ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 51. HADIAH UNTUK MALAM PERTAMA


__ADS_3

Setelah kembali dari menjalankan ibadah subuh, Alan mengetuk lagi pintu kamar Devia. Dan benar, Devia masih marah.


Alan memutuskan untuk pergi membeli pakaian, tapi saat melintasi ruang tamu dia melihat Datuk dan istri duduk di sana.


"Pagi Nak! Duduklah kami mau ngomong," pinta Datuk.


Alan pun duduk di hadapan Datuk, lalu dia bertanya, "Ada apa Yah?"


"Apa kalian bertengkar? Ayah tadi malam melihat kamu tidur di sofa dan sekarang kamu juga belum berganti pakaian?"


"Hanya salah paham Yah, nanti juga baikan. Saat ini Devia sedang marah dan mengunci kamar sejak malam tadi. Ya sudah Alan tidur di luar daripada bertengkar lagi."


"Maafkan Devia ya Nak, dia memang keras kepala dan manja. Maunya diri dia yang harus diperhatikan saja tanpa mau timbal balik," ucap Datuk.


"Biar nanti ibu yang bicara dengan Devia. Sekali lagi kami mohon maaf ya Nak."


"Iya Bu. Nggak apa-apa kok."


"Kamu tunggu di sini biar kami panggil Devia dulu."


Alan hanya mengangguk, sebenarnya dia malu, hari pertamanya menikah malah ketahuan bertengkar.


Datuk mengetuk pintu kamar Devia, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Kemudian gantian sang ibu.


"Dev, buka dong. Kamu sudah menikah kenapa masih bersikap seperti ini sih! Cepat buka, kasihan suamimu, dia belum mengganti pakaiannya."


Datuk kembali berkata, "Jika tidak kamu buka, akan Ayah dobrak!"


Mendengar kata dobrak, akhirnya Devia membuka pintu. "Ada apa sih Yah, aku capek, masih mau tidur!"


"Astaghfirullah, bukannya nyiapin sarapan suami, malah mau tidur. Mana tanggungjawab kamu sebagai istri."


"Dia kan bisa ngambil sendiri, seperti nggak punya tangan saja," ucap Devia sambil berbalik menuju tempat tidur.


"Devia! Ayah kamu sedang ngomong, kenapa kamu tidak punya sopan santun!" ucap Ibu marah.


"Devia capek Bu, suruh Alan ambil sendiri deh. Besok aku berangkat, jadi dia harus terbiasa melayani diri sendiri."


"Salah apa kita Datuk, sampai anak kita sebebal ini. Malu ibu sama Nak Alan. Bagaimana ini Datuk?"


"Devia santai saja melihat orangtuanya yang cemas, dia pura-pura repot, menyusun bajunya ke dalam koper."


"Sekarang juga kamu temui Alan, atau Ayah tidak akan mengizinkan kamu pergi. Ayah akan minta pihak kedutaan untuk memblok paspormu!"


"Ih...Ayah. Jangan dong Yah, ini hidupku, aku lebih baik nggak usah pulang saja kalau ayah seperti ini."

__ADS_1


"Ayo Dev, sekarang juga kamu temui Nak Alan, dia sedang berada di ruang tamu dan jangan lupa, mintalah maaf." ucap Datuk sambil menarik koper Devia.


Sambil bersungut-sungut, Devia keluar kamar untuk menemui Alan.


Devia duduk di depan Alan, lalu berkata, "Maafkan Aku!"


"Hah, apa?"


"Maafkan Aku!"


"Siapa ya?"


"Dasar budek, "Maafkan Akuuuu," teriak Devia kesal.


Alan pun tertawa, dia ingin mencoba berbaikan dengan Devia.


"Hemm, jadi..."


"Ayo kita sarapan, tapi mandi dulu, lihatlah...bajumu tidak ganti sejak tadi malam! Jorok amat!"


"Kan elu yang buat aku jadi jorok, bagaimana mau ganti, kalau pintu kamar kamu kunci. Tas ku ada di dalam kamarmu!"


"Ya sudah, cepat mandi sana! Biar aku siapkan sarapan."


"Baik Tuan putri, nanti malam kita bulan madu 'kan? bisik Alan sambil berlalu menuju kamar.


Kehamilan adalah hal terbesar yang harus Devia hindari. Dia tidak mau tubuhnya jadi buruk gara-gara hamil. Bisa-bisa karirnya hancur.


Sambil menyiapkan makanan, Devia searching toko yang menjual alat pengaman dan yang bisa sistem cod.


Ternyata ada toko yang merespon, lalu Devia meminta agar secepatnya di kirimkan apa yang dia minta.


Devia yang sudah selesai, lalu kembali ke kamar, dia akan memanggil Alan.


Tanpa Devia duga, saat dirinya masuk, Alan tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium ceruk lehernya.


"Lepaskan Lan! Pergilah makan! semua sudah aku siapkan."


"Aku maunya makan kamu."


"Pergilah, aku gerah dan mau mandi!"


"Mandi bareng yuk!"


"Kamu sudah mandi ngapain mandi lagi, menghabiskan air saja!"

__ADS_1


"Ya sudah, nanti airnya aku bayar, asal kita bisa mandi bareng."


"Pergilah! aku nggak mau di ganggu sekarang!"


"Nanti malam bagaimana? Bisa 'kan?"


"Hemm, pergilah sebelum aku berubah pikiran."


"Dengan langkah gontai, Alan meninggalkan kamar, dia kecewa dengan sikap Devia. Padahal kesempatan mereka untuk bermesraan hanya dua hari."


Harapan Alan cuma nanti malam dan dia berharap Devia tidak akan ngambek lagi.


Alan sarapan sambil mencek ponselnya, lalu dia melakukan panggilan kepada Radit.


"Hallo pengantin baru? Bagaimana malam pertamanya? Lancar 'kan?"


"Apanya yang lancar? Gatot...aku saja tidur di luar, nggak dikasi pintu!"


"What! Jangan bercanda kamu Lan?"


"Siapa juga yang bercanda, Devia ngambek tadi malam. Harapan ku tinggal nanti malam, mudah-mudahan bisa belah duren," ucap Alan.


"Kami doain deh, tapi ingat! pelan-pelan ya, kasihan ntar Devia mau pemotretan, eh... kamu buat nggak bisa jalan," canda Radit.


"Maunya gitu sih, biar nggak balik lagi ke Australia, jadi tiap malam bisa malam pertamaan terus," jawab Alan.


"Bandot lu, gempor dia!"


Keduanya pun tertawa, lalu Radit berkata lagi, "Kamu terima saja tawaran ku, tapi buat kejutan. Jangan beritahu Devia dulu jika kamu nyusul dia. Barangkali dengan ini bulan madu kalian bisa lebih panjang."


"Iya deh, aku terima tawaran mu. Sudah dulu ya, aku mau ke kamar, siapa tahu dapat jatah sekali."


"Iya deh...lanjut."


Alan pun kembali ke kamar, dia melihat Devia sudah berdandan sangat cantik.


"Lho...mau kemana Dev?"


"Belanja oleh-oleh, besok... aku sudah harus terbang 'kan?"


"Jadi, aku bagaimana? Tega kamu tidak memberi kesempatan untuk kita bisa bersama walau hanya dua hari."


"Sudahlah Lan, nanti malam akan aku beri, aku harus pergi sekarang. Oh ya, sebentar lagi ada kurir datang antar barang. Itu untukmu!"


"Barang apa itu Dev?"

__ADS_1


"Nanti kamu akan tahu sendiri. Aku pergi dulu ya!" ucap Devia sambil menyambar tasnya.


Alan mendesah, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Devia. Rumah tangga macam apa yang sekarang sedang mereka jalani.


__ADS_2