
"Ayo Key aku bantu berkemas. Sepertinya kita tidak bisa tinggal di sini lagi, aku tidak mau jadi anak durhaka tapi aku juga tidak bisa membiarkan istriku diperlakukan tidak baik dan ditindas di sini. Lebih baik aku ambil jalan tengahnya saja, yaitu kita hidup mandiri," ucap Radit sembari mengambil koper dan menata pakaian yang perlu mereka bawa."
"Mas, sudah dipikirkan matang-matang, aku tidak mau dibilang memisahkan hubungan antara orangtua dengan anak."
"Nggak Key, aku rasa ini jalan terbaik, mungkin dengan kita menjauh, Papa Mama bisa merenung dan mungkin merindukan kita. Kamu masih ingat pepatah yang mengatakan, jauh bau wangi dan dekat bau taik?" tanya Radit.
"Iya sih, kamu benar Mas. Ya sudah aku membereskan yang lain ya," ucap Keysha.
"Iya, cepatlah!"
"Jadi pekerjaan kamu bagaimana Mas?"
"Terserah Papa, jika aku masih diperlukan disana, pastinya akan aku bantu, jika tidak ya sudahlah. Toh, aku harus mulai mengembangkan perusahaanku sendiri," jawab Radit.
"Saat mereka hampir selesai berbenah, terdengar suara ketukan pintu. "Masuk!" pinta Radit.
"Ini Mama Nak! Kalian mau kemana? tolong jangan pergi Key," ucap Mama mendekati Keysha sembari memohon.
Bagi Mama akan lebih mudah menakhlukkan hati Keysha ketimbang Radit.
Kemudian Mama pun mendekati Keysa, menurutnya akan lebih mudah mendekati dan merayu Key ketimbang Radit.
"Tolong Key, bujuk suamimu. Mama minta maaf ya, karena Mama kamu jadi terkena masalah," ucap Mama Radit sambil mengatupkan tangan.
Key tidak mungkin membiarkan orangtua menghamba. Seharusnya, Key juga minta maaf, karena dia Radit jadi marah dan melawan orangtuanya.
Papa juga muncul dibalik pintu dan berkata," Jangan pergi Dit! siapa yang akan mengurus perusahaan Nanti jika kamu pergi, sementara Papa tidak mungkin bisa pokus. Apalagi saat ini Papa sudah terpilih menjadi balon kepala daerah."
"Iya Nak, tolonglah tetap tinggal di sini!" timpal Mama lagi.
"Bagaimana Key, keputusan ada padamu!" ucap Radit.
"Baiklah Ma, Pa. Kami akan tetap di sini!" ucap Keysha.
"Terimakasih ya Nak!" ucap Mama.
Radit memandang Keysha, dia beruntung memiliki Key yang mengerti posisinya sebagai anak.
__ADS_1
Keysha mengeluarkan kembali pakaian dari dalam koper, melihat hal itu Radit pun berkata, "Ma, Pa...aku mohon sayangilah Key, diapun menyayangi kita. Mama bisa lihat, dia menuruti kemauan mama dan mengabaikan apa yang telah menyakitinya."
Radit pun membantu Key, sedangkan Papa dan mamanya kembali ke kamar.
"Mas, teleponku berdering, bisa tolong ambilkan," pinta Keysha.
"Dari ibu Key, angkatlah barangkali penting," pinta Radit.
"Iya Mas."
Kemudian Key pun menerima panggilan dari ibu, "Assalamualaikum Bu, bagaimana kabar ibu dan adik-adik di sana?" tanya Keysha.
"Maaf ya Bu, Key belum kirim uang untuk kebutuhan adik-adik," ucap Keysha.
"Nak Radit udah kirim kok Key," jawab Ibu.
"Oh ya Bu, syukurlah. Dia tidak ngomong ke Key, barangkali lupa."
"Begini Key, rumah kita sudah ada yang menawar berikut sawah dan ladang, apa kita lepas saja ya dengan jumlah penawaran yang ibu rasa sudah sesuai pasaran tanah di sini?" tanya Ibu.
"Sebentar ya Bu, Key tanya Mas Radit dulu?"
Key terkejut karena selama ini Radit masih merahasiakan hal itu. Rencananya ingin membuat kejutan, tapi akhirnya Radit katakan supaya ibu jangan menjual tanah warisan almarhum ayah Keysha.
"Bu, Kak Radit bilang tidak usah di jual, jika kita nanti ziarah ke makan ayah, ada rumah untuk kita singgah."
"Oh, baiklah Nak. Surat pindah sekolah adik-adikmu juga sudah selesai Key," ucap ibu lagi.
"Syukurlah Bu, secepatnya Ibu dan adik-adik bisa kesini. Nanti biar kami jemput saja ya Bu," ucap Keysha.
"Iya Nak, ibu ikut keputusan kalian saja. Asalkan kami tidak menyusahkan kalian Nak!"
"Ibu dan adik-adik tidak akan menyusahkan kami, bahkan setelah Saya membayar uang booking fee untuk rumah tinggal adik-adik, dua tender besar perusahaan kami menangkan Bu," ucap Radit.
"Alhamdulillah ya Nak, semoga makin diperlancar berkah rezekinya," doa Ibu.
"Aamiin...," ucap Radit dan Keysha bersamaan.
__ADS_1
Ibu pun menutup panggilan setelah Radit memberitahu jika minggu depan dia dan Key akan menjemput ke kampung. Di perkirakan waktu itu rumah sudah selesai di bangun.
Setelah panggilan ditutup, Key mendekati Radit, lalu dia mencium pipi suaminya itu sambil berucap terimakasih.
Key tidak menyangka, jika Radit begitu memperhatikan kebutuhan Ibu serta adik-adik, tanpa Keysha minta dan tanpa Key ketahui.
Radit senang menerima kejutan dari sang istri dan dia memintanya lagi di berbagai tempat hingga Key merasa malu.
Key sangat senang, sebentar lagi dia bisa berkumpul kembali dengan ibu dan juga adik-adiknya.
Sementara Mama dan Papa Radit, membahas tentang bagaimana caranya lagi untuk memisahkan anak dan menantunya itu.
Dan Mama sudah memesan obat yang akan di masukkan ke minuman Keysha agar dirinya tidak bisa mengandung anak Radit.
Mama dan Papa Radit, tidak mau memiliki penerus keluarga yang lahir dari wanita miskin seperti Keysha.
Mereka tetap menginginkan Radit menikah dengan wanita yang memiliki bebet, bobot serta bibit sederajat dengan keluarganya.
"Bagaimana Pa, apakah cara Mama aman? Jika Key tidak bisa mengandung anak Radit dan kita mendesak Radit untuk memiliki penerus, lama kelamaan Radit pasti akan bosa dan menuntut kepada Keysha. Pertengkaran akan sering terjadi hingga akhirnya mereka bercerai."
"Terserah Mama, atur bagaimana baiknya saja. Yang penting penerus kita, harus lahir dari rahim wanita yang keluarganya setara dengan kita."
"Oke Pa! Tapi papa bantu Mama dong, carikan jodoh yang tepat untuk Radit setelah mereka nanti bercerai," pinta Mama.
"Beres, teman-teman Papa memiliki anak-anak gadis yang oke, baik tampang maupun dari segi pendidikan."
"Sekarang kesuksesan rencana kita tergantung kepada pendekatan Mama terhadap Keysha. Jangan sampai Radit curiga, karena Radit selalu membela dan melindungi istrinya itu!"
"Siap Papa!" ucap Mama Radit.
"Ayo kita istirahat, besok Papa harus berangkat pagi, ada pertemuan dengan klien penting. Ingat Ma, sebisa mungkin jangan sampai mereka curiga, atau akibatnya Radit akan pergi dari rumah ini."
"Iya, Mama paham!"
Kemudian mereka pun beristirahat begitu juga dengan Radit dan Keysha yang baru selesai menata barang-barang mereka kembali.
Radit memeluk Keysha setelah meluapkan rasa rindunya yang sudah beberapa hari tertahan.
__ADS_1
Begitu pula dengan Keysha yang saat ini nyaman tertidur dalam pelukan Radit setelah dia selesai menjalankan tugas memberikan hak dan memanjakan sang suami.