
"Pergilah tidur Dit! Kamu butuh istirahat dan menenangkan pikiran."
"Iya Lan, Kamar mu yang itu ya. Kamu juga perlu istirahat, besok sore kamu sudah harus kembali ke Jakarta. Tugas kembali menanti. Aku pun mungkin akan kembali ke proyek."
"Baguslah, jangan terus larut dalam masalah. Bagaimana pun masalah yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Semoga bisa mendapatkan penyelesaian yang terbaik untuk semuanya."
Radit mengangguk, lalu pergi meninggalkan Alan yang masih berdiri di tempatnya. Alan menarik nafas dalam, sambil berkata dalam hati, kenapa cobaan rumah tangga mereka sama-sama berat.
Alan kasihan melihat kedua sahabatnya, hati Keysha bakalan hancur, seandainya dia tahu, apa yang saat ini sedang mengancam rumah tangganya.
Kebahagiaan yang selama ini Keysha rasakan sirna dalam sekejap dan kepercayaan terhadap cinta Radit juga ikutan terkoyak.
Alan kembali mendesah, lalu berbalik menuju kamarnya. Malam ini diapun sulit tidur, Alan ikut memikirkan nasib rumahtangga kedua sahabatnya itu.
Menjelang dini hari Alan terlelap dan terbangun saat panggilan ibadah, sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Alan bangkit dan mandi, lalu melaksanakan kewajibannya sebagai hamba, meski nggak ke masjid.
Setelah selesai, Alan keluar kamar dan dia berpapasan dengan Keysha yang hendak pergi ke dapur.
"Radit mana Key?"
"Dia tidur lagi Lan, setelah mengerjakan sholat. Entah kenapa, tadi malam dia tidak tidur, jadinya hari gini mengantuk."
"Oh, mungkin di proyek sedang ada masalah Key?"
"Iya sih, itu juga yang Mas Radit katakan."
"Biarkanlah dia tidur, aku akan jogging keliling rumah ya," pamit Alan.
Keysha pun mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Sementara, Alan menuju halaman, menghirup udara pagi yang segar sambil berlari-lari kecil.
Pagi ini begitu cerah, dengan sinar mentari yang mulai muncul di ufuk timur. Keysha segera membangunkan Radit agar segera mandi dan pergi mencari Alan untuk mengajaknya sarapan bersama.
Radit mandi setelah itu diapun pergi keluar mencari Alan yang ternyata sedang ngobrol dengan para tetangganya yang sama sedang jogging.
Radit menghampiri Alan, "Lan, Key meminta kamu pulang karena dia telah menyiapkan sarapan, sebentar lagi dia akan ke kampus."
"Oh, baiklah Dit. Ayo Bapak, Mas, kami duluan ya," pamit Alan.
"Kami duluan ya Pak," timpal Radit.
__ADS_1
Keduanya pun bergegas masuk ke dalam rumah, benar saja Keysha telah menyajikan sarapan dengan menu sempurna.
"Jogging kemana saja Lan?"
"Sekitar rumah dan ngobrol dengan para tetangga kalian Key. Mereka ternyata ramah-ramah ya."
"Iya, syukurnya tetangga kami baik semua. Ayo kita sarapan dulu, aku mau lanjut ke kampus."
"Kamu di antar Radit 'kan Key?"
"Lan, aku bisa minta tolong untuk mengantar Keysha! Soalnya aku harus ke rumah Mama. Tadi Mama telepon, beliau minta antar ke rumah sakit, papa 'kan sedang berada di proyek. Kamu pakai mobilku saja, aku biar naik taksi. Nanti baru pakai mobil Papa untuk membawa Mama ke rumah sakit. Bisa 'kan Lan? Dan kamu nggak masalah kan Key, jika Alan yang mengantar."
"Key naik taksi saja Kak, biar nggak merepotkan Alan. Dia tamu malah diminta jadi sopir."
"Nggak apa-apa lho Key! lagipula, pulang dari ngantar kamu aku bisa singgah ke Mall. Teman-teman ku kemaren telepon, ngingetin agar jangan lupa membelikan mereka oleh-oleh."
"Oh, ya sudah kalau tidak merepotkan kamu."
"Terimakasih ya Lan, ayo tambah sarapan Lan! Enakkan masakan Keysha?"
"Iya dong, kita 'kan tahu sejak dulu masakan Keysha memang enak. Untung, kamu Dit yang mengejar dia, kalau orang lain pasti akan aku tikung," ucap Alan sambil tertawa.
Alan bercanda, tapi dibalik candaannya itu memang tersimpan sebuah kenyataan yang bertahun dia pendam.
"Iya kamu benar Yang."
Selama makan, Radit lebih banyak diam. Malah Alan yang banyak ngobrol dengan Keysha seputar kampus.
Radit benar-benar stres, dia menduga sang Mama memintanya datang, pasti karena ingin mendapatkan keputusan dari masalahnya.
Tapi, Radit terpaksa berbohong kepada Keysha bahwa sang mama minta diantar ke rumah sakit.
Melihat sikap diam dan murung Radit, Alan menduga jika sahabatnya itu pasti berbohong.
"Mas, kenapa sejak tadi murung saja? Memangnya ada masalah apa sih di proyek? Cerita dong, masalah itu jangan dipendam sendiri, nanti Mas stres. Kalau Mas struk, siapa juga yang sudah dan rugi? Benar 'kan Lan?"
"I-iya. Keysha benar Dit. Berbagi masalah mungkin akan memperingan hati dan pikiranmu."
Radit menatap Alan, lalu dia berkata, "Nanti, saat ini aku belum bisa cerita Key."
"Oh, ya sudah jika Mas Radit belum siap. Kita berangkat sekarang ya Mas, nanti aku terlambat. Aku pesankan taksi buat Mas Radit dulu, sambil kita bersiap."
__ADS_1
"Gitu juga bagus Key. Pergilah kamu bersiap, kami tunggu di sini."
Keysha mengangguk, lalu dia bergegas ke kamar untuk mengambil tas dan sepatunya.
Setelah itu mereka pun siap berangkat. Taksi yang Keysha pesan juga sudah menunggu di luar.
Radit naik setelah pamit dengan Alan dan Keysha, lalu Alan pun segera melajukan mobil Radit ke kampus di mana Keysha mengajar.
Sesampainya di parkiran, teman-teman Keysha yang kebetulan masih single, merasa penasaran dengan Alan. Pria tampan yang selama ini belum pernah mereka lihat mengantar Keysha.
"Wah, siapa ini Bu Keysha? boleh dong dikenalin?"
"Oh, ini teman saat SMA. Kebetulan, Alan baru datang dari Jakarta dan nanti sore mau balik, jadi dia ingin membeli oleh-oleh untuk para sahabatnya. Sekalian deh, aku numpang, soalnya Mas Radit sedang ada keperluan darurat jadi tidak bisa mengantar."
"Boleh juga di kenalin temannya Bu, barangkali bisa kecantol dengan salah satu dari kami."
"Nggak boleh, Alan sudah menikah, dan kalian mau tahu siapa istrinya? Pasti kalian mengenalnya!" Memangnya siapa Bu?"
"Artis yang namanya sedang naik daun. Model yang menjadi brand ambassador perusahaan parfum terkenal."
"Ha...Mbak Devia Anggie? Serius? Pantaslah keduanya serasi, cantik dan tampan."
"Kapan ya kami bisa bertemu langsung dengan Mbak Devia? Beruntung sekali nasibnya, sudah cantik, terkenal dan ternyata suaminya tampan banget. Kami jadi iri nih Mbak."
Alan hanya tersenyum, mereka melihat kebahagiaannya cuma dari luar saja. Dan seandainya mereka tahu, betapa tidak beruntungnya nasib pernikahan Alan, mungkin kekaguman mereka terhadap Devia akan memudar.
"Oh ya, kenalan saja boleh kan Mas, mana tahu suatu saat Mas Alan ini bisa membawa kami untuk bertemu Mbak Devia. Jadi kami tidak harus berdesak-desakan untuk meminta tandatangan beliau."
"Oh, dengan senang hati."
Alan pun mengulurkan tangan lalu di sambut uluran tangan oleh kedua rekan Keysha.
"Terimakasih ya Mas."
"Terimakasih ya Lan, sudah mengantarku, aku masuk kelas dulu."
"Oke Key, nanti pulangnya bagaimana, apa mau aku jemput?"
"Lihat nanti saja Lan, jika Mas Radit pulang cepat, biar Mas Radit saja. Aku nggak enak sama kamu, masa iya tamu jadi sopir pribadiku."
Alan pun tertawa, lalu diapun pamit kepada Keysha dan kedua temannya. Setelah Alan hilang dari pandangan mata, Keysha pun masuk ke ruangan dosen bersama yang lain.
__ADS_1
bersambung.....