ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 24. DUKUNGAN DARI ORANG-ORANG TERKASIH


__ADS_3

"Mari kita pulang Key," ajak Radit kepada Keysha yang masih bersimpuh di makam Ayah sembari memeluk kayu yang menjadi tonggak nisan sementara.


Keysha kembali terisak, rasanya dia masih tidak percaya jika saat ini ayahnya telah tiada.


Ibu pun memeluk Key, lalu mengajak semua untuk pulang. Radit memapah key yang tubuhnya begitu lemah hingga sampai ke mobil sedangkan ibu menggandeng adek-adek Key yang juga masih terisak.


Mereka pulang ke rumah di mana keluarga masih berkumpul di sana dan beberapa orang tetangga juga masih di sana, mereka membantu membersihkan rumah sambil menyusun bangku-bangku yang di gunakan oleh para pentakziah.


Radit membawa Key ke kamarnya, agar istrinya itu bisa beristirahat, kemudian Radit pergi ke dapur, membuatkan teh panas untuk Key. Dia harap dengan minum teh, tubuh Key akan segar kembali.


Tapi, saat Radit hendak membawa teh yang dia buat ke kamar, Radit mendengar suara ribut-ribut di luar, sepertinya ada tamu yang datang dan memaksa masuk untuk bertemu Keysha.


Ibu yang tidak kuasa melarang orang tersebut akhirnya berteriak dan menangis. Ibu meminta orang itu untuk menunda niatnya menemui Key, karena key sedang beristirahat. Namun dua orang itu tetap saja memaksa dan mendorong ibu.


Radit melihat ibu terjatuh, lalu diapun berlari menolong ibu hingga menjatuhkan gelas teh yang masih ada di tangannya.


"Kalian siapa! Tidak ada sopan santunnya sama sekali dengan orangtua. Coba kalian lihat ibuku! Jika sampai beliau kenapa-kenapa, jangan salahkan aku, jika kalian harus meringkuk di penjara!" ancam Radit.


"Ah, kami tidak peduli! Kamu siapa! Mana anak gadis rumah ini, dia harus membayar hutang ayahnya atau hutang akan dianggap lunas apabila dia mau menikah dengan bos kami!" teriak salah satu penagih hutang.


"Ba**ngan kalian! Enak saja mau meminta istriku untuk menjadi gundik bos kalian! Suruh bos kalian kesini! Aku akan membayar lunas, jika bos kalian datang dengan membawa surat bukti hutang ayah kami!" ucap Radit.


"Banyak omong kamu! Ayo bayar sekarang atau aku akan menyeret istrimu keluar!" ancam salah satu penagih hutang lagi.


Mendengar hal itu, kemarahan Radit makin memuncak, mereka boleh menghinanya tapi tidak boleh menyakiti istrinya.


"Coba kalau kalian berani, aku yang akan menyeret kalian hingga sampai ke depan rumah bos kalian!" bentak Radit.


Ibu dan adik-adik Key sangat ketakutan dan mereka memegangi tangan Radit agar tidak melawan karena ibu tahu siapa bos rentenir yang mereka maksud.


Bos mereka bernama Takur dan Takur di kenal sangat kejam, bahkan dia berani menghabisi orang yang berani menentangnya.

__ADS_1


"Nak Radit jangan melawan, ibu takut Nak Radit nanti di siksa oleh Tuan Takur," ucap Ibu.


"Tenang saja Bu, mereka tidak akan berani macam-macam. Kita tidak boleh hanya diam, mereka akan terus menginjak-injak kita jika tidak ada yang berani melawan," ucap Radit.


"Oh ya Bu, memangnya hutang ayah berapa sama bos mereka?" tanya Radit.


"Dulu cuma 2 juta Nak, baru tiga bulan sudah beranak menjadi 15 juta," ucap Ibu.


"Dasar rentenir! Aku tunggu bos kalian sampai nanti malam dan bilang, jika dia tidak datang, hutang itu aku anggap lunas!" ucap Radit.


"Kamu jangan sombong dulu, jika bos kami yang datang, hutang itu jumlahnya menjadi 16 juta," ucap salah satu anak buah si rentenir dengan angkuhnya.


"Mau seratus juta pun aku bayar, tapi dia yang harus kesini!" seru Radit tidak kalah sombong.


Radit tidak ingin terlihat lemah di mata para pemeras itu. Malam ini dia akan membuat perhitungan dengan rentenir yang selama ini telah mencekik rakyat di kampung Keysha.


Kemudian para penagih hutang itupun pergi meninggalkan rumah Keysha. Ibu dan adik saat ini merasa lega, tapi ibu masih saja takut. Takut jika nanti malam bos mereka benar datang.


"Baiklah Nak, ibu ke kamar dulu dan kalian, pergilah tidur, nanti malam kita akan mengadakan acara tahlilan hingga malam ke tujuh," ucap ibu.


"Baiklah Bu. Kak Radit, kami istirahat dulu ya," pamit adik laki-laki Key.


Radit pun mengangguk, lalu diapun bergegas hendak ke dapur, tapi sebelumnya, Radit meminta tolong kepada tetangga agar membelikan makanan ringan untuk acara nanti malam.


Sebenarnya bukan Radit mau menentang adat istiadat di sana, tapi dia hanya ingin bersedekah yang diatas namakan untuk almarhum ayah Keysha.


Radit mengulurkan lima lembar uang ratusan ribu dan dia meminta untuk membeli susu atau bandrek sebagai teman suguhan.


Setelah tetangga itu berangkat, Radit segera memanaskan air dan mengambil gula serta teh, lalu diapun membuat dua gelas teh untuk dirinya dan juga Keysha.


Radit, masuk ke dalam kamar, dia melihat Keysha bergelung di dalam selimut sembari masih terisak. Mata Keysha sangat bengkak hingga dia malu untuk menatap sang suami.

__ADS_1


"Key, ayo minum dulu tehnya, biar tubuh kita segar dan memiliki tenaga," ucap Radit sembari mendekati Keysha dan mendaratkan ciuman di puncak kepalanya.


Key hanya mengangguk, lalu dia duduk dan menerima teh dari tangan Radit.


"Terimakasih Mas, harusnya aku yang melayanimu, ini malah terbalik," ucap Key dengan malu.


"Nggak apa-apa Key, kita sebagai pasangan harus bisa saling melengkapi. Apa yang menjadi tugasmu, aku juga harus belajar untuk bisa melakukannya," ucap Radit sembari mencium Key kembali.


Key beruntung mendapatkan Radit sebagai suami. Radit tidak hanya suami yang baik tapi juga sahabat tempat Key berbagi kesedihan.


"Oh ya Key, kamu habisi dulu tehnya ya, aku mau menelepon Alan dan juga papa mama. Kita lupa memberitahu mereka, jika ayah sudah tiada."


"Iya Mas."


Radit pun mengambil ponselnya, lalu dia mencari nomor kontak Alan dan segera menghubunginya.


Begitu panggilannya tersambung, Radit pun menceritakan perihal kabar duka, tentang kepergian ayah.


Alan sangat terkejut, dia menyesal kenapa tidak menunggu ayah operasi dulu baru pulang ke Malaysia.


Ucapan ayah terakhir terngiang-ngiang di telinga Alan, Ayah menitipkan Key menjelang kepergiannya.


Alan sedih, perjuangan Key untuk menyelamatkan ayah dari penyakitnya berakhir di meja operasi.


"Hei Lan, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin menghibur Key? Bicaralah dengannya, dia pasti senang mendapatkan dukungan dari kamu!" ucap Radit.


"Eh, iya Dit. Tolong berikan ponselmu pada Key, aku ingin bicara dengannya," pinta Alan.


Kemudian Radit memberikan ponselnya kepada Key, tapi Key malu untuk menerima panggilan video. Jadi, Key mematikan panggilan video dari Alan terlebih dahulu, lalu melakukan panggilan balik tanpa video.


Alan tahu, Key pasti malu jika dirinya melihat wajah sembab Key karena terus menangis. Alan pun mengucapkan turut berdukacita dan dia memberikan dukungan, Key harus tetap sabar dan kuat demi ibu dan juga adik-adiknya.

__ADS_1


__ADS_2