ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 39. KEMARAHAN RADIT


__ADS_3

Taksi yang mengantar Radit dari bandara ke kantor polisi masih menunggu, sesuai permintaan Radit sejak awal.


Berapapun harga argo meter yang Pak sopir minta tidak menjadi masalah bagi Radit karena dia yakin malam ini juga Keysha pasti dibebaskan dan mereka harus ada transportasi untuk pulang ke rumah.


Dalam perjalanan pulang, Radit terus memeluk Keysha hingga membuat Pak Sopir senyum-senyum memperhatikan mereka dari kaca spion.


Radit menyayangkan kenapa peristiwa tadi harus dialami oleh Key dan kenapa Key tidak menghubunginya diawal kejadian.


"Kamu ya! Jangan sok tegar, bagaimana coba, jika aku tadi tidak menelepon mu, pasti mereka menyakiti istri tersayang ku ini!" ucap Radit sembari mencolek hidung sang istri yang mancung.


"Hehehe, pasti aku hubungi Mas Radit kok! Cuma telat, keburu Mas Radit yang telepon duluan," ucap Keysha sembari tertawa.


Radit yang rindu dan gemas langsung mencium Key, hingga membuat Keysha malu dengan Pak Sopir.


"Mas, malu atuh!" ucap Key sambil memajukan bibirnya.


"Biarin, Pak sopir juga pernah muda. Iya 'kan Pak?"


"Iya Neng. Suami Neng baru pulang dari luar kota, pastinya rindu Neng!" jawab Pak Sopir sambil tersenyum.


"Oh ya Key, aku jadi penasaran yang mana sih teman mama yang berani memfitnah kamu?"


"Itu lho Mas, Melanie...gadis yang mau dijodohkan dengan Kakak!" jawab Keysha.


"Aduh! ternyata gadis manja, sombong dan kecentilan itu, biang keroknya!"


"Tapi dia cantik dan kaya Mas, tidak sepertiku!"

__ADS_1


"Bagiku kamu wanita tercantik dan kamu terkaya, kaya hati. Jika kamu tidak memiliki kedua hal itu, mana mungkin aku mengejar, bersaing dan mau menunggumu hingga begitu lama Sayang!" ucap Ragit sambil mempererat pelukannya.


Obrolan dan kemesraan mereka membuat perjalanan terasa singkat, hingga tak terasa merekapun sudah tiba di pelataran rumah.


Radit membayar ongkos taksi dan dia melebihkan pembayaran sebagai tips karena pak sopir sudah berkenan menunggu. Setelah pak sopir pergi, Radit pun mengajak Keysha masuk.


Bagian dalam rumah sudah tampak gelap, hingga membuat Radit kesal. Begitu tidak peduli orangtuanya kepada sang istri. Bisa-bisanya mereka lelap tidur sementara Key masih di kantor polisi.


Radit memencet bel berulang-ulang hingga membuat Bibi dan pembantu lain terkejut. Mereka heran siapa orang yang bertamu pada jam tengah malam.


Bibi mengintip dari lubang pintu yang memang tersedia untuk mengintai ke arah luar dan beliau pun merasa lega, saat melihat Radit dan Keysha yang datang.


Saat pintu sudah terbuka, Radit langsung bertanya, "Apakah Mama dan Papa sudah tidur Bi?"


"Sudah Den, sekitar dua jam lalu," jawab Bibi.


"Sudahlah Mas, ayo kita istirahat!" ucap Keysha.


"Kami permisi dulu ya Bi," pamit Keysha.


"Iya Non!"


Radit dan Key bergegas ke kamar dan mereka pun bebersih diri lalu berangkat tidur.


Pagi ini Radit membutuhkan penjelasan dari Sang Mama dan dia sengaja menunggu kehadiran orangtuanya di meja makan.


Papa dan Mama terkejut melihat Radit sudah kembali dan Keysha juga ada di sana.

__ADS_1


Rencana keduanya kembali gagal dan mereka tidak menyangka jika secepat itu Key terbebas.


Radit memandang kehadiran orangtuanya dengan sinis, hingga membuat Mama merasa takut dengan kemarahan sang putra.


"Kamu kok sudah pulang Nak!" ucap Papa.


"Memangnya kenapa Pa! Pekerjaan ku juga sudah selesai. Apa Papa memang sengaja menginginkan aku untuk berlama-lama di sana agar tidak ada yang membela Key!"


"Lancang sekali mulutmu Dit! tega kamu berkata seperti itu terhadap orangtuamu sendiri! Apa yang telah kau sampaikan kepada putraku hingga dia membenci kami!" seru Papa kepada Keysha.


"Sekarang aku mau tanya kepada Mama, apa yang Mama pinta untuk key lakukan?"


"Mama hanya minta tolong dan Key juga tidak merasa keberatan. Benar kan Key?"


"Iya Mas, sudahlah tidak usah di bahas lagi, ini semua salahku yang kurang peka membaca situasi," ucap Key.


"Tidak! hal ini aku yakin memang ada persengkokolan, unsur kesengajaan, menjebakmu agar berurusan dengan pihak kepolisian."


"Kamu tega Dit menuduh Mama dan Papa? Kamu pikir kami senang dengan kejadian ini, nama baik papa kamu tercoreng akibat ulah istrimu!"


"Sudahlah Mas, tidak usah diperdebatkan lagi!" pinta Keysha.


"Besok kita pindah dari sini Key, aku tidak mau siapapun tidak menghargai istriku, meski mereka orangtuaku sendiri!"


Radit kecewa terhadap kedua orangtuanya yang telah memperlakukan Keysha layaknya musuh dan dia sudah memutuskan akan membawa Keysha keluar dari rumah itu, meski mereka harus tinggal di rumah kontrakan.


Keysha hendak membantah omongan Radit, tapi Radit mengangkat tangan, lalu menarik lengan Key, pergi meninggalkan ruang makan tanpa terlebih dahulu sarapan.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Radit meminta Keysha untuk berbenah, pagi ini juga mereka akan pindah dari sana.


__ADS_2