ISTRI SIRI TITIPAN

ISTRI SIRI TITIPAN
BAB 25. MELAWAN RENTENIR


__ADS_3

"Mana orang yang menantang ku untuk datang!" teriak Tuan Takur yang datang ke rumah orangtua Keysha bertepatan dengan acara tahlilan.


Para tetangga dan kerabat yang sedang membaca doa pun terdiam, saat melihat Tuan Takur berdiri tegak sambil berkacak pinggang di depan mereka.


Radit bangkit, lalu menghampiri Takur dan berkata, "Apa Bapak tidak pernah diajarkan bersopan santun? Tunggu selesai mendoa, baru temui aku!" ucap Radit dengan nada marah.


Semua yang hadir merasa ketakutan, mereka takut jika Takur akan menyakiti Radit.


Ibu dan Key yang sedang berada di dapur, langsung berlari ke depan untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.


Mereka penasaran, kenapa orang-orang berhenti mendoa dan Radit juga nggak pernah-pernahnya bicara kasar dan lantang.


Takur merasa tidak terima dengan perkataan Radit, lalu dia berkata, "Terserah Ku, sekarang juga bayar hutang-hutang kalian atau aku obrak-abrik tempat ini!" teriak Takur, sambil menggelimpangkan kursi yang ada di sana.


Radit yang melihat hal itu merasa geram lalu dia mencengkram tangan Takur sambil berkata, "Hentikan! Anda tidak berhak membuat kerusuhan di sini!"


Takur menghempaskan tangan Radit, "Kurang ajar! Beraninya kamu menyentuhku!" ucap Takur.


"Kenapa aku harus takut! yang mulai membuat keributan itu Anda! Jika Anda ingin dihargai orang maka hargailah dulu orang lain!" bantah Radit.


Kemudian Radit pun meminta kepada para tetangga untuk meneruskan membaca doa.


"Tolong, bapak-bapak mari kita lanjutkan, ini urusan Saya dengan Tuan itu dan pasti akan Saya selesaikan setelah pengajian kita selesai," ucap Radit sambil mengatupkan kedua tangannya.


Para kerabat dan tetangga yang masih ketakutan merasa ragu, tapi Radit meyakinkan mereka bahwa itu murni tanggungjawabnya dan tidak akan menyangkut-pautkan yang hadir di sana, jika Takur marah.


Mereka pun akhirnya meneruskan doa bersama, sedangkan Takur tetap berdiri ditempatnya sambil matanya celingukan melihat ke arah dapur.


Dia berharap bisa melihat anak wanita dari almarhum yang nenurut orang-orang rupanya cantik juga berpendidikan.


Setelah menyelesaikan pengajiannya, sesuai janji, Radit langsung menemui Takur dan dia menanyakan berapa sangkutan almarhum yang musti dia bayar.


"Sekarang, Saya minta bukti hutang almarhum, berapa jumlah pokok beserta bunga yang musti kami bayar. Jangan sampai setelah ini, Bapak masih mengatakan jika orangtua kami masih memiliki hutang!" ucap Radit.

__ADS_1


Kemudian Takur mengeluarkan selembar kertas dari dalam map yang ada di tangannya, lalu dia berkata, "Semuanya berjumlah 17 juta, ini bukti perjanjiannya."


"Anda jangan main-main! masa dalam tempo beberapa jam saja sudah naik 2 juta. Kalau memang seperti itu, lebih baik urusan ini akan kita selesaikan di pengadilan saja!" ancam Radit.


"Kamu mengancam! Kamu hanya bocah kemaren sore, berani-beraninya kamu menantang saya!" jawab Takur sambil berkacak pinggang.


"Oh, kenapa Anda marah! tidak ada dalam sejarahnya, pinjaman 2 jt dalam tempo 3 bulan bisa menjadi 17 juta. Saya bisa menuntut Anda lho!" ucap Radit.


"Pokoknya sekarang juga harus kalian bayar! Jika tidak...," Takur pun menghentikan ucapannya sambil memberi kode kepada kedua pengawalnya yang berdiri di dekat pintu masuk.


"Oh, silahkan! Jika kalian berani menyentuh istri dan Ibu Saya! Tapi ingat Tuan! Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup dan jangan salahkan jika Anggara Group akan menyapu bersih bisnis kalian!" ancam Radit.


Takur terkejut mendengar nama Anggara group di sebut oleh Radit, dia tahu Anggara group adalah sebuah perusahaan besar yang namanya di segani para pebisnis di Indonesia.


"Bagaimana Tuan? Jika Anda tidak percaya, saat ini juga aku akan telepon pengacara, biar dia yang langsung berurusan dengan Anda!" ucap Radit lagi.


Takur berpikir lagi, dia tidak mau terjerat masalah dengan salah satu perusahaan raksasa tersebut.


Radit tahu, saat ini Takur merasa bimbang, sebenarnya dia juga hanya menakut-nakuti Takur saja. Mana mungkin Radit menghadirkan sang Papa hanya demi urusan uang yang tidak seberapa nilainya.


"Baiklah! Berhubung aku malas berurusan dengan hukum dan Anggara group, lebih baik kita berdamai saja. Aku hanya minta 10 juta dan urusan kita aku anggap selesai," ucap Takur.


"Nah! Begitu jauh lebih baik, meski masih mencekik warga," ucap Radit.


"Tunggu sebentar!" ucap Radit lagi.


Kemudian, Radit pun masuk ke dalam kamar, lalu dia mengambil selembar cek dan sebuah pena, setelah itu Radit pun keluar menemui Tuan Takur lagi.


Sambil menuliskan nilainya di hadapan Takur, Radit pun berkata, "Ini Saya bayar lunas, tapi ingat! Seandainya Anda masih juga menjerat warga kampung sini, Aku Radit Anggara tidak akan segan-segan menjebloskan Anda beserta antek-antek Anda ke penjara!"


"Bila perlu, kalian tidak akan punya kesempatan lagi untuk melihat terbitnya matahari!"


Setelah mengucapkan ancaman, Radit pun menyerahkan cek yang sudah dia tulis dengan nominal 20 juta.

__ADS_1


Takur yang menerima cek tersebut merasa heran. Mengapa malah dikembalikan dua kali lipat dari yang dirinya minta.


Radit yang melihat reaksi Takur, lalu berkata, "Sisanya ambil dan berikan kepada pengawal-pengawal Anda dan katakan kepada mereka, jika berani datang dan membuat kerusuhan di rumah ini lagi, aku pastikan, mereka akan keluar tidak berlengan!"


Takur pun tertawa, baru kali ini dia merasa di pecundangi oleh bocah kemaren sore.


"Kamu pikir aku bodoh! Mana mungkin kamu putra dari keluarga Anggara group? Hahaha, Apa Anggara group sudah turun level, hingga mau tinggal di tempat ini dan beristrikan gadis udik. Kurang kerjaan banget!" ucap Takur sambil tertawa dan diikuti gelak tawa dari para anak buahnya.


Radit dengan tenang menanggapi ejekan dari Takur dan anak buahnya. Kemudian dengan tersenyum dia berkata kepada Pak Kadus, "Pak, bisa minta tolong? Tolong bacakan ini kuat-kuat, biar Tuan Takur beserta pengawalnya dengar," pinta Radit.


Pak Kadus pun mengambil kartu identitas dan juga kartu nama yang diulurkan oleh Radit. Kemudian dengan lantang, Pak Kadus membacakan nama serta jabatan Radit di perusahaan milik Papanya.


Mendengar Radit sebagai Presdir di Anggar group, wajah Takur memucat, lalu dia berkata, "Baiklah urusan kita selesai!"


Setelah itu, Takur memberi kode kepada anak buahnya dan mereka pun meninggalkan rumah Keysha dengan terburu-buru.


Para yang hadir di sana tercengang, mereka tidak menyangka, jika Radit bukan berasal dari keluarga sembarangan.


Setelah Takur pergi, Radit pun berbicara dengan yang hadir di sana.


"Bapak-bapak, dari sekarang bebaskan diri dari jeratan rentenir, lebih baik dirikan koperasi, kelola bersama dan hasilnya juga dinikmati bersama untuk kemakmuran para anggotanya."


"Bagaimana caranya Nak Radit?" tanya salah seorang warga."


"Nanti, biar Pak Kadus yang menjelaskan dan Saya akan bantu proses pendiriannya. Tapi, Bapak-bapak harus bisa bekerjasama untuk mengelola dan memajukannya," ucap Radit.


Kemudian dia berkata lagi, "Saya tidak bisa lama-lama tinggal di sini Pak, maklum banyak tanggungjawab yang masih harus Saya kerjakan."


"Terimakasih Nak Radit, mudah-mudahan desa ini dan desa-desa tetangga yang ada di sekitar kita bisa segera terbebas dari jeratan hutang rentenir Takur."


Semua merasa senang dan lega, kedatangan Radit di desa mereka akan membawa perubahan baru.


Lalu, mereka pun menikmati makanan serta minuman yang telah terhidang sebagai bentuk sedekah Radit untuk almarhum ayah Keysha.

__ADS_1


__ADS_2