaku tidak pernah menyukai Key. Walaupun Keysha selama ini tidak pernah mengeluh, tidak pernah mau cerita tentang semua kesulitan yang dia hadapi, tapi aku tahu Lan, semua kesulitan yang menimpa Key, penyebabnya adalah ulah orangtuaku yang ingin kami terpisah."


"Bagaimana kamu bisa menuduh orangtuamu Dit? Tidak baik lho berprasangka buruk, apalagi terhadap orangtua mu sendiri," nasehat Alan.


"Aku bukan menuduh tanpa alasan dan bukti Lan. Bahkan secara diam-diam, akulah yang menyelidiki dan menyelesaikan semua masalah yang menimpa Key, termasuk masalah pemecatan dirinya secara tidak hormat, yang telah dilakukan oleh pihak sekolah karena fitnah kejam mama ku."


"Kok bisa sampai seperti itu Dit? Aku pikir hidup Key selama ini baik-baik saja. Ternyata aku salah, aku bukan sahabat yang baik untuk kalian. Aku tidak pernah bertanya, hal buruk apa yang kalian alami selama aku tidak berada di sisi kalian," ucap sesal Alan.


"Tidak Lan, memang sudah kewajibanku untuk melindungi Key, apalagi dari kedzaliman orangtua ku."


"Jadi apa yang akan kamu lakukan Dit, jika orangtuamu tetap menentang hubungan kalian?"


"Aku sudah bersiap Lan, sejak awal aku tahu mereka tidak menyukai Key, aku sudah mendirikan perusahaan ku sendiri yang aku rintis dari nol dan sekarang telah memiliki dua anak cabang di kota lain. Hal ini tidak di ketahui siapapun termasuk orangtuaku dan juga Keysha."


"Aku salut dengan kerja kerasmu Dit! Perusahaan orangtuamu maju di bawah kepemimpinan mu dan ternyata kamu juga memajukan perusahaan mu sendiri tanpa siapapun tahu."


"Kamu yang hebat Lan, kau berhasil mewujudkan cita-cita yang sejak kecil sama kita dambakan, sedangkan aku, gagal. Aku tidak punya pilihan, aku hanya wayang dan Papa ku adalah dalang yang mengatur perjalanan hidupku."


"Sabar Dit, Tuhan pasti punya rencana yang indah dari semua ini. Mungkin dengan menjadi seorang pengusaha, ada hikmah terbaik yang bisa kamu petik. Kamu setiap saat bisa lebih dekat dan bisa selalu menolong Key, coba jika kamu kuliah kedokteran bersamaku, siapa yang akan menolong Keysha di sini."


"Iya Lan, kamu benar! Eh, sudah dulu ya, aku janji untuk menelepon Key, nanti keburu malam dan dia sudah tidur. Oh ya Lan, kapan kamu berangkat?"


"Lusa, aku sampai ditempat biasa. Aku harap begitu kita ketemu, sudah ada kabar baik tentang hubungan kalian. Aku ingin menyaksikan pernikahan kalian secepatnya, sebelum aku repot dengan perkuliahan dan tugasku di rumah sakit," ucap Alan.


"Terimakasih atas dukungan mu Lan, tolong bantu doa ya, agar dipermudah," pinta Radit.


"Oke sobat. Semoga semua berjalan lancar seperti harapan kita, sampaikan salam ku untuk Keysha Ya."

__ADS_1


"Siap Pak Dokter!" canda Radit sebelum memutuskan panggilan teleponnya."


Alan tidak bisa tidur malam ini, kenangan semasa sekolah bersama Radit dan Keysha berseliweran di benaknya.


Dia berkata dengan dirinya sendiri, "Selamat jalan cinta, berbahagialah Sayang, doaku selalu menyertaimu. Aku tidak akan pernah menyesal telah mencintaimu dan cinta ini akan ku bawa sampai mati. Mungkin, selamanya kamu tidak akan pernah tahu, jika pernah ada cinta yang besar dariku untukmu."


Alan memejamkan mata sembari mendengarkan alunan musik dan lagu dari penyanyi kesayangannya Cakra Khan. Tak terasa air mata pun menetes dari kedua sudut matanya.


Hari ini seorang pria tegar, yang tidak mengenal takut akan apapun akhirnya menangis karena cinta.


Kata ikhlas, memang mudah untuk diucapkan, tapi sangat sulit untuk dilakukan.


Akhirnya alunan lagu mellow berhasil membuat Alan tertidur, tidur dengan membawa cintanya yang kandas sebelum dikatakan.


Mentari pagi bersinar sangat cerah, hari ini Radit sengaja tidak pergi ke kantor karena dia ingin membicarakan tentang niatnya melamar Keysha kepada kedua orangtuanya.


Radit keluar dari kamar dengan memakai pakaian santai hingga membuat mama dan papanya heran.


"Nggak Ma, ada hal penting yang ingin Radit bicarakan dengan Mama dan Papa," ucap Radit sembari duduk di sebelah sang mama dan mengambil susu serta roti sebagai menu sarapan paginya.


"Memangnya ada masalah di kantor Dit?" tanya Papa serius.


"Di kantor aman-aman saja kok Pa. Oh ya Pa, Ma, Radit ingin minta tolong, temui orangtua Keysha. Radit ingin melamarnya, Radit mencintai dia Pa, ma," pinta Radit.


"Apa! melamar gadis itu? Papa tidak salah dengar 'kan Dit? Kamu jangan gila, apakah tidak ada wanita lain yang lebih baik dari dia untuk bisa kamu jadikan istri? tanya Papa.


"Iya Dit, kamu jangan aneh-aneh deh, mau dikemanakan muka kami saat orang-orang tahu, istri pewaris keluarga Anggara hanya gadis biasa!"

__ADS_1


"Mama malu Dit, yang lebih cantik dan selevel dengan kita banyak, kenapa harus dia. Jika kamu tidak sanggup mencarinya, biar mama nanti bicara dengan Tante Reva."


"Tante Reva biasanya suka mencomblangi anak-anak teman mama, yang sedang mencari jodoh."


"Kamu dengarkan omongan Papa dan gunakan akal sehatmu, apa yang kamu pandang dari dia. Pokoknya Papa tidak setuju, jika kamu menikahi gadis itu!" ucap Papa yang menghentikan makannya dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar.


"Iya, Mama juga tidak setuju! Mama akan carikan jodoh yang sesuai untuk mu!" ucap Mama yang juga pergi menyusul sang papa."


Radit mendesah, dia sudah menduga, jika orangtuanya bakal tidak setuju. Tapi, dia pasti bisa mendapatkan cara untuk mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.


Radit menghabiskan sarapannya, lalu dia menghubungi Keysha dan ternyata Keysha sedang dalam perjalanan pulang ke kampungnya.


Di sela ucapan Keysha, Radit bisa merasakan ada kesedihan yang sedang Keysha coba sembunyikan.


"Key, sebenarnya ada apa? Aku tahu kamu pasti baru menangis?" tanya Radit.


"Nggak ada apa-apa Dit," ucap Keysha.


"Tolong kamu jujur Key, jangan ada masalah yang kamu sembunyikan dariku. Kita sudah sepakat ingin menikah, jadi semua masalahmu sekarang menjadi masalahku. Harusnya kamu ngomong jika mau pulang ke kampung, jadi aku bisa mengantarmu Key. Lagipula, hari ini aku sedang tidak ngantor."


"Maaf Dit, aku panik. Aku harus secepatnya sampai di rumah, ayahku masuk rumah sakit dan kondisinya sangat parah. Ibu memintaku agar segera pulang, beliau mengatakan ayah ingin kami semua berkumpul di dekatnya. Kata dokter, harapannya tipis untuk bisa sembuh."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya, aku segera menyusulmu kesana. Aku bersiap dulu dan tolong share alamat rumah kalian di kampung."


"Tapi Dit..."


"Stop Key! Aku tidak ingin kamu berpikiran macam-macam lagi. Aku sekarang hanya ingin ada di dekatmu, aku tahu kamu membutuhkan pundakku untuk menangis."

__ADS_1


Radit mematikan ponselnya, kemudian dia ke kamar untuk bersiap. Radit, memasukkan beberapa pakaian ganti ke dalam tas, setelah itu dia menuliskan sesuatu di secarik kertas dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Setelah memakai jaket, sepatu dan menyandang tas bekalnya, Radit pun bergegas keluar rumah, tanpa pamit kepada siapapun.


__ADS_2