
Devia kesal karena Alan tidak juga memberinya kabar. Dia menunggu, ingin makan malam bersama tapi Alan belum juga menampakkan batang hidungnya.
Alan pulang pukul 10 malam, saat Devia sudah tidur. Dia memang sengaja, karena moodnya untuk meraih kebahagiaan malam pertama bersama Devia sudah ambyar.
Sebelum berangkat tidur, Alan membersihkan diri, lalu dia mengambil bantal dan tidur di sofa yang ada di kamar mereka.
Rasa lelah seharian jalan bareng Radit dan Keysha, membuat Alan segera terlelap. Dan dia bermimpi ketika dirinya masih duduk di bangku SMA. Masa-masa dimana Alan merasakan kebahagiaan bersama kedua sahabatnya.
Devia yang terbangun, dan tidak melihat Alan ada di sampingnya, langsung turun dari tempat tidur. Dia mencari keberadaan Alan, kesekeliling ruangan dan Devia terkejut saat melihat seseorang meringkuk di atas sofa.
"Dasar suami tidak bertanggungjawab, malah enak-enakan tidur di sofa," monolog Devia.
Kemudian Devia menghampiri Alan, lalu menggoyang tubuhnya, "Hei Kak, ayo pindah tidurnya. Ngapain tidur di sini!"
Alan menggeliat, lalu membuka mata, "Ada apa, tidurlah aku mengantuk. Bukan kah kamu besok akan berangkat? Jadi tidurlah sekarang!"
"Kak Alan tidak ingat dengan yang kita bicarakan tadi pagi? Ayolah, apa kita akan tetap dengan status awal masing-masing meski kita sudah menikah?"
"Heemm, jadi? Apa kamu sudah siap untuk melakukannya?"
"Ya iya lah Kak. Besok aku berangkat dan dua bulan kedepan baru bisa kembali. Aku tidak mau Kakak dan keluarga mengatakan jika aku istri yang tidak tahu akan tugasnya."
"Baiklah, jika itu maumu!"
Alan bangkit dari sofa, lalu dia menarik Devia dan mendaratkan ciumannya. Alan ******* bibir Devia dengan kasar karena dia masih kesal, teringat akan pengaman yang Devia berikan.
Devia mendorong Alan, lalu berkata, "Pelan Kak! Kasar banget sih!"
Alan tidak mempedulikan omongan Devia. Lalu dia kembali mendaratkan ciumannya hingga Devia kesulitan bernafas.
Dengan paksa, Alan menarik lingerie yang Devia gunakan hingga koyak dan mencampakkan ke sembarang arah.
Kini terlihat tubuh indah Devia yang tinggal mamakai dalaman saja.
Sesuai profesinya, Devia memang merawat tubuhnya dengan baik, hingga tubuhnya sangat ideal. Baik dari segi berat badan, lekuk tubuh juga kemulusan kulit.
Lelaki mana yang sanggup menolak jika dihadapannya tersaji pemandangan indah seperti itu.
Alan menelan saliva, dia marah tapi dia juga manusia normal yang membutuhkan layanan wanita. Apalagi wanita yang ada dihadapannya ini memang haknya.
Kemudian dengan rakus, Alan menjelajahi semua bagian tubuh Devia, tanpa memberi Devia kesempatan untuk melepaskan diri.
Devia yang memang menginginkan penyatuan, tidak peduli jika Alan melakukannya dengan kasar, yang penting saat mendekati puncaknya, Alan harus memakai pengaman yang dia berikan.
Alan terus menjelajahi lekuk menggiurkan itu dan Devia menikmati sentuhan-sentuhan dari Alan.
Kini Alan dan Devia sudah tidak mengenakan apapun, semua tanggal akibat gelora nafsu kebutuhan batiniah.
Kalau berdasarkan cinta, semua itu belum ada di hati keduanya.
__ADS_1
Devia sepertinya sudah mahir, dia mampu mengimbangi permainan Alan. Bahkan dia berusaha memimpin, hingga kemarahan Alan menghilang dan berganti kabut gairah pelepasan.
Karena hanyut dengan permainan Alan, Devia lupa jika Alan menghujamkan miliknya tanpa memakai pengaman.
Alan merasa sedikit heran, kenapa Devia begitu santai bahkan seperti terbiasa menikmati permainan panas yang saat ini Alan suguhkan.
Penyatuan itu tidak seperti yang Alan pelajari dan bayangkan. Lantas timbul pemikiran buruk dalam benaknya, mungkinkah Devia sudah tidak perawan ketika menikah dengannya.
Tapi hasrat yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, membuat Alan mencoba menepis pikiran buruk tersebut dan mulai menikmatinya kembali.
Alan berhasil membuat Devia mencapai puncaknya yang pertama, tubuhnya bergetar, saat pelepasan terjadi.
Dengan senyum merekah dan gerakan meliuk-liuknya Devia pun meminta lagi, hingga kembali puncak kenikmatan dia raih.
Devia puas, Alan hot dan mampu memberikan seperti yang dia mau. Tapi saat Alan sudah tidak mampu menahan, dan tubuhnya mulai mengejang hendak melakukan pelepasan, tiba-tiba Devia mendorong Alan.
"Stop, mana pengamannya Kak? Cepat gunakan! Aku tidak mau hamil, karirku bakal hancur!"
Seketika milik Alan melemah, dia sangat kecewa. Seharusnya saat ini, kepalanya sudah plong malah makin sakit menahan amarah.
Dengan wajah memerah, Alan pergi menyambar handuk dan meninggalkan Devia yang merasa heran.
Rasa kesal dan marah, Alan lampiaskan kamar mandi. Dia meraup wajahnya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Tapi, rasa yang sudah hampir ke puncak belum juga reda. Akhirnya Alan bersolo ria. Alan mencoba bermain sendiri untuk mengeluarkan cairan miliknya, yang membuat kepala Alan sakit.
Setelah menuntaskan hasratnya, Alan membersihkan diri. Kemudian keluar dari kamar mandi menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Malam ini Alan berniat tidur di klinik.
Alan malas menanggapi omongan Devia, lalu dia melepaskan secara paksa tangan itu dari pinggangnya.
Kemudian berbalik menuju cermin dan menyisir rambut.
Devia kembali memeluk Alan dan bertanya, "Kak Alan marah ya? Kakak mau kemana? Ini sudah malam lho? Apa kata ayah ibu nanti?"
Alan masih diam sambil menyisir rambut, lalu dia berbalik menghadap Devia dan bertanya, "Kamu anggap apa, diriku! hanya pemuas nafsumu saja! Kamu terlalu egois!"
"Kan aku sudah bilang Kak, aku belum mau hamil! Kakak yang egois, aku belum siap lho untuk meninggalkan karirku!"
"Sudahlah! percuma berdebat denganmu!"
Setelah mengatakan hal itu, Alan menyibakkan selimut, dia tidak melihat setitik noda darah pun ada di sana, padahal seprai itu berwarna putih.
Kecurigaannya semakin beralasan, tapi yang mau Adam cari sebenarnya ponsel serta jam tangan yang tadi dia campakkan ke atas kasur.
Setelah mendapatkannya, Alan bergegas mengambil dompet serta kunci mobil. Alan tidak peduli jika Datuk dan istri melihat kepergiannya malam ini.
Devia menghentakkan kaki, dia kesal kenapa Alan harus pergi setiap kali berdebat dengannya.
"Ah, terserahlah! Jika tidak suka dengan aturanku ya sudah, mau pisah juga nggak masalah!" monolog Devia. Kemudian Devia membaringkan tubuhnya kembali, menarik selimut dan melanjutkan tidur.
__ADS_1
Alan memukul stiur, lalu melajukan mobilnya. Penjaga gerbang yang melihat majikan barunya hendak keluar, segera membuka pintu.
Dengan senyum tertahan, Alan menyapa penjaga tersebut, "Mang, gembok saja! Saya mungkin tidak pulang malam ini, karena ada pasien hendak melahirkan hingga membutuhkan pertolongan mendadak."
Penjaga yang tahu jika majikannya seorang dokter kandungan, lalu mengangguk dan berkata, "Silakan dan hati-hati ya Tuan."
"Terimakasih Mang, saya pergi dulu."
Alan langsung melajukan mobilnya keluar ke jalan raya menuju klinik. Dia ingin menghilangkan kemarahannya di sana. Daripada dia bertindak kasar kepada Devia, mending menghindar.
Sesampainya di klinik, penjaga malam pun heran, kenapa Pak Dokter yang masih pengantin baru malah datang kesana dan tanpa membawa istri.
"Malam Pak! Aman kan?" tanya Alan yang baru saja turun dari mobil.
"Aman Dok."
"Oh ya Pak, titip mobil saya ya. Saya ada pekerjaan penting di dalam. Besok, menjelang subuh, baru saya pulang."
"Oh iya Dok. Rajin sekali pak Dokter, harusnya malam-malam gini enaknya bermesraan dengan istri, malah mikirin pekerjaan?"
"Bapak bisa saja, tugas Pak! Tidak mungkin saya abaikan," bohong Alan.
"Jangan lupa istirahat ya Dok, meski hanya sebentar."
"Terimakasih Pak."
Alan membuka pintu kliniknya lalu berjalan menuju ruang pribadinya.
Di sana Alan bersandar di kursi, sambil memikirkan apa yang baru saja dia perdebatkan dengan Devia.
"Ayah, ibu...kalian salah memilih menantu. Cucu yang kalian harapkan kehadirannya, tidak akan pernah ada, jika Devia masih tetap dengan egonya," monolog Alan sambil memijat kepalanya yang sakit.
Alan menghabiskan malam sambil memikirkan nasibnya dan sesekali melihat ponsel, ternyata tidak ada panggilan dari siapapun.
Malam ini, Alan begitu kesepian, dia kembali mempertimbangkan apakah akan mengikuti saran Radit atau tidak.
Mengalami kejadian tadi, membuat Alan ragu akan niatnya untuk menyusul Devia ke Australia.
Rasa lelah, akhirnya membuat Alan tertidur dengan kepala dia rebahkan di atas meja kerja.
Suara panggilan subuh, membangunkan Alan, lalu dia bergegas menuju mobil, ingin mencari masjid terdekat.
Alan menjalankan ibadah subuh, lalu bergegas mencari warung yang menjual sarapan. Perut Alan terasa lapar, tapi dia teringat Radit dan Keysha pasti juga belum sarapan.
Sambil mencari tempat makan yang pas dengan seleranya, Alan pun menghubungi Radit.
Radit heran, kenapa pagi buta Alan sudah menghubunginya. Dengan ocehan usil, Radit menggoda Alan, tapi Alan tidak menanggapi kelakaran sahabatnya itu.
Alan meminta Radit dan Keysha agar secepatnya datang, ke warung sarapan yang letaknya tidak jauh dari rumah orangtuanya.
__ADS_1
Radit dan Keysha pun bergegas pamit, dengan alasan mau joging dan menikmati indah dan segarnya udara pagi.