
Alan sudah memulai aktivitasnya di Jakarta, dia bersama kedua orang temannya, telah mendirikan rumah sakit yang diberi nama "RS SAHABAT".
Mereka bekerjasama dengan para dokter spesialis, hingga semua pasien bisa dilayani. Alan puas, ternyata keputusannya untuk pindah ke Jakarta tidak sia-sia.
Klinik spesialis kandungan milik Alan yang ada di Malaysia juga cukup berkembang, hingga rencananya, ayah Alan akan membuka cabang di tempat lain dan teman kuliah Alan yang akan mengelolanya.
Alan berdiri di depan rumah sakit, sambil memperhatikan sekitar, dia masih berpikir akan menata taman serta tempat bermain untuk anak-anak dari keluarga pasien yang datang berkunjung.
Daripada anak-anak ikut ke dalam ruangan pasien yang tidak sehat bagi mereka, lebih baik dibuatkan arena bermain.
Setelah menyampaikan idenya kepada penata taman, Alan langsung menuju ke ruangannya. Sore ini dia berjanji akan memberi kejutan kepada Radit.
Alan akan berkunjung menemui sahabatnya tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu.
"Hai Lan, kamu kok bersiap memangnya mau kemana?" tanya Rudi, teman join Alan dalam pendirian rumah sakit.
"Mumpung besok libur, aku mau ke rumah sahabatku, buat surprise. Dia tidak tahu jika aku sudah pindah kesini."
"Memangnya, rumah sahabatmu di mana?"
"Bandung."
"Kamu mah enak, istri jauh jadi bisa bebas pergi kemanapun."
"Kalian aneh, bawa dong istri jalan-jalan. Kita selalu saja kurang bersyukur, aku menginginkan kehidupan seperti kalian, nah kalian malah kebalikannya, menginginkan hidup seperti ku."
"Ya, sekali-kali Lan, pingin melajang. Bebas pergi kemanapun yang kita mau, tanpa bawa sendok."
"Dasar kalian! Jika malaikat lewat dan mendengar obrolan kita, hidup kalian ditukar dengan hidupku, baru tahu rasa. Makanya sobat, hidup ini enaknya cuma memandang, dan kita yang menjalani seringkali lupa bersyukur.
"Iya Pak ustadz, sudah sana pergi! nanti kemalaman."
"Oke, selamat libur ya. Senin, kita sudah harus aktif lagi. Semoga rumah sakit ini makin maju."
"Aamiin, itu yang kita harapkan."
"Aku berangkat dulu ya?"
Alan pun bergegas menuju parkiran, dia mengendarai mobilnya sendiri menuju Bandung. Lewat jalur tol Cipularang, hanya memakan waktu sekitar 2 jam 33 menit.
Tanpa terasa, Alan sudah sampai di kota Bandung, lalu dengan menggunakan maps diapun menuju rumah Radit, sesuai alamat yang pernah Radit berikan.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke rumah Radit. Alan mengetuk pintu, Radit dan Keysha merasa heran, siapa tamu yang datang menjelang Maghrib.
Perasaan Radit tidak enak, dia takut yang datang adalah Meli, bisa saja wanita itu membuktikan ancamannya, datang dan memberitahu Keysha."
Radit mengintip dari balik jendela dan dia sangat terkejut, saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu.
"Siapa rupanya Mas?" tanya Keysha mendekat.
__ADS_1
"Bukalah Key!"
Keysha membuka pintu dan dia terkejut saat melihat Alan, menyeringai berdiri di hadapannya.
"Kamu Lan! Kenapa nggak beri kabar?"
"Surprise dong. Aku nggak boleh masuk nih?"
"Eh iya, silakan masuk Lan!"
"Jam berapa kamu berangkat Lan, memangnya ada penerbangan sore?" tanya Radit.
"Dua bulan yang lalu."
"Eh, Memangnya kamu jadi, pindah ke Jakarta?" tanya Radit lagi.
"Iya dong, cari perubahan suasana."
"Lantas, ibu negara bagaimana Lan, apa masih di Australia?"
"Saat ini malah terbang ke Amerika. Terserah dialah Dit, aku gagal."
"Jangan menyerah Lan, sabar! Cuma itu yang bisa aku katakan karena aku tidak mengalaminya."
"Keysha datang membawa teh, lalu dia berkata, "Di minum Lan, kita ibadah Maghribnya berjamaah di rumah saja ya?"
"Iya Key, terimakasih ya."
"No, nggak mungkin Dit. Masalahnya, senin aku sudah harus aktif melayani pasien."
"Oh... ya sudah, kapan-kapan kami gantian kesana."
"Ayo Mas, ajak Alan. Sudah masuk waktu Maghrib."
Merekapun berwudhu, lalu mengerjakan ibadah secara berjamaah.
Setelah selesai, Keysha mempersilakan Alan untuk makan bersama. Walau dengan menu seadanya, ketiganya menikmati hidangan dengan lahap.
"Beruntung kamu Dit, bisa setiap hari menikmati masakan istri. Meski menu sederhana tapi sangat nikmat. Ternyata kamu pandai memasak ya Key?"
"Masak sederhana mah mudah Lan, jika masak yang rumit, aku belum mahir."
"Yang penting mau belajar, pasti semua bisa."
"Kamu pernah makan hasil masakan Devia Lan?" tanya Radit.
"Bersyukurnya, belum. Ntah kapan kami bisa hidup bersama seperti kalian. Sepertinya makin jauh, Devia terus memperpanjang kontrak kerjanya."
Radit dan Keysha terdiam, mereka iba, tapi tidak bisa berbuat apapun untuk menolong sahabatnya.
__ADS_1
"Aku punya ide, coba kamu pura-pura sakit Lan, apakah Devia akan pulang atau malah mementingkan pekerjaannya." ucap Radit.
"Aku nggak yakin, orangtuanya sakit, Devia tidak bisa pulang. Apalagi aku!"
"Jangan pesimis Lan, dicoba dulu. Devia tahu, jika kamu pindah ke Jakarta?" tanya Keysha.
Alan menggeleng, lalu berkata, "Belum, Devia tidak pernah menanyakan tentang pekerjaanku. Ya sudahlah, aku lebih baik diam."
Mereka sudah menyelesaikan acara makan bersama. Radit pun mengajak Alan ke teras rumah sambil memandang bulan purnama.
Sementara, Keysha membereskan meja, menyimpan sisa makanan dan mencuci peralatan makan.
Radit mendesah, dia teringat kembali dengan masalahnya, tapi untuk bercerita kepada Alan, dia belum siap.
"Kamu kenapa Dit, aku lihat sejak tadi gelisah, memangnya sedang ada masalah?"
"Ada Lan, kepalaku sakit. Bingung, bagaimana cara untuk mengatakannya.
"Jika memang ada masalah, aku siap mendengarkan. Inilah gunanya sahabat Dit, selalu ada jika teman sedang kesusahan."
"Masalah yang sama Lan, tentang anak! Mama mendesak Keysha agar berobat. Tapi ada rahasia yang lebih besar lagi, yang ingin aku minta pendapatmu. Nanti, kita bicara lagi Lan, nggak enak jika sampai kedengaran oleh Muti."
"Kenapa Keysha, tidak boleh mendengarnya Dit?"
"Sstt... itu Key datang!" ucap Radit.
Alan pun diam, lalu pura-pura melihat ke arah ponselnya.
"Apa yang kalian bicarakan Mas, sepertinya masalah serius?"
"Nggak kok Key, biasa cerita para pria!"
"Asal jangan cerita tentang wanita ya, ingat Mas! Kalian berdua sudah beristri," ucap Keysha sambil tertawa.
"Kamu bisa saja Key, kalau yang kami bicarakan tentang kalian para istri, memangnya boleh?"
"Tergantung! Asal jangan membicarakan kami yang buruk-buruk."
"Nggak kok Key, hanya sharing-sharing saja."
"Oh ya Mas, kita ajak Alan jalan-jalan yuk, mumpung di sini, besok dia sudah harus kembali dan entah kapan lagi kesini. Pasti bakal repot karena rumah sakit sudah mulai ramai."
"Iya kamu benar Key, bersiaplah, kami tunggu di sini."
"Sebentar ya Mas, Key ganti baju dan ambil tas."
Setelah Keysha pergi, Radit menarik nafas dalam, "Untung Key tidak curiga Lan!"
"Memangnya rahasia apa si Dit? Yang penting aku tidak mau jika sampa Kamu sakiti Keysha."
__ADS_1
Kembali Radit mendesah, lalu berkata, "Pasti hal ini akan menyakiti Dia Lan, makanya aku bingung. Nanti, jika ada waktu aku akan cerita sama kamu. Aku tidak mungkin menyimpannya terus. Aku harus cari jalan keluar untuk menyelesaikannya tanpa menyakiti Keysha."
Bersambung.....