ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 42. TERLANJUR MEMUTUSKAN


__ADS_3

Saat dalam perjalanan ke kantor, ponsel Radit berdering, ternyata ada panggilan dari Alan.


Radit memasang headset agar tidak menggangu fokusnya dalam menyetir.


"Hallo Lan, apa kabar? Aku pikir calon pengantin sudah melupakan kami," canda Radit.


"Justru ini aku mau memberitahu kalian, pernikahan ku akan dilakukan pada hari Sabtu ini."


"Gila kamu Lan, tinggal dua hari baru beri kami kabar. Bagaimana jika Key tidak bisa meninggalkan tugasnya? Kalau aku sih aman saja, karena memang belum ada proyek baru yang musti aku tangani."


"Aku juga kaget sebenarnya Dit, saat orang tua Devia menentukan tanggal pernikahan kami."


"Ya sudah deh, aku telepon Keysha dulu," ucap Radit.


"Sudah dulu ya Dit, ini aku sedang dalam perjalanan menjemput calon istriku, dia sedang di bandara karena baru pulang dari Australia."


"Oke kalau begitu Lan, kamu hati-hati ya, maklumlah darah manis kata orang."


"Ah mitos itu Dit, ya sudah Kamu juga harus hati-hati ya. Salam untuk Key, pokoknya kalian harus hadir."


"Inshaallah, akan kami usahakan Lan."


Setelah Alan menutup panggilannya, Radit segera menghubungi Keysha. Kesya pun merasa heran, kenapa Radit meneleponnya, padahal mereka baru saja berpisah.


"Ada apa Mas? Apa ada yang lupa," tanya Keysha.


"Alan baru saja telepon, acara pernikahannya akan diadakan dua hari mendatang."


"Apa Mas? Kenapa Alan baru mengabari kita sekarang, padahal jadwal mengajarku sedang padat dan mahasiswa ku sedang ujian Mas."


"Tolonglah key, kamu atur jadwal lagi, nggak enak juga jika kita tidak datang. Alan selama ini selalu mengutamakan urusan kita masa iya saat hari istimewanya, kita tidak bisa hadir."


"Baiklah Mas, Aku akan coba hubungi dosen yang lain, barangkali mereka bisa menggantikanku untuk beberapa hari."


"Mudah-mudahan saja bisa ya Key, kalau sudah cepat hubungi aku ya, biar bisa pesan tiket pesawat hari ini juga dan besok sore kita berangkat."


"Oke kalau begitu Mas, Mas hati-hati di jalan ya, aku mau masuk kelas dulu."


"Oke Sayang."


Radit pun kembali fokus melanjutkan perjalanan menuju kantor. Setibanya di kantor malah masuk panggilan dari sang Mama yang meminta tolong sore nanti untuk di jemput dari rumah temannya, yang arahnya berlawanan dari kampus Keysha.

__ADS_1


"Aduh, Radit nggak bisa Ma! Radit kan harus jemput Key. Ntar kemalaman kalau harus jemput Mama dulu."


"Kamu tidak sayang Mama ya, kamu cuma pentingkan istrimu saja!"


"Bukan gitu Ma, Radit soalnya sudah janji, akan menjemput Key nanti sore."


"Ya sudahlah, kalau kamu tidak kasihan sama Mama!" ucap Mama Radit pura-pura ngambek dan langsung mematikan panggilannya.


Radit merasa tidak enak dengan Sang Mama, tapi dia juga harus menjemput Key. Akhirnya Radit menelepon Key lagi dan membicarakan tentang permintaan sang Mama.


Key lagi dan lagi harus mengalah, dia mengatakan akan pulang naik taksi dan meminta Radit untuk menjemput sang Mama.


Radit sebenarnya tidak tega, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan permintaan sang Mama.


Setelah mendapatkan solusi, Radit kembali menghubungi mamanya dan mengatakan, jika dia akan menjemput sang mama nanti sore.


Radit menutup panggilan dan Sang Mama langsung berteriak kegirangan. Kali ini rencananya berhasil dan dia akan memperkenalkan Radit dengan anak sahabatnya yang sangat cantik.


Mama berharap, mata Radit akan terbuka melihat wanita lain yang lebih segalanya dari Keysha.


Tapi yang jelas, saat ini Mama berhasil membuat Radit dan Key tidak bisa pulang bareng.


Radit mendesah, ada perasaan bersalah di hatinya karena mengabaikan urusan Key dan lebih mementingkan sang Mama.


Radit pun segera meminta sekretarisnya untuk memesankan tiket untuk pergi dan sekaligus pulang.


Mereka di sana paling hanya dua hari, karena Radit dan Key tidak bisa berlama-lama mengabaikan tugas mereka masing-masing.


Setelah mendapatkan tiket, Radit lalu memberitahu Alan tentang rencana keberangkatan mereka besok sore.


Alan senang, kedua sahabatnya bisa hadir di acara pernikahannya lusa.


Saat ini Alan sedang mengantar Devia ke rumah calon mertuanya. Dalam perjalanan itu keduanya lebih banyak diam.


Devia asyik dengan ponselnya dan dia berkali-kali menerima telepon dari teman-temannya.


Sementara Alan hanya fokus menyetir, layaknya hanya seorang sopir pribadi bagi Devia.


Alan menghela nafas, dia merasa tidak yakin dengan rumahtangga yang akan di jalaninya ke depan. Tapi, Alan tidak mungkin mundur dengan hari pernikahan yang sudah di tentukan.


"Dev!" panggil Alan.

__ADS_1


Devia masih tidak menjawab, dia asyik dalam group chattingnya.


"Devia!" panggil Alan sekali lagi.


"Apa sih Kak!"


Cuma kata itu yang keluar dari mulut Devia tanpa memandang Alan.


"Devia! Aku mau ngomong!" ucap Alan dengan nada tinggi, karena kesal, merasa terus di cuekin dan dia merampas ponsel dari tangan Devia.


Melihat sikap Alan, Devia berdecak lalu berkata, "Kalau mau bicara ya bicara saja, aku dengar kok! Aku tidak tuli Kak, jadi jangan bentak aku seperti tadi," jawab Devia nggak kalah kesal dari Alan.


"Apa kamu nggak bisa sedikit saja menghargai aku, kita sudah mau menikah Dev! tapi masih tidak peduli satu sama lain, seperti orang asing! Bagaimana mau berhasil membina hubungan rumahtangga kalau sikap kita seperti ini!" ucap Alan sambil meraup wajahnya.


"Jadi, Kak Alan maunya Aku harus bersikap bagaimana?"


"Beri aku waktu, jangan kamu sibuk terus dengan urusanmu, jika kita sedang bersama."


"Baiklah, sekarang Kak Alan mau ngomong apa? biar aku dengarkan!"


"Kamu ambil cuti berapa hari dari pemotretan? Jika dua minggu, kita bisa menikmati kebersamaan dengan jalan-jalan agar bisa lebih saling memahami."


"Mana bisa dua minggu Kak! Aku harus balik ke Australia hari Senin, ada pemotretan yang tidak bisa di tunda lama."


"Masa cuma dua hari kita bersama setelah menikah? Kamu harus coba bicarakan lagi dan minta perpanjangan cuti Dev!"


"Tidak bisa Kak! Aku tidak mau karirku hancur dengan mengabaikan pemotretan penting, bisa-bisa pembatalan kontrak dan aku dikenakan denda 10 kali lipat dari bayaranku."


Alan mendesah, dia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Untuk saat ini dia akan mencoba memahami dan mengerti akan posisi Devia.


"Kalau Kak Alan rindu, Kakak saja nanti yang datang ke Australia. Aku cuma bisa pulang sebulan sekali dan paling hanya dua hari di rumah sudah harus berangkat lagi."


"Kalau begitu kamu berhenti saja dan cukup di rumah, aku sanggup memenuhi semua kebutuhan mu Dev, Inshaallah karir dokterku saat ini sedang bagus."


"Nah ini yang aku tidak suka, belum apa-apa Kak Alan sudah mengekang aku. Aku kan dari awal sudah bilang, masih ingin berkarir dan keluarga Kak Alan mengizinkan, jadi kenapa sekarang Kakak malah berubah pikiran?"


Alan terdiam, dia memang di awal mengatakan akan memberi Devia kebebasan berkarir dalam beberapa tahun ke depan, tapi Alan tidak menduga jika mereka hanya akan bertemu persatu bulan 2 hari saja.


"Kenapa diam Kak! Kakak menyesal dan ingin membatalkan pernikahan kita?"


"Apa kamu pikir aku bisa setega itu Dev? mempermalukan orangtua kita?"

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kita jalani saja, jika memang nanti tidak sanggup, kita kan bisa cerai Kak! Ngapain musti pusing-pusing!" jawab Devia dengan entengnya.


Alan hanya menggelengkan kepala, dia tidak menyangka sebegitu sepelenya Devia memandang sebuah pernikahan.


__ADS_2