ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 37. DITUDUH MENCURI


__ADS_3

"Bagaimana Sayang? Apa ada yang hilang?" tanya Mama Melanie.


"Ma, ponselku kok tidak ada di tas! Pasti dia yang sengaja menyembunyikan!" tuduh Melanie.


"Enak saja, menuduhku! Tas itu tidak ada aku buka sedikitpun hingga sampai di sini! ucap Keysha.


"Aku nggak mau tahu, kamu harus ganti atau aku akan bawa ke jalur hukum. Kamu tahu harga ponsel itu berapa?


Gaji kamu 5 bulan jadi dosen belum cukup untuk menggantinya!" ucap Melanie dengan sombong.


"Ngak baik seperti itu lho Nak, dia istri Radit dan menantu Tuan Arzen, kamu akan mempermalukan mereka dengan membawanya ke polisi," ucap Mama Melanie yang berpura-pura baik.


"Aku nggak mau tahu Ma! Jika malam ini ponselku tidak kembali, biar dia mendekam di kantor polisi."


"Kalian jangan seenaknya menuduh! Sebentar aku telepon Mama dulu," ucap Keysha.


Keysha segera menelepon Mama Radit, tapi ponselnya tidak aktif lalu dia memberanikan diri menelepon Papa Arzen, hasilnya juga sama. Keduanya tidak bisa dihubungi.


Melanie dan Mamanya tersenyum, rencana mereka untuk membawa Keysha ke kantor polisi bakal berhasil.


"Cepat, kembalikan ponselku! Dasar gembel, ya tetap gembel, pantang lihat barang bermerek, langsung kelihatan sifat aslinya. Mental pencuri!" ucap Melanie.


"Jaga mulutmu Melanie! Kamu telah menuduhku tanpa bukti. Aku bisa menuntut balik, kamu telah mencemarkan nama baikku!" ucap Keysha.


Saat Keysha sedang berdebat dengan Melanie, ponselnya berdering. Dia melihat panggilan masuk dari Mama Radit.


Keysha senang, semua akan jelas jika di dalam tas tersebut tidak ada ponsel yang Melanie maksud.


"Hallo Ma, maaf mengganggu. Ini lho Ma, Melanie menuduhku mencuri ponselnya. Dia bilang ponsel tersebut ada di dalam tas, sementara aku sejak berangkat dan hingga sampai di sini tidak membuka tasnya sama sekali. Aku tidak terima di tuduh sebagai pencuri, syukur saja aku mau mengantarkan tas ini!" ucap Keysha.


"Mama nggak tahu lho Key, apa di dalamnya ada ponsel atau tidak. Mama tidak membuka tas itu sebelum memintamu untuk mengantarkannya."


"Nah! Mertua kamu saja tidak tahu, ya sudah ayo kita ke kantor polisi. Kamu harus jelaskan di sana!" ucap Mama caroline.


Mama Radit yang mendengar hal itupun pura-pura menghalangi sahabatnya.


"Hidupkan speaker ponselmu Key, Mama mau ngomong dengan Mama Melanie."

__ADS_1


"Sudah Ma!"


"Jeng, jangan gitu dong! dicari dulu ponselnya barangkali Melanie lupa meletakkan!" ucap Mama Radit.


"Nggak ada Tante, aku ingat ponsel itu aku masukkan ke dalam tas."


"Tapi tolong kita selesaikan secara kekeluargaan saja Jeng, kalau memang jeng berkeras kami akan ganti ponsel itu!" ucap Mama Radit.


"Tidak Tan, aku nggak mau, aku yakin dia yang mencuri ponselku! Kami akan selesaikan lewat jalur hukum!"


"Maafkan menantu Tante dong Melanie! kalau urusan ini sampai ke polisi, nama baik Om akan tercemar. Kamu tidak kasihan dengan kami?"


"Boleh Tan, asal dia berlutut meminta maaf kepada aku dan Mama sembari mengakui perbuatannya!" jawab Melanie.


"Key sebaiknya kamu minta maaf dong Nak, lakukan saja permintaan Melanie, daripada kasus ini sampai ke tangan polisi," pinta Mama Radit.


"Maaf Ma, Key tidak bisa. Key tidak mengambil apapun dari dalam tas Melanie. Terserah jika mereka akan membawa kasus ini ke jalur hukum," ucap Keysha.


"Oh, kamu menantangku ya!" ucap Melanie.


"Aku tidak menentang kalian, tapi aku tidak bersalah, jika itu mau kalian! Aku akan ikut ke kantor polisi dan membuktikan jika aku tidak bersalah serta bukan seorang pencuri!" ucap Keysa.


"Siap Bu!"


Kedua security itupun menarik lengan Keysha, "Ayo cepat! Cantik-cantik kok pencuri! Malu nona sama hijab kamu!"


"Lepaskan! Seharusnya kalian yang malu, menuduh orang sembarangan dan kalian bukan muhrimku jadi jangan sentuh tangan ku! Aku bisa berjalan ke mobil sendiri!" bentak Keysha.


"Kalian awasi dia, jangan sampai kabur! Kami segera menyusul," ucap Melanie.


Keysha dengan tenang berjalan ke arah mobil, dia tidak takut karena dirinya memang tidak bersalah.


Security pun membawa Key ke kantor polisi, lalu Mama dan Melanie menyusul, tapi sebelumnya mereka telah menelepon polisi agar mempersulit Keysha.


Melanie ingin nama baik Keysha tercoreng dengan mendekam di penjara, walau untuk beberapa hari saja.


Sesampainya di kantor polisi, Key dipersilakan duduk dan dimintai keterangan. Dia didesak agar mengaku. Polisi terus memberikan pertanyaan berbelit-belit yang intinya ingin menjebak Keysha.

__ADS_1


"Saya tidak bersalah dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui apa yang tidak ku lakukan, meski kalian memenjarakan ku!" ucap Keysha.


"Oh, kamu menantang Kami ya!"


"Kalian berdua, bawa dia ke sel tahanan! Kita akan lihat sampai kapan dia akan bertahan tidak mengakui perbuatannya!"


Kedua polisi itupun memaksa Keysha, dia berusaha berontak tapi tidak guna. Akhirnya Key dimasukkan ke sel tahanan bersama penjahat lain.


Mama dan Melanie melakukan tos, lalu keduanya mengacungkan jempol kepada polisi yang telah membantu melancarkan rencana mereka.


Keysha di dalam sel bersama 4 orang tahanan wanita yang wajahnya begitu garang.


Satu orang tahanan mendekati Keysha, lalu menarik hijabnya, "Hei, buka saja hijabmu! Percuma pakai ini, jika perbuatanmu sama dengan kami!" ucap tahanan tersebut dengan menarik paksa hijab Key hingga terlepas.


Key melawan, dia menarik hijab yang ada di tangan tahanan tersebut dan tarik menarik pun terjadi. Tiga tahanan lain pun bangkit lalu mendorong Keysha hingga Key terjatuh ke lantai.


"Kalian beraninya main keroyokan!" teriak Key seraya bangkit dan memasang kuda-kuda.


Key saat di sekolah dulu pernah belajar ilmu beladiri dan saat ini keamanannya terancam, dia terpaksa harus menggunakan keahliannya itu.


Pakaian muslim yang dikenakan tidak menghalanginya untuk bersiap menangkis serangan lawan.


Yang dipanggil bos dari ke empat tawanan tersebut segera mendekat, lalu dia dengan garang hendak menarik rambut panjang Key yang tergerai.


Keysha dengan sigap menangkap tangan orang tersebut dan memelintirnya ke belakang hingga dia mengerang kesakitan.


Tapi orang tersebut tidak menyerah begitu saja, dia berusaha untuk lepas tapi Key tidak memberinya kesempatan.


Tiga tahanan lain pun mendekat, mereka menyerang Key secara bersama dengan mengeluarkan sebuah pisau silet dari balik baju mereka.


Keysha harus waspada, karena jumlah lawan tidak sebanding. Lalu dia berkata, "Kalian tidak ada urusan denganku, kenapa kalian menyerangku! Tapi jika memang kalian jual aku akan beli. Jangan salahkan aku jika kalian cidera!" ancam Keysha.


"Jangan banyak bacot! kamu jangan coba-coba menantang bos kami! Kamu belum tahu apa yang pernah bos kami lakukan sebelum ditahan di sini!" ucap salah satu tahanan.


"Aku tidak takut! Meski dia seorang pembunuh!" seru Keysha.


Keempat tawanan itu marah, mereka tidak suka dengan sikap Key yang lancang, berani mengancam.

__ADS_1


Mereka pun maju bersamaan dengan membawa pisau silet di tangan masing-masing.


Apakah yang akan terjadi dengan Keysha? ikuti kisahnya terus ya sobat dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dalam karyaku ini. Terimakasih 🙏


__ADS_2