
Dengan wajah sumringah, Radit pun bersiap, dia ingin mengajak Keysha makan malam sambil membahas masalah pernikahan yang sudah disetujui oleh Alan.
Key sudah selesai berdandan ketika Radit datang. Kemudian mereka pun pergi ke cafe yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat kost-kostan.
Hal itu sesuai permintaan Key, karena dia tidak bisa berlama-lama, masih ada pekerjaan yang harus Keysha selesaikan malam ini juga.
Sambil menunggu pesanan datang, Radit pun berkata, "Key, masa iddah mu sudah selesai dan aku telah menemukan calon yang bersedia menikah denganmu."
"Siapa Mas? Apa aku mengenalnya?"
"Kamu sangat mengenalnya Key, orang terdekat kita. Cuma dia yang aku percaya bisa menolong, agar nantinya kita bisa menikah lagi."
"Siapa dia Mas?"
"Alan."
Key sangat terkejut, dia tidak menyangka, jika Radit meminta Alan untuk menikah dengannya.
"Mas, kenapa harus Alan? memangnya tidak ada calon lain."
"Kenapa Key? Bukankah Alan bisa kita percaya. Selain sahabat, kita juga mengenal sifat dan kepribadiannya. Orang lain, belum tentu bisa amanah dengan perjanjian kita Key."
"Tapi Mas, bagaimana dengan Devia? Apa dia memberi izin, jika Alan menikahiku?"
"Tentu saja tidak Key, kita tidak perlu izinnya, yang penting kesediaan Alan. Toh, hanya untuk sementara."
"Tapi Mas, apa mas Radit sudah pertimbangkan hal ini dengan matang? dan apakah Alan tidak merasa terpaksa?"
"Sudah Key, kita pasti bisa balikan. Alan setuju dan dia hanya mengajukan satu syarat."
"Syarat apa Mas?"
"Dia minta waktu satu bulan untuk bersama tanpa ada gangguan dari pihak manapun termasuk aku, setelah itu barulah dia akan menceraikan mu."
"Kenapa harus seperti itu Mas?"
"Dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki istri sesungguhnya, bukan seperti Devia yang sering mengabaikan dia. Apakah kamu keberatan Key?"
"Sebenarnya ini pilihan sulit Mas! Alan sahabat kita, bagaimana setelah kami nanti bercerai, apakah persahabatan kita bisa tetap baik? Dan seandainya dia tidak mau menceraikan aku, bagaimana Mas? Mas Radit harus pikirkan dan pertimbangkan dengan matang."
"Sudah tidak ada pilihan lain Key, apapun yang terjadi nanti, aku ikhlas. Aku pasrahkan dan percayakan takdir pernikahan kita kepada Allah. Kamu juga harus ikhlas menjalaninya Key, ikhlas untuk melayani Alan sebagai istrinya."
__ADS_1
Key tidak bisa berkata apapun lagi, dia merenung dan merasa tidak percaya, jika takdir akhirnya memberi dia kesempatan, untuk menikah dengan pria yang pernah dia cintai.
"Bagaimana Key? jika kamu setuju, minggu depan pernikahan kalian bisa kita laksanakan."
"Baiklah Mas, kalau Mas Radit ikhlas, aku akan berusaha ikhlas."
"Terimakasih Key, sekarang kita pasrahkan semua kepada Allah, jika memang takdir menentukan kita masih berjodoh, pasti kita bakal kembali. Tapi, jika takdir menentukan lain, kita berdua harus sama-sama ikhlas."
Setelah mendapatkan kata sepakat, Radit pun menelepon Alan. Dia memberitahu, jika pernikahan akan di adakan minggu depan. Mengenai tempat, penghulu nikah serta saksi, Radit yang akan mengurus semuanya.
Setelah Radit menutup panggilan, Key pun bertanya, "Mas yakin akan melanjutkan rencana ini?"
"Ya, aku yakin Key."
"Oh ya, mari kita makan dulu, bukankah kamu harus cepat pulang?"
"Iya Mas."
"Segera kamu persiapkan masa cutimu Key karena waktunya cuma seminggu."
"Kebetulan dua minggu lagi kami libur semester mas. Jadi, hanya tinggal seminggu ke depan yang harus minta izin."
"Oh, syukurlah."
"Iya Mas."
Keduanya pun makan sambil ngobrol, meski hati Key masih tidak tenang dengan keputusan yang telah mereka ambil.
Setelah selesai makan, keduanya pun memutuskan untuk pulang. Radit mengantar Keysha, baru ke rumah ibu untuk menjelaskan rencana yang telah mereka sepakati.
Sebenarnya ibu merasa tidak enak dengan Alan, tapi beliau tidak bisa berkata apapun lagi, karena anak-anak telah membuat keputusan.
Namun, ibu memberi nasehat kepada Radit, tentang kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Radit menanggapi nasehat ibu, jika dia ikhlas dengan kenyataan apapun yang bakal terjadi.
Mendengar jawaban Radit, ibu jadi lebih tenang dan beliau akhirnya merestui pernikahan Alan dan Keysha.
Beberapa hari berlalu, Radit sibuk mengurus hal-hal yang diperlukan untuk pernikahan Alan dan Keysha.
Alan dan Key sepakat, pernikahan hanya dilakukan sederhana tanpa dandanan ataupun hiasan layaknya pengantin.
__ADS_1
Mereka pun sudah berkumpul di sebuah villa yang ada di tempat wisata kota Bandung.
Di sana tampak hadir, penghulu, dua orang saksi, Radit, adik Keysha, ibu serta beberapa orang penduduk sekitar villa yang sengaja di undang agar tidak terjadi fitnah saat Alan dan Key nantinya tinggal di sana.
Alan dan Key merasa gugup, mereka seperti baru pertama kali mengalami yang namanya pernikahan.
Penghulu pun memberi arahan kepada adik laki-laki Keysha, karena, saat ini adalah kali pertama dia menjadi wali pernikahan.
Setelah adik Keysha merasa siap, Alan pun menjabat tangannya dan lafadz ijab qobul pun berhasil mereka ucapkan dengan satu kali tarikan nafas.
Kedua saksi dan penghulu pun menyatakan jika pernikahan tersebut telah sah. Kini Alan dan Keysha sudah resmi menjadi suami istri.
Radit menitikkan air mata, dia merasakan tubuhnya tak bertenaga. Separuh jiwanya sudah menjadi milik orang lain.
Keysha juga menangis, saat Alan mencium puncak kepalanya. Key bingung dengan apa yang saat ini dia rasakan.
Begitu pula dengan Alan, ada perasaan bahagia terselip di hatinya, tapi juga perasaan sedih, kenapa takdir mempersatukan dia dan Key dengan cara seperti saat ini.
Acara pun selesai, satu persatu mulai meninggalkan villa tersebut. Dan yang terakhir pamit adalah Radit.
Radit memeluk Alan sambil berkata, "Aku titip Keysha Lan."
Alan tidak menjawab apapun, dia hanya berjanji dalam hati akan menjaga serta merawat Key, berupaya sebaik mungkin untuk menjadi imam yang baik, meski hanya satu bulan.
Semua sudah pergi, kini hanya tinggal Alan dan Keysha saja. Keduanya merasa canggung, gugup, seperti pasangan yang baru saja saling kenal.
"Bismillah," ucap Alan saat dia memberanikan diri untuk mendekati Keysha.
Detak jantung Alan tidak beraturan saat dia memberanikan diri, memegang dan mencium tangan Keysha sambil berkata, "Jadilah istriku sesungguhnya Key, meski hanya satu malam."
Key paham dengan apa yang Alan maksud, entah mengapa air matanya tidak bisa terbendung saat Alan menarik Key ke dalam pelukannya.
Jantung keduanya berpacu, sedih bercampur bahagia menjadi satu.
Keduanya memendam perasaan cinta yang sama dan tidak bisa saling mengungkapkan rasa.
Alan mendaratkan sebuah ciuman di kening Key yang memejamkan mata, lalu dia berkata lirih nyaris tak terdengar, "Andai aku boleh egois dan aku bisa menghentikan waktu, aku ingin tetap di sini bersamamu, sampai akhir hayat ku. I love you Keysha."
Keysha membuka matanya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Apakah itu hanya hayalannya saja atau memang ungkapan hati Alan yang sesungguhnya.
Keysha menatap dalam mata Alan, dia ingin mencari kebenaran di sana. Alan membalas tatapan tersebut, dan dia merasakan ketenangan serta keteduhan di dalamnya.
__ADS_1
Perlahan Alan mencondongkan tubuhnya, lalu dia mendaratkan ciuman di bibir Keysha.
Bibir mereka pun menyatu dan seperti ada magnet yang menarik keduanya untuk saling menikmati dan saling memberi cinta yang selama ini hanya bisa mereka pendam.