
"Hallo Key, apa kabar?" sapa Alan.
Key sejenak menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan sebelum menjawab sapaan Alan.
Lalu, Keysha menghapus air mata dan mengelap cairan bening yang keluar dari hidungnya akibat menangis. Setelah tenang barulah dia menjawab, "Ya, Hallo Lan, aku baik kok, aku harap keadaanmu juga baik."
"Harus, besok aku berangkat Key, kalian harus menungguku ditempat biasa ya. Kemungkinan, jam makan siang aku sudah sampai jika tidak ada halangan penerbangan," ucap Alan.
"Tapi Lan, aku tidak bisa datang ke sana!"
"Lho, memangnya kenapa Key? Kamu sakit? Aku dengar suara kamu beda dari biasanya atau kamu sedang ada masalah Key?"
Keysha terdiam, dia ragu, apakah harus mengatakan atau tidak, kenapa dirinya menelepon.
"Key, kenapa diam? Aku tahu, kamu pasti habis menangis, bicaralah Key, jika memang ada masalah, barangkali aku bisa membantu," ucap Alan.
Alan gusar menunggu jawaban dari Keysha, biasanya jika Keysha bersikap seperti ini, dia sedang menghadapi masalah yang berat.
"Aku malu Lan, aku sering menyusahkan mu, tapi aku juga bingung harus minta tolong kepada siapa lagi."
"Sebenarnya ada masalah apa Key, ceritalah! barangkali aku bisa membantu," ucap Alan.
"Ayah Lan, Ayahku sakit keras dan lusa harus segera di operasi. Sementara biayanya sangat besar. Ibu memintaku untuk menjual rumah, tapi kan tidak segampang dan nggak mungkin bisa secepatnya laku," ucap Keysha.
"Memangnya butuh dana berapa Key?"
Kata Dokter sekitar 120 juta, ada tumor ganas di bagian dalam kepala ayahku dan jantungnya juga bermasalah.
Alan terdiam, dia punya tabungan tapi tidak sebanyak itu, karena dia baru memakai uangnya untuk membeli alat-alat kedokteran dan membayar sewa tempat.
Rencananya, selain bekerja di rumah sakit, Alan akan membuka praktek sendiri, dia bekerja sama dengan dokter yang sudah berpengalaman di bidangnya.
__ADS_1
Tidak mendengar suara Alan menjawab, membuat harapan Keysha sirna, diapun merasa tidak enak telah memberitahu Alan, barangkali saat ini bukan waktu yang tepat, dirinya berkeluh kesah kepada Alan.
"Kapan terakhir Key?" tanya Alan hingga membuat Keysha kembali bersemangat.
"Lusa! Dimana aku harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu satu hari Lan? Jika mencari pinjaman dengan agunan surat tanah juga tidak mungkin bisa cair cepat, lagipula tidak ada usaha yang bisa untuk jaminan."
"Aku ada, tapi masih kurang Key. Kalau kamu mau bersabar, hari ini aku akan coba cari pinjaman untuk kekurangannya. Masalah dapat atau tidaknya, besok aku beri kamu kabar. Berapapun uang yang ada, besok aku transfer ke kamu Key. Saat ini yang ada baru sekitar 80 juta."
"Terimakasih Lan, Aku tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa. Maafkan aku ya Lan, jika aku sering menyusahkan mu," ucap Keysha.
"Nggak apa-apa Key, itulah gunanya teman. Selagi aku ada, apa salahnya membantu teman yang sedang membutuhkan," ucap Alan.
"Sekali lagi terimakasih ya Lan, aku akan segera memberitahukan pihak rumah sakit, barangkali uang dari kamu besok bisa untuk panjar dan kekurangannya nanti aku juga akan coba mencari pinjaman ke tempat lain, barangkali tetangga bisa membantu dengan jaminan sertifikat rumah."
"Atau aku transfer sekarang berapa yang ada Key?"
"Nggak usah Lan, besok saja."
"Baiklah Key, besok pagi sebelum ke bandara aku transfer ya, nomor rekening masih yang biasa kan?"
"Key, sudah aku bilang berulang kali, jangan kamu pikirkan masalah uang ku, aku ikhlas. Setiap aku menolong kamu, uangku bahkan kembali lebih, Key. Ada saja rezeki yang datang. Alhamdulillah para tetangga serta rekan-rekan kerja Ayah sudah banyak yang percaya dengan kemampuan ku. Mereka memilih datang ke rumah untuk berkonsultasi dan berobat baik masalah kandungan maupun penyakit lain yang umum, ketimbang mereka pergi ke rumah sakit."
"Selamat ya Lan, semoga karirmu semakin sukses ke depannya."
"Aamiin," jawab Alan.
"Sekarang kamu jangan bersedih lagi ya Key, keluarga terutama ibu saat ini membutuhkan kekuatanmu. Kamu share alamat, besok dari bandara aku langsung menuju rumah sakit."
"Oh Ya Key, Radit bagaimana? Apa dia sudah di sana bersamamu?" tanya Alan yang kembali teringat Radit.
"Sedang dalam perjalanan Lan, sekali lagi aku mohon jangan beritahu Radit ya, jika aku meminta bantuan kamu. Aku tidak mau dia bermusuhan terus dengan keluarganya gara-gara aku."
__ADS_1
"Jadi, bagaimana dengan hubungan kalian Key? Radit bilang dia telah melamar kamu, tapi belum resmi lamaran keluarga," tanya Alan.
"Iya, tapi aku punya syarat. Jika orangtuanya setuju, baru aku mau melanjutkan ke pernikahan. Tapi, jika tidak, mungkin lebih baik kami hanya berteman saja. Aku tidak mau menjadi pemisah antara anak dengan orangtua."
"Oh, gitu ya Key. Semoga saja orangtua Radit segera menyetujui hubungan kalian," ucap Alan.
Sebenarnya Alan mendapatkan angin segar mendengar cerita Keysha. Alan jadi memiliki harapan untuk menunggu gadis impiannya itu.
Kalau memang Radit dan Keysha tidak jadi menikah, mungkin Alan akan berkesempatan untuk mengutarakan cintanya.
Namun, saat ini Alan tetap menginginkan kebahagiaan untuk Keysha. Kalau Radit memang sumber kebahagiaan gadis itu, dia tidak akan merusaknya.
Keysha pamit kepada Alan untuk menutup panggilan, lalu dia bergegas menuju tempat pelayanan pasien. Keysha ingin mengurus administrasi pelaksanaan operasi.
Hari ini, Keysha akan memberi panjar dengan uang yang dia miliki dan besok baru akan menyetorkan uang dari Alan.
Tapi, begitu Keysha bertanya kepada bagian pelayanan pasien, dia terkejut, saat mereka mengatakan jika biaya operasi sudah dibayar lunas. Dan mereka menunjukkan bukti pelunasannya kepada Keysha.
Keysha melihat nama Radit tertera di sana, lalu diapun bergegas pergi untuk mencari keberadaan Radit.
Radit saat ini sedang bersama ibu. Ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi Radit bisa cepat membaur dengan keluarga Keysha.
Bahkan dia sudah mengutarakan maksudnya, besok akan menikahi Keysha di depan sang Ayah, sebelum operasi dilakukan.
Ibu meminta izin kepada Dokter untuk bertemu ayah sebentar, guna memberitahukan kabar bahagia tersebut.
Ayah yang tadinya sudah kehilangan harapan, menjadi bersemangat, dua kabar gembira telah membuat keinginan ayah untuk sembuh bangkit kembali.
Beliau ikhlas dengan apapun yang bakal terjadi. Jika memang harus pergi meninggalkan dunia ini di meja operasi, setidaknya ayah pergi dengan tenang, karena telah melihat anak gadisnya menikah dan memiliki suami yang mampu mendukung putrinya untuk menopang kebutuhan adik-adiknya yang masih membutuhkan dukungan.
Ayah meminta ibu untuk memanggil Radit, beliau ingin berbicara empat mata dengan calon menantunya itu.
__ADS_1
Radit pun masuk dengan izin Dokter dan saat itu Keysha pun datang, menghampiri sang ibu yang duduk sambil menyuap sepotong roti.
Keysha senang melihat ibunya sudah mau makan, setidaknya ada pengganjal perut, walau hanya sepotong roti.