
Keysha sudah mengenakan lingerie pemberian Radit, dia bercermin dan melihat dirinya seperti tanpa memakai busana. Key merasa malu, dia menarik-narik ujung lingerienya yang berada di atas lutut, sembari bermonolog, "Bagaimana ini, aku malu untuk keluar!"
Ketika Key asyik berputar-putar di cermin sambil melihat penampilannya, terdengar suara ketukan pintu. Radit tahu, Key pasti malu, makanya dia masih bertahan di dalam kamar mandi.
"Key, ayo buruan! Aku sudah mengantuk," ucap Radit.
"Iya Mas, ini sudah siap kok," jawab Keysha.
Keysha membuka pintu sambil mengucap basmallah, dia berjalan keluar sembari tertunduk dan menutupi dadanya dengan satu tangan. Sementara tangan satunya, menarik-narik ujung lingerie agar paha mulusnya tertutup.
Radit tersenyum melihat sikap sang istri yang begitu polos dan pemalu, dia yang mengenal Key sejak SMA tahu bagaimana keseharian Keysha bergaul dengan teman prianya.
Keysha di keseharian selalu menutup aurat dan hari ini dia mempersembahkan kemolekan dan kemulusan tubuhnya hanya untuk satu pria yaitu Radit suaminya.
Radit bangkit dari tempat tidur, dia menghampiri Keysha, menaikkan dagu istrinya agar mereka bisa saling pandang.
"Kenapa malu Key, pandang aku!" pinta Radit.
Key menatap Radit dan Radit yang gemas melihat sang istri langsung mendaratkan ciuman di bibir mungil tersebut.
Radit sangat menikmati ciumannya dan Key yang tidak ingin mengecewakan Radit belajar membalas ciuman tersebut. Walau masih terasa kaku, tapi bagi Radit hal itu cukup memancing gairahnya.
Keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing dan ciuman yang mereka lakukan semakin menuntut.
Radit yang sudah bersemangat, membimbing tubuh sang istri dan menggendongnya menuju peraduan mereka.
Suasana yang sejuk membuat kedua insan itupun tenggelam dalam kehangatan cinta pasangan pengantin baru.
Key yang merasa takut, mencengkeram lengan Radit saat senjata Radit mulai menembus pertahanan miliknya.
Suara jeritan tertahan sempat keluar dari mulut Keysha saat mahkota keperawanannya berhasil direnggut secara perlahan oleh sang suami.
Air mata menetes di sudut mata Keysha, dia tidak menyangka jika rasanya begitu sakit saat selaput dara miliknya berhasil di koyak oleh kejantanan sang suami.
Radit berucap lirih di telinga Keysha, "Terimakasih Sayang. Maaf, jika hal ini sangat menyakitkan bagimu, tapi aku janji akan melakukannya dengan perlahan dan persatuan kita selanjutnya pasti tidak akan sesakit saat ini."
__ADS_1
Ternyata Radit benar, Keysha mulai menikmati permainan itu, hingga pertahanannya pun lolos, Key dan Radit sama-sama mencapai puncak kenikmatan dunia.
Keduanya terkulai, bercak darah perawan pun tertinggal di atas seprai putih itu.
Radit memeluk Keysha begitu erat, impian terbesarnya selama ini telah terwujud, gadis yang sangat dia cintai kini telah dimiliki seutuhnya.
Dia tidak bosan-bosan menciumi puncak kepala sang istri sembari mengucapkan terimakasih, karena telah mempersembahkan cinta dan mahkota kebanggaan wanita hanya untuk dirinya.
Keysha melepaskan cintanya terhadap Alan, mulai malam ini hanya ada nama Radit di hatinya.
Radit menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipi Key, kemudian diapun mendaratkan ciuman sebagai pengobat rasa sakit kepada sang istri.
Keduanya tertidur setelah membasuh diri, hingga panggilan subuh membangunkan mereka agar segera bergegas mensucikan diri untuk melaksanakan ibadah subuh.
Key masih merasakan kesakitan di area pentingnya hingga dia merasa kesulitan untuk berjalan ke kamar mandi. Radit yang melihat sang istri meringis dan kesusahan berjalan segera menggendong dan membawanya ke kamar mandi.
Radit membantu Keysha membersihkan tubuhnya dan rasa malu Key kini berganti kebahagiaan.
Perhatian demi perhatian dari Radit membuat Keysha seperti seorang putri. Key tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur, Radit mengambilkan semua yang Key inginkan dan butuhkan termasuk makan dan minum.
Sambil menarik nafas dalam, Alan kembali ke kamarnya untuk menikmati sarapan yang telah pelayan sediakan.
Siang ini, Alan akan menemui Radit dan Keysha untuk pamit. Alan telah membooking tiket dan sore nanti pesawat akan membawanya pulang ke Malaysia.
Alan tidak tahan untuk tinggal lebih lama, dia harus segera mengobati hatinya dengan kembali menjauh dari Keysha.
Keysha mengajak Radit keluar kamar, dia merasa tidak enak dengan Alan bila seharian meninggalkannya sendiri.
Walaupun masih terasa sakit dan gaya jalannya terasa aneh, Key memaksakan diri siang ini mereka akan makan siang bersama Alan di beranda penginapan.
Radit dengan wajah berseri-seri menggandeng tangan Keysha menuju beranda dimana Alan sudah menunggu mereka.
Dan Alan yang melihat hal itu, jantungnya berdenyut sakit, lalu dia tertunduk untuk berdamai dengan hatinya.
Saat Radit dan Key duduk di hadapannya, Alan menatap kedua sahabatnya itu dengan memberikan senyum termanis agar keduanya tidak merasa curiga.
__ADS_1
Kemudian Alan pun berkata sambil menepuk pundak sahabatnya, "Selamat sobat, impian terbesar mu saat ini sudah terwujud, jaga dan selalu bahagiakanlah Keysha. Semoga ikatan cinta kalian segera diperkuat oleh kehadiran Radit serta Key junior."
"Terimakasih Lan, kami juga akan selalu mendoakan mu agar segera menyusul," ucap Radit.
"Iya Lan, segera pinang jika sudah ada yang sreg di hati, jangan sampai di pinang duluan oleh orang lain," ucap Keysha.
"Inshaallah, kalian tunggu saja kabar baiknya. Aku pasti akan segera menyusul," jawab Alan.
"Oh ya, sebenarnya sejak pagi ada yang ingin aku sampaikan, sore ini aku kembali ke Malaysia."
"Hah... apa-apaan kamu Lan! baru dua hari sudah ingin kembali! kita saja belum jalan-jalan," ucap Radit.
"Iya Lan, kenapa begitu terburu-buru?" tanya Keysha.
"Maaf Dit, Key, aku masih ingin lama di sini, tapi pihak rumah sakit memintaku untuk kembali secepatnya, jadi mau tidak mau aku harus pulang sore ini. Lagipula, ada berkas yang akan aku urus mengenai izin pembukaan klinik ku sendiri," ucap Alan.
"Oh, semoga sukses ya Lan," ucap Keysha.
"Kami tunggu lho kabar baiknya, agar kami segera kesana," ucap Keysha lagi.
"Insyaallah," ucap Alan sembari tersenyum.
"Memangnya ada penerbangan sore ini?" tanya Radit.
"Ada dan sudah aku booking," jawab Alan.
"Kamu benar pulang karena ada pekerjaan 'kan Lan? Bukan karena menghindari kami?" tanya Radit yang masih tidak percaya.
"Serius Dit, aku memang lagi banyak urusan di sana. Nanti, jika ada waktu luang, aku pasti akan datang untuk mengunjungi kalian lagi," janji Alan.
"Aku kok merasa kamu rada aneh Lan? Nggak biasanya kamu mengorbankan pertemuan kita hanya demi pekerjaan," ucap Radit yang masih nggak ikhlas jika sahabatnya pergi.
"Sudahlah Mas, lain kali Alan pasti kesini lagi dan bila dia tidak sempat datang, kita yang akan menyambanginya ke sana," ucap Keysha sambil memegang tangan suaminya.
Alan yang mendengar dan melihat perubahan panggilan serta sikap mesra Key terhadap Radit, hatinya langsung mencelos. Mengapa dirinya masih saja belum rela.
__ADS_1