
Keraguan ibu Alan terlambat, semua sudah diputuskan dan tidak mungkin untuknya meminta sang suami, membatalkan lamaran tersebut.
Akhirnya ibu cuma mampu berdoa dengan harapan putra tersayangnya akan hidup bahagia setelah menikah.
Setelah mendapatkan kesepakatan, orangtua Alan pun pamit, karena Devia juga harus bersiap untuk berangkat ke Australia.
Sementara Alan baru saja selesai melakukan operasi Caesar dan keduanya pun selamat.
Bayi mungil berhasil melihat dunia dan membawa kebahagiaan bagi keluarganya.
Sebagai wujud rasa syukur, keluarga sepakat akan memberi nama bayi mungil mereka, dengan nama Alan sebagai dokter yang membantu perjuangan sang ibu dalam melahirkan sang putra.
Alan ikut bahagia melihat kebahagiaan di wajah pasiennya. Tidak sia-sia pengorbanan yang dia lakukan, meninggalkan acara lamaran demi menyelamatkan bayi mungil itu.
Setelah membersihkan diri, Alan pun bergegas meninggalkan rumah sakit. Rencananya dia akan ke bandara, melepas kepergian calon istri untuk menebus kesalahannya yang tadi tidak bisa hadir dalam acara lamaran.
Sesampainya di bandara, Alan celingukan mencari keberadaan Devia, tapi belum terlihat.
Lalu Alan menunggu, barangkali Devia masih dalam perjalanan menuju bandara.
Ternyata tebakan Alan benar, dia melihat Devia turun dari dalam mobil dengan diantar oleh kedua orangtuanya.
Alan langsung menghampiri mereka dan mengulurkan tangan meminta maaf.
Datuk dan istri senang melihat kehadiran Alan, setidaknya mereka bisa melihat keseriusan dan rasa tanggungjawab calon menantunya.
Namun tidak dengan Devia, dia masih saja manyun, ngambek dengan Alan. Padahal Alan sudah menjelaskan alasan dirinya tidak datang bahkan tidak sempat telepon karena kondisi sangat darurat.
Alan hanya bisa mendesah, dia berusaha memaklumi sikap Devia. Datuk dan istri juga menegur Devia akan sikapnya.
Sebagai permohonan maaf, Alan berjanji kepada Devia, akan menjemputnya ke Australia, saat menjelang pernikahan mereka nanti.
Mendengar hal itu, barulah wajah Devia sumringah, lalu dia memeluk Alan dan mendaratkan ciuman di pipi Alan.
Alan yang tidak terbiasa dengan hal itu merasa risih dan dia malu terhadap calon mertua.
Tapi bagi Devia, berpelukan dan berciuman di depan umum sudah menjadi hal biasa baginya.
__ADS_1
Wajah Alan memerah, tapi dia tidak bisa menghindar. Alan akan memberikan arahan nanti saat dirinya bertemu lagi dengan Devia di Australia.
Alan bermaksud merubah kebiasaan Devia yang mengikuti budaya Barat dan setelah menikah Alan berharap Devia akan fokus dengan rumah tangga mereka saja.
Setelah pamit, Devia pun melambaikan tangan, pesawatnya sebentar lagi akan berangkat jadi Devia harus segera check in.
Alan mendekati orangtua Devia dan berkata, "Sekali lagi saya mohon maaf ya Datuk, tapi Saya janji akan menjemput Devia ke Australia menjelang pernikahan kami."
"Nggak apa-apa Nak Alan, kami paham kok dengan profesi Nak Alan. Dokter harus siap siaga, kapanpun pasien membutuhkan," ucap Datuk.
"Ayo kita pulang, Nak Alan ikut ke rumah 'kan?" tanya Datuk.
"Maaf Datuk, Saya langsung ke klinik karena ada beberapa pasien sedang menunggu untuk check up bulanan kehamilan mereka."
"Oh, baiklah Nak! Kalau begitu, kami duluan ya, hati-hati di jalan."
"Iya Datuk. Datuk dan Ibu juga harus hati-hati," ucap Alan.
Merekapun pulang ke tujuan masing-masing. Alan sudah tiba di klinik dan dia mendapatkan telepon dari Radit.
"Maaf Dit, bener lho aku sedang repot. Tadi saja di acara lamaran, aku tidak bisa hadir karena harus menangani operasi melahirkan yang kondisinya begitu darurat."
"Alan... Alan, sungguh setia kamu dengan profesimu hingga urusan pribadi yang begitu penting pun tidak bisa kamu hadir."
"Nyawa sobat, nyawa! Menyelamatkan mereka lebih utama dari apapun meski hidupku sendiri."
"Salut aku Lan. Oh ya, jadi kapan pernikahan mu akan diadakan?"
"Dua minggu lagi Dit, datang kalian ya! Awas jika tidak hadir!" ancam Alan.
"Siap, kami pasti datang," janji Radit.
"Tapi ingat, ambil cuti secepatnya, jangan sampai kamu meninggalkan akad nikah demi pasien," ucap Radit.
"Hahaha..." Alan pun tertawa, dia memang sudah berencana, lusa akan mengajukan surat cuti, di mulai minggu depan hingga seminggu setelah acara pernikahan. Jadi, Alan bisa memiliki waktu untuk bersama Devia sebelum kesibukan menyita waktu mereka masing-masing.
"Jangan tertawa! Dengarkan kata fakar rumah tangga ini!" ucap Radit.
__ADS_1
Alan makin tertawa mendengar Radit mengatakan jika dirinya sudah menjadi fakar dalam rumahtangga.
Kemudian Alan berkata lagi, "Mana Keysha, boleh dong aku bicara dengannya?"
"Oh tidak! Key hanya milikku! tidak boleh ada yang menyita waktunya selain aku!" ucap Radit sambil tersenyum dibalik ponselnya.
"Ah, gawat. Pernikahan membuatmu menjadi seorang diktator, kasihan aku melihat Key. Jika tahu begini, lebih bagus saat dulu, aku yang melamar Key duluan!" ucap Alan yang bermaksud mencandai sahabatnya.
"Hah...berani kamu berhadapan dan bersaing denganku! Radit... siap bertempur jika ada yang mencoba menghalangi cintanya!" ucap Radit yang hampir meledak tawanya.
"Siapa takut! Demi kebahagiaan Key, apapun bisa aku lakukan, termasuk berperang melawan mu!" jawab Alan serius.
"Sekarang bagaimana! Masih beranikah?" tanya Radit yang memang menganggap sahabatnya bercanda.
"Tergantung Key, jika Key meminta bantuanku, aku siap kapanpun untuk melawan mu, bahkan mengambil Key darimu!" ucap Alan lagi.
"Ah...ampun Lan, ampun! untuk yang satu ini aku menyerah! Jangan ambil Key dariku! Aku bisa mati Lan, jika kehilangan Keysha. Dia cintaku, dia kebahagiaan ku sampai kapanpun!" ucap Radit serius.
"Jika begitu, bahagiakan dia! Jangan sekali-kali kamu sakiti Key! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti sahabatku, meski kamu suaminya!" ucap Alan.
"Siap Bos!" ucap Radit tanpa merasa curiga sedikitpun terhadap ucapan-ucapan Alan yang baginya hanya candaan.
Sebenarnya semua perkataan Alan mengandung kebenaran dari dalam hatinya. Dia tidak ikhlas, jika ada yang menyakiti Key, meski itu Radit.
Sudah cukup pengorbanan Alan selama ini, dia rela tidak memperjuangkan cinta dan kebahagiaannya sendiri demi Radit sahabatnya.
Jadi, apabila sampai Alan tahu jika kehidupan Key di sia-sia hingga tidak bahagia, Alan berjanji akan berjuang untuk mendapatkan Key. Karena Alan yakin, dirinya mampu untuk membahagiakan Keysha dengan cinta yang dia miliki.
Radit yang tidak lagi mendengar suara Alan, berkata, "Hai calon pengantin! Kenapa kamu diam! tagihan pulsaku berjalan terus nih, kamu pikir aku pengusaha pulsa, hingga gratis!" ucap Radit, hingga membuat Alan terbangun dari angannya.
Kemudian Alan menjawab, "Baru berapa sih nilainya? perhitungan banget dengan teman. Nanti, aku ganti 10 kali lipat jika aku jadi CEO perusahaan telekomunikasi!" jawab Alan.
Kedua sahabat itupun tertawa, dan Radit menjawab, "Aku jamin, jika ada tawaran menjadi CEO, sampai matipun kamu tidak akan melepaskan gelar dokter mu!" ucap Radit.
Kemudian Radit berkata lagi, "Kamu beruntung ketimbang aku Lan. Kamu berhasil mewujudkan mimpi yang sejak kecil telah menjadi cita-cita kita berdua."
"Bersyukur lah Dit, kamu juga mendapatkan cinta yang kamu idamkan. Jadi, kita jangan mengeluh, tetap semangat menggapai bahagia di masa depan," ucap Alan, berusaha bijak menyikapi takdir hidup mereka masing-masing.
__ADS_1