
Setelah pernikahan Radit dan Keysha, Alan kini menyibukkan diri, fokus terhadap karirnya. Dia tidak bisa larut dengan perasaannya.
Alan sudah berhasil mendirikan kliniknya sendiri, dia bekerjasama dengan beberapa orang rekannya.
Melihat sang anak hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja saja, orantua Alan merasa sangat khawatir, mereka ingin Alan menikah secepatnya.
Alan berusaha menolak dengan alasan belum siap karena masih harus berkarir, tapi orangtuanya meminta untuk berkenalan dulu sambil melakukan penjajakan.
Hal itu membuat Alan terpaksa datang menemui gadis yang orangtuanya pilihkan daripada setiap hari dia harus mendengar omelan dari sang ibu.
Hari ini Alan berkunjung ke rumah Datuk Bachtiar rekan ayahnya untuk menemui Devia Anggie.
Devia Anggie adalah seorang artis terkenal yang namanya meroket sebagai ambasador produk kecantikan terkenal.
Saat ini Devia baru saja kembali dari keliling negara-negara Asia untuk mempromosikan produk kliennya.
Kegiatan Devia sangat padat, tapi karena permintaan orangtuanya, diapun segera pulang meski hanya sehari.
Saat Alan tiba di rumah Datuk Bachtiar, Nyonya Ana menyambutnya dengan gembira, setidaknya langkah awal mereka untuk mempertemukan Alan dengan Devia berhasil.
"Masuk Nak! Sebentar ya biar saya panggilkan Devia, dia sedang bermain tenis bersama ayahnya.
Alan pun duduk sambil memainkan ponselnya, entah mengapa saat ini dia rindu untuk bertemu Keysha.
Hal ini sudah berusaha Alan tepis dari akal pikirannya, tapi wajah wanita yang spesial di hatinya itu seringkali muncul.
Rindu, tapi rindu yang terlarang.
"Hei, kamu yang namanya Dokter Alan?" tanya Devia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Alan dengan peluh yang masih menetes.
"Eh, kamu! Iya aku Alan," ucap Alan sembari mengulurkan tangan.
"Aku Devia, putri satu-satunya keluarga ini. Oh ya, aku dengar kamu seorang Dokter dan sudah memiliki klinik sendiri. Kamu hebat! Masih muda sudah bersinar di karir," ucap Anggie.
"Kamu bisa saja. Oh ya kapan kamu kembali syuting, bukankah menurut mereka kamu jarang di rumah!" tanya Alan.
"Iya, besok aku sudah harus terbang lagi, tugas syuting selanjutnya telah menantiku," jawab Devia
Saat mereka mulai akrab, Datuk beserta istrinya datang menghampiri keduanya.
"Devia! Kenapa tidak kamu suguhkan minuman atau makanan buat Alan?" tanya Datuk.
__ADS_1
"Eh iya, sebentar biar Devia panggilkan budak untuk membawakannya kesini," ucapnya.
"Begitulah anak gadis sekarang, mohon dimaklumi ya Nak Alan. Apalagi Devia terbiasa hidup dilayani dalam karirnya," ucap Datuk.
"Bagaimana pekerjaanmu Nak Alan, apa klinik berjalan sesuai harapan?" tanya Nyonya Ana.
"Alhamdulillah Bu, semua lancar seperti yang Saya harapkan."
"Bagaimana dengan tawaran kami Nak Alan, apa sudah kamu pertimbangkan?" tanya Datuk.
"Tawaran yang mana ya Datuk? maklum belakang Saya repot jadi pikiran rada ngebleng," jawab Alan yang pura-pura lupa.
"Tentang dua tawaran kami, menikahlah dengan putri kami dan kelolalah rumah sakit. Kami sudah semakin Tua Nak Alan, jadi sudah sewajarnya yang muda yang berkarir."
Alan masih bingung mau menjawab apa, untung saja Devia datang bersama budak dengan membawa cemilan dan minuman yang Ayah minta.
"Silakan dinikmati Nak Alan, mumpung masih hangat," ucap Datuk.
"Terimakasih Datuk," ucap Alan sembari meneguk teh nya.
"Oh ya Nak, sembari menikmati suguhan, kita lanjutkan obrolan tadi, mumpung ada Devia di sini karena ntah kapan lagi kalian bisa bertemu," ucap Datuk.
"Tentang apa Ayah?" tanya Devia Anggie.
"Terserah saja, jika Dokter Alan setuju, aku bersedia, tapi dengan syarat aku masih ingin berkarir. Sayang lho Yah, kontrakku masih ada 6 bulan lagi keliling Asia."
"Bagaimana Nak Alan?" tanya Datuk.
"Beri Saya waktu untuk memikirkannya malam ini Datuk, besok akan Saya beri kabar," jawab Alan.
"Ya sudah kalau begitu, kami tunggu keputusan Nak Alan. Silahkan kalian ngobrol lagi, biar lebih saling mengenal," ucap Datuk.
Setelah Datuk dan sang istri kembali ke dalam, Alan dan Devia pun kembali ngobrol. Sikap Devia yang periang dan sedikit manja berhasil membuat suasana menjadi hangat dalam obrolan.
Keduanya saling bertukar nomor kontak saat Alan hendak pamit pulang.
Perkenalan Alan dan Devia hari ini, telah membuat kedua keluarga merasa senang dan memiliki harapan agar keduanya bisa segera menikah.
Setibanya di rumah, Alan langsung menuju kamar, tapi langkahnya terhenti saat ibu memanggilnya.
"Lan, Ibu mau ngomong sebentar."
__ADS_1
"Iya, ada apa Bu?" tanya Alan yang sudah di ambang pintu kamarnya.
"Bagaimana menurutmu dengan Nak Devia?"
"Bagaimana ya Bu, Devia teman yang asyik sih untuk ngobrol, tapi Alan memang belum siap untuk menikah terlalu cepat."
"Bukan terlalu cepat Lan, kamu yang sengaja menunda-nunda! Mau sampai kapan kamu seperti ini terus Kan?" tanya ibu.
"Baiklah Bu, kalau begitu atur saja pernikahannya, semua Alan serahkan kepada Ayah dan Ibu," ucap Alan yang malas berdebat lagi, dengan masalah yang sama.
"Oke Nak, kami akan mengaturnya. Apakah ada syarat khusus yang kamu minta?"
Alan cuma berharap keputusannya kali ini menjadi berkah. Dia tidak mau jika sampai orangtua menganggapnya sebagai anak durhaka yang tahunya hanya membantah orangtua saja.
"Sekarang ibu akan membicarakan hal ini kepada ayahmu, beliau pasti sangat senang," ucap ibu sembari melangkah meninggalkan Alan yang masih berdiri mematung.
Alan kembali ke kamar, lalu dia membuka ponselnya, ingin mencari jejak tentang Devia Anggie.
Nama Devia muncul sebagai seorang model sukses yang jauh dari terpaan gosip miring. Alan memperhatikan setiap sikap dan gaya gadis yang akan menjadi istrinya itu dari akun medsos.
Saat ini terpikir oleh Alan ingin mengabari sahabatnya, agar saat acara tiba mereka bisa meluangkan waktu untuk datang.
Namun, Alan mengurungkan niatnya ketika ada panggilan masuk dari Devia Anggie.
Alan menerima panggilan tersebut, lalu dia mendengar Devia mengajukan berbagai pertanyaan yang terpaksa Alan iyakan.
Salah satu pertanyaan tersebut adalah apakah Alan bersedia untuk menunda memiliki seorang anak, jika memang nanti mereka jadi menikah.
Alan yang tidak bersemangat dalam pernikahan tersebut hanya mengiyakan saja tanpa memikirkan dampak kedepannya.
Yang penting saat ini apa yang dia putuskan cukup untuk menyenangkan hati orangtuanya saja.
Setelah mendapatkan jawaban dari Alan, Devia pun menutup panggilan, dia akan menunda keberangkatan sampai mereka menikah.
Tapi justru syarat tidak ingin pernikahan mereka di ketahui secara umum datang dari Devia.
Devia tidak ingin karirnya hancur hanya karena berita pernikahannya.
Alan setuju, baginya hal itu malah lebih baik, karena dia juga belum siap jika para paparazi mengejarnya untuk mendapatkan berita tentang pernikahan yang pastinya akan menjadi konsumsi publik.
Setelah Devia selesai, Alan kemudian mengirim pesan ke Radit agar bersiap-siap untuk berangkat ke Malaysia bersama Key untuk menghadiri acara ijab qobulnya nanti.
__ADS_1
Mengenai tanggal pelaksanaannya akan Alan beritahukan segera.