ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 60. DESAKAN MAMA


__ADS_3

"Konsultasi lah Dit ke ahli kandungan, atau datang ke Jakarta, biar aku langsung yang lakukan pemeriksaan."


"Aku belum ada waktu untuk ke rumah sakit kalian Lan, pekerjaan sedang menumpuk dan Keysha juga sedang sibuk mengurus para mahasiswanya yang akan menghadapi ujian skripsi."


"Nah, itu bisa menjadi salah satu penyebabnya Dit, makanya kalian belum juga di karunia momongan. Jangan terlalu capek, baik kamu dan juga Keysha.


"Kalau kamu bagaimana Lan?"


"Aku berat Dit, Devia menolak dengan tegas. Dia tidak mau punya anak dalam waktu dekat. Karir lebih penting daripada rumahtangga kami."


"Cobaan hidup kita berbeda ya Lan, kami ingin dapat secepatnya, lah kalian malah menunda."


"Ya, begitulah Dit. Mau bagaimana lagi."


"Sampai kapan itu Lan, apa Devia memberikan batas waktu?"


Alan hanya memberikan jawaban dengan mengangkat bahu.


"Mana bisa rumah tangga seperti itu dipertahankan Lan? Kamu anak tunggal, pasti ayah dan ibu mengharapkan penerus. Kenapa kamu tidak jujur saja terhadap para orang tua Lan? Barangkali mereka bisa menasehati Devia."


"Percuma, Devia terlalu keras kepala. Ya, jalani saja lah Dit, sampai dimana kesabaran akan membuatku mampu bertahan. Aku sebenarnya hanya ingin menikah sekali seumur hidup, mudah-mudahan Devia segera menyadari keegoisannya."


"Bodoh sekali Devia, harta sudah berlebih, ntah apalagi yang mau dia cari. Toh semua warisan akan jatuh ke kalian dari dua keluarga, tujuh turunan nggak bakal habis."


"Bukan harta yang dia cari Dit, tapi kesenangan dan ketenaran."


"Sampai kapan? Saat usia dia setengah baya, ketenaran pun akan hilang di makan usia dan waktu. Kesenangan, bisa di cari bersama dengan pasangan."


"Itu menurut kita, pemikiran Devia tidak. Dia lebih senang bebas di luaran sana."


"Nasibmu lah Lan, ingin jadi anak berbakti, kesabaran sedang diuji."


"Iya Dit. Jadi bagaimana, aku atur pemeriksaan kalian di rumah sakit terdekat dari sini saja ya. Harus cepat Dit, jangan di tunda-tunda lagi."


"Tapi, aku jadi ragu Lan, bagaimana jika Meli nanti hamil sebelum pengobatan kami membuahkan hasil."


"Mau tidak mau kamu harus bertanggungjawab. Pasti ujungnya, pilih salah satu. Susah mendapati wanita yang mau di madu Dit!"


"Hei, ngomongin apa sih, aku dengar soal madu?"

__ADS_1


Kehadiran Keysha mengagetkan keduanya, lalu Radit menimpali, "Oh, itu madu hutan baik untuk stamina, apalagi untuk kita yang belum juga, iya 'kan Lan?"


"Eh, benar Key dan tadi, aku sarankan agar kalian ke Jakarta, biar aku sendiri yang akan memeriksa kesuburan kalian, tapi Radit bilang, saat ini sedang repot. Ya sudah, aku beri rujukan saja ke rumah sakit terdekat."


"Iya Lan, aku juga sedang repot."


"Jika nanti hasilnya meminta kalian untuk istirahat, kamu lebih baik off dulu dari kampus Key, setidaknya memiliki satu momongan sebelum usia tidak memungkinkan lagi untuk hamil."


"Benar kata Alan Sayang."


"Tapi Mas, aku masih memiliki tanggungjawab besar terhadap adik-adik dan juga ibu. Aku nggak mau dikatakan sebagai benalu terus."


"Key, kalau masalah itu jangan kamu pikirkan. Kebutuhan Ibu dan adik-adik akan menjadi tanggungjawab ku. Siapa yang berani mengatakan kalian benalu akan aku cabe mulutnya."


Keysha diam, dia tidak mungkin mengatakan jika mama Radit lah yang mengatakan hal itu.


"Bagaimana Key? Kamu setuju kan, istirahat di rumah saja demi rumah tangga kita?"


"Nanti Key pertimbangankan lagi Mas, jika dokter memang meminta, akan aku turuti."


"Nah ini, kamu beruntung Dit. Key tidak mementingkan dirinya sendiri."


Keysha tersenyum malu, mungkin Radit lah yang kurang beruntung karena telah mempersuntingnya.


"Terimakasih Mas, aku yang beruntung bisa mendapatkan suami yang sangat pengertian seperti kamu Mas."


Ada rasa iri terlintas di hati Alan, Andai saja Devia bisa seperti Keysha mungkin Alan juga akan menjadi suami yang beruntung.


"Hei, kamu kok melamun Lan, kami mau kamu buatkan rujukan."


"Oke, besok aku telepon pihak rumah sakit ya. Aku rasa teman-teman ku memiliki relasi di rumah sakit di daerah Bandung ini."


"Terimakasih ya Lan."


"Sama-sama Key. Ayo kita jalan lagi, hari sudah makin malam."


"Iya, ayolah. Tinggal setengah jam lagi, mereka pasti tutup."


Kemudian ketiganya kembali berkeliling dan setelah puas, merekapun memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Keysha pamit ke kamar, dia mau memeriksa tugas para mahasiswa yang dibawanya pulang.


Sementara Radit dan Alan bebas ngobrol setelah Keysha menghilang di balik pintu.


"Sebaiknya, kamu jujur kepada Keysha, Dit. Rumah tangga yang baik adalah rumahtangga yang dilandasi rasa saling percaya dan juga kejujuran. Daripada Key tahu dari orang, pasti akan lebih menyakitkan baginya."


Saat mereka asyik ngobrol, ponsel Radit berdering. Radit melihat sang mama yang saat ini sedang memanggil.


"Assalamualaikum Ma," sapa Radit.


"Wa'alaikumsalam. Mama sudah dengar semua Dit, pokoknya kamu harus menceraikan Keysha dan menikahi Meli. Mama yakin, dia akan segera memberi kami cucu. Untuk apa tetap mempertahankan Keysha."


"Ma! Dia istri Radit dan Radit sangat mencintai dia! Mama tidak berhak untuk meminta kami agar bercerai."


"Tapi Dit, Papa Meli barusan telepon, jika kamu tidak menceraikan Keysha dan menikahi Meli, beliau akan mengkasuskan masalah kalian ke jalur hukum."


"Dan dukungannya ke perusahaan Papa akan beliau tarik, bahkan relasi kita yang juga bekerja sama dengan beliau, akan beliau pengaruhi juga. Kamu tahu, berapa kerugian perusahaan Papa jika ancaman itu benar beliau buktikan?"


Radit diam mendengar ocehan sang Mama, dia mendesah dan merasa kesal dengan kesalahan yang telah dirinya lakukan.


"Dit, kenapa kamu diam! Kamu tahu 'kan apa resikonya? Perusahaan papamu akan bangkrut. Apa akibatnya jika sampai bangkrut? Papa mu akan stres dan bisa saja struk karena hal ini. Kamu mau melihat Papa seperti itu Dit? Tolong, kamu pertimbangkan baik-baik. Mama bisa mati, jika melihat papamu tidak bersemangat hidup lagi."


"Dit, kamu dengar kan,semua yang Mama katakan? Dit... Dit?"


"Iya, Radit dengar Ma. Radit akan pikirkan semuanya. Ini pillihan sulit Ma, Radit nggak mungkin menceraikan Keysha."


"Terserah, kamu tinggal pilih. Pilih bertahan dengan Keysha, berarti kamu menginginkan kami cepat mati. Jika kamu menikahi Meli, semua akan baik-baik saja dan kamu akan mendapatkan anak."


"Beri Radit waktu untuk berpikir Ma! Sudah dulu ya Ma, Radit capek, ingin istirahat."


"Kamu kebiasaan, orangtua ngomong belum selesai sudah mau Kabur saja. Ya sudah, Mama ingatkan lagi ya, nasib kami ada di tanganmu."


"Iya Ma."


Setelah panggilan terputus, Radit meraup wajahnya dengan kasar, lalu dia memandang Alan yang sejak tadi menatapnya iba.


"Kamu dengar kan Lan, rasanya aku ingin mati saja, daripada harus memilih diantara dua pilihan itu."


"Hush...jangan ngaco, nggak baik berucap seperti itu. Bersyukur, kita masih diberi hidup. Ini cobaan rumah tangga kalian Dit, sabar atau tidak, kalian menjalaninya."

__ADS_1


Keduanya terdiam, Alan tahu ini saat terberat bagi sahabatnya dan yang bisa Alan lakukan adalah merangkul Radit sambil berkata, "Yakinlah Sobat, pasti ada jalan keluar untuk masalah ini. Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan kita."


__ADS_2