
Akhirnya Alan hanya diam, dia cuma bisa berharap rumah tangga yang akan segera dia jalani nanti akan berhasil dan Devia bisa berubah menjadi seorang istri yang baik.
Setelah tiba di rumah Datuk, Alan langsung pamit, karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
Datuk menggelengkan kepala melihat sikap anak gadisnya, yang tidak peduli dengan Alan. Begitu dia turun dari mobil, Devia langsung masuk kamar dan tidak keluar sampai Alan pergi. Datuk mengetuk pintu kamar Devia, beliau ingin menasehati dan menyadarkan sang putri atas sikapnya itu.
"Dev, tolong buka pintunya! Papa mau bicara!"
"Nanti saja Pa, Devia capek dan ingin tidur!"
"Sebentar saja, kamu tidak boleh bersikap terus seperti ini. Kasihan Nak Alan!"
Devia akhirnya membuka pintu dan dia mempersilakan Sang Papa untuk masuk.
"Dengarkan Papa Nak, rubahlah sikapmu itu, lusa kalian sudah sah jadi suami istri. Bagaimana dengan rumah tangga mu nanti jika kamu terlalu tidak peduli dengan suamimu!"
"Iya Pa, Devia cuma capek."
"Atau sebaiknya kamu berhenti saja, biar Papa bukakan usaha agar kalian bisa bersama setiap hari. Kamu wanita Nak, harus tahu batasan dan kodrat sebagai seorang istri."
"Tidak Pa, Devia nggak mau berhenti, nanti kalau Devia sudah berusia di atas 30 an baru Devia pikirkan itu. Untuk saat ini karir Devia sedang naik daun, tega Papa menghancurkan mimpi yang sejak kecil Devia inginkan."
"Ya sudah, tapi kamu harus bisa bagi waktu. Apa kamu tidak takut rumah tangga kalian nanti akan gagal?"
"Kalau gagal ya sudah takdir Pa! Devia pasrah. Devia bisa kok hidup tanpa suami. Untuk apa suami yang tidak bisa mendukung karir kita, cuma menghambat saja!"
"Kamu!"
Datuk hilang akal menghadapi sikap putrinya, tapi dia juga tidak bisa terlalu keras terhadap Devia, sebab putrinya itu sangat keras kepala dan nekat.
Bisa saja Devia meninggalkan rumah sebelum pernikahan berlangsung, yang bisa mempermalukan Datuk.
"Pa, aku mau istirahat," ucap Devia yang ingin papanya segera keluar dari kamarnya.
Datuk geleng-geleng kepala, lalu diapun meninggalkan kamar Devia.
"Ada apa Pa? Kok mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Mama Devia.
"Putri mu Ma, Papa nggak tahu lagi musti bagaimana menghadapi dia. Kalau dia nggak berubah juga, Papa yakin, rumahtangganya bakalan kandas nantinya."
__ADS_1
"Papa jangan doain anak seburuk itu dong!"
"Bukan doain Ma, tapi kenyataan. Siapa orangtua yang mengharapkan rumahtangga anaknya hancur."
"Kita doain saja lah Pa, biar Devia berubah dan lebih perhatian terhadap Nak Alan. Nggak mungkin kan kita membatalkan pernikahan mereka. Mau ditaruh dimana wajah kita, lagipula susah zaman sekarang untuk mendapatkan menantu sebaik Nak Alan plus dokter sukses."
"Iya Pa, anak kita saja yang buta. Tidak bisa berpikir untuk kebaikan masa depannya. Entah sampai kapan dia hanya memikirkan karirnya saja."
"Iya Ma, ayolah kita keluar mencari angin segar, pusing Papa di rumah melihat sikap anak itu!"
"Sebentar Pa, Mama ambil tas dulu di kamar."
Kemudian Mama Devia pun bergegas menuju kamarnya, beliau berdandan sedikit, memoles bibirnya dengan lipstik lalu menyusul Sang suami yang sudah menunggu di mobil.
Devia ternyata tidak tidur, dia asyik video call dengan teman-temannya, tertawa-tawa sambil membersihkan make-up di wajahnya.
"Kalian kapan kesini ya, tinggal lusa lho akad nikahku?" tanya Devia kepada teman-teman karibnya.
"Tenang, kami pasti datang. Tiket sudah kami beli, tapi carikan kami jodoh dong seperti calon suamimu itu, biar aku berhenti berkarir dan jadi ibu rumahtangga yang baik saja."
"Bodoh sekali kamu, karir kita sedang meroket, eh...kamu ingin stop."
"Enak saja kamu, cari sendiri dong."
"Aku juga mau Dev, ah...nanti aku dekati suamimu, mana tahu ada temannya yang bisa kita gebet."
"Iya, aku juga mau. Aku dekati Papa Devia saja lah. Pasti banyak anak rekannya yang tajir dan tampan."
"Terserah kalianlah, sudah dulu ya, aku mau tidur. Capek dan ngantuk nih!" ucap Devia sambil mematikan ponselnya.
"Ah...Devia nggak asyik main kabur aja," ucap teman-temannya yang kemudian satu persatu pun ikut mematikan panggilan video.
Devia berbaring lalu bermonolog, "Kalian semua bodoh, aku tidak akan berhenti selagi karirku sedang meroket, kecuali pamorku di dunia aktris dan modeling sudah memudar."
Alan sudah sampai di rumah, setelah mengantar Devia tadi, Alan menyempatkan diri ke kliniknya. Ada pasien darurat yang dia layani.
"Bagaimana kabar Devia Nak!" tanya Ibu.
"Dia baik Bu, seperti biasa."
__ADS_1
"Kok kamu sepertinya nggak bersemangat gitu? Apa kamu sakit Lan?"
"Tidak Bu, Alan lelah. Tadi ada pasien darurat yang aku tangani."
"Oh, kamu ke klinik? Ibu kira kamu di rumah bersama Devia."
"Boro-boro Bu, begitu sampai rumah dia masuk kamar dan tidak keluar lagi sampai aku pulang."
"Yang sabar Nak, mungkin saja Devia lelah."
Alan malas berpanjang lebar ngobrol tentang Devia, lalu dia bertanya kepada sang ibu, "Ibu masak apa? Aku lapar."
"Masak kesukaan kamu, ayo ibu temani makan, biar kita sambil ngobrol. Sebentar lagi kamu jadi suami dan keluar dari rumah ini untuk hidup mandiri, sudah pasti waktu untuk kita bisa bersama jadi terbatas. Ibu pasti merindukanmu nanti Lan."
"Lah, ibu kan bisa ke rumah Alan. Toh Alan masih tinggal di kota ini juga."
"Iya, tetap saja beda Nak! Ibu bakal kesepian."
"Ya sudah, nanti Alan akan sering datang untuk jenguk ibu dan Ayah. Ibu jangan sedih lagi ya!"
"Terimakasih Nak! Kenapa kalian tidak tinggal di sini saja, biar ibu ada temannya?"
"Bu...jangan melarang anak untuk hidup mandiri. Biarkan Alan bertanggung jawab terhadap rumahtangganya. Lagipula, kita dulu juga begitu kan? Ibu lebih suka kita tinggal di rumah kita sendiri ketimbang tinggal dengan keluarga ayah," ucap Ayah Alan yang baru keluar dari kamar.
"Ya jelas beda Yah, di rumah Ayah dulu banyak adik-adik, sedangkan kita hanya memiliki Alan saja!"
"Ya sudah nanti kita minta menantu melahirkan banyak anak, biar ibu tidak kesepian lagi."
"Alan nggak yakin Yah, kalau melihat sikap dan pendirian Devia. Jangankan banyak, satu saja pun belum tentu. Pasti dia akan berpikir panjang tentang hal itu," ucap Alan sembari berjalan ke dapur.
"Tunggu Nak, apa maksud omongan kamu?"
"Tidak apa-apa Bu, Alan mau makan dulu."
"Sudahlah Bu, biarkan Alan makan, kasihan nampaknya dia sangat lapar, lagipula ada makanan kesukaannya."
"Iya Yah, ibu mau menemani dia makan. Ayah nggak makan lagi?"
"Nggak Bu, Ayah masih kenyang. Ayah mau ke ruang kerja saja. Ada beberapa file yang harus ayah periksa."
__ADS_1
Ibu kemudian menyusul Alan. Pikirannya tidak tenang mendengar ucapan Alan tentang Devia. Beliau tidak ingin menantunya nanti menunda-nunda untuk mendapatkan momongan.