
Alan kembali ke Jakarta setelah pamit dengan Radit dan Alan juga menelepon Keysha, dia memberikan semangat agar Key jangan terpuruk karena masalahnya.
Sebenarnya Alan tidak tega, tapi tugas kemanusiaan telah menantinya. Para sahabatnya juga terus menelepon agar Alan segera pulang.
Bahkan ada beberapa orang pasien yang tidak mau ditangani dokter lain. Mereka ingin proses melahirkan di tangani oleh dokter tampan pujaan mereka.
Alan sudah tiba di Jakarta, dia tidak menduga jika Devia bersama kedua orangtuanya datang dan sekarang mereka sedang menginap di hotel.
Pesan masuk dari Devia baru saja terbaca oleh Alan, saat dia hendak memberi kabar ke Radit dan Keysha jika dirinya sudah tiba di Jakarta.
Sikap Devia yang tidak juga berubah membuat Alan malas untuk menemui mereka.
Bagi Alan, ada atau tidak ada Devia di dekatnya berasa sama saja. Yang ada hanya sikap dingin, egois dan akhirnya membuat mereka bertengkar.
Alan merasa lelah, harus terus menutupi keadaan rumah tangga mereka dari kedua orangtua.
Ayah, ibu yang menginginkan cucu terus saja bertanya, kapan, kapan dan kapan. hingga membuatnya merasa
tertekan.
"Hei, melamun saja! Itu pasienmu menunggu! dalam beberapa hari ini, dia terus saja datang dan menanyakan dirimu kapan pulang."
"Memangnya kamu berjanji apa sih sama dia, hingga setia banget menantimu pulang? padahal perutnya sejak kemaren sudah sakit, bahkan mengeluarkan tanda."
"Pegang wajahku!" ucap Alan seenaknya.
"Pede banget lu!"
"Serius! dia mau anaknya lahir mirip aku, tampan, baik dan pintar, itu katanya," ucap Alan sambil tertawa.
"Preet..."
"Nggak percaya ya sudah, ayo ikut aku!" ajak Alan sambil berjalan ke arah ruangannya.
"Hei tunggu! Ada lagi yang belum aku sampaikan. Artis cantikmu kemaren datang, dia tanya kamu kemana?"
"Lantas, kamu jawab apa?"
"Ya, aku jawab ke rumah istri muda."
"Dasar, biang kerok! bakal perang dunia ke tiga."
"Biar saja Lan, biar dia mikir. Jangan dikira seorang Alan tidak bisa cari wanita lain. Sekali-kali beri istrimu pelajaran, jangan mengalah terus Lan. Ingat usia! Mau sampai kapan kamu seperti ini terus. Punya istri tapi jomblo."
__ADS_1
"Ah, sudahlah! Aku mau layani pasien dulu."
Belum sempat Alan masuk ke ruangannya, seorang perawat datang memberitahu jika Devia menunggu Alan di bagian pelayanan.
"Terimakasih Sus, saya akan kesana."
Alan menemui Devia, dia ingin tahu kenapa istrinya itu datang ke Jakarta, padahal jadwal kepulangannya masih lama.
"Hemm, tumben bisa pulang!"
"Jadi, nggak boleh aku pulang! Rupanya kamu senang ya, jika aku nggak pulang-pulang?"
"Itu kan mau mu Dev, bukan keinginanku. Aku bosan kita bertengkar tentang masalah ini terus. Sekarang aku sibuk, kalau tidak ada yang penting sebaiknya kita bertemu nanti malam saja, sekalian aku ingin bertemu ayah dan ibu."
"Oh, jadi kamu mengusirku? Apa memang sudah ada wanita lain! Jadi kamu bersikap seperti ini!"
"Terserah kamu mau berpikir apa! Aku bosan hidup seperti ini terus. Beristri tapi seperti duda," ucap Alan.
Alan pun berbalik pergi meninggalkan Devia. Dia malas bertengkar yang hanya akan mempermalukan citranya di sana.
"Tunggu Kak! ayah dan ibu ingin bertemu saat jam makan siang!"
"Maaf Dev, aku nggak bisa! Aku sibuk, nanti malam baru aku temui mereka," ucap Alan sambil terus berjalan meninggalkan Devia.
Sambil beristirahat, Alan menghubungi Keysha, dia ingin menanyakan tentang kondisinya.
Ternyata Keysha belum pulih, tubuhnya masih lemah dan dia mengambil cuti agar bisa beristirahat serta menenangkan diri.
Seminggu telah berlalu, Radit terus saja uring-uringan, dia stres setelah pisah dari Keysha. Bahkan untuk bekerja saja, Radit tidak memiliki semangat.
Papa Radit sudah pulang ke rumah dan sesuai rencana setelah beliau sembuh, pernikahan Radit dan Meli akan dilangsungkan.
Radit menyerahkan semua urusan pernikahan kepada Papa mamanya. Dia sudah pasrah dengan takdir hidupnya.
Harapan terakhit Radit sebelum dia menikah dengan Meli adalah bertemu dan memastikan, jika Keysha saat ini baik-baik saja.
Sementara untuk bertanya kepada mantan mertuanya, diapun ragu, karena keluarga Keysha sepertinya belum tahu, jika dia dan Key sudah bercerai.
Radit sudah mendatangi tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi, tapi hasilnya nihil. Dan Radit datang juga ke kampus, tapi diapun kecewa, Keysha cuti selama dua minggu dan rekan kerjanya juga tidak ada yang tahu kemana Keysha pergi.
Radit akhirnya putuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya, dia ingin meminta penundaan pernikahan sampai dirinya bisa menemukan Keysha.
Kebetulan malam ini Radit pulang dengan naik ojek online karena mobilnya rusak dan sedang di bengkel.
__ADS_1
Saat dia masuk, Radit mendengar tawa Papa Mamanya di telepon yang mengatakan jika rencana mereka berhasil.
Radit merasa penasaran, sebenarnya rencana apa yang papa mamanya maksud.
Setelah mendengarkan beberapa saat, Radit baru paham, jika malam itu dirinya sengaja dijebak, hingga terjadilah hal yang sama sekali bukan keinginannya.
Amarah Radit memuncak, tapi dia berusaha menekannya. Radit masuk sambil berkata, "Aku tidak pernah menyangka, kalian tega melakukan ini terhadap anak sendiri."
Papa mama pun sangat terkejut saat melihat Radit tiba-tiba masuk.
"Nak, kenapa kamu bilang seperti itu, memangnya apa yang kami lakukan? Kamu pasti salah dengar," ucap Mama yang mendekati Radit.
"Pa, Ma...sudahlah! semuanya sudah jelas, semua sudah kalian atur. Aku cuma wayang, kalian semua sekongkol sebagai dalang. Mama, Papa, Meli dan orangtuanya, dalang dari perceraianku."
"Selamat Ma, Pa...rencana kalian berhasil! Sekarang puaskan, melihat rumah tanggaku hancur!"
"Dengar Dit, kamu salah paham," ucap Papa.
"Tidak ada yang perlu aku dengar lagi, semua sudah hancur. Mulai hari ini, aku mundur dari perusahaan dan aku tidak akan pernah menikahi Meli!"
Setelah mengatakan hal itu, Radit pun pergi, dia tidak peduli sang mama memohon agar dirinya tidak keluar dari perusahaan.
Radit memanggil taksi, lalu diapun pergi ke tempat kawan-kawannya biasa nongkrong.
Malam ini, Radit ingin melupakan semua masalah. Dia pergi ke cafe mencari hiburan.
Walaupun pikirannya sedang ruwet, tapi Radit masih sadar. Dan saat temannya menawarkan minuman, diapun menolak.
Radit mendengarkan musik serta lagu-lagu kesukaannya, saat dulu bersama Keysha.
Kini pikiran Radit hanya tertuju pada Keysha dan dia harus segera menemukannya.
Besok, Radit akan membayar orang untuk membantu mencari Keysha.
Radit ingin menjelaskan semuanya, dia ingin Keysha memaafkan dan berharap bisa kembali.
Malam semakin larut, tapi Radit tidak berkeinginan untuk kembali. Akhirnya, diapun memutuskan, ikut dengan temannya pulang ke apartemen.
Meski hatinya masih resah karena memikirkan Keysha, setidaknya beban hatinya sudah berkurang.
Masalah tanggungjawab sebagai anak, untuk menyelamatkan perusahaan sang papa, tidak membelenggunya lagi.
Bersambung.....
__ADS_1